MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH

MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH[1]

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

/1/

Menggugah

             Puisi acapkali diperlukan untuk membangkitkan keterlenaan, keterpurukan, ketersesatan kebingungan, kebebalan, dan ke-an ke-an yang lain. Di dalamnya ada hikmah yang terjalin pada makna kata-kata yang ditemukan, ditimbang, dan dipilih. Kehikmahan makna kemudian menjadi sangat penting dan mendasar pada fungsi yang satu ini. Karena itu, hikmah manjadi satu titik tujuan dari sebuah ketergugahan.

Tentu saja kebangkitan yang diajarkan dan diajakkan puisi bukan kebangkitan positivistik, melainkan kebangkitan spiritual. Karena itu, “sekeras” apa pun artikulasi puisi yang dibuat ia sebenarnya adalah sehalus-halus cara untuk bangkit. Puisi adalah tindak verbal yang ditujukan ke akal pikiran dan lalu ke hati. Puisi mungkin adalah bagian dari sebuah revolusi, tapi revolusi dari dalam. Karena itu, fungsi gugah sebuah puisi adalah perangkat lunak dari sebuah kebangunan. Sebuah perang bisa dibakar oleh semangat kata-kata perintah dan doktrin, tapi ketahanan mental para pejuang hanya bisa dirasuki oleh puisi.

Puisi bahkan sering diidentikkan dengan posisi damai sebuah keadaan. Namun, ia bukan sekadar berindah-indah kata. Ia adalah senjata makna, senjata hikmah. Akrobat kata-kata dan metafora acak justru menjauhkannya dari  hikmah. Mereka semacam gangguan suara yang memotong komunikasi. Mereka adalah sesuatu yang menghalangi “puisi” menjadi puisi.  Mereka menghalangi makna sampai pada hikmahnya.

 

/2/

Gundah

Salah satu yang mendasar dari proses lahirnya puisi adalah kegundahan. Ia semacam titik pusat yang menggetarkan berbagai fenomena dalam radius tertentu. Semakin kuat daya getar pada titik tersebut semakin luas radius pengaruhnya. Karena itu, puisi besar sering dilahirkan dari peristiwa besar (kegundahan) sejarah. Namun, karena hakikat puisi adalah artikulasi jiwa, hal-hal besar ini berlaku pada berbagai tataran hingga tataran individual. Kegundahan individual inilah kemudian yang menjadikan puisi seseorang menjadi milik kegundahan bersama pada setiap masa.

Kegundahan sosial-budaya sebuah masyarakat sampai kegundahan personal  hanya masalah dimensi saja. Keduanya bisa saling beririsan. Namun, yang justru menjadi hambatan tersampaikannya hikmah adalah saat kegundahan personal menghalangi kegundahan pada lapis selanjutnya. Acapkali, kegundahan personal menjadi cangkang yang terlalu kuat membungkus hikmah sosialnya. Jadinya puisi hanya dimengerti dan dinikmati oleh pembuatnya saja.  Bahkan, hal inilah yang menjadikan sebuah “puisi” terhalang menjadi puisi.

Dari itu semua, yang diperlukan kemudian adalah kepekaan dan keekspresifan. Kepekaan adalah semacam pendeteksi titik masalah dari gundah; keekspresifan adalah sarana komunikasi (estetis) dari gundah yang sudah terpilih. Dan alat pendeteksi tersebut adalah pertanyaan. Semakin sering seseorang mengajukan tanya, semakin kegundahan berhasil dideteksi dan diikat oleh kata.  Namun, langkah pertama tersebut akan jadi tinggal dan mengekal pada kegelisahan personal semata jika takdiiringi proses pengujaran. Proses inilah yang menjadi PR selanjutnya bagi seseorang yang berupaya menggugah gundah menjadi hikmah melalui puisi.

 

/3/

Mengunggah

            Proses pengujaran menjadi sangat penting bila seseorang telah mengikat tanya dari gundah yang dimilikinya. Kata-kata yang mewakili kegundahan yang telah terdeteksi itu sebenarnya sudah ada pada jiwa setiap manusia. Hanya saja, taksemua individu mengunggah kegelisahannya dalam ekspresi sastra yang kemudian dinamakan puisi. Lebih jauh lagi, sebenarnya puisi sudah ada pada jiwa dan benak setiap individu, tetapi ia tidak diunggah baik secara lisan, tulisan, dan citraan visual. Simpulan ekstremnya adalah:  semua orang adalah penyair, tapi tidak setiap orang mampu mengunggah puisinya kepada khalayak.

Proses mengunggah berarti menjadi hal krusial bagi proses kreatif berpuisi karena ia adalah tahap eksekusi kepenyairan seseorang. Dalam hal ini, bukti konkret jalinan kata dalam berbagai bentuknya menjadi semacam pembuktian bahwa renungannya memiliki estetika tersendiri. Saat seorang pendosa menjura dalam doa-doanya, kata-kata yang dipilih secara diam-diam dalam batin dan bisiknya adalah puisi. Begitu juga, saat seorang pemuja menghayati dan mengungkapkan keterpukauannya dalam sebuah bisik benak dan jiwa, ia akan, sedang, dan telah menjadi penyair. Hanya saja, permasalahan berikutnya muncul. Para penyair alami ini kehilangan estetika saat mengujarkannya pada dunia.

Proses keterputusan talenta kepenyairan terjadi karena dunia menutupi kemampuan spiritual mereka. Karena itu, untuk melahirkan atau membangkitkan kembali talenta alamiah tersebut perlu daya renung yang dalam untuk melahirkan daya pilih kata yang kuat sehingga muncul daya jelajah makna dalam mengujarkan dan memvisualkannya. Pada titik inilah diperlukannya wawasan dan latihan. Wawasan akan mengantarkannya pada bentuk-bentuk konvensi kepuisian dan latihan akan mengantarkannya pada kemampuan menangkap puisi yang telah laten hidup dalam dirinya.

 

/4/

Madah

            Kegundahan yang menjadi subjek pertama sebuah proses berpuisi pada praktiknya tidak selalu melahirkan artikulasi murung dan hitam. Kegundahan adalah semacam pemicu dari pertanyaan dan renungan. Setelah itu, ia bisa diwujudkan pada berbagai jenis unggahan. Salah satunya adalah yang secara diametral  berseberangan;  kegundahan bisa menghadirkan puji-pujian. Alih-alih menghilangkan inti kegundahan , puji-pujian justru melesapkan kegundahan pada titik nadir kelemahan individual penyair.

Saat berbagai gempuran permasalahan membenamkannya pada sebuah doa yang pisau, ia justru merasa pada titik nol kekuatan. Di situlah madah lahir dan mewakili secara metaforis kegundahan yang ada. Puji-pujian adalah artikulasi sakral ketakberdayaan manusia yang kerenanya ia berserah pada Sang Mahasegala. Begitupun saat seseorang hadir di tengah hiruk pikuk kota dan kegelisahan manusia di dalamnya, alam bisa dipuja sebagai opisisi paradigmatis realitas yang ada. Ketika pada sebuah ruang peristiwa manusia telah kehilangan prinsip dan menjadi robot syahwat mereka sendiri, madah tentang Rasulullah SAW menjadi semacam difleksi yang diperlukan.

Menggugah gundah mengunggah madah adalah salah satu cara untuk mengembalikan kita pada fitrah kepenyairan. Diksi-diksi dan jalinan struktur pengujaran akhirnya menjadi semacam sarana yang perlu digali dari setiap individu dalam rangka mengikat hikmah. Dan bukankah hikmah adalah tujuan dan cara kita dalam berdakwah? Melalui tebaran-tebaran hikmah inilah kebaikan akan menjadi parameter realitas yang semakin banal dan regas. Wallahu’alam bis shawab.

 

Bandung, 4 November 2017

[1] Dipresentasikan dalam Workshop Kepenulisan Puisi dalam rangka Munas IV Forum Lingkar Pena, 4 November 2017

SENI MENULIS

 

SENI MENULIS

Oleh M. Irfan Hidayatullah

            Menulis adalah sebuah kata yang tak asing.  Menulis adalah proses bagi sebuah bentuk kreasi, yaitu tulisan. Menulis bahkan ada di belakang segala kreativitas saat ini. Menulis dengan demikian memiliki dua posisi; sebagai proses bagi produk mentah dan proses bagi produk jadi. Hal tersebut bergantung pada jenis produk apa yang dimasuki proses penulisan tersebut. Semakin multimedia sebuah produk semakin membuat tulisan sebagai bagian kecil dari prosesnya. Bisa jadi, karenanya, menulis akhirnya jadi sebuah kata yang asing.

Menulis menjadi tak asing bila seseorang bertemu dengan produk jadi hasil penulisan, yaitu buku dan jenis teks tercetak lainnya. Adapun menulis menjadi asing bila seseorang menikmati produk yang bersifat multimedia, seperti drama, acara televisi, film dan lain-lain. Dalam hal ini, seorang penikmat seni multimedia tersebut menganggap bahwa hasil akhir tampilan tak ada hubungan dengan tulis-menulis, padahal semua pertunjukan tersebut takkan ada tanpa konsep tertulis. Konsep tertulis itulah yang disebut skenario, skrip, atau naskah.

Berdasarkan hal tersebut, masyarakat yang dikenalkan terlebih dahulu pada budaya multimedia atau budaya pandang dengar, cenderung tidak akrab dengan dunia baca-tulis. Fenomena tersebutlah yang harus diposisikan ulang. Caranya adalah dengan terus-menerus menginformasikan bahwa tulisan adalah bahan bagi pertunjukan yang mereka gandrungi. Namun, pada tulisan ini tidak akan dibahas berkenaan dengan masalah tersebut.

***

 

Aktivitas menulis adalah akar bagi peradaban. Peradaban yang di dalamnya terkandung makna kreativitas dan intelektualitas. Karenanya, pembudayaan aktivitas menulis menjadi parameter kemajuan sebuah bangsa. Untuk itu, perlulah dipahami bagaimana seni menulis agar aktivitas ini tidak dimitoskan sebagai sesuatu yang kuno atau sebaliknya, tak terjangkau karena canggih.

Seni menulis adalah seni berkomunikasi nonlisan. Berarti seni menulis berbeda dengan seni bicara atau oratoria dan seni vokal. Seni menulis berhubungan dengan simbol-simbol kebahasaan tulisan. Karenanya banyak hal yang perlu dipahami tentang seni menulis ini, di antaranya 1. konvensi bahasa tulis, 2. tema tulisan, 3. jenis tulisan,  dan 4. jenis pembaca.

Berhubungan dengan konvensi bahasa tulis, seorang calon penulis haruslah memahami aspek ejaan dan gramatika bahasa tertentu. Karenanya, seorang calon penulis haruslah berjuang menjadi orang yang paham kaidah kebahasaan. Hal ini bisa dicapai dengan belajar langsung dari kaidah-kaidah kebahasaan atau dengan membaca tulisan-tulisan yang terkategori bagus. Hal kedua lebih efektif dari yang pertama biasanya. Jadi, memiliki kompetensi kebahasaan hukumnya wajib bagi seorang calon penulis . Namun, ini bisa diraih sambil jalan.

 

 

Hal kedua yang harus dipahami adalah tema tulisan. Tema dalam kasus ini adalah objek tulisan yang menjadi motif seseorang bergerak untuk menulis. Tentang hal ini, hal yang sangat penting untuk dipahami adalah apa yang kita tulis dan dalam rangka apa kita menulis. Apa yang kita tulis merujuk pada objek tulisan. Dalam rangka apa kita menulis berhubungan dengan tujuan tulisan. Keduanya, tentu saja, akan sangat memengaruhi hasil akhir tulisan. Karenanya, tulisan banyak jenisnya. Saat seseorang menulis tentang objek penelitian yang bersifat ilmiah, tulisan yang lahir adalah tulisan ilmiah baik bersifat popular maupun tidak. Saat seseorang menulis tentang fenomena kemasyarakatan dalam bingkai peristiwa, tulisan yang akan lahir adalah tulisan naratif, baik fiksi maupun nonfiksi. Begitupun saat seseorang menulis tentang rasa peristiwa, substansi kejadian, dalam bingkai ekspresi, hadirlah tulisan yang kemudian disebut puisi, dsb.

Selain berdasarkan objek, aktivitas menulis juga terpengaruh oleh tujuan. Pertanyaan dalam rangka apa kita menulis, akan menghasilkan jenis tulisan berbeda-beda. Bila seorang mahasiswa menulis dalam rangka melaporkan hasil penelitian, ia akan menulis dengan cara akademis atau tidak jauh dari nuansa keakademisan. Saat seseorang menulis untuk memberikan tuntunan jelas pada masyarakat, ia akan membuat tulisan yang bersifat panduan atau yang sekarang popular dengan nama buku how to. Begitu juga saat seseoang menulis untuk menyampaikan realitas sebuah peristiwa dengan berbagai konflik kemasyarakaan di dalamnya, ia akan memilih novel.

Hal ketiga yang harus dipahami adalah jenis tulisan. Saat ini para penulis cenderung langsung memilih jenis tulisan untuk mengungkapkan suatu objek. Seorang novelis akan memakai jenis tulisan yang ia kuasai tersebut sebagai cara penyampaian sebuah permasalahan, bahkan hal yang ilmiah sekalipun. Jadi, jenis tulisan adalah semacam bingkai bagi tema yang akan diangkat. Karena itu, agar tulisan tidak menjadi gamang, penulis harus memahami sekali berbagai karakter jenis tulisan tersebut. Sebuah tema tulisan akan sangat berbeda cara pengelolaannya bila dituangkan pada berbagai jenis tulisan. Karenanya, memahami jenis tulisan adalah wajib hukumnya. Apa itu cerpen, apa yang disebut puisi, apakah artikel itu, atau seperti apa cara penulisan skripsi sangat penting akhirnya.

Terakhir, adalah mengetahui siapa pembaca tulisan. Tentu saja ini akan berpengaruh pada cara seseorang menulis dan jenis tulisan apa yang dipilih. Bila pembaca tulisan kita adalah anak-anak, cara naratiflah yang cocok atau jenis tulisan cerita rekaanlah yang dipilih. Bila pembaca tulisan adalah para intelektual kampus, jenis tulisan persuasiflah yang diperlukan. Karenanya, artikel sangat cocok untuk memenuhi kelancaran komunikasi. Begitupun dengan jenis pembaca lainnya walaupun tentu saja hal ini bersifat relatif dalam artian seseorang bisa berkreasi dalam cara penyampaian (di luar yang telah dikonvensikan).

 

***

 

Sebagai penutup, perlu dibicarakan juga tentang tulisan-tulisan multidimensi, yaitu tulisan yang menjadi bahan jenis komunikasi lain. Dalam hal ini, akan muncul jenis tulisan skenario untuk film, naskah drama untuk teater, skrip untuk sebuah acara televisi, komik, bahkan iklan, dan sebagainya.Jenis tulisan tersebut menuntut penulisnya memahami media penyampaiannya. Karenanya, hal yang mutlak bagi penulis skenario untuk memahami film. Begitupun dengan penulis drama, penulis skrip iklan, dll.

Dari semua itu, yang terpenting adalah menentukan satu sumber, satu akar aktvitas yang harus terus dikukuhkan keberadaannya, yaitu menulis. Ya, dengan menulis produk-produk kebudayaan yakni adanya. Wallahu’alam.

 

Bandung, 29 Mei 2008

 

Menulis sebagai Gaya Hidup, Mengapa Tidak?

Menulis sebagai Gaya Hidup, Mengapa Tidak?[1]

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

 

Sungguh, judul yang saya angkat pada tulisan ini terlalu melambung. Bagaimana tidak? saat serbuan budaya instan begitu bertubi, menulis adalah ibarat sebuah kata yang asing dan menakutkan dan penulis adalah sosok misterius yang dipertanyakan masa depannya. Sungguh, judul yang saya angkat ini terlalu melambung, tetapi mengapa tidak?

Begitulah, keseharian kita dipenuhi dengan kelisanan, kelisanan yang tak berbobot, kelisanan yang bukan pantun dan karya folklore lainnya, melainkan gosip. Ya, budaya kita pada ruang instan      adalah bergosip. Budaya berbual yang jauh dari kreativitas. Budaya bercengkrama yang menghasilkan sosok anak bangsa tanpa solusi di kepala. Sementara itu, sebagian dari mereka berteriak-teriak, berdemonstrasi menuntut keadilan, tanpa tahu konsep terbaik sebagai wujud tuntutan.  Mereka tak pernah menuliskannya. Semua hanya ada di kepala. Demo mereka adalah gosip jenis terbaru.

Saya teringat pada ungkapan Taufiq Ismail bahwa negeri ini masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Wow, sebuah idiom yang menohok. Untuk siapakah ungkapan beliau? Jangan-jangan untuk saya dan untuk siapapun di negeri ini termasuk para guru dan dosen. Mengapa tidak? Karenanya, mari kita beranjak dan membuat sebuah perubahan. Sejauh apa pun kesalahan langkah yang kita tempuh, mari kita berbalik arah sekarang juga (meminjam idiom Reinald Kasali).

 

***

Memang, banyak sudah data yang menunjukkan bahwa ketertinggalan dunia pendidikan kita adalah karena ketertinggalan akan budaya menulis para pendidiknya. Ya, bukankah salah satu indikator kemajuan pendidikan adalah banyaknya indeks sitasi dari para pendidik. Semakin banyak para pendidik menulis di jurnal terakreditasi semakin berpeluang lembaga pendidikan itu diindikasikan maju.

Menurut Chaidar Al Wasilah (2007: 18-19) ada beberapa pembenahan yang harus dilakukan untuk memperbaiki itu semua (ia menyebutnya sebagai komponen reproduksi pengetahuan) yaitu: Iklim yang kondusif bagi tulis menulis, adanya puspa ragam sumber informasi, kemampuan membaca kritis, pengembangan wacana akademik demokratis, dan kemampuan berbahasa Inggris.

Begitulah, saya sepakat dengan Chaidar (terutama saat ia menempatkan budaya tulis menlis di poin pertama) karena inilah sumber permasalahan sebenarnya. Saat para pendidik menjadikan budaya menulis sebagai PR bersama untuk sebuah perbaikan, saat itu pulalah budaya gosip akan tereduksi. Dan teladan demi teladan bertebaran. Dan menulis akan menjadi gaya hidup bagi setiap generasi, terutama generasi muda. Namun, tak semudah membalik telapak tangan menuju hal itu. Karenanya, tulisan saya ini akan mengajak kita mendikusikan hal tersebut.

 

***

Sungguh, ini bukan pekerjaan ringan, tetapi ini bukannya tidak mungkin terjadi. Menjadikan menulis sebagai gaya hidup adalah sebuah kerja besar yang akan memakan waktu tak sebentar. Karenanya, diperlukan konsep dan tenaga yang benar-benar. Ada beberapa hal yang saya jadikan patokan untuk menuju titik itu, yaitu: keteladanan, kebijaksanaan, keuletan, dan kebersamaan.

Keteladanan. Hal satu ini adalah sumber energi bagi budaya literasi. Ada satu kata yang akan muncul untuk hal ini, yaitu andaikata atau andaikan. Dan akan banyak kalimat pengandaian setelahnya. Andaikan para orang tua menulis, anak-anak mereka akan juga menulis. Andaikan guru-guru menulis, murid-murid mereka juga akan menulis. Andaikan dosen-dosen menulis, mahasiswa tentu menulis juga. (lebih jauh lagi) andaikan para pejabat menulis, rakyat akan menirunya.

Kalimat-kalimat perandaian itulah titik tolak perjuangan. Bila selama ini, dunia belajar identik dengan anak muda, sekarang logikanya harus dibalikkan. Belajar sepanjang hayat harus kembali digulirkan. Dan belajar menulis bagi para manusia senior, sepuh, bahkan professor harus digalakan seperti seorang tua yang baru belajar iqra. Karenanya, diperlukan poin kedua.

Kebijaksanaan. Hal inilah yang mahal harganya karena tak semua orang tua merasa kurang pengetahuan, kurang kemampuan, dan kurang wawasan. Kebanyakan dari sepuh kita telah merasa cukup dengan apa yang ada.Rasa legawa untuk terus belajar adalah kebijaksanaan mendasar para tokoh dunia (menurut saya). Para filusuf, sastrawan, teknokrat, ulama, dan pendidik di sebuah negeri yang kondusif memliki sifat ini.Konon, di Jepang dan AS ada paguyuban dosen dan mahasiswa, khususnya mahasiswa S2 dan S3, yang memiliki minat sama yang secara terjadwal berdiskusi dan belajar bersama. Termasuk dalam dunia literasi dan reproduksi ilmu.

Keuletan. Kata yang satu ini, tentu berlaku dalam segala hal, lebih-lebih dalam hal dunia kepenulisan. Hal ini disebabkan oleh benteng yang menghalangi budaya literasi telah begitu kokoh dan tinggi. Tentu saja, keuletan diperlukan untuk merobohkan benteng itu. Benteng budaya instant, benteng budaya gosip, benteng budaya nonton, dan benteng budaya industri harus dengan ulet dikikis. Tak jadi masalah dengan cara mengeroposkannya inci demi inci, asal terus menerus.

Kebersamaan. Poin terakhir ini adalah poin yang berhubungan dengan kebertahanan mental berjuang. Dengan bersama-sama sebuah kerja besar akan terselesaikan. Forum Lingkar Pena adalah sebuah wadah bagi kerja bersama ini begitu juga PGRI, menurut saya. FLP dengan wilayah, cabang, dan ranting yang terus bertambah terus berusaha menyebarkan budaya literasi. Mungkin sedikit perjuangan itu, tetapi sistematis, insya Allah.

Begitulah hal yang menjadi titik usulan saya. Kenyataan rendahnya budaya menulis para pendidik di negeri tercinta ini harus dicari solusinya sehingga kita tidak syok saat sistem menuntut adanya sertivikasi dan hal lainnya sehingga lembaga pendidikan tinggi kita bisa bersaing di tingkat regional maupun internasional sehingga bangsa ini punya amunisi untuk membangun moralitas penduduknya.

 

***

Sungguh, judul yang saya angkat pada tulisan ini terlalu melambung. Bagaimana tidak? saat serbuan budaya instant begitu bertubi, menulis adalah ibarat sebuah kata yang asing dan menakutkan dan penulis adalah sosok misterius yang dipertanyakan masa depannya. Sungguh, judul yang saya angkat ini terlalu melambung, tetapi mengapa tidak?

Begitulah, keseharian kita dipenuhi dengan kelisanan, kelisanan yang tak berbobot, kelisanan yang bukan pantun dan karya folklore lainnya, melainkan gosip. Ya, budaya kita pada ruang instan      adalah bergosip. Budaya berbual yang jauh dari kreativitas. Budaya bercengkrama yang menghasilkan sosok anak bangsa tanpa solusi di kepala. Sementara itu, sebagian dari mereka berteriak-teriak, berdemonstrasi menuntut keadilan, tanpa tahu konsep terbaik sebagai wujud tuntutan.  Mereka tak pernah menuliskannya. Semua hanya ada di kepala. Demo mereka adalah gosip jenis terbaru.

Saya teringat pada ungkapan Taufiq Ismail bahwa negeri ini masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Wow, sebuah idiom yang menohok. Untuk siapakah ungkapan beliau? Jangan-jangan untuk saya dan untuk siapapun di negeri ini termasuk para guru dan dosen. Mengapa tidak? Karenanya, mari kita beranjak dan membuat sebuah perubahan. Sejauh apa pun kesalahan langkah yang kita tempuh, mari kita berbalik arah sekarang juga (meminjam idiom Reinald Kasali). Wallahu A’lam.

 

Pekanbaru, 3 Maret 2008

 

 

 

 

 

 

[1] Makalah ini disampaikan pada acara Workshop Kepenulisan untuk Guru se-Riau, 3 Maret 2008

PROSES REPRODUKSI MAKNA

PROSES REPRODUKSI MAKNA

Oleh M. Irfan Hidayatullah

/1/

Menurut saya hidup adalah masalah mengandung dan dikandung. Ibu yang mengandung, anak yang dikandung. Anak perempuan kemudian juga suatu saat mengandung dan bayi-bayi di dalam rahimnya berstatus dikandung. Dalam hal ini, setiap fenomena membawa fenomena yang lain. Setiap benda disertai benda yang lain. Setiap peristiwa dibubuhi peristiwa yang lain. Setiap kata diisi kata yang lain. Begitu seterusnya. Takada yang sendirian. Setiap hal pasti memiliki identitas; mengandung atau dikandung.

Kita adalah entitas yang juga berada dalam kandungan semesta, kehidupan, peristiwa, dan tubuh. Rahim semesta memberi kita asupan nutrisi yang membuat kita berkembang sesuai kelazimannya. Begitu juga kehidupan. Ia adalah rahim yang mendewasakan kita seperti juga peristiwa. Adapun tubuh adalah rahim fisikal tempat jiwa diletakkan. Jiwa dikandung tubuh. Tubuh mengandung jiwa.

Setiap yang mengandung adalah ibu. Ialah yang memiliki rahim dan memberi asupan yang diperlukan terkandung. Dan asupan itulah yang terus diupayakan sang ibu agar kandungannya berkembang dan sehat. Setiap ibu tidak diam saja dalam memelihara kandungan dan isinya. Begitupun semesta, kehidupan, peristiwa, dan tubuh. Di dalamnya terdapat mekanisme pengupayaan “nutrisi’ bagi anak yang berada dalam kandungannya. Anak itu adalah kita; manusia.

Setelah lahir, ada kalanya sang anak lupa pada mekanisme tersebut. Ia acapkali melupakan jasa dan eksistensi sang ibu karena ia disibukkan oleh proses kehidupan dan kemudian mengandung. Keterlepasan relasi antara ibu dan anak dalam hal ini adalah dosa laten yang mungkin terjadi dalam sebuah proses kehidupan. Ada yang lupa asal karena terlena oleh yang sekarang. Karena itulah, sang anak pada umumnya menjadi sangat individualistis dan artifisial. Ia tidak memikirkan sang ibu padahal ia juga sedang mengandung anaknya sendiri. Ia juga pada saat yang sama berpotensi jadi seorang ibu. Begitulah seterusnya, ia akan dilupakan oleh anaknya kelak.

Proses lupa dan artifisialitas membuat setiap anak kehilangan hikmah dan kebijaksanaan dari rangkaian kehidupan. Ia telah kehilangan makna sehingga ia tidak mampu memakna. Seorang anak yang seperti itu juga berkemungkinan akan terbebani oleh kandungan yang dimilikinya. Ia akan merasa kandungan yang dibawanya hanya sebuah benda tanpa alasan dan manfaat. Ia kemudian menjadi ibu yang siap menggugurkan kandungannya. Atau mungkin setelah yang dikandung lahir, ia akan membiarkannya begitu saja. Atau mungkin, ia menolak untuk mengandung. Pada kondisi-kondisi tersebutlah kehidupan menjadi sangat banal.

 

/2/

Di dalam rahim terdapat sesuatu yang tentu tidak hadir begitu saja. Ia ada dari benih makna yang kawin dengan realitas. Benih-benih dalam hal ini adalah entitas maskulin dan realitas adalah entitas feminin. Keduanya kemudian berada dalam rahim yang berstatus feminin. Jadi, femininitas adalah sebuah entitas dominan dalam proses mengandung dan kemudian melahirkan. Namun, semua takkan berjalan tanpa benih makna yang maskulin itu. Begitulah keduanya saling melengkapi dalam melahirkan sesuatu.

Kita bisa jadi keduanya. Menjadi maskulin saat membenihi dan menjadi feminin saat dibenihi, mengandung janin, dan melahirkannya. Begitulah, kita akan menjadi keduanya saat berada pada ruang produktif makna yang prosesnya tidak sederhana. Dan semua selain jadi seorang ibu juga jadi seorang ayah. Semesta, kehidupan, realitas, dan tubuh selain berstatus sebagai ibu seperti yang dibahas sebelumnya, bisa juga berfungsi sebagai ayah. Mereka semua adalah benih yang membuahi jiwa kita untuk kemudian jiwa kita mengandung dan melahirkan hikmah dan kebijaksanaan.

Namun, seperti juga sang ibu yang dilupakan anaknya, dalam hal ini sang jiwa bisa saja pada prosesnya tidak menerima benih yang dibubuhkan padanya. Ia tidak terbuka pada semesta, kehidupan, realitas, dan tubuh sehingga ia tidak mengandung apa-apa karena tidak terjadi pembuahan. Begitulah, saat seorang calon ibu menolak dibenihi dengan berbagai alasan modernitas, ia tidak akan mengandung dan kemudian melahirkan apa-apa. Paranoia mengandung dan melahirkan menjadi penghambat terbesar reproduksi makna. Pada titik ini, sang calon ibu juga dihinggapi oleh lupa dan artifisialitas. Lupa akan fitrahnya yang dititipi rahim dan artifisial akan visi keberlanjutan kehidupan.

Hal yang sama juga bisa terjadi pada benih. Saat pemilik benih atau sang ayah tidak mau menyemainya sesungguhnya ia sedang menolak akan tugas kemanusiaan. Namun, bisa juga bukan karena tidak mau, tetapi karena lupa akan tugas produksi kemanusiaan. Kemalasan dan  kelupaan adalah produk dari sebuah zaman yang banal. Karena itu, ada kesamaan mendasar dosa laten reproduksi kehidupan, yaitu berwujud lupa dan artifisialitas. Bisa kita bayangkan saat kehidupan takdibenihi makna ia tidak akan melahirkan hikmah dan kebijaksanaan.

 

/3/

Jika Anda merasa tulisan ini melantur, itu bagus. Bukankah makna memang bersifat lanturan. Makna selalu melampaui atau berbeda dengan induknya. Makna adalah anak yang dilahirkan dan tidak mungkin sama dengan orang tuanya. Ia semacam metafor dari ayah dan ibunya. Dan proses bermetafor adalah  proses reproduksi makna. Namun, kelahiran makna baru tidak akan ada bila filosofi dikandung dan mengandung tidak terdapat pada setiap penulis. Dan puisi adalah janin yang ada dalam kandungan setiap realitas setelah dibenihi makna. Puisi sebenarnya tidak minta dilahirkan, tetapi hukum alam menghendaki demikian. Adapun penyair adalah bidan atau dokter atau siapapun yang mencoba membantu persalinan. Ayah, ibu, dan anak dalam kandungan adalah tokoh utama pada proses ini. Penyair hanya membantu melahirkan puisi. Dan puisi ada di mana-mana karena segala-gala mengandung janin makna. Puisi juga mungkin Anda yang dilahirkan dari proses pembenihan makna atas realitas di dalam rahim semesta. Jika Anda merasa baru saja dilahirkan, berterima kasihlah pada yang memberi kehidupan.

 

 

/4/

Kuntowijoyo

Isyarat

Angin gemuruh di hutan

Memukul ranting

Yang lama juga.

Tak terhitung jumlahnya

Mobil di jalan

Dari ujung ke ujung.

Aku ingin menekan tombol

Hingga lampu merah itu

Abadi.

Angin, mobil dan para pejalan

Pikirkanlah, ke mana engkau pergi

 

Joko Pinurbo

Bulan

Bulan yang kedinginan

berbisik padamu,

“Bolehkah aku mandi sesaat saja

di hangat matamu?”

 

Malam sepenuhnya milikmu

ketika bulan tercebur

di dingin matamu.

 

Bulan itu bulatan hatimu,

Bertengger di dahan waktu.

(2010)

 

Bandung, 9 Agustus 2017

PANGGIL AKU, PUISI

PANGGIL AKU, PUISI

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

Aku hidup dari darah bahasa. Ibuku kehidupan, Ayahku kebijaksanaan. Aku sangat menyukai ruang sunyi perenungan. Pada ruang itu aku hidup bagai cendawan. Aku menyukai orang yang di jiwanya banyak pertanyaan. Aku akan betah tinggal di dalam diri mereka dan bahkan jadi bagian dari hidup mereka. Aku dilahirkan dari proses persatuan antara kehidupan dan kebijaksanaan. Dan perwujudanku adalah kata. Kepalaku kata, tubuhku kata, inderaku kata, dan bahkan jantungku adalah kata. Bila kata takada, aku takada.

Kau bisa menemukanku dengan sangat mudah seperti para ulama menemukanku sebagai teman mereka atau seperti orang yang kemudian menyebut dirinya penyair. Ehm, aku nggak suka sebenarnya dipenjara oleh orang yang disebut penyair itu karena aku merasa milik siapa saja. Sungguh, aku milik siapa saja atau aku bisa bersahabat dengan siapa saja. Dengan dirimu? Tentu saja bisa. Percayalah, aku bisa menjadi bagian dari dirimu, pada setiap peristiwa dirimu. Aku bisa hadir pada rasa dirimu.

Betul! Aku tak hanya hadir pada saat sedih, putus asa, atau jatuh cinta. Aku bisa hadir saat kau biasa-biasa saja, saat kau terlena, atau saat kau merasa geram akan sesuatu. Ya, ruang kehadiranku banyak sekali sehingga wujudku pun banyak. Aku bisa berwujud sebuah kritikan, sanjungan, permainan, atau bahkan cacian. Wujudku pun bisa terang, remang-remang, atau gelap. Maksudnya, aku suatu saat bisa sangat mudah dimengerti, bisa sedikit memerlukan penafsiran, dan bisa juga akan membawamu pada lorong  pencarian makna yang dalam. Aku pun bisa bericara tentang kebangsaan, kepedulian sosial, cinta profan yang  melenakan, cinta suci yang menggetarkan, atau apa pun yang kau maksudkan agar aku menyampaikan pesan.

Suatu saat orang yang bernama Kuntowijoyo melahirkanku seperti ini:

Ya, Allah. Taburkanlah wangian

di kubur Tercinta yang mullia

dengan semerbak salawat

dan salam sejahtera

 

Aku ingin

jadi pencuri

yang lupa menutup jendela

ketika menyelinap

ke rumah Tuhan

dan tertangkap

Begitulah aku kemudian menjadi bagian dari rasa rindu Kuntowijoyo pada Tuhan. Rasa rindu yang muncul dari keimanan dan upayanya untuk mendekat kepada Sang Pencipta. Tentu saja, aku berbeda dalam mengungkapkan pesan dengan jenis perwujudan kata yang lainnya. Bila dalam kata sehari-hari bisa berkata langsung, “Tuhan, aku ingin dekat dengan-Mu.”, aku mengungkapkan sesuatu dengan perumpamaan-perumpamaan atau metafor atau gaya bahasa lainnya. Karenanya, rasa rindu itu semakin menjelma saat aku dipilih oleh Kuntowijoyo dengan permisalan seorang pencuri yang tertangkap oleh pemilik rumah karena lupa menutup jendela. Sebuah momen ketertangkapan ruhani oleh Tuhan. Bahkan kata mencuri yang bermakna negatif pada titik ini semakin menguatkan upaya nekad manusia untuk bertemu Tuhannya yang berarti kerinduan yang sangat. Dan kata mencuri di rumah Tuhan lebih bermakna religious karena bisa bermakna mencuri rahasia-rahasia kebenaran. Belum lagi saat aku diajak Kuntowijoyo untuk memulai bait puisi ini dengan bersalawat pada Rasulullah Saw. Semakin lengkaplah kedalaman religiusitas dalam diriku.

Oh, iya selain hal tersebut. Aku sepanjang sejarah sebenarnya tidak berubah. Hanya saja, manusia menyebutku sesuai dengan semangat dan kreativitas zaman mereka. Dulu ruhku hadir pada apa yang disebut mantra, syair, pantun, paparikan, geguritan, bahkan tidak hanya dulu sekarang pun aku masih sering dipanggil dengan salah satu nama tersebut. Namun, aku memiliki nama popular, yaitu PUISI, ya, panggil aku, Puisi.

Bandung, 16 Maret 2009

Dead Poets Society ; Rahasia sebuah Pembelajaran

Dead Poets Society ; Rahasia sebuah Pembelajaran

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

Sebuah karya utuh adalah sebuah karya memiliki makna  pada setiap unsurnya. Ada makna pusat dan ada makna yang mengitarinya yang keseluruhannya terjalin menjadi sebuah struktur yang lengkap yang ketika seseorang membaca, mendengar, atau melihatnya

 

Teks pertama sekaligus teks pusat yang akan saya baca adalah film Dead Poets Society (DPS). Film ini mencoba mengungkap dengan sangat teliti akar sebuah permasalahan remaja. Pada film inilah saya menemukan inventaris permasalahan remaja lewat tokoh-tokoh remaja yang dihadirkannya. Di antara banyak tokoh yang ada saya menemukan cermin permasalahan pada Neal (tokoh utama) dan Todd. Kedua tokoh tersebut sama-sama memiliki permasalahan psikologis keremajaan mereka disebabkan sikap orang tua.

Keunggulan Neal sebagai anak pintar dan potensial bisa jadi sebenarnya dibangun oleh pola didik orang tuanya (sang bapak) yang disiplin. Akan tetapi, pada titik tertentu perjalanan hidup Neal, yaitu saat remaja, sang bapak tidak mau menyesuaikan pola didiknya dengan psikologi keremajaan Neal. Jadilah, sebuah ledakan dahsyat saat Neal bunuh diri dalam keputusasaannya (padahal Neal telah banyak belajar dari guru Bahasa Inggrisnya). Benturan yang dialami oleh Neal berbeda dengan tokoh yang lainnya karena Neal diposisikan sebagai remaja yang potensial yang memiliki banyak energi untuk berbuat lebih banyak. Pengekangan orang tua dalam hal ini menjadi semacam pemicu suburnya pemberontakan jiwa.

Ada dua kalimat yang dapat dijadikan bukti pergulatan batin Neal, yaitu My parent will kill me! Dan I hate the clarinet, the sexophone more loud! (ungkapan ketika Neal dan teman-temannya berada di gua Indian). Dua kalimat tersebut saya posisikan sebagai dua hal yang terus bergemuruh dalam jiwa Neal, antara takut pada ayahnya dengan keinginan untuk tidak seperti biasa (memberontak). Selain itu, ada dua lakuan yang menjadi tanda dunia ambivalen Neal, yaitu antara kepatuhan mutlak pada ayahnya saat Neal dilarang mengikuti pers kampus dan teater dengan andil Neal dalam menanamkan keberanian pada teman-temannya, terutama Todd. Saat itu Todd menunjukkan hadiah ulang tahun yang sama dengan tahun sebelumnya. Todd sebenarnya merasakan itu sebagai ikon dari keterkekangan, tapi ia tidak berani mengungkapkannya sebelum Neal tiba-tiba melemparkan hadiah tersebut dari ketinggian. Ambivalensi ini yang membuat jiwa Neal bergemuruh, sebelum akhirnya bunuh diri.

Sementara tokoh Todd berposisi sebaliknya dari Neal. Ia berada pada kerendahdirian. Ia merasa menjadi orang yang selalu dibandingkan dengan kakaknya yang berprestasi sehingga segala potensi yang ada seolah termatikan karenanya. Baru pada akhir cerita ia menemukan keberaniannya yang melebihi kadar yang ia duga sebelumnya, saat ia berani mengungkapkan penghormatannya pada sang guru yang dipecat. Simbol yang dimunculkan adalah dengan berdiri di atas bangku. Sebuah keberanian yang di luar dugaan walaupun memang sebelumnya telah dicontohkan oleh sang guru. Namun, saat itu berdiri di meja sang guru bukan di meja sendiri. Ini adalah simbol kemandirian yang luar biasa.

Film ini menjadi sangat membangun usaha memahami dunia remaja karena andilnya dalam memberikan gambaran real atas problematika remaja. Artinya, DPS tidak terjebak pada budaya massa yang cenderung mengeksplorasi sisi-sisi hiburan semata. Film ini bisa membuat remaja berkaca dan orang tua merenung. Keutuhan antara cerita dan simbol-simbol budaya sangat membantu penonton untuk berpikir mendalam. Inilah teks yang membangun solusi bukan menambah permasalahan. Saya simpulkan ini karena DPS menjadi bersifat elitis (eksklusif) saat dibandingkan dengan film-film remaja murahan, semisal Scream, Ten Thing I Hate about You, Urban Legend, Soul Survivor, dan berpuluh bahkan beribu film remaja impor lainnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Grafiti

GRAFITI

Oleh Moch. Irfan Hidayatullah

 

Mobil berseliweran. Orang-orang lalu lalang. Debu hampir mengabut. Mungkin hari ini hampir batuk karena terus menerus menghisapnya. Pedagang kaki lima sumringah karena dagangannya laku. Para pengamen hampir berteriak berusaha merdu melagu. Pengemis mengernyitkan dahi karena kepanasan. Mall yang megah berdiri kokoh, hampir angkuh. Sementara itu.

“Nyokap gua…hmm lumayan. Daia suka banyak ngasih tambahan uang jajan.”

“Kalo gua…mmh punya dua nyokap. Nyokap tiri gua justru yang mengasyikkan. Dia cantik en  baik hati. Pantes babe gua kepincut…he…he.”

“Ih…lu sadis banget.”

“Ha..ha..ha, kan turunan dari bokap!”

“Nah, kalo gua sih sebel banget sama nyokap. Abisnya suibuk nggak ketulungan. Nggak biasa masak lagi. Mmmh, nyokap gua, ya…si Bibi itu. Udah tua sih, tapi gua suka ngadu ke dia kalo ada masalah…Nah, setua pengemis itu si bibi “nyokap” gua.”

“Oke, kalo gua disuruh ngebuka rahasia keluarga sih. Hmm, nyokap gua orang yang tidak ada duanya di dunia. Orang yang paling sabar sejagat.Orang yang paling berkorban buat keluarga. Gua dan adik-adik gua. Tapi bokap gua, musuh paling besar bagi gua karena dia sering nyakitin  nyokap. Katanya, sih gua juga punya nyokap tiri. Gue pingin ngabisin tuh cewek gatel.

Sebuah perempatan sedang merah. Angkot berderum-derum. Pemuda-pemuda calo berteriak menjajakan kesempatan, lalu meminta uang jasa pada sopir sambil menekuk muka. Debu masih mengabut. Bahkan makin. Seorang pengemis cilik terbatuk-batuk sampai terlihat urat-urat di lehernya. Mukanya memerah menahan letupan-letupan dari dalam dadanya. Seorang pengemis lain melampai-lambaikan tangannya di seberang jalan. Mungkin ibunya.

Tiba-tiba lampu hijau; pengemis kecil masih berada di tengah jalan. Dia keget. Batuknya pun semakin menjadi. Mobil-mobil membunyikan klaksonnya. Motor banyak yang hampir menyerempet tubuhnya. Kemacetan terjadi. Makian melayang-layang.

“Hai, minggir…dasar pengemis!”

“Ayo, cepat nyebrang jangan bengong begitu, macet, nih!”

Pengemis kecil itu berusaha beranjak dangan hati-hati, tapi sekali lagi motor berkecepatan tinggi hampir menyerempetnya. Dia mundur beberapa langkah. Makian pun melayang-layang lagi. Bunyi knalpot berderum-derum. Ibu si anak refleks berdiri. Refleks berlari. Refleks meloncat. Menerjang kemacetan. Tubuh kurusnya hampir terserempet motor. Dia berkelit. Dia meneruskan larinya. Tiba-tiba lampu merah. Hatinya terhibur. Pengemis cilik manggapaikan tangannya. Tangan mereka bersentuhan. Sang ibu menggendongnya. Kemacetan terbentuk lagi. Pengemudi yang urung melewati kemacetan karena kejadian tadi menggerundel. Memang lampu merah lebih lama daripada lampu hijau. Sementara itu.

“Gile tuh anak… kecil-kecil gitu udah dimanfaatin sama nyokapnya. Zaman memang sudah edan.”

“Ahh, itu sih biasa. Coba lu hitung anak kecil model gitu di setiap perempatan, ribuan, Bro, ribuan.”

Heueuh bener. Situasi sudah kacau di negara kita. Tapi apa peduli kita. Iya nggak?”

“Iya sih….Nah, mendingan kita lanjutin obrolan kita. Sampai mana tadi?”

“Ngobrolin nyokap.”

“Nah, gimana kalau kita beralih topik?”

“Oke…. Gimana kalau tentang cewek?”

“Oke, siapa takut?”

“Si Susan?”

“Boleh.”

“Kalau si Susan sih gue bisa pastiin. Tu cewek saat ini sedang kesengsem ama gua.

“Aaah, lu geer aja kali. Mana buktinya?”

“mau bukti?…Dia mau gua ajak kencan, Bung. Malam tadi gua nonton bareng dia.”

Tiba-tiba semua tertawa. Tawa yang menggema di tengah keramaian mal.

“Lho, ngapai kalian ketawa. Itu bukti, Bung.”

“Lu, ketinggalan, Bung….Kita semua emang pernah ngajak dia kencan. Dan si Susan mau banget.”

“Haah, jadi…?”

“Ya,….si Susan milik bersama.”

“Susan cantik itu?”

“Iyyaaaaa.”

“Suasan kaya itu?”

“Iyyaaaa.”

“Gua nggak percaya.”

“Terserah lu, yang jelas kita sudah sama-sama “mencicipinya”. Semua tertawa renyah serenyah pop corn yang mereka makan bareng-bareng.

Tiba-tiba tawa mereka berhenti. Dua orang pengemis, ibu dan anak, menghampiri mereka sambil menyodorkan kaleng-kaleng kecil. Mereka saling berpandangan. Itu ibu dan anak yang hampir celaka tadi. Pikir mereka. Itu ibu dan anak yang dimaki-maki tadi. Pikir mereka. Itu ibu dan anak yang jadi bahan obrolan mereka tadi. Pikir mereka.

“Den, kasihan, Den kami belum makan seharian, Den.” Sang ibu mengemis.

Si anak pun tak ketinggalan sambil diselingi batuk.

“Den, kacian, Den caya belum makan cehalian, Deen.”

Semua saling pandang. Salah satu di antara mereka mengangkat bahu dan berisyarat sebuah pertanyaan. Mau diapakan mereka? Dikasih atau tidak? Semua yang menerima isyarat itu menggeleng hampir berbarengan.

“Maaf, Bu. Lain kali saja.”

Namun si ibu tetap berdiri. Berdiri mematung. Begitu juga si anak. Mereka tak mau beranjak.

“Den, kasihan, Den kami belum makan seharian, Den.”

“Den, kacian, Den caya belum makan cehalian, Deen.”

“Ibu, maaf. Kami tidak bisa memeberi. Maaf ya, Bu. Lebih baik ibu mencari “korban” yang lain aja.”

“Iya, Bu.”

Namun ternyata ada di antara mereka yang merogoh saku celananya. Lalu memilih uang yang berhasil dikeluarkannya. Tak ada ratusan. Tak ada ribuan. Yang ada lima puluh ribuan empat lembar.

“Maaf, Bu. Tidak ada receh.”

Si ibu tetap diam. Tak mau beranjak. Begitupun si anak. Sepertinya mereka menunggu dan akan terus menunggu. Pandangan mereka tajam ke arah para pemuda itu. Namun, sekarang ibu dan anak itu diam. Tak bicara sedikit pun. Mereka seperti mematung. Batuk-batuk si anak pun tidak terdengar lagi. Mereka mematung memandang keempat remaja itu. Betul-betul mematung.

“Hai, Bung….si Ibu kok diam saja. Gimana nih?”

“Iya, ya…nggak tahu gue. Duuuh, gimana, nih?”

“Kita cabut aja, yu.”

“Ayo, kita tinggalkan mereka.”

“Ayo, cepat-cepat…”

Mereka pun siap-suap berangkat. Sekali lagi ,mereka memandangi fenomena di hadapan mereka. Ibu dan anak yang telah menjadi patung dengan pandangan yang sangat tajam. Mereka menunduk jika melihat pandangan itu. Pandang yang menyilet. Mereka pun siap-siap berangkat. Tiba-tiba, salah satu HP mereka berbunyi. Mereka pun urung berangkat.

“Oo…Mama,….Iya…ini aku baru mau keluar sekolah, tapi aku mau belajar bareng dulu, nih, paling nanti sore baru pulang. Oh…iya, jelas nggak akan lupa, Ma. Rencananya mau makan siang di rumah temen sambil belajar itu, Ma. Ya…udah ya, ma. Jangan khawatir.”

Kini mereka pun siap berangkat meninggalkan dua pengemis yang telah menjadi manjadi patung itu.

Siang bolong itu tiba-tiba seperti meredup bagi mereka. Ada sesuatu yang menjalar pada tubuh mereka. Semuanya beranjak mengeras. Mulai dari hati merambat ke seluruh organ tubuh mereka. Obrolan pun berakhir. Hening hadir di antara mereka.

Sauara azan Zuhur bergema. Kemacetan masih tetap sama. Debu-debu pun tetap mengabut. Bahkan makin. Orang-orang berlalu lalang. Pedagang kaki lima sumringah karena dagangannya laku. Para pengamen hampir berteriak berusaha merdu melagu. Pengemis mengrnyitkan dahi karena kepanasan. Mal yang megah berdiri kokoh, hampir angkuh.

***

 

Setiap yang lalu lalang di depan mal sejak saat itu dapat menikmati sebuah diorama. Dua orang pengemis dengan pandangan tajam dan sekelompok anak sekolah yang gelisah.

 

Sajak-Sajak Lengkap Perjalanan yang Bulan

 

Perjalanan yang Bulan

(1997-2007)

Sajak-Sajak

Irfan Hidayatullah

 

Khusuf

 

Bulan perlahan-lahan

Mencair

Mengalir dalam benak-benak

Penuh mimpi

;abad ini

September 1997

 

Hutan Kita Terbakar

 

Hutan kita terbakar angan

Asapnya membumbung

Menutupi langit cita-cita

Dan jelaga

Bergayut

Di gedung-gedung bertingkat

Bangga hati

 

Hutan kita terbakar angan

Karna api mimpi

Takkan mati

Hingga hujan janji

Terjadi

September 1997

Kehidupan I

 

Retak-retak dinding rumah kita

Telah kutambal dengan

Uang dua puluh ribuan

 

18 Sep. 1997

Global

 

Bumi bulat

Seperti jeruk purut

Tergeletak  di talenan

Di samping pisau berkarat.

18 Sep. 1997

 

Rasa

 

Rasa ini,

Itu, dan sekian kesibukan

Hati

Terbukti:

“Aku resah dan ingin pecah!”

lalu menjadi

naskah, nyanyian, dan bangku perkuliahan.

April 1997

 

 

Rindu

 

Kenyataan yang menggumpal

menyesak di dada

adalah isyarat suatu kelahiran bagi

mawar dengan duri-duri

matahari

Juni 1998

 

Fana Itu

 

Bunga matahari

terbakar matari

 

Juni 1998

 

 

Siap-siap tukmati

 

Layon itu

tergantung pada ranting

kering

 

Juni 1998

 

Negeri doa

 

Negeri kita

Negeri penuh doa

yang melayang taktentu pijak

Negeri kita

Negeri religius

Negeri ritual pengharapan

Negeri dinamis mengemis

Negeri kita

Menunggu uluran

dari para dermawan keoptimisan

Negeri kita

Negeri kotak hitam

Di dunia gelap malam

 

Feb. ’99

 

 

Mati yang hidup

 

Sempat terpikir

olehku tentang mati itu

Ya, Allah

namun rasaku mati

Sempat terbersit

pada pikirku tentang mati itu

Ya, Allah

tapi pikirku mati

Aku merasa hidup, dan

Aku memikirkan hidup

Terus, terus, dan menerus

Dengan kesadaran yang takpernah

Mati

 

Februari ’99

 

Wajah ibu di negeriku

 

Wajah ibu

Terjelma pada

Cuaca negeriku

Namun

Tanpa doa

Tanpa kasih sayang

Wajah ibu

Terjelma pada

Cuaca negeriku

Menelan-nelan usia

Menanti-nanti balas jasa

Dari anak-anaknya.

 

Februari 1999

 

 

Sebuah mahar

 

Ada mahar itu

pada senyum matahari

dan kepakan sayap angan

untuk menyentuh keindahan

pada bunga mekar berseri

engkau berayun-ayun pada

dawai yang melantunkan lagu

cinta suci ikatan perkawinan

 

; kini terbukalah garba

 

Maret ’99

 

Menikah

 

Bu, tidakkah

Keinginan ini sempurna

Seperti doamu di altar “janari”

 

Bu, tidakkah

Kedewasaan itu menjelma

Seperti harapanmu pada janji

Anakmu siap menikah

Dengan sepi dan anyaman suci

Keikhlasan diri

Ya, Bu?

 

Maret ’99

 

Catatan kecil sebuah perjalanan

 

Aku menunggu kedewasaan ranum

ketika sebuah pohon berbuah dan indah

maka saat adanya kekecewaan

tuntaslah semuanya oleh keindahan

dan keterpesonaan

Aku telah mencicipinya dalam angan

dan aku akan memetiknya seperti adam

dan turunlah semuanya pada kenyataan

aku mohon jangan kau katakan

aku belum dewasa.

maret ’99

 

 

Katakan

 

Katakan pada Allah

Kita ikhlas

Apapun terjadi

Semua kan teralami

Dan aku ini

Bukan mimpi bagimu

Dan dirimu

Bukan misteri bagiku

Katakan pada Allah

Kita ikhlas

Apapun terjadi

Perahu-perahu telah siap melaut

Dan fajar kan kita singsing

Di tengah samudra

Aku dan kamu

Menjadi ikan di sana

Maret 1999

 

 

Catatan I

 

Maka hari ini

Semuanya bangkit

termasuk aku

Nisan-nisan itu telah

terinjak-injak

dan tertimpa bangunan-bangunan

yang kemudian menjadi kota

anak-anak main ayunan,

mobil-mobilan, petak umpet

dan bunuh-bunuhan

di langit warna-warni

di bumi takada yang mati

Semua hingar-bingar

dan saling menghargai

sampai suatu detik semua bermimpi

tentang sebuah kebahagiaan

yang ngeri dan misteri

 

Maret ’99

 

Catatan II

 

Bulan tadi malam

Kusunting dengan mahar

;cincin besi

lalu kukabarkan pada matahari

“Aku takkan hadir lagi pada siang.”

Ombak di lautan menyambut

Gemuruh bagai lantunan kegembiraan

Sebuah rebana bagi kenikmatan

dan nyiur bagai ilalang

Bergoyang-goyang di layar malam

Lewat sinar rembulan.

 

Aku terpekur dini hari

Aku dan bulan jadi kita

Memohon ampunan pada-Nya

Sebentar lagi tiba malapetaka

Sebuah api cemburu membentur-bentur waktu

 

April ’99

 

Sebuah sekat di lantai empat

 

Perjalanan menuju istirah di sebuah tempat tersekat kain-kain transparan terlihat dari awan-awan. Hamparan rumah bergenting merah terlihat lewat jendela bertirai sutra. Di sana ada kepala-kepala bagai kelapa bergelindingan ditendang-tendang waktu, takada jerit takada keluh. Hanya ada gumaman dan senyum-senyum yang berbunyi, nyaring.

Hotel santika Cirebon

30 April ’99

 

Senyum mendaun

 

Senyum-senyum dan keramahan

kutemukan telah menjadi daun kering

di pemakaman.

kau seperti melihatku kecewa

atas hal itu, lalu pergi hinggap

pada batang rindu yang lainnya

 

Biarkan saja semua membatu

toh, angin kan datang sore nanti

kau takkan mimpi lagi.

 

April ’99, palasari

 

 

Sesaat sebelum perjalanan 3

(nota sebuah pernikahan)

 

Barang-barang telah kukemasi

termasuk cinta telah kukantongi

Bukankah kita telah siap pergi?

Membuat sebuah skenario

pada perjalanan seperti

keprihatinan ambon, sambas, atau Ciamis

Ah…kita terlalu mengada-ada

Sebuah kelepak sayap kelelawar lewat

di atas kepala begitu cepat

; kita berada di dalam gua

2-3 Mei ’99

 

 

Sesaat sebelum perjalanan 2

(nota sebuah pernikahan)

 

Kuumumkan perjalanan kita

Semua orang berkerumun

hingga perbekalan kita terinjak,

terlindas, dan musnah

; mereka membawanya

kita saling pandang

bisu

memasuki kereta itu.

 

Jtn, C1, ’99

 

Sesaat sebelum perjalanan

 

Aku selalu lupa

pada sesuatu sebelum mencapai pintu

dan keluar mencari sesuatu

aku kembali dan kembali

mengambil ingatan pada setiap yang kulupa.

aku menumpang pada waktu untuk menjadi

dewasa dan pelupa

selalu mimpi aku menepati janji pada setiap

agenda setting televisi

Ah! Perjalanan akan kehilangan makna seperti

sebuah awan pada pagi yang kabut

karena aku lupa akan bertemu denganmu

tak menempel pada ingatanku sama sekali

aku tak bisa mengukirnya terus terang.

 

Maafkan aku!

Eh, lihat kereta mau berangkat

biarkan saja apa yang kita lupa asal tak

tertinggal, sudah cukup bagiku.

Mei 1999

 

Kukawinkan niat pada langkah

 

Langkah kumulai

Injakanku tepat pada batu-batu

yang tersusun rapi di pelataran rumah-

rumah di desa senja

Jendela taktepat menghadap mentari

tapi sinar yang kudapat lebih hangat

; dari wajahnya yang sempurna

sederhana

aku berbisik

mengawinkan niat pada langkah

sebuah pagi, siang, dan malam akan kusemati

dengan melati yang disebarkan pada ranjang pengantin

aku merasa bahagia

pada perjuangan

aku merasa bahagia

pada masa depan

aku merasa bahagia

menjelang ketidakbahagiaan yang mungkin.

Selopanggung, Juni ’99

 

Sebuah skenario

 

Seperti aku telah mendidih

pada tungku bumi ini

Rumahku tempayanku

yang rusuk-rusuknya mulai melepuh

rapuh seperti dahan kerontang

Jalan-jalan hampir sempurna

berfatamorgana menyajikan

film-film nyata kebohongan

para pejuang-pejuang kedudukan

yang bergaul dengan asap-asap rokok

di ruang-ruang ber- AC tak berpentilasi

dan jadilah sebuah skenario

pembakaran

1999

 

Bercanda di suatu pagi

 

Aha!

Aku jadi badut

bagi kerinduanmu yang sakral itu

aku ingin Patch Adam

hadir pada mimpi-mimpimu

dan membuatmu tertawa di pagi

Ingat! Aku selalu jilati MTV

seperti Campina

dan kau haus akan kekhusyukan

Entahlah, kita terdistorsi

pada kemapanan zaman yang begitu dewasa

memuakkan

dan aku rajin beli koran untuk sekedar

menanamkan kebiasaan membeli

bukan membaca

tapi pagi ini kau sangat cantik

becermin dan tersenyum

Aku merengkuhmu dari belakang

aku lucu, katamu.

Cemara, 1999

 

Kesempatan di penghujung malam

 

Aku ini

telah mimpi mengitari dunia

dengan perahu

Aku ini

melihat hamparan air tak berbatas

tanpa ombak tanpa gelombang

hanya horison yang berwarna ceria

menyambut wajahku yang serba pagi

Aku ini

berada pada ketakjemuan memohon

agar keindahan menjelma tanpa pamrih bencana

agar ketenangan hadir tanpa kedudukan yang melanda

sudut cita-cita

Aku ini

telah mimpi mengitari dunia

dengan perahu

menyusuri nikmat-Nya

-tak berbatas

 

Cemara, 1999

 

Permintaan

 

Permintaan di hampir pagi

Menetes pada kalbu menjadi khusyuk

Aku takusah merengek, mungkin

Karna Kau Maha Memberi

Tapi aku tak kuat untuk tak menjura

Memuja-muja semangat zaman

Yang sempurna takberdaya

Hingga hadir pada kegelisahan berbentuk

Rindu pada ibu yang memiliki garba, mulia

Ah, semoga hari-hariku

Menjadi favorit bagi burung-burung keikhlasan

Yang bertengger pada benak dan kalbu

Takmau beranjak

Cemara, 1999

 

 

Retrosfeksi

 

Mengingat situasi saat ini

perasaanku telah mendebu

tertiup angin dan menempel

pada dinding, kaca jendela, pintu,

dan alat-alat memasak

sungguh semua begitu merenik dalam sebuah

wacana

hingga setiap orang mencari kamus-kamus

di balik hati nurani

yang termanipulasi oleh

rezim mimpi setiap masa tidur tiba

 

Mengingat situasi saat ini

pikiranku telah meleleh, mencair

dan bergerak cepat menuju tempat rendah

serendah-rendahnya

hingga bisa tergenang dan menjadi cermin

bagi dunia lain.

 

C.8, 1999

 

Beranjak dewasa kala pagi menjelma

 

Sementara kemiskinan-kemiskinan dilokalisasikan

gemuruh hura-hura itu dikemas dalam

kotak-kotak seperti kardus yang berukuran besar

alam berontak dengan geliatnya yang dahsyat

: hanya geliatnya saja

Gempalah otak-otak manusia

terombang-ambing, muncrat pada dinding-

dinding kepala

menyebabkan semua orang gila

gila di mana-mana

Satu-satu akhirnya musim berlalu

Silih berganti

Panas dingin

Bersih kering

Mimpi kenyataan

Melebur pada sorot mata pertama

di setiap pagi menjelma

 

Agustus 1999

 

Jajak Pendapat

 

Coba saja jika setiap orang bebas memuncrat-

muncrat air liurnya

untuk membuat sebuah danau janji-janji

akan jadilah kita memikirkan teknologi

agar aman dari banjir yang jiji

maka kematian akan terhindari

atau kepenasaran musnah sebelum mati

dan orang-orang kini begitu mandiri

memerintah diri sendiri dan saling beroposisi

lalu state pun menjadi seperti kecil sekali

dunia sebesar kelereng yang dicentangkan

ke kelereng yang lain takpecah-pecah

orang-orang kaya tertawa-tawa hingga

menangiskan kebahagiaan itu

Oh, adakah negeri sejati seperti kenyataan

ini

Aku berangan dalam mimpi.

 

Agustus 1999

 

Ibu pertiwi

 

Ratusan kali seorang anak

Merengek pada ibu pertiwi

Perhari

Minta diberi kemampuan membaca diri

 

Ribuan kali seorang pemuda

Demonstrasi pada ibu pertiwi

Perhari

Minta diberi wewenang untuk bebas berdiri

 

Jutaan kali seorang tua

Meminta dengan amat sangat pada ibu pertiwi

Perhari

Agar menyelamatkan generasi

Menjelang kematian mendekati

 

Ibu pertiwi bersedih hati

Air matanya berlinang

Mas intan yang tergenang.

 

Agustus ’99

Perjalanan yang Tercatat pada Inkubator sebuah Ide

 

“Eratkan peganganmu pada tanganku, Istriku.

Kau siap melahirkan generasi dengan keikhlasan.

Ambil nafas serta berdoa pada-Nya, Istriku.

Kau siap meninggalkan prasasti pada malam yang hampir sudah.”

Aku perhatikan semuanya

seperti alur sebuah pertandingan sepakbola

Aku merasa lebur pada keterjagaan yang kekal

karna kekhawatiran itu takjua beranjak

“Ingatkah kau, istriku

Kita takpernah bermimpi dalam bercita-cita

Tlah kita siapkan dunia kecil bagi sikecil

Baju-baju kecil, celana-celana kecil, box kecil,

Dan boneka tangan.”

 

”Eratkan peganganmu pada tanganku, Istriku

Sebentar lagi semuanya lewat

Azan subuh berkumandang

Perjuanganmu tercatat pada dinding-dinding bagai grafiti

Takterhapus tanpa kesan

Ungkapkan, ungkapkan, ungkapkan kebahagiaan

Dalam doa yang merengek-rengek”

4-26 April 2000

 

Kasih Sayang Itu

 

Kasih sayang itu

seperti materi, katamu

terungkapkan dalam simbol duniawi

pada televisi, pada lemari es yang membekukan hati

 

Kasih sayang itu

seperti pelangi, katamu

terungkapkan pada simbol warna-warni

hadir setelah sebuah kebasahkuyupan dunia

 

Aku yang berdiri tegak pada sisi sekali kehidupan

memintamu membaca Ahmad Tohari

merengek padamu dengan Afrizal Malna

berdebat denganmu lewat Derrida

hingga kau mengangguk mengiyakan waktu yang berjamur

menjemukan

 

Kasih sayang itu

seperti waktu ini katamu

terjadi tanpa kompromi

yang bukan sekadar cita-cita atau mimpi

tapi menjelang takada takmempunyai tempat lagi

sedetik berikutnya

 

Kasih sayang itu

seperti sejarah

yang dipelajari dan berkata-kata sendiri

 

Cemara, 2000

 

Cinta takterkata

 

Biarkan rengekan itu kekal

pada malam yang penuh pahatan doa

dia betul-betul suci, takdosa

hanya inginkan kasih sayang

dari rasa bahagia yang kadang datang

takpeduli

Biarkan rengekan itu kekal

pada malam yang penuh pahatan doa

aku bapak kau ibu

kita dengar saja cintanya

yang takterkata

 

Cemara, 2000

 

Karna Ketulusan Cinta

 

Karna ketulusan cinta

Sesama manusia tega saling membiarkan

Karna kesalingpercayaan

Sesama kita tega taksaling mengingatkan

Cinta kita tlah lebur pada kantong-kantong individu sekali

Takada ruang-ruang luas yang berjejalan peduli

Semua meraba saku celana dari sebuah kekhawatiran kehilangan

Semua menjaga kehalusan dan ketakalamian warna kulit dari sebuah kenyataan hitamnya kehidupan penuh peluh

Cinta tlah memikat ketidakcintaan menjadi nyata

Saat takada cinta di atas kata cinta

 

(Saat kau merenung saja

Aku jadi sedih.)

 

Cemara, 2000

Cinta Pagi

 

Matahari itu muncul lagi, Izzati

Mengajak bercanda

Kau gapai-gapaikan tanganmu meraihnya

Kau genggam sinarnya

Dan pagi pun menjelma

Sebuah kehangatan cinta

, dan debu siap berangkat kerja

Cemara, 2000

 

Mengingat- ingat Ingatan

 

Lampu telah termatikan suasana

Pagi telah malam pada secangkir kopi panas

Kita belum bangunkan kesadaran pada jarum jam dinding

dan bunyi-bunyian mainan

Matari telah hadir memanggil-manggil kata

untuk sebuah haiku pagi ini

Kau-aku dan bayi kita berdiskusi

di meja makan yang diformat

seperti  panel

Kehidupan berkedip tersilaukan

Sebuah mimpi yang dikerat-kerat

angan

Kita obral obrolan-obrolan sambil memamah

Masa depan.

 

2000

 

Aku Tlah Tragedi

 

Kepercayaan hampir punah

pada hari ini dengan segala kekerasannya

karna aku terlibat kekecewaan yang mendalam

seperti mimpi saja

Aku tlah tragedi menguap jadi berita dan isu-isu

Kudeta, PKI, militansi kanan, dan minyak yang  raib

dan aku tak bisa apa-apa seperti genangan air saja

Aku menjadi sumber penyakit bagi diriku sendiri

frustrasi yang berlebihan, memang

 

Pagi hadir seperti biasa

Umurku tanggal bagai daun

Luruh, lapuk di tanah kefanaan.

 

Cemara, 2000

 

 

Seharusnya Hari Ini tak Ada

Seharusnya hari ini tak ada

Tak ada cerita lagi tentang kepulan asap

Kepulan asap para korban terik nafsu

yang matahari yang menembus batas

Tidakkah aku tlah sadar pada kemiskinan yang tak punya

kesempatan seperti kekejian yang tlah kaya

 

Sungguh ini suatu pengalaman pengharapan

yang biasa-biasa saja

Cemara, 2000

 

 

Kamar bagi Segala Pengharapan

 

Detak nadi detak jam dinding detak hari-hari tanpa sekat

Berhimpit-himpit keinginan menemui ruang-ruang imajinatif seperti

Sejarah

Kata-kata tlah muncul pada eongan kucing decakan cecak dan dengkuran tidur

Aku diam seperti pualam

Detak nadi detak jam dinding detak hari-hari tanpa sekat

Mencari ruang pada gelombang masa yang membakar

Membakar dan membakar

Cemara, 2000

 

Cintakah Kau Padamu?

 

Berkaca bagai narcissus

Bergumam pada setiap kerinduan purba

Kematian mendesak cinta agar terucap

Cemara, 2000

Semacam inikah Penantian

-Izzati

 

Semacam inikah penantian

Kau terbaring sakit

Aku berjamur dalam doa

Hari-hari kita semacam berbeda

Doa-doa kita melepuh pada kejenuhan cuaca

Keinginan telah menyatu dengan alur waktu

Yang meta

Ya, kesombongan-kesombongan ini

Tak berlaku

Kita di tempat yang penuh kepasifan

Kita wayang yang selalu bermain rasa

Bersabar, bersabar, dan ber

Sabar mencari alternatif suasana

Pengisi waktu

Oh, semacam inikah penantian

Semacam dunia baru yang mengingatkan

; kehidupan kita selalu terlenakan.

RSHS, 2001

 

Ketika Izzati Sakit

 

Maafkan aku Izzati

Tak memberimu keleluasaan itu

Hidup memang selalu pahit

Jika benar-benar kita cicipi

Senyummu yang sirna itu

Sebentuk penyesalan bagiku

Tak seberuntung kemewahan rasa

Yang berlalu-lalang itu.

Eh, bukankah kau ingin jadi

Dokter

Ya, semacam inilah penantiannya

Sakitmu cita-citamu

Kau harus kuat

Maafkan aku Izzati

Aku hampir tak sehat

Dengan ucapanku ini.

RSHS, 2001

 

Aku Sebagai Komoditas

 

Hakku untuk merasa

Terkucilkan saat aku punya lingkungan

Ya, lingkungan yang menjadikanku

Kebutuhan seperti makan

-aku sebagai komoditas-

hakku untuk merasa

terinjak saat aku punya kerinduan

harum seperti bunga sebuah taman

tergetar, terkoyak, malayang-layang

ke tanah

hakku untuk mencoba

berontak pada setiap

ketidakadilan.

RSHS, 2001

 

 

Negeri Kita

 

Negeri kita

Penuh cita-cita

Seperti seorang anak ketika ditanya

“Mau jadi apa kau nanti?”

 

Negeri kita

Penuh cita-cita

Menggantung-gantung di awan tinggi

Mengatapi manusia-manusianya

Yang masih bayi yang perlu asi

Yang harus selalu rutin diimunisasi.

RSHS, 2001

 

 

Pada Negeri Dirimu

 

Lengkingkan inginmu

Pada negeri dirimu

Kau kan tak jua sampai

Pada keadilan itu

Egomu memimpinmu

Pemimpinmu

Kau terpekur pada ingin

Seperti rindu

Seperti sangat berjarak

Seperti tak mungkin

 

Kau dan dirimu telah

Terpecah belah

Kau bermimpi

Menjadi dirimu.

RSHS, 1 Syawal 1422 H.

 

Interlude

 

Masuklah pada cahayaku

Bisik bulan

Saat aku tersadar betapa malam

Perasaanku. Terutama pada-Mu.

 

Aku perindu sebenarnya, tapi

Kadang kehilangan rasa cinta

 

Angin berhembus. Dingin

Malam semakin larut, dan aku

Diam di bangku itu

Pada bulan aku menatap

Pada-Mu aku tak tentu

“Masuklah pada cahayaku,”

bisik bulan.

2002

 

 

Merdu

Alicia k.

 

denting pianomu

mematahkan jari-jarimu sendiri

nada bergulat

pita suaramu meliuk seperti ular

yang menjelma angin, bersama kupu-kupu

menelusup pada setiap gua sepi.

 

Adakah keindahan itu

menjadi harmonis

atau teror?

Seperti pada negaramu yang terpecah

yang ketakutan

yang terjajah oleh kemapanan

kemerduan

 

Suaramu memang merdu

Uh!

 

2002

 

Tentang cerita

 

Serangkaian cerita mencerabut imajinasiku

Aku yang tengah menyelesaikan kematian

Tinggal di lekuk kebingungan yang begitu kelam

Aku meremas kembali kertas-demi kertas yang terpercik kata-kata

Aku menuangkan kembali anggur-anggur dunia pada setiap kesempatan berpikir

Hingga mabuk menjadikanku tak menguasai diriku

Lalu aku mencoret-coretkan segalanya pada apa saja

Sendok pada piring kuas pada tembok kaki pada lantai pena pada kertas

Dan semuanya selesai

Sebuah cerita tentang aku yang menunggu kematian

Tapi cerita-cerita itu seperti mencerabut imajinasiku, cerita

Pada tivi pada vcd pada novel pada cerpen pada babad pada kakawin pada syair

2002

 

Sudahlah!

 

Biarkan keinginanmu untuk menjadi penulis

Kau tanggalkan saja penamu

Kau cari apa saja untuk modal usaha

Dan biarkan saja keinginanmu menjadi penulis

Terenggut waktu yang memutar-mutar

Sudahlah

Biarkan saja cemburumu pada Pram, Tohari, Sapardi, Mochtar Lubis, NH. Dini, Ayu Utami

Dan siapa pun yang pernah kau baca.

Sudahlah

Lebih baik mulai saat ini kau tak mencipta kehidupan

Kau jalani kehidupan dan ambil kehidupan itu

Kau injak-injak kehidupan dan ajak perintah kehidupan itu

Kau perkosa kehidupan dan campakkan kehidupan itu

Hingga kau dan kehidupan tak bisa dibedakan

Sudahlah

Segeralah mandi dan

Pergi!

2002

 

“Mungkin.”

 

Lalu setelah Robinson Crusoe terselamatkan oleh Tuhan

Dia menjadi Tuan dan Friday adalah aku yang tertembak saat aku akan hidup

Oh, betapa semua telah menjadikanku budak dengan tak sengaja

Waktu, adat istiadat, dan kematian itu, dan Tuhan

Dan akhirnya dia  berbahagia selamanya

Dengan seorang wanita cantik di sebuah negara yang damai

Sambil berkata,

“Apakah aku lebih bijaksana sekarang?”

jawabnya hanya

“Mungkin.”

2002

 

Amnesia

 

Ah, hanya sekadar kesia-siaan

Yang kutumpukkan yang lalu kubakar ini

Semacam sampah dari ingatanku

Ketika aku terbenturkan kenyataan dunia

Lalu amnesia

Dan aku hanya berjalan sedikit-sedikit

Tertatih-tatih oleh derita, de-ri-ta

Saat mendengar berita, be-ri-ta

Saat, katanya, kau dan semuanya telah hilang

Menguap melampaui wujud kemanusiaan kita

Mewujud kekerasan yang hiburan dan kevulgaran yang hiburan

Dan aku yang hiburan bagimu

Oh, semuanya hanya sekadar kesia-siaan

Kenapa kalian kubelikan dunia.

Kenapa kalian kubiarkan mendapatkanku yang telah dunia

Bertahun-tahun sebelum aku kenal sebelum kalian ada

 

Sudahlah

Matikan tv itu

Berdoa dan tidurlah!

2002

 

 

Atau Sekadar Aku?

 

Sebenarnya apa sih hidup ini?

Sekadar menjalani waktukah?

Sekadar mencari sesuatukah?

Sekadar membujuk kesenangankah?

Atau sekadar aku?

Yang mengelana dari situs ke situs

Dari benda ke benda

Melukai diri semua dengan belati

Egois, atau

Sekadar puisi ini

 

Siang itu aku melewati

Mal-mal dengan manekin

Yang tertawa dan berasap.

2002

 

 

Sekuntum Mawar

 

Aku tengah merebut sekuntum

Mawar

Dari tangan hari ini

Aku mengerahkan segala kekuatan

Bahkan semua cintaku

Hingga segala rasa hilang

Pada fatamorgana

 

Aku mematung, menggapai-gapai

Cuaca yang seperti daun berguguran

Aku terhujan oleh kecewa yang seperti ulat-ulat

Hingga aku keropos

Tapi aku tengah merebut sekuntum

Mawar itu.

2002

 

 

Berkuasa

 

Kekuasaan betul-betul menjarah

hati manusia seperti sebuah perampokan

Nurani porak-poranda

Kemuliaan dirampas paksa

Kemanusiaan diambil alih

 

Manusia menginjak manusia

Merasa berhak atas hidup

Merasa berhak atas nafas

Merasa berhak atas berpikir

Sangat merasa berhak

Sementara

Bumi sudah tua

Dan asteroid diperkirakan akan

Menumbuknya sebentar lagi.

2002

 

Ruang Tunggu I

 

Termos, misting, camilan

Di keresek, baju kotor

Di tas besar, detik-detik

Berceceran

Menunggu kepastian

Atau menunggu kematian

RSHS Agustus 2002

 

 

Ruang Tunggu II

 

Mungkin inilah efisode

Hidup. Di ruang tunggu ini

Aku duduk bersama kematian.

Agustus 2002

 

 

Ruang Tunggu III

 

“Katanya jadi di operasi!”

“Siapa bilang?”

“Dokter.”

“lalu kita?”

“Tetap menunggu di sini.”

“Menunggu kematian?

“menunggu kepastiannya?”

“Kepastian itu kematiannya.”

“Tidak.”

“Lalu?”

“Kematian buat kita semua.”

Agustus 2002

 

 

Ruang Tunggu IV

 

“Sudah berapa uang kita habis

di tempat ini?” Seorang istri

berkata pada suaminya

“Tak terhitung.”

“Orang tua itu memang menyusahkan kita.”

“Huss, ngak boleh berkata seperti itu.”

“lalu?”

“masih untung kita punya orang tua.”

“Orang tuamu!” jawab sang istri.

Agustus 2002

 

 

Jobbless

 

Mengapa tidak

Aku berkemas hari ini

Kan kupakai kemejaku

Kan kukenakan dasiku

Kan kusetrika celanaku

Kan kusemir sepatuku

Mengapa tidak?

 

Aku akan keluar sebentar

Dengan senyum merekah

Mencari ruang kosong untuk

Imajinasiku

Mengapa tidak?

Setidaknya aku seperti pergi

Ke kantor

Lalu saat malam tiba

Akan kutulis segalanya

Sampai larut.

Agustus 2002

 

Bau Tanah pada Tubuhku

 

Hujan memantul pada aspal

Terlihat asap

Dan bau yang khas

Bau tanah pada tubuhku

Lalu tiba-tiba aku hilang kendali

Motorku menabrak mobil mewah

Aku terbang melewati atapnya

Lalu berdebam.

Ada darah

Dan bau tanah itu menyatu

Aku menguap jadi asap

Dan bau yang khas

Bau tanah pada tubuhku.

Agustus 2002

 

 

Aha!

 

Aha, aku taktakut sengsara

Silahkan saja porak-poranda

Aku taktakut berbela sungkawa

Ini hidup, Bung!

Sebuah kematian yang tertunda.

Okt. ’02

 

untuk Kotaku

 

Kini kotaku

Mengering

Lihat retak-retak tanahnya

Lihat debu-debunya

Lihat kegelisahannya

Mata hari menjadi sepuluh di sini

Satu di atas sana

Sisanya di dalam kepala

Okt. ’02

 

Nota Kecemasan

 

Aku dilanda bom ketika

Tik-taknya tak terdengar

Takada kecemasan

Hanya kematian tiba-tiba

 

Dan kematianku adalah

Tiktaktiktak itu dan

Arwahku detonatornya

Hingga kematian mencemaskan

Semua

 

Dunia dilanda bom.

Okt. ’02

 

Arus

 

Aku terlalu mengalir

Aku terlalu membiarkan

Tanah di depanku lebih rendah

Hingga tak mampu kuberpegang untuk

Diam sementara dan menggenang

Membiarkan ikan-ikan terlihat

Indah bermain

Dan para pemancing menghabiskan

Waktu.

 

Aku terlalu mengalir

Seperti tak pernah sempat aku punya waktu

Dan mengering

Lalu menjadi fenomena

Lalu menjadi karya

Lalu menjadi kekasih

Yang tak menguap di terik

Matari.

Okt ’02

 

Bom

 

Bom-bom berbom-bom

Dibomkan

Pada nurani

Hancurlah

Kemanusiaan.

Okt. ’02

 

 

Skenario Apalagi Wahai….

 

Skenario apa lagi wahai

“Kau tahu siapa?”

menghancurkan Indonesia

menggempur Irak

membenamkan Islam.

 

Skenario apalagi wahai

Kau tahu siapa?

Menguasai dunia

Menghisap minyak

Meneguk darah manusia

Lantas

Jadi Tuhan

 

Skenario apalagi wahai

Kau tahu siapa?

Kau takbisa bersembunyi dan menuduh lagi

Kini mukamu telah tergeletak

Di jalan-jalan dan terinjak-injak

Benderamu telah penuh minyak

Siap dibakar

Kau takbisa bersembunyi

Kau bahkan bukan Tuhan

Hanya merasa jadi tuan.

Okt. ’02

 

Puisi Cinta

 

Merebahkan tubuh ringkih ini

Pada duniamu

Aku menjadi awan-awan

Berarak dilatari warna biru

Kasih sayang

Kita bukan sepasang remaja pacaran

Katamu

Kita tlah berhak mengecap indah

Pelangi dan bau hangat mentari

 

Ya, Allah langgengkan pernikahan kami

Jodohkan kami di akhirat nanti.

 

Maret 2002

Lemah Manusia Lemah

 

Aku memang lemah

Tubuh kuatku yang membuat lemah

Aku memang lemah

Kekuasaanku yang menjadikanku lemah

Aku memang lemah

Kesombonganku yang menyihirku lemah

 

Kini aku duduk

Menembuspandangkan penglihatanku

Pada tanah

Setelah dosa itu larut dalam

Cangkir hati

Keruhkan nurani

 

Oh, Tuhan! Jangan aibkan dosa ini

Aku manusia lemah.

 

Maret 2002

 

Aku tlah Menantiku

 

Siang itu aku memohon pada keraguan

“Tinggalkan diriku.

Pergilah menuju awan itu

agar kegamangan tak jadi menurunkan hujan.”

Lalu, aku menunduk mencari pola ketabahan

pada daun-daun kerontang flamboyan

“Kau hancurkan dirimu pada waktunya

kau menjadi humus untuk kesuburan

kau bersatu dengan legam tanah itu

kau…

Kemudian, Aku menggeser dudukku pada kursi itu

“Aku mungkin harus tidak mapan

agar aku tak seperti kau yang lapuk

ditunggangi penantian dan janji-janji.

Ah, aku harus bergerak seperti waktu

Bukankah aku adalah waktu

Karena detik-detik berlomba dengan denyut nadi.”

Aku berdiri meninggalkan taman itu

“Harus kemana lagi aku menunggu diriku

kembali, atau aku telah menemuiku

hanya aku tidak mengetahuinya?”

Maret 2002

Bila Kau

 

Bila kau baca layar peristiwa

Di setiap pelupuk mata kesempatan

Kau akan berhambur meninggalkan tubuhmu

Melesat memasuki cakrawala

Tempat pelangi-pelangi ditambatkan

 

Bila kau tulis setiap gejala

Di sepanjang pantai penantian ajalmu

Kau akan menyaksikan kesia-siaan peristiwa

Pengagungan waktu pada titik kesombonganmu

Dan kau akan meraung-raung menyesali

Kebodohanmu

 

Bila kau dengar kicau gelisah hati kecilmu

Kau akan seperti di keramaian

Kau akan dikecamukkan oleh kepentingan-kepentingan

Yang tak pernah kau layani

Karena setiap senti gendang telingamu di tabuh

Oleh kenikmatan musik semasa

 

Bila kau diam sejenak

Menangkap sinar matahari

Keringat yang muncrat dari tubuhmu

Akan jadi mutiara.

Maret 2002

 

Sebuah Pilihan

 

Ketika aku harus memilih

Aku seperti disenyapkan oleh waktu

Pada garba masa depanku. Aku seperti tiada

Nafas dan terbakar oleh segala ketidakpastian.

Padahal hanya sekadar pilihan

Dan kau yang kemarin menunggu kepastian

Dan kau yang sekarang menanti keputusan

Dan aku yang bingung menjadi begitu tak tegas.

Aku kehilangan identitas untuk sebuah identitas

Aku melayang-layang di atas langit masa depan

Yang belum tentu kudapatkan.

Umurku mencibirku

Takdirku menartawakanku

Esokku mengolok-olokku

“Pertimbangkan apa yang harus kau pertimbangkan.”

Kata mereka tegas.

“Hilangkan dirimu dan subjektivitas itu.”

Apakah kau mau makan sekadar reputasi sambil menggorok leher sendiri.

Oh, alangkah kejamnya kamu

Oh, alangkah pahlawannya kamu.

Juli 2002

 

 

Kematian Khusyuk

 

Duniaku. Reputasiku

Dan gaya gravitasi itu

Menghujamkanku pada perut bumi.

Penuh dengan nestapa berbalut gemerlap kejayaan.

Bisakah aku mati sementara ketika

Menghadapmu

Tidakkah aku  bisa menutup pintu duniamu sebagai jeda

Dan Kau telah bukakan pintu-Mu

Tapi tetap aku tak berpaling pada-Mu.

 

Dunia. Sekadar Dunia

Subjektivitas positivitas.

Juli 2002

 

Semedi Malam

 

Semedi malam pada rumputan itu

Aku menanti bulan tertusuk kerinduan

Kau begitu menyeluruh pada malam duniaku

Dan Kau begitu terfokus pada keagungan semedi malam-Mu

Hening. Embun. Angin. Dingin.

Dan aku terkurung dinding. Dunia.

Juli 2002

 

 

 

Harapan Surealis

 

Sayang aku begitu tak menangkap sinyal itu

Padahal Kau telah begitu dekat pada duniaku

Sedekat nafasku pada leher ini

Leher milik-Mu

Sayang aku begitu terampas harapan

Dunia harapan-harapan dunia

Tanpa-Mu kuhadirkan di sel-sel imajinasiku

Aku hanya diam dan mengawan

Berarak menuju sketsa cita-cita

Surealis. karena kutaktahu kebenarannya

Hanya aku begitu yakin. Dan Kau yang terhapus

 

Oh, harapan surealis

Harapan akan dunia yang tak teraba esoknya

Dan Kau Maha Tak Teraba yang menjadi kosmosnya.

 

Aku harusnya sekadar mengharapkan-Mu.

 

Juli 2002

 

Aku Terselamatkan Dari Hujan

 

Aku terselamatkan dari hujan saat hujan begitu deras turun di langitku sendiri. Dan Kau menciptakan hujan untuk membasahi nurani. Kau menciptakan banjir untuk menghalau kotoran hati Dan Kau menciptakan keselamatan untuk menghujani kesyukuran itu. Dan Aku terselamatkan dari hujan saat hujan begitu penuh turun dari langit-Mu. Dan Kau begitu tulus memberikan segala rizki. Dan aku yang menghindari hujan itu membasahi. Dan aku yang bodoh ini.

 

Biarkan hatiku tak berumah agar hujan selalu menguyupi penuh kesejukan. Biarkan kotoran-kotoran hatiku terhanyutkan banjir hujan-Mu dan aku begitu lengang berasa. Biarkan aku melihat bentangan keluasan bumi-Mu dan hijaunya tumbuhan-Mu. Runtuhkan gedung-gedung yang membatasi.

Juli 2002

 

 

Dan Kesengsaraan Kusimpan di Kulkas

 

Ha. Pagi ini aku belanja dengan tergesa. Kukeluarkan catatan-catatan tergesa hasil karya tangan istriku. Begitu berjejer kebutuhan itu seperti gerbong-gerbong kereta dengan satu lokomotif. Kecemasan. Aku ingat perutku. Aku ingat perut kulkasku. Aku ingat perut anak-istriku. Aku ingat segalanya. Dan aku terburu-buru menyelesaikan belanjaku.

 

Juli 2002

 

 

Anakku Di Taman Lalu Lintas

 

Ayah, biarkan aku bermain sepuasku

Dan ayah bermain sepuas ayah

Dan kita akan puas.

 

Lalu burung-burung itu menyerbu. Mengejar kita tanpa rambu-rambu

Bukankah taman ini penuh tata krama, tapi burung-burung itu begitu menyerbu.

 

Ayah, biarkan burung-burung itu menyerbu

Dan mereka akan puas.

 

 

Bangun Pagi

 

Bangun pagi tanpa Tuhan tanpa doa

Berlari menuju dunia kembali pada tuhan dunia

 

Juli 2002

 

Kado untuk Palestina

 

Betul

Aku melihat segalanya.

Ada tv-tv itu. Ada koran-koran itu

Ada majalah-majalah itu

Ada kabar-kabar itu

Betul aku melihat segalanya

Ada kekejaman itu. Ada kebengisan itu.

Ada ketidakadilan itu. Ada pemberangusan itu.

Ada penjajahan itu. Ada darah itu.

 

Langitku berwarna hitam setelah itu

Karena betul aku tahu segalanya

Dan aku mengorek-ngorek kegelisahan

Mencungkil-cungkil simpati, menarik-narik kemanusiaan diri

Menjambret-jambret keimanan hati

Hingga menyublimkan tubuh kekar ini

Tetapi,

Sungguh tak ada simpati, tak ada rasa haru, tak ada penyesalan, tak ada kekalutan pikiran, tak ada kegeraman, tak ada keinginan,

Keimanan tak ada

Mungkin harus kubom

Mtv itu.

Juli 2002

 

 

Bekalku hanya Ketakutan

 

Segera kukemasi perbekalan itu

Aku termanggu karena takada satupun

Tersisa untuk kubawa

Semua yang kutumpuk tlah imajiner

Kekayaanku menguap pada langit dunia kelam

Kejayaanku menghilang ditelan setiap kelokan perjalanan

Oh, wahai saat ini

Ada apakah dengan kemarin

Ada apakah dengan detik tadi

Tak adakah kesadaran itu mengendap

 

Aku tlah tercekik ajal

Aku tak bisa bernapas lagi

Aku akan terenggut gelombang waktu

Pada kekekalan yang selalu kuimajinasikan

Pada keabadian yang kerap kuimani

 

Hingga saat ini kumasih hampa

Yang memberatiku hanya ketakutan.

Ya, ketakutan.

 

2002

Lihatlah Duniaku

 

Lihatlah duniaku pada tubuhku pada mataku pada keningku pada otakku

Lihatlah duniaku pada senyumku pada keluhku pada berjalanku pada berlariku

Lihatlah duniaku pada ucapanku pada orasiku pada diskusiku pada kebohonganku

Lihatlah duniaku pada nyanyianku pada jeritanku pada rinduku pada sepiku

Lihatlah duniaku pada cintaku pada benciku pada nelangsaku pada gembiraku

Lihatlah duniaku

Utuh padaku

Seutuh-utuhnya

Tak sisa sedikit pun selain untuknya

Duniaku untukku aku untuk duniaku

 

(Pagi yang cerah aku terlambat lagi shalat subuh. Dan aku tersenyum mengawali hari ini. Hari ini pasti sukses, pikirku).

Agustus 2002

 

Trafick Light

 

Ya, aku melewati setiap persimpangan itu

Dengan motorku, dengan hatiku

Debu-debu pula yang menghinggapi setiap pori-pori kenangan

Dulu jalan-jalan ini sepi keprihatinan

Angin berlalu menyejukkan setiap penantian lampu

Hijau untuk cinta, kuning untuk kerinduan, dan merah untuk

Rasa cemburu.

Dan kini kenangan itu menajam terik mentari

Saat kaleng-kaleng itu berkelontang dihiasi tangan-tangan kurus

(atau mungkin sebaliknya) mata-mata mereka semacam mata kucing di kegelapan

tajam. Tapi ini siang.

Motorku pun berdebu. Penantian lampu menjadi membeku

Di setiap persimpangan itu.

Agustus 2002

 

Hariku Rombeng

 

Sepertinya aku tak pernah menghiasi hariku dengan kesyukuran

Keluh-kesah itu telah mendunia pada degup jantungku

Degup kehidupanku.

 

Jadilah hariku rombeng-rombeng

Kumuh dan jadi potret sebuah kemiskinan yang sangat

Kesempitan telah menjadi dunia

Seperti dunia pun telah menjadi sempit

Dan kemana pun aku menatap

Lautan manusia meluap seperti gelombang

Mengancam dan mengejar keberadaanku

Mungkin akan menyedotku pada pusarannya

Dan aku tenggelam

Tak pernah melihat pagi.

 

Agustus 2002

 

 

Kehidupan tanpa kita tuliskan

 

Sepertinya detik-detik berloncatan

Tak bisa kita tangkap

Waktu jadi tak menentu

Ibarat lalu lintas yang terkagetkan

Sebuah tabrakan

; serpihan kaca di mana-mana

 

kita terheran-heran

tiba-tiba semua usai

kita kehilangan endapan hikmah

kita keruh

 

: dan kita dihadapkan pada

detik-detik selanjutnya.

Mei 2002

 

 

Menulislah, dan buang keresahan itu

 

Menulislah

Menulis, dan buang

keresahan itu, resah itu

Tulislah itu, keresahan itu

Dan buang itu dengan menulis.

Mei 2002

Malapetaka Mengucur Darah

 

Bohong jika kekerasan itu

Seperti mengelus peradaban untuk

Kembali baik

Peradaban itu tlah nakal, katamu

Dan kau membawa gertakan untuk menjinakannya

 

Coba kau lihat dicermin angin

Dirimu telah seperti jelaga

Kekuatanmu adalah api yang menghitamkan

Dirimu sendiri

 

Ooh, bohong jika kekerasan itu

Seperti mengukir sejarah untuk masa depan cerah

Lihatlah dirimu sendiri yang telah

Hitam

Tercoreng

 

Binasa

 

Jurusan, 2003

 

Rindu

 

Yakin tak bisa menyimpan kata

kutorehkan saja rindu pada

sebatang pohon senyap

kutuliskan rasa nyeri

dengan mesti

 

malam, angin, dan sebuah jarak

Depok, 2003

 

Rindu II

 

Rerobohan tubuhku terserak

di sebuah kasur

terpatah-patah waktu

benakku bangun pada kepala

yang tergeletak

mencari tangan untuk

mengambil hati yang sunyi

 

tak kuasa.

Depok, 2003

 

Rindu III

 

Tak bisa hadirkan mimpi

aku inginkan kenyataan

tak ada yang lebih indah

dari rasa sakit yang terobati

 

kau dan anak-anakku

pulas

Depok, 2003

 

Rindu IV

 

Besok kupulang

tapi sampaikah?

Bukankah waktu siap

berkhianat

 

Biarkan puisi berbunyi

saat ini.

 

Depok, 2003

Rindu V

 

Lelahku menjadi cuaca

jiwaku mengembara

mencari ujudmu

yang hidup bersama angin

dan waktu

kaukah itu?

 

Dan daun coklat tua

jatuh di bahu.

 

Depok, 2003

 

 

Angin Keyakinan

 

Menghembus, menyibak, mengelus, menerbangkan, menelan

aku biarkan diri tanpa gravitasi

menuju pusaran mimpi

 

Kuyakin kan bangun nanti

kuyakin kan bangun sebuah istana juga

kuyakin koupun matikan ragu

nyalakan terang buat ruang tunggu

 

Lalu aku takada

berubah energi pada hati

pada kaki, pada hakiki

 

Kita kan bertemu

pada rumah

yang sempit tapi milik kita

Jurang, 2004

 

 

Insiden

 

Lihatlah dirimu

pada tubuh dunia

sendiri, menyendiri

 

luka menganga

Depok, 2004

 

 

Hari ini

 

Semakin kuyakin hari ini laut

semakin kusiapkan sauh

semakin kunanti angin

semakin kutantang gelombang

 

Depok, 2004

 

 

Untuk Penyair

 

Berjanjilah kau tak tinggalkanku

di cakrawala itu

dengan secarik puisi, berdarah

Depok, 2004

 

 

 

Semakin

 

Semakin aku beranjak semakin aku menjauh semakin aku merasakan semakin aku kehilangan semakin aku mimpi semakin aku melambung semakin aku menjadi semakin aku nol semakin aku luruh semakin aku peluh semakin aku leleh semakin aku kabut semakin aku menghalangi semakin aku kabur semakin aku jelas semakin aku takmampu semakin aku besar semakin aku takaku semakin aku kecil semakin aku lirih semakin aku tajam semakin aku mengiris semakin aku penasaran semakin aku blingsatan semakin aku berputar semakin aku pusing semakin aku tak pasti semakin aku limbung semakin aku mabuk semakin aku terjatuh semakin aku luka semakin aku mengaduh semakin aku melolong semakin aku binatang semakin aku mencakar semakin aku haus semakin aku kering semakin aku daun semakin aku tersapu semakin aku mencelat semakin aku sepi semakin aku puisi.

 

Depok, 2004

 

Lindap

 

Sinar pagi, matari menerangi lantai kamar

jendela terbuka menelan angin

aku sinis terhadap kata

 

aku lindap

Depok, 2004

 

 

Senyum

 

apa yang lucu,

ada yang lucu,

apa ada yang lucu?

Burung.

Burung?

Bagaimana paruhnya

menaruh senyum

tak seperti bibirmu yang plastis?

Kicaunya seperti tawamu

kepaknya seperti senyummu

Kau bercanda

Kau tersenyum

senyum lain lagi

sinis, tak mudah percaya, curiga

burung tak miliki senyum itu

mungkin di sangkar itu?

Ya, mungkin saja.

Ah, kau ada-ada aja

kita alih topik, bagaimana?

Boleh, untuk senyummu.

Depok, 2004

 

 

Luka Kamarku

 

Bau darah. Hitam. Amis. Bulan

kudibunuh tokohku

dengan pisau yang kuasah sempurna

dengan metafor.

Aku mati, tapi semakin sadar.

Kutekan on/of itu

layar kututup.

Sepi. Novelku belum jadi. Judi

kamarku bau kemenyan.

 

2004

 

Dari Biru

 

Kuserap warna hidupku

Dari biru yang langit

Dari biru yang laut

Dari santai yang hidup

 

Lalu aku berpesawat

Menuju masa depan

Berperahu menuju pulau

Tujuan. Mencari Tuhan

Dan segenap kesalahan

 

Hingga aku terlelap pada langit penuh bintang

Dan laut penuh lentera nelayan.

Bumi Sentosa, 2004

 

Yang Bercokol

 

Jiwaku  hilang

Pada  tubuh yang bercokol

Pada nafsu yang hantu

Pada mata yang terus nyalang

Pada kehidupan yang pusaran

 

Kini aku berjalan

Tanpa jiwa merindukan

Pagi. Inilah aku yang tercokol

 

Hanya saja Nya

Mulai menempat

Di kesadaran seperti gradasi

Kehadiran matahari

Untuk matahati.

 

Lalu siang adalah medan perang.

 

Bumi Sentosa, 2004

Krisis

 

telah, pagi

menghanguskanku

pada tunggu

senyampang bunga-bunga

gugur tertimpa

siram air

senyampang kau mandikan

anak-anak kita

 

“Ngak ada air panas

gas habis!”

katamu.

2004

 

Lobang hitam

 

Selalu saja

Hari pecah bak gelas

“Prang!”

lalu kuambil sapu

kupunguti bayangan diriku

kubersihkan aku

kutakut tajam kaca

lukai kaki anakku

dan darah tergenangnya

adalah kesesatan

 

Dan aku

Dan gelas

Dan pecah

Dan terserak

Dan darah

Dan tong sampah

 

2004

Doakanku!

 

Doakan aku

tengah kutulis

mimpi yang terlepas

saat azan subuh

membangunkan itu

 

Doakan aku

Tengah kususun

Puzzle bergambar

Anak kita dan toga

Dengan mata bahagia

 

Doakan aku

Tengah kukuliti

Kulitku sendiri

Setelah mengeramku

Tak terhitung waktu

 

Doakanku!

 

2004

Kenangan 2

 

Daun gugur itu

adalah pilihan angin

untukmu

terimalah dengan

hati dan tangan terbuka

lalu kau simpanlah

di bukumu

 

Daun gugur itu

adalah pilihan angin

untukmu

sadarlah suatu saat

bukumu penuh dengan

kisah

lalu kau temukan

aku di sana.

 

2004

Obituari untuk Politisi

 

Tinggalkan pesanmu

di nisan itu

kan kubaca satu saat

di kala hujan

berjas hitam dan payung

hitam

air mata hitam

lalu aku memburu jejakmu

pada matahari tersaput

dan kemboja bergoyang

 

setidaknya kau punya

kisah di tubuh sejarahku

semacam tato

yang enggan terhapus

dan diharamkan.

 

2004

 

Krisis II

 

SMS-mu:

Anak kita sakit. Uang itu untuk bayar listrik at ke dokter?

 

SMS-ku:

Jual HP-mu!

 

SMS-mu:

Hpmu jg!

 

SMS-ku:

Aku memerlukannya.

 

SMS-mu:

Apalagi aku. Tuk kejar tanggung jawabmu.

 

SMS-ku:

Cepat, anak kt bisa mati!

 

SMS-mu:

Sialan!

2004

 

Aku Lenyap

 

Tuhan, aku meniti

Diri ini menuju-Mu

Kah? Atau …

Aku lenyap pada

kata-kata. Lahap

melumat makna.

2005

 

 

Maklumat

 

Walau trasa berat

Kumaklumatkan nikmat-nikmat

Pada baja hati duniaku

Karna kadang

Nikmat jadi lazuardi

Yang masuki ruang mitos

; seolah abadi

karna kadang

nikmat terlupa karna

rasa meraja manusia

manusia mendewa manusia.

 

Aku maklumatkan saja

Atas sgala kurnia

Nikmat-Nya. Sebelum

Apa terjadi.

2005

 

Kesadaran III

 

Malam serupa asap rokok

Membuat kuterbatuk

Membuat kelelahan

Menyekam dan membakar

Helai demi helai jiwa.

2005

 

 

Tanpa Ampun Kutertimbun

 

Nikmati gemuruh

Pada kotak dunia

Terlepas dari kematian

Terlepas dari ruang

Sempit hati

Aku rebah pada suara dan

Visual meraja

Menyedot coca-cola

Melahap pop corn

Aku tertimbun hari ini

Tertimbun reruntuhan realitas

Aku tak bisa gerak dari enak

Nikmati segalanya

2005-2006

 

Paradoks

 

Bermalam di terik

Matahari

Saat aku lesat dari

Tubuhku sendiri

Saat aku bersatu dengan

Sengit wangi

 

Rasa rupa jasad gumpal darah nguap

Rasa raga rupa dupa lupa

2005-2006

 

 

Perjalanan yang bulan

 

Keterguncangan,

Kereta malam, dan rindu

Ada seperti bulan tertutup awan

Purnama yang murung

 

Waktu dalah suara roda

Dan masa depan dalah

Percikan api dari gesekan besi

Dan besi

 

Inilah aku yang gagap

Inilah kepalaku yang penuh

Terasa. Kerikil-kerikil pertanyaan

Dan bulan itu semakin murung

 

Lalu kubuka buku kolbu

Kucobatuliskan gelisah itu

Walau hanya sebait puisi mentah

Jogja-Bandung 28 Feb ‘05

 

 

Ada Esok di Jendela Kereta

 

Ada esok di jendela kereta

Tapi ini malam

Dan lampu-lampu itu

Seperti kunang-kunang

; terbadai angin

 

Ada esok di jendela kereta

Tapi ini malam

Aku hanya membaca arah

Hanya membaca harapan

Dan berkaca pada mata

Bayanganku sendiri

; sangat jelas

 

Ada esok di jendela kereta

Dan aku menunggu gelap itu

Jelma ruang bagi keindahan

Cahaya esok pagi

Di jendela kereta ini.

23.25, Lodaya, 28, 2, ‘05

Saatwaktukalamasa

Utk. Asma Nadia

 

I

Saat adalah aliran, menyungai pada jiwa

seperti angin pada setiap musim

ketika kita hanya bertapa pada dunia

ketika kita hanya berharap pada masa depan

angin yang mengabarkan badai

angin yang menabarkan harum bunga

angin yang mengabarkan bangkai

angin yang mengabarkan harum surga

 

Waktu adalah gelombang

Tempat kita berselancar menunggu pecahnya

selancar yang sekejap

sensasi yang profan

sensasi tempat kita lupa

euforia yang memamah jiwa

kita terbahak sebelum terjatuh pada

kedalaman kekal

yang tak terjangkau akal

kita terombang arus sesal

kita terbentur batu karang dosa

kita adalah yang terus tanya

apakah masa depan adanya

 

Masa adalah huruf menuju kata

Kata menuju frasa

Frasa menuju klausa

Klausa menuju kalimat

Kalimat menuju wacana

Wacana menuju klise

Klise menuju fana

Fana menuju kita

Kita yang terbuai kata

Kita yang terjajah makna

Kita yang seolah tuhan

Pencipta cerita

Lalu kita luruh jadi daun waktu

Lapuk terinjak-injak sepatu

 

Kala adalah ruang

salah satu dindingnya berjendela

tempat sinar matari menyapa

tempat percikan air hujan bercanda

tempat gambar indah rembulan berada

tempat angin melambaikan gordyn

tempat kita senyap saat dingin

tempat kita meluap saat ingin

Ruang adalah kala

Yang lalu berjamur

Menjelma reretak dinding

 

II

 

Kita, Mbak

manusia kadang

yang terbungkus kelelahan alur

dan ruang

kita fana

hidup dalam kotak fana

 

Sungguh, Mbak

setiap kelezatan adalah goda

sehingga kita jadi aku karenanya

aku yang menggumpal beranomali

akumba, akuku, akunya, akumereka, akukita

 

Wuih, Mbak

Susahnya menangkap sadar

Lelahnya menjadi sabar

Padahal usia adalah saatwaktukalamasa

Yang sebentar kelar.

 

Maafkan adikmu, Mbak.

 

Depok, Maret 2005

 

 

ku + Kau = waktu

 

Waktu adalah diriku

pada kaca tersaput

hawa hujan.

 

Kutulisku di sana

Kuhapusku di sana

Kunanti mentari

yang jernihkan

bayang

 

tapi Kau adalah

misteri terbesar

2006

 

Hanya sebuah rindu

adikku Zaki

 

Apa artinya tubuh

tercacah dan rasa sakit itu

jiwa ini justru

sempurna terbebas

dari belenggu

menunggu titah-Nya

pada malaikat

bekukan waktu

cabut kefanaan dan

patahkan jarum-jarum

jam setiap hening kehidupan

 

Apa artinya tubuh

tercacah dan rasa sakit itu

di ranjang ini

aku bersujud

keningku pada sajadah-Nya

Mahaluas. Terbentang

Ke keabadian

 

Kini, pada pergantian waktu

Aku tak gamang

Pada ruang

Aku hanya rindu.

2006

 

Melesap Jiwa

 

Melepas ketakutan

akan senyap detik

kutebarkan jala cinta

tuk tangkap keabadian

pada kelebat wajah-Mu

 

Dan hujan itu

Meneteskan kabar

Tentang kematian

Gerbang abadi

 

Lalu kuberusaha

Menebar senyum pada

Pusara waktu

Dan jadi bunga yang

Menghamburkan harum

Menancapkan simbol

Pada dunia tentang

Jiwa yang melepas diri

Dari kebusukan raga.

2006

 

Prosesi

 

Kumembunuhku

Di cermin waktu

Raretak kaca

Sebentuk kilat

Mengabarkan

Ruang ruam

Dunia sementara

2006

 

Yang Takutahu Selama Ini

 

Lalu apa sebenarnya

Ketakutan,

Saat semua

Berlalu?

2006

 

Waktu Rindu

 

Hembusan angin

Menusuk kulit

Dan bulan yang tersaput

2006

 

 

Waktu Bagiku

 

Hanya ruang

Bagi lembap rindu

Dan aroma

Kematian

2006

 

 

The Real Mistery

 

Ya, Allah

Mu tak juaku

Kau tak jua aku

Esok tak kutahu

Seujung kuku.

2006

 

 

Pesta Tahun Baru

 

Bunyi seliweran

Mobil.

Jengkrik

Kipas angin

Dan detak diri

Menunggu henti

 

Tak lelahkah dunia?

Tak lelahkah diriku?

 

Takada terompet

Takada sorai

 

Seekor katak kecil

Menyudut di ruang tunggu

 

Tubuhku terbujur

Jiwaku terbebas

Aku melihatku

 

Kefanaan bising di luar sana.

2006

 

 

Baru Saja Kucipta Puisi

 

Baru saja kutinggalkan

Tahun lalu

Saat sirine (seperti)

Menjemputku

 

Ah, kesadaran

adalah tragedi terbesar

saat kutakbisa terpejam

saat benak terkuasa

logika

 

Tapi, aku lari

pada puisi.

2006 

 

Fragile

 

penat sekujur tubuh ini

gemeretak sendi

rasa lapar

pening di pusat kepala

kantuk yang menusuk

sakit yang melilit

 

Aku piring melayang

menuju pecah

 

Sedetik lagi.

2006

 

 

Saat iniku

 

Ziarahku pada

Pusara dosa

2006

 

 

Kalkulasiku

 

di sini ada ibu

adik-adikku

aku

dan kematian

yang melempar dadu.

2006

 

 

Saat Kuziarahi Ruang-Ruang Tunggu

 

lalu kuingat

kota kelahiranku

saat kuziarahi

ruang-ruang tunggu

 

di rumah sakit ini

aku lahir sedetik lalu

 

dan waktu

jadi tuwak

 

aku menangis

saat terompet menjerit

membunuh khusyuk

dan angin yang biru

 

pergantian tahun

saat aku masuki

dunia fana

itu.

2006

 

 

Oh,

 

menunggu bus

menelan debu

siang terik saatku

terjerat kesadaran

otak terarsir kelak

terhantui utang banyak

melangkah tertatih

di digit-digit syaraf

 

oh, awan mulai berarak

hujan tersedak di sana

gelapekat jelma jiwa

aku masih

mematung. Menanti pulang

oh, …

2006

 

 

Kassaif

 

Kassaif

Kassaif

Membabatmu

yang robot yang mesin yang tivi

yang mobil yang berderak

menuju dunia seakan

 

Kassaif

Kassaif

Menusukmu

Tepat di busukmu

Mencecahmu

Tepat di jejakmu

 

Kassaif

Kassaif

Memenggalmu

Saat kau punya nalar

Saat kau junjung bingung

Pertanyaan

Filsafat

Hingga kau mual

 

Kassaif

Kassaif

Membunuhmu

Pada ketaksempatapaapaan

mu.

2006

 

Dunya

 

lelah terus lelah

tak istirah menuju resah

resah terus resah

tetap gelisah menuju musnah.

2006

 

Rendezvouz?

 

Baca ayat-ayat-Mu

baca detik demi detik

yang berruang ketenangan itu

baca ayat-ayat-Mu

baca perjalanan penuh

rindu

yang memanjang hingga

ketakartian

karna kasih-Mu

karna sayang-Mu

karna rengkuh-Mu

 

2006

 

 

Belajar Tarikh

 

63 Muhammad-Mu

50 ayahku

55 kakekku

digenggaman-Mu

ruh ku.

2006

 

Yang Sedang Saling Menunggu

 

Lihatlah pada jendela, yang setyap

pagi kau bersihkan

debu-debu asyik bermain

bersama angin

membuat petak umpet kefanaan

 

Lihatlah pada jendela

kau, debu, angin

saling menunggu.

2006

 

Fatamorgana

 

Rindu pada kesementaraan

menerus dan menggelisahkan

hujan dan embun di jendela

seorang gadis berpayung

dan tersenyum

(Aku tak rabun

tentu saja)

 

Rindu pada kesementaraan

menerus dan menggelisahkan

hujan dan embun di jendela

 

tapi gadis itu tak ada

lenyap menyatu saja

pada gelap yang hampir sempurna

 

aku kembali pada foto di dinding

utara

kau tersenyum di sana.

2006

 

Blind Date

 

Secangkir cappucino panas

seriuh gosip pada meja penuh

denting piring

sesenyap harap pada esok yang lesap

serumit saat ini pada

jam dinding yang tlah mayat.

 

Aku berpusar pada ruang gusar

Aku berputar pada dunia denyar

Ha…ha…, hi…hi…, lalu

Hu… hu…

Menerus berotasi.

 

Dan detik ini tak pernah ada

Sedetik jua. Sedetik saja.

2006

 

 

Eksekusi

 

lalu apalagi

setelah keterbelahan

deleuzee dan hiperrealitas

aku menari jadi hologram

di atas mayat detik ini

 

; matari menyengat pelupuk mata

aku bangun di atas rel kereta

2006

 

 

Terkubur Waktu Terbakar Denyar

 

Saat Hollywood

Menyikat waktu

Dengan bulu-bulu kasar pasar

Tubuh terbakar denyar

 

Lalu kau terkubur waktu

Di bioskop itu

2006

 

 

 

Adalah perjuangan

 

perjuangan adalah

saat melawan diri

menutup waktu dengan

kejelasan arti

ya, kaki melangkah

ya, tangan menggapai

ya, jiwa mengembara

segeralah kembali

 

mungkin perlu sesekali

menyusuri jalan-jalan tepi

menemu batu yang

justru prasasti

2006

 

Hanya Kutonton

 

Ini, saat ini, di sini

Kutonton kegagalan demi

Kegagalan pada kegagahan

Demi kegagahan

2006

 

 

Aku yang terserak slalu

 

Semua tlah terpetakan

Pada daun-daun gugur

Yang kusapu setiap pagi

Saat ku kecil

Dahulu

 

Pada kerontangnya ada masa depan

Pada ranggasannya ada putus asa

 

Setiap pagi

Kini

aku patung

Pada helai kata

Saat koran kubaca

 

Derita, berita,cerita

 

Aku tersentak

Daun-daun gugur di halaman

Kembali menyeruak

Patahan ranting-ranting kecil

Pohon jambu itu

 

“Ini bukan rumah Nenek, Ayah.

Ini rumah tanpa halaman

Di kumuh gang hidup kita.”

2006

 

 

Pada Sejarah Retak

 

Saat seperti ini

Saat terjadi lebat hujan

Di ruang benak

berpetir bergelegar

 

Aku tercenung di depan

Pusara kepercayaanku pada

Setiap yang kubaca dan kurasa

 

Lihatlah betapa betapa

Sehingga sehingga-sehingga

 

Tv kumatikan

Koran kubiarkan terserak

 

Aku tersaruk

Pada sajadah waktu

Yang melulu kugelar

Bergambar masa depan

Buram, laras, dan bias

 

Aku nglumruk

pada watak jejak

pada sejarah retak

 

2006

 

Dan Aku

 

Dan aku menjadi

tunggu

tertugu-tugu

berlumut waktu

detik berakar

menjuntai menjalar

menuju dahaga kelar

 

Dan aku menjadi

dungu

termangu-mangu

di pusat ruang penuh lagu

berberahi, berkelahi,

2006

 

Dan Aku Terlambat Lagi

 

Aku baru saja dibunuhnya

Sms-sms itu menebar

Bau darah

Aku tergeletak pada

Huruf-kata-kalimat

Penuh janji

 

ruhku berbincang dengan waktu

Menyaksi tubuh yang tlah kaku itu

 

“Kiniku tahu kenapa kau menghabisiku.”

 

Sang waktu tersenyum sinis

: DAN KAU TERLAMBAT LAGI!

 

2006

 

Untuk sebuah pagiku

 

Ini tanggal pertama hitungan hari tahun ini

Ini langkah pertama hitungan amal tahun ini

Ini harap pertama hitungan cita tahun ini

Ini kesadaran pertama hitungan tarik ulur jiwa tahun ini

Ini dobrakan pertama pada hitungan kreativitas tahun ini

Ini kekhawatian pertama pada hitungan inkonsistensi tahun ini

Ini resah pertama pada hitungan gelisah tahun ini

Ini aku pertama pada hitungan identitas tahun ini

 

Ini puisi

Hanya untuk sebuah pagi

Yang cerah takterkira

: aku tertegun pada takterhitung kemungkinan

Kekwasaan Mahakwasa

 

Bumi Sentosa, 1 Jaunari 2007

 

 

 

Bagi Pagi Lagi

 

Bagi pagi lagi kutulis puisi

Bagi diri ini yang tertimbun memori

Pagi demi pagi 33 tahun sebelum pagi ini

Lagi aku tak bisa menuliskan makna sebuah pagi

 

Betulkah menulis puisi adalah menorehkan makna

Mengukir arti demi arti hidup

; aku, pagi, dan memori sering tak bisa kompromi.

 

Semua hanya repetisi bunyi

Sebuah aliterasi.

 

Bumi Sentosa, Januari 2007

 

 

Jumat Pagi

 

Setelah shalat subuh

Aku berjalan menyusuri pagi

Menikmati penampakan udara segar

Menikmati awan-awan berarak

Kapas-kapas bersambungan

Lalu aku hanya bertanya

Pertanda apakah sebuah kecerahan

 

Setelah shalat subuh

Aku tinggalkan masjid menuju

Jalan-jalan perumahan

Menikmati ketertataan, petak-petak sarang manusia

Pagi memang cerah

Biru langit melatari gumpal-gumpal awan

Bulan pias masih terlihat

Dan aku hanya bertanya

Ada apakah setelah keindahan

 

Setelah shalat subuh

Setelah kutapaki pertanyaan demi pertanyaan

Kukembali ke rumah

Menyeduh secangkir kopi

Sambil mendengar berita dari radio

Tentang ramalan cuaca

 

“Diperkirakan hari Sabtu besok akan tejadi hujan badai.”

Ujar penyiar mewartakan prakiraan cuaca BMG.

 

Kuseruput kopiku sambil menulis secarik puisi.

Puisi ini.

 

Bumi Sentosa, Januari 2007

 

 

Setelah hujan semalam

 

Kesegaran setelah semalam hujan

Meruap dari daun dan tanah basah

Aku berdiri di tepi jalan

Melihat masa depan.

 

Kesegaran setelah semalam hujan

Menemani kesadaran dan berdiskusi tentang perubahan

Aku melayaninya dengan semangat baru

Tapi aku lebih menikmati diriku yang di dalam ini

 

Kesegaran setelah semalam hujan

Dan bunyi burung pipit

Dan binatang-binatang bersembunyi

Laptopku yang mendengung dan menunggu tuangan  imaji.

 

Kesegaran setelah semalam hujan

Kesegaran pada jalan setapak kehidupan

Yang tak ada jalan lain bagiku selain melewatinya.

Kesegaran setelah semalam hujan

Melahirkan aku baru.

Bumi Sentosa, Januari 2007

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

CANGKANG

Cangkang

Oleh M. Irfan Hidayatullah

            Cangkang takjauh dari kita, bahkan ada dalam diri kita, dan itu susah membacanya. Ya, cangkang ada pada setiap eksistensi kehidupan. Aku yang berkulit juga sama denganmu dan sama dengan kucing tetangga yang berbulu lebat itu. Atau, mie rebus yang kukonsumsi dan mobil yang kukendarai semua tercangkangi. Namun, ada cangkang yang cepat terbuka dan isinya terhabisi dan ada cangkang yang sulit terlepas dan selalu diupayakan jangan sampai terkelupas.

Semua adalah tampakan dari sebuah keberadaan sesuatu. Mereka membungkus rapi sebuah eksistensi dalaman. Ada yang berusaha untuk ditutupi oleh keberadaan cangkang. Karenanya, ada fungsi yang sangat strategis dari sebuah cangkang; menutupi. Takpeduli yang ditutupi itu merupakan sesuatu yang berharga atau sebaliknya. Singkatnya, cangkang adalah sebuah tabir dari misteri dalaman. Karenanya, ia bisa jadi memiliki fungsi memanipulasi. Seseorang, aku atau kamu, kadang terjebak pada perdebatan atas sebuah masalah padahal kita baru melihat cangkangnya saja. Kadang kita pura-pura mengetahui dalamannya, padahal kita hanya menafsirkan saja. Sesuatu yang nisbi dan multiperspektif. Di sinilah titik lemah kita; ketidaktahuan.

Memang cangkang yang mudah terkelupas akan dengan cepat diketahui dalamnya, tetapi jangan salah, setelah itu ada cangkang berikutnya. Begitu seterusnya. Mereka adalah cangkang-cangkang imajiner yang lebih manipulatif. Seorang laki-laki yang tertarik pada perempuan dari tampilannya, dari pakaiannya, dari fesyen yang diikuti dan digandrunginya, setelah semua itu terlucuti maka ada cangkang berikutnya berupa kulit dan atau tubuh serta mitos perangai yang menempel di sana. Sama halnya dengan seorang anak yang terpesona dengan sebuah makanan kemasan, misalnya mie keremes, setelah anak tersebut melucuti cangkangnya, ia kemudian terpesona dengan mitos rasa yang akan dicecapnya. Padahal rasa adalah cangkang berikutnya agar setiap kandungan yang terdapat pada makanan tersebut terkonsumsi dengan tuntas dan produk itu laku akhirnya. Enak? Tentu saja! Tapi acap kali sang anak takmau tahu bahwa rasa enak itu memanipulasinya dari sebuah eksistensi destruktif bagi kesehatan tubuh dan atau jiwanya.

Cangkang-cangkang imajiner adalah mitos[1]. Dan di sanalah berbagai kepentingan dikomodifikasi. Yang cantik luarnya belum tentu menjanjikan cantik dalamnya, begitu pun sebaliknya. Namun, sebuah perjuangan serius tampaknya akan terus diupayakan untuk mempercantik berbagai lapis luaran agar dalaman yang jelek, keropos, bobrok itu bisa ditutupi. Lalu kapan seseorang akan tahu bahwa ia (akan) termanipulasi cangkang berlapis itu? Saat ia taktergesa menyimpulkan tentu saja. Dan ini takmudah. Apalagi ketika segala sesuatu yang bersifat cangkang itu kemudian diiklankan sehingga melelerkan hasrat kita untuk segera, segera, dan segera mengonsumsi dan menghabiskannya.

Ya, menurutku, ketaktergesaan adalah sifat yang kontramitos. Sebuah upaya demitologisasi muncul saat seseroang telaten dalam memahami sesuatu sebelum ia bersentuhan, memiliki, dan mengonsumsinya. Pada titik inilah pentingnya sebuah pengetahuan, sebuah ilmu. Karenanya, godaan untuk telaten memahami begitu besarnya. Berbagai hal menjadi sangat menarik untuk dijajaki sehingga seseorang terbelokkan dari jalan paham yang sedang ditempuhnya. Wallahu a’lam.

 

Derwati, 13 Agustus 2016

[1] Tentang Mitos, saya meneruskan apa yang digagas oleh Roland Barthes dalam tulisannya Myth Today (1956)

Sajak untuk Palestina

Nakbah 1948

 

Darah dan tubuh yang tertimbun itu

tumbuh jadi akar zaitun

walau kau pangkas, ia kan terus

jalar menemuimu yang pias ketakutan

 

Sembunyimu pada batu itu

tercekat oleh suara lantang

“Lihatlah ada Yahudi di belakangku!”

Gemawan serupa mata malaikat

dan burung nazar

Mengejarmu ke mana saja

Kecuali saat kau sembunyi

dalam hati nurani

Kecuali saat kau lari

dari dogma tirani

 

Sudahlah jangan menangis

Kau yang ingin berkuasa;

Kau yang tidak merdeka

Tuhanmu Tuhanku juga

tapi kita takkan bertemu

karna kutaktahu kemana

arah neraka!

                                Februari 2009

 

 

Sabra dan Sathila

; Waltz with Bashir

Baguslah kau trauma

Saat kepala anak berambut ikal

Itu dikerubuti lalat

Ia seperti anakmu juga bukan?

Dan balok-balok beton

Yang menimpanya kini ada di

Dadamu

Syukurlah kau trauma

Saat tubuh memar, menganga

Perempuan-ibu itu matanya

Berbicara; tajam mencecarmu

berjuta peluru Tanya.

Ia seperti istrimu yang khawatir itu bukan?

 

Sekarang carilah teman

Sesama tentara

Sesama boneka

Sesama trauma

Kaukan temukan berjuta

Jumlahnya

 

Tuhan memberkatimu karena

Kau telah manusia.

                                                Februari 2009

 

 

Intifadah

 

Lihatlah, aku sedang

Melempar jumrah

Serupa Ibrahim dan Ismail

Yang pasrah pada titah-Nya.

                                Februari 2009

 

Pesta di Gaza

I

Seperti tahun baruan di dekat Liberty

Kembang-kembang api itu bersahutan

Para penduduk histeris dan mengucap syukur

“Terima kasih Tuhan Kau telah menyapa kami,

Tangan-Mu yang merentang itu membuat kami bahagia.”

“Kami datang, kami datang, kami segera datang!”

 

II

Pagi hari sisa pesta berserakan

Dinding-dinding runtuh, baju-baju lusuh, dan

Wajah-wajah pada kepala tanpa tubuh

Mengabarkan senyum ketenangan.

 

                                                                Jatinangor, Maret 2009