Menjelang 00

Apa yang kaucari pada batas ngeri?

Ada yang kauhirup pada getah nyeri

Apa yang kaucuri pada kertas kosong itu?

Ada yang kauharap pada tetes darah cinta ibu

 

mati pada ruang lahir pada titik bintik jentik noktah yang membiak di hati dan otak gelisahmu

 

(biarkan teriakan itu membakar api yang dikalungkan ban bekas dilehernya)

26/9/19

 

Ngiang Riang Siang

Ngiang Riang Siang

 

Jangan kau rapal keluhan

Karena kau berada di pusarannya

Kau silabe dari kekata yang dihamburkan kemacetan 

Kau partikel dari hembusan asap wacana knalpotknalpot peristiwa

 

Jangan kau gumamkan gundahan

Sebab kau larik dari ode sebuah kota

Kau nada minor dari lagulagu yang diputar ulang di perempatan

Kau salah satu not yang terjatuh dari gitar para pengamen itu

 

Mari nikmati ngiang riang siang

Mari menari di panggung besar kesemrawutan

Mari senyumi setiap hasrat mewah ketenangan

Sesungguhnya kita (juga) adalah percikan dari doa yang dibisikkan pedagang renta di trotoar

Peradaban

 

2019 

Merapal Katakata dari Buku Semesta

Merapal Katakata dari Buku Semesta

 

Lembaranlembaran khilaf yang kaubaca menitipkan makna sesungguhnya

Kausaja yang tergesa menuju bagian (seolah) kesadaran yang kalimatkalimatnya kautandai kauwarnai

Detikdetik adalah huruf yang kaumamah menuju erti menuju makna menuju residu wacana

Dan saat kau berdiri di dermaga jumawa yang tua dan rapuh, seolah kau melihat indah cakrwala tempat muncul dan tenggelamnya cahaya

Padahal semesta menyampaikan titah-Nya pada pasangsurut laut dan gerak patahan lempeng yang melahirkan gelombang makna

Sudahlah, wahai noktah, wahai yang siap dilumat angin ajal, eja dan terbatalah membaca degup hidup

Karena kaubuta

sebenarbenar buta

 

Bandung, 2019

Danarto dan Ricoeur

Membaca Subjek dalam Cerpen “Jantung Hati” Karya Danarto

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

Membaca pemikiran Paul Ricoeur, mengingatkan saya pada sebuah cerpen karya Danarto yang berjudul Jantung Hati (2008). Pada keduanya saya menemukan semacam kesamaan konstruksi. Namun, saya meyakini bahwa hal ini bukanlah semacam kebetulan melainkan sebuah bukti bahwa pemikiran semacam Recour tentang Hermeneutika pada faktanya terdapat pada teks-teks lokal. Dan saya sangsi bila Danarto sengaja membaca Ricoeur untuk menulis cerpen ini.

Pemikiran Ricoeur yang saya bahas di sini adalah pemikiran mendasarnya tentang interpretasi atau penafsiran. Simpulan ini disempurnakan oleh penjelasan Bu Toety Herati dalam perkuliahan  Seminar Teori dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya bahwa Ricoeur memiliki gagasan yang di dalamnya ada sebuah upaya penyatuan antara paradigma eksplanasi atau penjelasan dan paradigma understanding atau pemahaman.  Tentang ini Riceour bermaksud mengambil jalan tengah di antara keduanya yang selama ini selalu disandingkan pada dua ranah keilmuan yang berbeda, yaitu ilmu alam yang bersifat nomotetis dan ilmu sosial atau budaya yang idiografis.

Ricoeur manggagas bahwa di antara keduanya bisa disatukan dalam sebuah tindak interpretasi . Tentu saja ia bergerak dalam ranah ilmu budaya yang pada paradigma Hermeneutik sebelumnya seolah menyetujui  dikotomi tersebut. Karenanya Ricoeur dalam memunculkan tesisnya ini mencoba belajar dari berbagai bidang yang memang dilandasi oleh paradigma. Ia mempelajari dan mengkritik teori-teori Hermeneutik sebelumnya, ia juga berdialog dengan strukturalisme yang berparadigma eksplanasi tersebut. Selain itu, ia juga membaca pemikiran psikoanalisis-nya Freud. Dari jejak-jejak pembelajaran tersebut akhirnya Ricoeur memunculkan gagasan bahwa interpretasi bisa berada di atas dua paradigma tersebut.

Ricoeur kemudian meletakkan teks sebagai pusat dari meaning yang sebelumnya telah dijauhkan (distansiasi) dari sumbernya baik itu berupa kejadian (event) atau maksud pengarang. Dalam hal ini teks adalah sebuah entitas otonom yang memiliki potensi untuk dimaknai tanpa pengaruh dari pengarang atau event yang melahirkannya. Ricoeur menganggap pengarang telah mati saat teks yang diproduksinya lahir. Kematian pengarang ini dibuktikan oleh sebuah aksi penjarakkan (distansiasi).  Setelah itu, teks tersebut menjadi memiliki keotonoman yang secara internal memiliki potensi untuk membuka makna. Proses dalam penggarapan teks secara otonom tersebut, menurut Riceour adalah sebagai tahap eksplanasi. Dalam hal ini, Recoeur mencontohkan penelitian mythem –nya Levy Strauss dan strukturalisme Naratologinya Proop dan  A.J. Greimas. Namun, tidak sampai di sini, Riceour kemudian membuat sebuah fase lain yang ia sebut sebagai aprporiasi atau peleburan terhadap pembaca (dalam terjemahan buku Thompson disebut pendakuan). Pada titik inilah ada sebuah subjek lain yang kemudian akan menafsirkan teks dengan jarak yang jauh dari pengarangnya. Teks pada titik ini telah di-kinikan dan di-di sini-kan oleh pembacanya. Hal inilah yang menurut Ricoeur dapat menjadikan teks kaya akan meaning atau makna dan penafsiran atau interpretasi yang dibuat menjadi betul-betul milik pembaca yang di dalam dirinya memiliki pengalaman sebagai alat tafsir. Riceour kemudian menyebutkan hubungan antara teks dengan pembaca sebagai wacana atau diskursus.

Tafsiran saya tentang pemikiran Ricoeur tersebut adalah tentang subjek yang mengada dalam masing-masing posisi. Jadi hubungan antara teks dengan pengarang dan hubungan teks dengan pembaca adalah semacam hubungan antarsubjek dengan subjek bukan subjek-objek atau objek-subjek. Ini menarik, menurut saya, karena dengan adanya upaya ini masing-masing entitas (pengarang, teks, dan pembaca) memiliki otoritas tersendiri. Pengarang dalam hubungannya dengan sumber tulisan, teks dengan makna di dalamnya, dan pembaca dengan interpretasinya adalah memiliki kebardayaan. Kesubjekan inilah yang kemudian saya temukan dalam konstruksi sebuah cerpen berjudul “Jantung Hati” karya Danarto.

Cerpen ini menceritakan tokoh saya yang pada hari itu ia mati. Jadi, tokoh ini telah dijarakkan dengan dunia. Dalam kematiannya ia melihat jenazahnya dikebumikan. Ia juga melihat anak-istrinya menangis di tepi gundukan kuburan. Ia juga melihat teman-temannya yang lain (hlm. 7).  Tokoh saya dalam cerpen ini meninggal karena serangan jantung saat mencoba mengejar pelaku pengeboman sebuah mal. Saat kematian inilah kemudian saya menemukan dirinya memiliki kesadaran akan dunianya. Ia bahkan dapat mengindera malaikat Izrail yang digambarkan dengan begitu indahnya sebagai bunga (sekuntum malaikat) (hlm. 8).  Tidak sampai di situ, pada posisinya saat itu, yang ia yakini bahwa ia berada pada fase kehidupan berikutnya, yaitu alam kubur, ia menyadari bahwa dunia telah tidak menarik lagi. Dunia baginya adalah masa lalu. Dan ia saat ini telah menjadi subjek pada alam berikutnya. Ia bahkan menyimpulkan bahwa manusia telah salah tafsir tentang kematian dan tertipu oleh tafsir mereka sendiri tentang dunia.

Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak terbatas, luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir (hlm. 8)….

Dunia tinggal kenangan di alam mimpi. Keluarga saya, ternyata keluarga yang berada dalam impian. Seluruh pahit getir hidup yang saya alami ternyata berada di sebuah dunia yang tidak ada. Adam dan keturunannya adalah maya, ciptaan yang tidak ada, tak ada tempat yang begitu buruk seperti dunia sehingga setelah menciptanya Tuhan pun melengos. Saya selalu mengulang-ulang hikmah dari kiai saya. (ibid.)

Di alam kubur itulah sang saya melihat dunia dengan objektif. Ia seolah sedang memperlakukan dunia sebagai teks yang ia gumuli kemungkinan maknanya. Dalam cerpen ini, sang saya betul-betul sedang menafsirkan secara bebas dunia yang selama hidupnya dulu justru menjadi kebanggaan. Ia bahkan menekankan bahwa manusia sangat terkuasai oleh tubuhnya yang ia ibaratkan sebagai pakaian yang sebenarnya, setelah ia sadari di alam kubur, ternyata hanya membebani.(hlm. 11-12). Ia pun menegaskan bahwa dalam ibadah manusia adalah telanjang di mata Tuhan sehingga pakaian takada gunanya (hlm. 12).

Demikianlah tokoh saya sedang menafsirkan dunia setelah mengalami proses distansiasi dari kehidupan dunia itu sendiri.

 

 

 

Cerpen, Politik, dan Siasat Naratif ; sebuah Pengantar Singkat

Cerpen, Politik, dan Siasat Naratif

; sebuah Pengantar Singkat

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

/1/

    Baiklah. Saya akan memulai tulisan ini dengan berterus terang. Saya sudah lama tidak menulis pengantar sebuah kumpulan cerpen. Terakhir saya lakukan untuk sebuah kumpulan cerpen karya Benny Arnas sekira empat tahun lalu. Karenanya, saat akan memulai kembali aktivitas yang satu ini, saya begitu terhambat, bahkan untuk sekadar menentukan sisi mana dari kumpulan cerpen ini yang akan saya angkat. Perlu diketahui, biasanya lintasan gagasan setelah membaca sebuah karya sastra yang saya akan kata-pengantari bisa berjumlah lebih dari dua. Dan kini, semua seperti dimulai dari awal lagi. Saya sedang belajar menulis lagi; dari sebuah kebingungan tematik.

    Bersyukurnya, kali ini saya ditantang memberi pengantar untuk kumpulan cerpen sahabat saya Afifah Afra. Ya, bersyukur, karena saya memiliki kedekatan sosiologis dengan sang penulis. Sama-sama aktif di Forum LIngkar Pena, terlebih saya tahu sekali jejak kreativitas sang penulis. Jadi secara identitas, saya sudah tahu arah tematik cerpen-cerpen Afra. Ini saya anggap sebagai hal yang membantu karena saya kemudian memiliki sebuah asumsi pola tertentu dalam setiap cerpennya. Secara puitika sosiologis karya yang dilahirkan mudah untuk diidentifikasi. Tentu saja, tanpa mengabaikan adanya kejutan-kejutan pada beberapa cerpen dalam kumpulan ini, saya tetap menemukan ke-Afraan dan ke-FLP-an di dalamnya. Ya, semacam identitas ideologis dan bahkan lebih spesifik lagi, sebuah identitas politis.

    Akhirnya, saya berani menyimpulkan bahwa kumpulan cerpen yang satu ini berbenang merah permasalahan politik dan Afra tampak sedang berupaya menyiasati narasinya. Bererti ada dua lapisan politis dalam kumcer ini, tema politik dan siasat bernarasi. Bukankah bisa dikatakan, menulis cerpen adalah tindak politis karena seorang cerpenis dituntut bersiasat untuk mengemas gagasannya agar identitas politiknya tersaji dengan apik? Menulis cerpen dalam hal ini ibarat sebuah tindak melobi yang di dalamnya tersirat sebuah persuasi, tetapi berkelindan dalam tuntutan kisahan. Bila teknik kisahannya kurang canggih karya tersebut akan jatuh pada propaganda. Namun, bila ternyata teknik kisahan atau naratifnya berlapis dan penuh perhitungan komunikasi ia akan menjadi karya yang ditangkap objektif oleh pembacanya.

    Baiklah. Saya akan memulai tulisan ini dengan berterus terang. Saya agak sedikit gugup untuk mulai mengungkapkan pandangan saya terhadap kumpulan cerpen ini karena ini juga tindakan yang sangat politis. Seperti biasa, dalam sebuah arena politik, harus ada idealisme yang dikemas agar tujuannya sampai dengan persepakatan ruang publik baik koalisi maupun oposisi. Mungkin agak ngelantur, tapi, memang benar adanya saat memberi pengantar sebuah karya di dalamnya ada tegangan antara tindak kritik dan tindak promosi. Banyak yang bisa dikritisi dari kumpulan cerpen ini, tapi saya dibatasi oleh sekadar halaman pengantar yang nota bene alih-alih dari sebuah testimony. Namun, eini, tepatnya bukan sebuah paradoks, tapi sebuah kesadaran bersiasat saja. Dan ternyata, memberi pengantar juga sebuah tindakan politis. Bagaimana saya kemudian tidak gugup.

 

/2/

    Tema politik dalam karya cerpen Indonesia banyak sekali, bahkan tentang ini Seno Gumira Adjidarma (SGA) menjadikannya adagium Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra harus Bicara (KJDSHB). Dan memang pada saat adagium itu didedahkan dalam sebuah buku, realitas yang diangkat SGA dalam cerpen-cerpennya adalah realitas politik represif negara ini. Ia mengangkat kasus Timor-Timur pada masa Orde Baru yang pada saat itu menggencarkan Represif State Apparatus (RSA) dalam menyelesaikan masalah kebangsaan. Dan kreativitas SGA merupakan kontrawacana dari itu. Hanya saja, yang ia mampu adalah melakukan kontra-Ideological State Aparatus (ISA). Mamang, akhirnya terjadi ketidakseimbangan pergulatan apparatus ideologis. Namun, pada ranah inilah yang bisa karya sastra lakukan. Dan, justru itu yang menakutkan penguasa.

    Berkenaan dengan tragedi Mei 1998, SGA juga “melawannya” dengan karya sastra. Di antaranya dalam kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. Tentu saja, cerpen SGA pada saat itu sangat politis. Ada siasat melawan wacana kekuasaan tidak jauh-jauh waktu dari kejadian sesungguhnya. Adapun pada zaman pascareformasi yang tersirat dalam cerpen-cerpen SGA adalah perlawanan terhadap wacana antipluralisme.Sekali lagi, semua begitu ideologis sekaligus politis. Dalam hal ini, bisa disimpulkan, SGA takpernah berhenti berpolitik melalui karya sastranya.

    Sebagai contoh lain, cerpen-cerpen Kuntowijoyo bisa diangkat di sini. Kumpulan cerpen terakhirnya (yang diterbitkan anumerta) Pelajaran bagi Calon Politisi adalah contoh representatif berkenaan dengan strategi naratif ideologis terhadap realitas politik Indonesia kontemporer. Melalui karya-karya yang ada di dalamnya, ia memotret kecenderungan politik keseharian rakyat Indonesia. Berbeda gaya dengan SGA, Kuntowijoyo melawan wacana politik dalam negeri dengan gaya realis. Bila SGA mengakumulasikan narasi perlawanannya dalam buku KJDSHB, Kuntowijoyo menuliskan dalam berbagai narasi politiknya dalam buku Paradigma Islam juga dalam Identitas Politik Umat Islam  (untuk hanya menyebut dua contoh saja). Tentu saja, saya tidak akan membahasnya di sini secara detil tekstual contoh-contoh yang saya sebutkan  dengan harapan siapa pun yang membaca pengantar singkat ini bergegas mencari buku-buku tersebut.

    Dua contoh pengarang dan karya mereka tersebut untuk menggarisbawahi bahwa menulis sebuah cerpen adalah juga sebuah tindak politis. Ia adalah sebuah pemberontakan terhadap sebuah peristiwa politik tertentu dalam ruang publik tertentu. Melalui siasat atau strategi naratif, setiap penulis berusaha menyasar target politiknya masing-masing. Begitupun dengan karya Afifah Afra. Bila dipetakan, setidaknya, ada tiga pola narasi yang dilakukannya.

 

/3/

    Setelah saya baca dengan sangat lambat, kumpulan cerpen ini menyisakan banyak kejutan. Keberanian sang penulis dalam meramu berbagai tema, sejak tema keluarga, tema alam, tema sosial-politik kemasyarakatan, dan tema sufistis membuat saya harus menyelam lebih dalam untuk mencari benang merah karya. Walaupun tentu saja takbisa dipaksakan adanya ikatan imajiner di antara keseluruhan karya, tetapi saya “curiga” ada “kegelisahan” substansial yang melandasi semuanya. Dari sinilah munculnya asumsi adanya strategi naratif dalam rangka gagasan politik sebuah karya.

    Cerpen-cerpen yang secara dominan mengangkat tema-tema keluarga, ternyata di dalamnya terdapat penanda politisnya masing-masing. Kita lihat pada cerpen “Pesta Kematian” terdapat upaya pengukuhan relasi kekuasaan antara seorang Bapak dengan anak-anaknya dan dunia yang digenggamnya. Sebuah narasi pemertahanan kekuasaan yang unik. Paradoks antara kesadaran transenden tentang kematian dengan keprofanan dunia dimainkan dalam cerpen ini.

Dia ingin saat kematiannya, orang-orang berduyun-duyun meramaikan upacara persemayamannya. Itulah akhir yang agung dari kebesaran yang pernah ia miliki selama menempuh kehidupan di dunia.

Dan dia begitu sibuk dibuatnya.

“Kau harus membuat makamku seindah istana, Nak!” ujarnya, pada seorang anaknya. “Hanya satu hal itu yang tidak bisa saya lakukan. Saya bisa mempersiapkan peralatannya, mulai dari semen, marmer, hingga emas untuk menyepuhnya. Namun kaulah yang kuharapkan menjalankan rencana itu dengan baik.” (hlm…)

 

    Demikianlah, sang tokoh utama kaya raya yang disebut Bapak dalam kisah ini mempersiapkan kejayaannya sampai dia meninggal. Ia menginginkan symbol kejayaannya dikukuhkan sampai ke pemakamannya. Namun, perayaan itu diceritakan terjadi lebih “dahsyat” karena kematiannya dalam sebuah kecelakaan pesawat. Penulis mengkhiri kisah ini dengan sebuah sarkasme yang berhasil. Sebuah siasat naratif untuk sebuah kisah penuh siasat.

Maka pesta kematian pun berlangsung meriah. Ribuan—bahkan jutaan makhluk datang bertandang. Bukan manusia. Namun satu kerajaan arthropoda yang mengerubuti seonggok jenazah hangus di antara puing badan pesawat udara.

Pesta kematian yang begitu istimewa. (…)

 

    Tema keluarga yang akan dibahas berikutnya adalah cerpen yang dijadikan judul kumpulan ini, yaitu “Seorang Lelaki dan Selingkuh”. Sebuah kisah tentang kesetiaan seorang suami yang berprofesi sebagai penarik becak. Kisah ini, menurut saya, adalah cerpen yang paling berhasil di antara cerpen lainnya. Bukan hanya karena twist di akhir cerita saja, tetapi juga karena kebersahajaan penceritaannya. Karena itu, cerpen ini sangat menonjol setelah dilatari pola penceritaan dan pola bahasa yang hiperbolis dan metafor yang akrobatis.

    Memang cerpen ini bukan berbicara tentang politik praktis, tetapi di dalamnya mengandung politik identitas yang sangat kuat. Relasi antara seorang tukang becak dengan tradisi merokok di dalamnya tersirat ketakberdayaan masyarakat kelas bawah terhadap industri rokok. Betapa pentingnya “tokoh” rokok dalam cerpen ini sehingga menurut saya menggeser sang suami pengemudi becak dari posisinya sebagai tokoh utama. Jalinan ideologis antara rokok, uang, dan kesetiaan disajikan dengan apik dalam cerpen ini. Karena itu, kekalahan sang tokoh utama di akhir cerita sangatlah politis. Relasi kuasanya atas rokok, istri, dan uang tergerus seketika. Yang dirasakan dalam hatinya bukan hanya kekalahan moral, tetapi “politik”.

 

“Maaf, aku merokok, Pen!”

“Oh, nggak papa….”

“Tetapi mas Wied kan tidak merokok.”

“Aku yang melarang. Masak tukang becak seperti dia merokok, bisa-bisa uangnya habis buat beli rokok, terus… mau makan apa? Kalau mas kan cukup kaya.”

“Jadi nggak papa aku merokok? Kupikir kamu nggak suka melihat laki-laki merokok.”

“Kalau kamu yang ngerokok, aku tetap suka, Mas!”

“Benar? Eh, kalau suamimu tiba-tiba pulang, bagaimana?”

“Tenang saja, suamiku baru akan pulang nanti jam satu malam. Masih ada waktu 2 jam. Kita lanjutkan saja bersenang-senang, Mas….”

“Kau mau merokok?”   

“Ngg… boleh… sini, aku coba!”

“Kau cantik sekali, Pen! Mestinya kamu nggak jadi istri tukang becak…, tetapi jadi istri orang semacam aku.”

“Mas….”

Percakapan itu begitu jelas memasuki gendang telinga Wied. Sebenarnya lirih, namun tertangkap di syarafnya seperti ledakan guntur. Lelaki itu pun merasakan tubuhnya bergetar kencang…. Ada yang merangsek dalam hatinya… luka!

Begitu dalam. Ia tak tahu apa yang mesti ia lakukan.

 

    Berikutnya, adalah cerpen yang bertema alam, yaitu “Attar” dan “Perempuan yang Mencintai Pohon-Pohon”. Kedua cerpen ini, sebenarnya bertema keluarga juga, tetapi menjadikan alam sebagai media atau katalisator ideologis. Dalam cerpen “Attar” narator adalah sebuah pohon trembesi yang kuat dan takhancur ditimpa bencana Merapi. Hal ini, bisa dibaca sebagai siasat naratif untuk menyampaikan pesan politis relasi manusia dengan manusia. Attar yang terasingkan dalam relasi keluarga dan masyarakat memerlukan pelampiasan diri melalui tindak kemanusiaan. Pada saat yang sama ada sebuah pohon dan seorang gadis merasa kehilangan sosok Attar saat ia akhirnya meninggal tertimpa reruntuhan. Kehilangan ini adalah sebuah indeks dari adanya realitas hierarkis antara alam dengan manusia. Alam menjadi pihak yang terepsesi oleh banalitas kehidupan manusia. Dalam konflik ini, perasaan kehilangan adalah siasat naratif dalam bingkai politik ekologis.

Mendadak aku tersadar. Kalaupun kau bertanya padaku, aku tak mungkin bisa menjawabnya. Ya, karena aku hanyalah sebatang pohon trembesi raksasa, yang telah hidup sejak puluhan tahun yang lalu. Berkali-kali aku menjadi saksi meletusnya Merapi. Dan di peristiwa kemarin, aku ikut tersembur awan panas. Daun-daunku pun mengering. Tetapi, aku masih bisa tumbuh lagi. Tak seperti Attar, yang terkubur di sana.

Kusaksikan awan yang pekat menutupi pandanganmu. Kau berjalan terhuyung, tanganmu bergetar saat membuka pintu mobilmu. Mendadak, aku teringat kata-kata Attar.

Siapa yang akan merasa kehilangan sekalipun ragaku lumat? Tak ada, Bang! Tak ada.”

Kau salah, Attar. Ada yang sangat kehilangan saat kau tiada. Gadis itu. Dan aku.

 

    Begitupun dengan cerpen “Perempuan yang Mencintai Pohon-Pohon”, relasi yang sama terjadi. Alam sebagai katalisator makna dari kondisi teralienasinya dua orang perempuan. Alam dijadikan pelarian melalui aksi simulasi kedua perempuan tersebut. Selain itu, nama-nama tokoh yang berbau alam, seperti Jejak Rimba dan Biota Nirwana memiliki peran tersendiri dalam peleraian sebuah konflik psikologis. Begitupun sebaliknya, saat terjadi personifikasi pohon-pohon  atas sosok anak-anak tersirat sebuah upaya katarsis dari tokoh Sang Puan. Dalam hal ini, secara politis alam dijadikan objek cerita, yaitu sebagai alat peleraian masalah antarmanusia. Kritik ekologis dalam cerpen ini terhijab oleh kuatnya konflik keluarga. Namun, untungnya, masih tersisa makna sindiran pada gaya hidup modern anak-anak sang Puan yang menjadikan mereka begitu “jahat” terhadap sang Ibu yang dalam dirinya terdapat kesadaran ekologis.

Oh Rimba… aku tak tahu, mengapa akhirnya menjadi seperti ini. Tak hanya Pak Ardi, keempat putra Nyonya, semua bersepakat dalam satu hal: aku dipecat dan harus segera angkat kaki dari istana ini. Mereka menuduh akulah yang membuat mama mereka gila. Padahal, aku baru 6 bulan di sini, dan Sang Puan telah mencintai pohon-pohon sejak bertahun-tahun yang lalu.

Tetapi, Sang Puan membelaku mati-matian. Aku tetap berada di rumah ini, Rimba…

“Temanilah aku, Nak… jangan pergi, kita sama-sama mencintai pohon-pohon, meski kecintaan kita sebenarnya sebuah pelarian dari perasaan kehilangan kita akan cinta manusia. Nak, kamu mau kan, menemani Mama dalam kesunyian yang mencekam ini?”

Kuraih tangan perempuan itu, kujabat erat lalu kucium. Dan mendadak aku merasakan sepasang lengan rapuh itu memelukku. Bersama tangis yang pilu.

 

    Strategi naratif yang sama sebenarnya terjadi pada cerpen “Alex dan Roxana”. Hanya saja, pada cerpen ini katalisatornya bukan alam, tetapi dunia sosial media. Ini sebuah contoh cerpen postmo menurut saya. Namun, pada kumpulan ini hanya ada satu cerpen bercorak ini. Makna yang berusaha diungkapkannya adalah sama dengan dua cerpen yang dibahas sebelumnya, yaitu tentang relasi kemanusiaan yang disimulasi melalui media lain.

    Korpus berikutnya adalah berhubungan dengan tema sosial-politik kemasyarakatan. Cerpen-cerpen bertema tersebut paling banyak dalam kumpulan ini: “Perang Doa”, “Sampah”, “Sandal Jepit sang Walikota”, “Fardhu Kifayah”, “Shima”,  “Bisnis Sang Caleg”, “TPQ-gate”, “Kakek Tua dan Tikus”, “Matinya Sang Peramal”, “Menanti Cinta Sejati”, “Malaikat Akan Datang Kepada Surti”.

    Kedua belas cerpen ini memiliki tema politik yang bertingkat sejak politik kemasyarakatan minor sampai tema politik mayor atau seputar politik praktis. Tema minor terdapat pada cerpen “Sampah”, “Fardhu Kifayah”, dan “Malaikat akan Datang Kepada Surti”. Ketiganya saya kategorikan minor karena tema politik yang diangkat tersirat dalam ruang lingkup konflik keseharian. Namun, walaupun demikian, sosial politik kemasyarakatan sangat terasa, seperti kisah seorang penarik sampah yang paradoksal dalam tatanan masyarakat urban dalam “Sampah”. Relasi kemasyarakatan dalam terma keagamaan berkelindan dengan permasalahan individual dan kolektif dalam “Fardhu Kifayah”. Dan sebuah potret buram sosial urban yang determinis dalam “Malaikat Akan Datang Kepada Surti”. Kesemuanya adalah kritik sosial politik yang cukup tajam. Di balik semua kejadian ada kebijakan politik yang bermasalah.

    Jawaban dari karut marut kemasyarakatan  pada ketiga cerpen tersebut terjawab secara gamblang dalam tema politik mayor pada kumpulan ini. Lihat saja pada “Sandal jepit Sang Wali Kota” misalnya, di sana terdapat pergeseran idealisme politik seiring kontestasi liberal perpolitikan. Kesederhanaan yang dijadikan komoditas politik bukankah terjadi saat ini? Namun, serunya, cerpen ini kemudian memotret evolusi kemanusiaan politisi tersebut yang ternyata tanpa disadari telah menjauh dari niat awalnya. Problem pertama akar permasalahan sosial masyarakat pada politik minor telah diangkat dengan jelas dalam cerpen ini. Belum lagi saat membaca “Bisnis Sang Caleg”, “kakek Tua dan Tikus”, “TPQ-gate”, dan  “Matinya Sang Peramal”, terdapat problem-problem lanjutan. Tentu saja bisa ditebak: Politik transaksional, Korupsi, Stigmatisasi Politik, dan Konspirasi Absurd Perpolitikan Bangsa. Lengkap sudah!

    Permasalahan tersebut kemudian diakumulasi dalam sebuah cerpen metaforis yang berjudul “Menanti Cinta Sejati”. Afra dalam hal ini kembali membuat simulasi. Kali ini tentang sketsa sejarah negeri ini.

Perkenalkan, namaku Puteri Khatulistiwa. Lengkapnya Raden Ajeng Puteri Khatulistiwa. Sebuah nama yang agung, seagung sang pemberi nama: ayahanda dan ibunda. Ayahanda Paduka Dirgantara, raja yang berkuasa di persada angkasa. Ibunda Pertiwi, pemilik bentangan semesta yang raharja dengan kekayaan tiada tara. Perkawinan Dirgantara dengan Pertiwi melahirkan Puteri Khatulistiwa, jabang bayi montok yang beranjak dewasa dan menjelma menjadi gadis gemilang nan akas cendekia.

 

    Sebuah siasat atau strategi naratif yang patut diapresiasi saat penulis memersonifikasi negeri ini menjadi seorang gadis yang gagal terus dalam percintaannya. Namun, terlalu banyak yang harus dijelaskan berhubungan dengan psikologi dan sosiologi naratif sementara tujuannya adalah politis: menggambarkan betapa Indonesia belum berada pada tangan yang tepat. Di sini ada ketegangan antara tubuh sosial dan tubuh manusia. Sebuah bias citra akan terjadi berhubungan dengan eksploitasi sosial dan seksual secara verbal. Karena itu, risiko siasat personifikasi ini sangat rentan, Dan itu terbukti dalam akhir kisah.

Akan tetapi, mari aku ceritakan sesuatu kepadamu. Jangan keras-keras, dan jangan ceritakan kepada orang lain. Aku… frigid. Aku mati rasa. Karena, sudah terlampau lama menderita.

Namun, aku harus bercerita pula kepadamu, dengan sedikit berbisik. Harapan itu masih ada. Harapan dipinang oleh seseorang yang benar-benar mencintaiku dengan setulus hati. Seseorang yang mencintai dengan cinta sejati. Bukan karena menginginkan kekayaan yang kumiliki, atau menikmati kecantikan yang melekat pada diriku.

Tolong, jika kau memiliki orang dengan kriteria seperti itu, kabarkan kepada dia bahwa aku menunggunya…

   

    Munculnya diksi frigid dan mati rasa, saat dikembalikan ke akar wacana mengandung bias logika. Sementara itu, simulasi naratif yang dilakukan mudah sekali ditafsirkan sebagai metafor atas negeri ini. Bukankah kestabilan politik sebuah bangsa usianya tidak bisa disamakan dengan usia dan kondisi biologis seorang gadis. Sejarah membuktikan, kejayaan peradaban diperjuangkan puluhan bahkan ratusan tahun? Relativitas yang tidak bisa disandingkan dengan siklus seorang manusia yang pada umumnya tak lebih dari 100 tahun usia, bahkan kurang?

    Demikianlah, berbagai upaya pengungkapan tema politik melalui beberapa strategi naratif  telah dilakukan oleh penulis kumcer ini. Namun, tidak sampai di situ. Sebagai ulasan pamungkas, saya akan membicarakan tema-tema sufistis dalam kumcer ini, yaitu pada cerpen-cerpen berikut: “Perjamuan Malaikat”, “Sebilah Pisau untuk Membelah Dadaku”, “Perempuan Berkapan Rambut”, “Membunuh Sang Kyai”,  dan “Perempuan yang Mengandung Bola Api”.

    Saya melihat ada keberanian tinggi dari penulis untuk melampaui realitas dengan mengambil sudut-sudut pandang, fokalisasi-fokalisasi, dan strategi-strategi naratif yang imajinatif bahkan fantasi. Hanya saja, setiap sumber kisahan acapkali menuntut strateginya masing-masing. Kisah realis “Seorang Lelaki dan Selingkuh” sangatlah berhasil karena tuntutan kisahan yang dipenuhi penulisnya. Begitu juga kisah-kisah politik negeri yang lebih meminta pemenuhan fakta, data, dan kedalaman interpretasi kesejarahan. Dalam hal ini saya jadi teringat kumpulan cerpen Iksaka Banu, Semua untuk Hindia.  

    Pada kumpulan tersebut Banu dengan sangat sederhana mengisahkan realitas-realitas Indonesia zaman kolonial. Saya melihat strategi naratifnya berhasil karena realitas yang diangkatnya meminta dia untuk berlaku seperti itu. Bagaimana relasi antara seorang tokoh blasteran Indonesia-Belanda di tengah politik identitas saat itu misalnya, dan sebagainya. Intinya, kepekaan pengarang menggarap jenis kisahan sangatlah penting. Namun, kumpulan cerpen ini menjadi berarti saat digenapi oleh tema-tema sufistis.

    Menurut keimanan seorang muslim hal-hal yang irasional memang bagian dari kehidupan. Ada Sang Maha di balik segala yang mungkin dan serba kalkulatif. Lihat saja makna yang tertanam dalam “Perjamuan Malaikat”. Ia melampaui politik minor dan mayor yang saya sebutkan sebelumnya. Ia adalah poliltik transenden, ilahiah, yang hanya memerlukan iman. Belum lagi pada “Sebilah Pisau Membelah Dadaku”, sebuah hiperbola yang berani (dengan berbagai catatan logika dan teknis tentu saja). Namun, demikianlah sebuah kisah sufistis menuntut strategi kisahan. Belum lagi saat membaca “Perempuan yang Berkafan Rambut” yang akan menyeret pembacanya pada sebuah ruang nirlogika seperti juga pada cerita “Perempuan yang Mengandung Bola Api”. Kedua kisah tentang perempuan yang menghadapi realitas modern yang menuntut strategi naratif tersendiri.

    Ulasan pamungkas dari kategori pamungkas ada pada cerpen “Membunuh Sang Kyai”. Cerpen ini menurut saya adalah cerpen jembatan antara semua cerpen yang ada. Saat Afra bercerita tentang tema alam, tema politik kemasyarakatan, dan tema sufistis, ia sedang berusaha melakukan “dakwah” kultural tentang problematika umat. Ia melihat dalam berbagai dimensinya umat sedang dalam permasalahan. Namun, solusi permasalahan yang ada terlalu bersifat politis-kalkulatif sehingga ia berusaha membuat cerita yang metaforis. Semua mencoba disisipkan pada strategi naratif yang tidak biasa karena permasalahannya juga tidak biasa. Dan titik ideal dakwah kultural yang coba diangkatnya adalah ada pada dua kisah “Shima” dan “Membunuh Sang Kyai”. Pada Shima adalah ada transformasi kisah keadailan Rasulullah yang diwujudkan pada kebijakan seorang Ratu saat harus menghukum anaknya sendiri demi keadilan. Namun, kisah ini terlalu umum dan berada pada ruang istana. Walaupun tidak ada yang salah dengan itu, saya lebih tertarik untuk membahas cerpen “Membunuh Sang Kyai”.

    Pada cerpen tersebut ada upaya pembenturan antara yang terlihat dengan yang takterlihat, antara persepsi permukaan dengan realitas sesungguhnya, antara fakta dan realitas, antara politik-artifisial dengan politik transendental. Bahwa perubahan tidak bisa dilakukan dengan instan dan serba cepat ditekankan dalam cerpen ini. Bukankah itu hakikat dari gerak kultural sebuah dakwah. Saat sang Kyai yang dibunuh, ternyata eksistensinya ada di setiap lorong permasalahan umat dan dirindukan di sana itulah sejatinya tugas khaira ummah dalam bingkai rahmatan lil alamin. Hanya saja, tidak semua bisa mengindra hal itu, termasuk tokoh utama dalam cerpen ini. Bersyukurnya, ia kemudian dibawa dalam perjalanan spiritual  untuk meresepsi perjuangan sang kyai. Ia berubah dari tubuh positifis ke tubuh eksistensial. Ia berhijrah dari yang syariat ke yang hakikat menuju yang makrifat. Wallahua’lam.

 

/4/

    Baiklah. Saya akan menutup tulisan ini dengan berterus terang. Saya agak gugup mengakhiri tulisan ini karena banyak yang belum selesai diungkap berkaitan dengan pendapat saya tentang strategi naratif cerpen ini. Namun, menganalisis kumpulan cerpen ini haruslah dalam bentuk seluas-luas karya tulis, mungkin skripsi , tesis, atau bahkan disertasi. Karya ini layak mendapatkan analisis mendalam. Ala kulli hal, tahniah untuk sahabatku Afifah Afra. Barakallah.

Bandung, 27-28 November 2018

Secangkir Doa Pagi

Ada yang menyeduh senyum
Ada yang membuka jendela harap
Ada yang menitip nyanyian pada beburung di dahan makrifat

Oh, zikirzikir satir atas segala dosa yang kasat
Ini aku sang fakir nansombong berlumur karat
Duduk menghirup udara kesadaran tuk penuhi tabungtabung kesabaran
Oh, Yang Segala Maha, celup jiwa ini dalam cangkir kebaikan.

Ada yang menyeduh senyum
Lalu menyodorkannya di ini ruang khalwat.

Bandung, 2019

Menempuh (7)

Menempuh (7)

Usai tanjakan pertama, jalan kembali landai. Namun, dia memutuskan untuk istirahat. Ia tepikan motornya di bawah pohon nangka. Hampir di halaman sebuah rumah semi permanen yang tidak terlalu besar. Halaman rumahnya sebentuk tanah coklat kehitaman tanpa rumput. Tanah itu mengilat seperti lembap. Tampak licin. Tapi ia tak memperhatikannya terlalu lama. Ia hanya mencari tanah yang berumput dekat pagar bambu. Ia harus istirahat. Terlebih motornya. Bau gosong menyengat dari knalpot itu. Bila daun nangka kering jatuh tepat di sana, mungkin langsung terbakar.

Setelah motornya distandarkan. Ia turunkan ransel penuhnya dari punggungnya. Ia simpan tas itu tepat di batang pohon nangka. Ia pun kemudian duduk dan menyandarkan punggungnya di ransel itu. ‘Kenapa tidak kita giliran menopang tubuh. Maaf, sekarang kubebani kamu wahai beban!’ Gumamnya.

Di ambang ketaksadaran, ia dikagetkan oleh satu sosok yang tiba-tiba saja berdiri di depannya.

“Abah mempersilakanmu masuk… Sudah masuk waktu Duha… kata Abah biasanya Akang mampir salat Duha di sini.” Dengan bahasa Sunda halus gadis cantik itu mempersilakannya masuk.

Sambil tersihir oleh kecantikan kembang desa, ia ikut saja masuk ke rumah setengah permanen itu. Kecantikan yang menyilaukan seperti matahari, seperti ibu. Ia hampir takpunya visi pandangan lagi, terbutakan.

‘Ah, takpernah aku temukan kemurnian seperti ini di kota B. Ruang tempat berdesak-desakan antartubuh di sebuah mall, trotoar, kampus, dan berbagai pesta. Perempuan-perempuan dan tubuh mereka ibarat manekin zonder jiwa dan cahaya. Perempuan ini ibarat seperangkat estetika alam pagi di sebuah perkampungan tanpa polusi…’ ceracau hatinya.

Ia membuntuti gadis itu menuju pintu rumah. Saat pintu itu dibuka ada derit halus terdengar dari engselnya… (Bersambung)

Bandung, 16 Oktober 2018

 

 

 

Menempuh (6)

Menempuh (6)

 

Dan betul saja ia tertinggal. Kini melenggang sendirian. Tampaknya ketrergesaannya kalah sarana. Atau  jangan-jangan pengendara yang lain sesungguhnya tidak sedang tergesa?Hanya kendaraan mereka yang mutakhir yang membuat mereka melesat tanpa mengejar apa-apa? Kecepatan bukan Ketergesaan. Beda dengan dirinya, ketergesaan adalah ruang jiwanya, tetapi motornya takmengizinkan untuk itu. Juga jiwanya. Sampai mengepul asap hitam dan mengerang mesin pun kelesatan takjua dicapainya.

Pada zamannya, motor 4 tak-nya ini mungkin juara. Namun, zaman juga sudah lesat. Ia tertinggal oleh realitas dan acapkali pikiran semacam itulah yang sesungguhnya menindas. Ia generasi tua dengan gaya yang tua.

Hanya saja, ia masih yakin menang jika perlombaan balap ini tujuannya adalah kota P tempat ibunya menunggu. Kebertahanan dan jalan-jalan pintas ia ketahui dengan pasti sampai ke likuk-likuknya. Sementara kalau ditempuh melalui jalur utama akan memakan waktu dua kali lipatnya.

Seperti sekarang, ia sedang ada di sebuah jalan kampung yang melipat jarak dari kota B ke kota G. Walaupun, jalannya menanjak, tapi ia tahu jalur ini lebih cepat. Ia lesatkan saja semampu yang ia dan motornya bisa. Apalagi, menuju tanjakan yang lumayan panjang, ia perlu ancang-ancang.

Dan begitulah perjuangan, pada ujung tanjakan tenaga motor dan harapannya hampir usai, tapi matahari yang mulai meninggi seolah menjulurkan tali yang diikatkan ke stang. Sambil mencoba memosisikan diri agar tubuhnya ikut menggenjot sang motor, akhirnya dia sampai di ujung tanjakan pertama. Dan ia tahu ada empat lagi tanjakan puncak serupa dan satu tanjakan sebelum jalan menurun. Melembah.

(Bersambung)

 

Bandung, 15 Oktober 2018

 

 

 

 

Menempuh (5)

Menempuh (5)

Ia kini bagian dari balapan motor-motor Pengejar matahari. Tentu saja dibanding motor-motor baru dan matic, motornya agak terseok, tapi ia yakin akan sampai pertama jika itu menuju ibu.

“Kau sedang diuji. Kita sedang diuji. Tempuhlah semuanya. Ibu menunggumu di sini.”

Terngiang kuat mantra itu, kadang ia gumamkan juga di tengah tempuhan. Kalau saja ada orang yang melihat betapa cengengnya ia saat menelpon ibunya tadi malam, ia bukan ia lagi.

Derai yang dihindari para lelaki itu betul hanya mitos ternyata. Buktinya ia, melampaui keberderaian. Di diseret ke arah palung terdalam penyesalan yang kemudian oleh energi dari dasar bumi, dihempaskan ke permukaan kembali. Lalu jiwanya diseret arus deras menuju curug berbatu tajam. Melayang menuju runcing kepedihan. Membuatnya tercekat dan memekik.

Jalan di depan kehilangan matahari. Belokan pertama sejak lampu merah itu membuatnya menempuh tenggara lalu selatan. Namun, motor lain masih mengegas dengan semangat. Ada di antara mereka yang melampauinya memandang tajam walau sekilas. Diiringi senyum meremehkan sedetik sebelum lesat.

…. (Bersambung)

Bandung, 11 Oktober 2018

 

Menempuh (4)

Menempuh (4)

Matahari terbit. Ya, matahari terbit. Sesosok makhluk yang kerap dicemburuinya. Keikhlasan jenis apa yang dimiliki makhluk itu untuk konsisten menempuh? Tanyanya. Sementara itu, dirinya selalu terhalang oleh gelisah yang kadang tibatiba datang dan menginterupsi langkah. Kegelisahan yang jorok. Takkenal tempat takkenal waktu. Serupa residu dari perut dunia yang malahap apa saja.

Dan dia sekarang seolah sedang mengejar makhluk itu. Ke arah timur motor tua yang sering terbatuk itu ia lajukan. Tapi kadang ia menganggap matahari serupa ibu… ibunya. Ya, siapa lagi. Bukankah, itulah satu-satunya alasan ia bertahan?

Di perempatan itu, ia terhenti bersama puluhan motor lainnya. Berderet hampir berhimpitan. Tepat di bawah lampu merah stopan mereka berhenti dan siap balap setelah lampu merah berganti hijau. Tapi, lampu merah itu kini tergantikan oleh silau matahari itu. Benda putih kekuningan terang, seterang-terangnya berhasil mengalihkan ruang di kepalanya.

“Tet teeet tooot…taaat teet toot…” bunyi yang serentak menembus gendang telinganya membuatnya terbangun…

“Rek sare mah di imah we, Bel!!”*

(Bersambung)

 

9 Oktober 2018

 

*Kalau mau tidur di rumah saja!!