Categories
Kritis

Yang Tersumpal Waktu Tersedak Makna

Napas tersenggal itu ia rasakan benar
Kematian dan kepahaman serentak menjalar
Pada degup satusatu jantung tersenggal menuju kelar
ia tetiba melihat lanskap yang menenggelamkan kabar
tentang esok, diri, dan harapan yang pudar

(Pada dinding gawai kulukis mural untuk otakku yang begitu berkuasa dengan kalkulasi untung rugi dan presisi prediksi melalui survaisurvai suarasuara pendukungpendukung yang penuh loyalitas dan pembenaran sehingga….)

Derwati, 8/9/21

Categories
Kritis

Saat Ide Menghantui

Pernahkah kau takbisa tidur nyenyak karena sebuah ide tulisan? Pada saat seperti itulah kau sedang dihantui mereka . Dan ini adalah momen termahal bagi seorang penulis. Ide yang biasanya sulit dicari, pada saat seperti ini begitu saja menghampiri, bahkan dengan serentak. Namun, nanti dulu, itu semua akan berlalu bila kau tidak bangun dan segera membuka layar laptopmu atau meraih penamu dan mencatatkannya.

Di luar hal positif fenomena tersebut, sebenarnya perlu diurai juga sumber utama kejadian langka ini. Bisa saja, hantu ide muncul karena ada sesuatu yang belum kau selesaikan atau ada tenggat yang mendesak, atau bahkan ada hutang pekerjaan yang takkunjung kau rampungkan. Bila itu penyebabnya, kau sedang diteror kelalaianmu sendiri. Ide yang sudah dalam bentuk ragangan itu kau biarkan atas nama kemalasanmu. Hanya saja, kau bisa mencari alasan terkuat untuk menenangkan diri, bahwa hantu-hantu ide itu sebenarnya bentuk dari tanggung jawab profesionalmu. Bayangkan bila kau takkunjung bangun dari hibernasimu atas nama mencari mood atau suasana penuh hasrat kreatif. Sepertinya kau perlu menangkap kesempatan emas ini dengan aura positif; sebuah kebangkitan.

Ada hal lain lagi, berkaitan dengan “keterjagaanmu” itu, yaitu berawal dari gentingnya sebuah kesadaran. Ya, Nabi, rohaniwan, penulis, budayawan, para penemu dalam berbagai bidang, dan berbagai subjek kehidupan lainnya biasanya memiliki hal ini. Karenanya, mereka biasanya sedikit tidur karena keterjagaan yang terjaga. Pemicu yang paling utama dari ini semua adalah daya kritis subjek kehidupan tersebut terhadap fenomena sekitarnya dalam berbagai perspektif. Saya jadi teringat Muhammad muda yang sedang bertahannuts di gua Hira sambil melihat Mekah dari kejauhan dan ketinggian. Dari keterjagaannya inilah, atas izin Tuhan, saya hari ini memeluk sebuah agama bernama Islam. Adapun para penulis, biasanya mereka termasuk yang memiliki kepekaan yang akan membuatnya gelisah dengan segala yang belum selesai. Selain mereka berusaha keras mencari ide, ide pun beramai-ramai mencari dan merongrongnya; hantu-hantu gentayangan dalam bentuk pertanyaan demi pertanyaan.

Bila saja fenomena ini terjadi pada seorang penulis jenis karya apa pun, bisa jadi ini adalah anugerah. Ia sedang disunting semesta untuk menjadi alatnya menyampaikan “kebenaran”. Ya, taksetiap penulis dipilih ide untuk ditungganginya. Tapi, nanti dulu, ini jadinya terkesan bahwa penulis adalah seseorang yang pasif dan idelah sesuatu yang aktif. Ya, memang bisa jadi demikian. Karena itulah, momen seperti ini menjadi peristiwa yang sangat mahal. Sementara, sekian banyak penulis bertebaran mencari ide, sejak di depan bacaan, film-film, musik, dan berbagai realitas keseharian baik yang minor maupun mayor yang bahkan langsung mereka datangi ke tempat T, kau justru didatangi ide tersebut dan terjaga pada sebuah tengah malam, padahal kau baru memejamkan mata satu jam yang lalu. Dan kau bangkit untuk menuliskannya.

Memang, para produsen pemikiran memerlukan momen M ini. Momen ketika ide-ide menjadi hantu dan mendatanginya di sembarang waktu. Tentu saja, hal ini penting, karena tidak semua orang dihinggapi keterjagaan, bahkan ada orang yang sedemikian frustrasi dalam mencari ide dan menggapai energi besar untuk menuliskannya. Bersyukurlah atas kegelisahanmu, atas sesuatu yang mendorongmu untuk bangkit dari tidurmu, atas bisikan-bisikan dibenakmu tentang sesuatu yang salah atau belum selesai, atas kebodohan masa lalumu yang harus segera kautuliskan hikmahnya, atau atas segala hal yang bernama masa depan yang kau bayangkan dan idamkan sebagai kritik atas masa kini yang suram dan retak.

Oh, iya… tulisan ini pun dibuat saat hantu ide menyerangku. Tidurku taknyenyak, gerah dalam berbagai dimensinya menghinggapi. Selain itu, diksi-diksi berbisik di benakku, cerewet, bahkan sebagian seperti mencibir dan menghinaku atas kelamahanku untuk bangkit dan mengabadikannya, Memang, banyak yang belum selesai dalam hidupku, termasuk tulisan-tulisan terpenting yang adalah bagian dari tugas profesionalku, dan mungkin itu yang menghantui. Namun, ternyata, bukan semata itu. Hantu-hantu ide ini telah mampu membuka lebar-lebar keterjagaanku bahwa yang diperlukan oleh seorang penulis adalah menulis seperti yang diungkapkan oleh Charles Bukowski: Menurutku, penulis adalah seseorang yang menulis. Yang duduk di depan mesin tik dan menuliskan kata-kata. Itu initinya. Bukan mengajar orang lain, bukan duduk di acara seminar; bukan membacakan puisi di tengah keramaian. Wallahu’alam.

Derwati, 16/3/21

Categories
Kritis

Risalah Wabah #6: Sirine

Karena telah terbiasa mendengar sirine, dia takingat lagi kematian. Bahwa memang itu indeks orang yang sakit atau orang meninggal, iya, tapi saking seringnya ia merasa semua telah biasa saja. “Oh, ada lagi korban..” begitu yang tergumam.

Dan, kini, di tengah malam saat bersiap tidur, ia mencoba membayangkan bahwa korban itu dirinya. Namun, sebagaimana pun upayanya tetap saja tawar. Yang sakit lalu mati toh bukan dirinya dan atau keluarganya. Takada kematian mendekatinya. Gejalanya sekalipun tidak nampak. Ia sehat walafiat dan siap tidur nyenyak. Hanya saja ia tiba-tiba ditinggalkan kantuk. Ia kini berpikir bahwa memikirkan tentang kematian hanya karena bunyi sirine itu sangat konyol dan kekanakkanakan. Memikirkan kematian yang belum tentu menjemputnya adalah hal yang tak pada tempatnya. “Kini, semua menjadi bagian dari normal baru.” bisiknya.

Akhirnya ia kini akrab dengan detak detik jam dinding itu. Ia bahkan menyaksikan perpindahan demi perpindahan jarum panjangnya lalu ia membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba jarum-jarum itu berhenti. Habis batre mungkin. Macet mungkin. Dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Sementara itu sirine itu tak lewat lagi. “Oh, Takada lagi korban.” bisik hatinya.

Mati ya mati, itu hal yang biasa menurutnya. Seperti sirine yang menghilang aktivitasnya tengah malam ini, detak jam juga bisa menghilang. Bukan hal besar dan mendasar. Mungkin kematian dilalui dengan senyap tanpa tanda.

Hening tak menghentikan pertanyaan yang mengecambah tentang bunyi sirine dan detak detik. Sejuta lebih korban covid 19 berlarian di running text saat ia nyalakan televisi itu. Ia pun berusaha untuk takacuh pada hitungan yang belum tentu benar. Sekali lagi, ia tak mau memikirkan kematian. Sirine hanya bunyi biasa dan jumlah korban hanya angka, pikirnya.

Akhirnya ia mematikan TV dan mencoba berbaring dengan santai. Seperti biasa ia baca doa sebelum tidur. Namun, lisannya terhenti saat diujung doa ada kata kematian. Tidur adalah kematian kecil. Ia semacam sirine bagi kematian yang menjelang. Belum tentu ia bangun lagi besok. “Buat apa aku memikirkan kematian. Aku sehat-sehat saja dan sadar.” gumamnya.

Alarm bangun berbunyi kencang, sementara ia belum memejamkan mata. Ia masih merasa tidak sedang memikirkan kematian. Lapat-lapat sirine terdengar kembali.

“Aku tidak memikirkan kematian,” tegasnya.

Derwati, 31 /1/21

Categories
Kritis

Luluh sang Lelah

Dia tahu semua belum selesai, tapi dia juga paham semua harus dihentikan. Bukan waktu, tapi kelemahan tubuhnya, kefanaan energi. Ya, ia harus berhenti. Begitulah setiap hari.

Tentu saja semua berhikmah. Takada yang sia sia pada semesta. Tentang tubuh dan lelah yang membujuknya juga sarat akan ajaran. Bahwa segala hal takmesti tercapai saat ini, di sini. Bahwa hidup nyata juga seperti kisah yang selalu ditunda untuk membuat penasaran penikmatnya. Untuk sebuah suspen. Ya, keberhentian karena lelah dan aus adalah akhir sebuah episode yang setiap hari bersambung sepanjang usia. Episode terpanjang bukan hanya ada pada sinetron Indonesia saja, tetapi pada kehidupan nyata.

Demikianlah dia sedang menuliskan catatan ini saat sang lelah luluh oleh bujukannya agar tidak mengajaknya berhenti dan terpejam. Ia meminta waktu kepada sang lelah untuk sekadar menuliskan resah. Dan sang lelah mengalah.

Dia tahu semua belum selesai, besok kemungkinan akan dilanjutkannya episode hidup. Namun, sang lelahlah yang terus membujuk dan meracuni persepsi, bahwa tlah tak ada yang bisa dilakukan lagi selain berhenti. Namun, ia tak mau berhenti begitu saja dan tidak boleh berhenti begitu saja. Ada banyak hikmah yang harus dituliskan. Mungkin dalam kantuk dan penat, tapi harus ada yang dicatat.

Dia dan lelah harus bekerja sama di setiap ujung hari untuk sebuah dedah. Dia dan lelah harus menjelma sahabat yang menghabiskan sisa detik sebelum istirah.

Derwati, 29 Januari 2021

Categories
Kritis

Sulitnya Memulai

Dia berhadapan dengan waktu, masa lalu, dan masa depan. Semuanya adalah sebuah kegaiban. Waktu, takpernah sungguh-sungguh ia pegang wujudnya. Masa lalu juga sudah takterjangkau keberadaannya. Ia semacam kabar dari entah yang disisipkan pada memorinya, padahal ia sendiri pelakunya. Mau mengubah? Takmungkin lagi. Dan masa depan adalah sebuah doa. Ia berbentuk harapan yang takada jaminan terealisasi. Ia bahkan serupa mimpi yang dicatatkan pada selembar kertas kerja. Sebuah rencana. Ya, hanya itu.

Sisa dari semua itu adalah paranoia. Kegelisahan atas ketakberpijakan. Ia seolah olah sedang tak di mana mana. Ia bahkan tercerabut dari masa sekarangnya. Ia didekap ketakutan juga atas hilangnya kesempatan. Akhirnya, ia menghibur diri dengan pelarian. Ya, dunia virtual telah menyediakan diri untuk kebutuhan itu. Dunia virtual dengan berbagai bentuknya. Yang jelas, ia tidak sedang di sini dan melakukan sesuatu untuk detik ini.

Kini. Di tengah malam, ia sedang melepas detik pertama dari 00:00 yang dimilikinya. Hanya sehela napas dimiliki. Hanya sedetak jantung ia rasakan. Hanya sekedip mata ia nikmati. Lalu ruang mana yang akan menjadi? Waktu mana ya yang akan abadi? Peristiwa apa yang akan dimiliki?

Terlewati, melewati, dan dilewati adalah dirinya saat ini. Bersama kecamuk tiga hal: lalu, sedang, dan akan ia hidup entah sampai kapan.

Derwati, 29 Januari 2021

Categories
Kritis

Risalah Wabah #5: Kesadaran Artifisial

Kesadaran Artifisial

Dulu. Dulu, ya dulu sebelum wabah ini terjadi, saya sudah dianjurkan oleh istri untuk mencuci tangan dengan ideal. Konon, katanya enam langkah cuci tangan yang sekarang telah mulai menjadi kebiasaan itu adalah hasil dari uji coba ilmiah. Virus dan kuman akan efektif tertumpas oleh cuci tangan gaya seperti itu. Dan, dulu itu, dengan logika acak dan ego memuncak, saya menolak tesis tersebut. Bukankah, bila mencuci tangan dengan acak dan merata juga akan membunuh kuman dan virus dengan efektif? Tentu saja istri saya tetap ngotot dengan cara mencuci tangan seperti itu, dibantu juga oleh anak saya yang seorang mahasiswa kedokteran. Namun, saya tetap bergeming. Saya mencuci tangan dengan acak namun merata dan agak lama.


Suatu hari, masih jauh-jauh tahun sebelum pageblug itu datang ke Indonesia, saya menyaksikan Milad Kampus Politeknik Al Islam Bandung. Saya memang mengajar beberapa mata kuliah di sana. Dan saat itu saya menjadi juri lomba kreativitas seni antarangkatan. Nah, salah satu kelompok dari prodi Radiologi melakukan senam langkah mencuci tangan yang efektif itu. Saya hanya tersenyum dan geleng kepala. Begitu masif kurikulum pada jurusan kesehatan menerapkan itu, padahal cara mencuci tangan dengan sabun kan banyak caranya dan bisa lebih efektif juga. Saya tetep keukeuh.


Terakhir, menjelang virus Korona menyerang tanah air, saat para pejabat berseloroh tentang ketidakmungkinan virus tersebut mampir ke negeri ini, kami (DKM Riyadhul Jannah) mengadakan bincang kesehatan bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Unpad. Pembahasan yang diangkat adalah tentang strategi meningkatkan imunitas terhadap serangan virus. Yang datang bukan orang sembarang, mereka adalah dosen ahli virologi. Dan saya sebagai moderator kembali disodori enam langkah cara mencuci tangan dan praktik bersama sambil berdiri. Dan saya mulai ragu dengan logika saya sendiri. Salahkah pendapat saya? Betulkah riset tentang cuci tangan tersebut?


Lalu? Ya, kau pasti bisa menebaknya. Kini, setelah dari mana pun dan di mana pun, saat memungkinkan, saya selalu mencuci tangan dengan gaya seperti itu. Lucunya, saya disodori sebuah scene mencuci tangan seperti itu pada sebuah drakor yang sedang saya tonton streaming pada saat karantina mandiri. Mereka rupanya, tetap menyelipkan edukasi menjaga diri dari serangan virus, padahal di filmnya tidak sedang bercerita masalah tersebut. Kini, saya hanya bisa merenung tentang diri saya. Bukan tentang orang lain. Betapa, anggapan tertentu bisa begitu salah hanya karena mengandalkan logika subjektif dan kebiasaan. Ya, ini hubungannya dengan kepercayaan pada riset ilmiah.


Tentu saja percaya pada kebiasaan bisa menjadikan seseorang yakin melakukan sesuatu. Kebiasaan memakai masker di Jepang misalnya membuat warganya mengikuti karena memang umumnya seperti itu, tanpa tendensi ilmiah. Kebiasan kemudian akan menjadi tradisi, terus menjadi budaya. Di sinilah letaknya menurut saya. Edukasi bisa dilakukan dengan cara nonteori dan terus menerus, bahkan melalui media-media populer sehingga menjadi pengetahuan bersama. Tanpa harus dijejali atau diyakinkan dengan teori-teori ilmiah hasil riset sebuah kebiasaan baik bisa menyebar dan dilakukan bersama. Jangan sampai, kebiasaan baik tersebut dilakukan karena terpaksa oleh sebuah kondisi darurat. Karena virus sudah ada di sekitar kita dan korban terlihat dangan jelas berjatuhan, bahkan angkanya membuat ngeri, bahkan lagi wilayah penyebarannya sudah semakin dekat, kita baru buru-buru membiasakan diri melakukan hasil kajian ilmiah tersebut.


Ya, yang terpenting dari yang kita bicarakan di sini adalah literasi informasi dan edukasi kebiasaan ideal yang menyasar bawah sadar bukan kesadaran artifisial manusia. Covid-19 mungkin sudah di depan mata, tetapi saat memang perilaku warga sudah terbiasa dengan yang higienis kondisinya akan lain lagi. Kondisinya akan berbeda dengan situasi penuh gegar karena kegegaran dapat menimbulkan kenekadan. Penolakan melakukan protokol kesehatan saat pandemi adalah buktinya. Penentangan anjuran memakai masker, keberadaan virus dan hubungannya dengan konspirasi global menjadi isu utama, sampai lelucon-lelucon tentang segala fenomena korona. Ngeri memang, apalagi saat korban terus berjatuhan. Mungkin karena korbannya bukan kita sehingga menganggap bahwa segala yang terjadi fiktif belaka. Lalu testimoni para tenaga kesehatan, para penggali kuburan, dan korban saat diisolasi dan sebelum meninggal itu apa? Sandiwara?

Bandung, 8 Oktober 2020

Categories
Kritis

Risalah Wabah #4: Tentang Jarak

Jarak pada masa pandemi menjadi kata yang populer. Ia menjadi sebuah makna yang sangat dekat dengan siapa pun. Sekarang seseorang seperti takberjarak lagi dengan istilah yang di dalamnya terkandung makna ruang dan persona. Sementara itu, pada kenyataannya sekat baru sedang dikukuhkan. Tentu saja dengan terpaksa masyarakat membuat sekat-sekat tersebut. Keguyuban yang ditandai dengan kedekatan secara fisik, kini berbalik, ditandai oleh keberjarakan. Semakin menjaga jarak semakin guyub. Bukankah Keguyuban di dalamnya ada kesalingmenjagaan, ada kehangatan dan kasih sayang. Dengan berjarak seseorang sedang peduli dengan sesama.

Kini, orang yang peduli adalah orang yang menghindari kebersamaan fisikal. Perubahan pola pikir yang mendasar sedang dipersembahkan oleh semesta. Sesuatu yang telah baku dan beku dalam definisi kini dibongkar. Bagi orang-orang yang tidak siap atau belum siap, akan tersiksa dan berprasangka. Tersiksa muncul karena rasa, prasangka muncul karena kebingungan.

Contoh ketersiksaan adalah ketidaktaatan akan aturan untuk tetap di rumah saja. Pembangkangan atau kenekadan untuk melebur kembali pada ruang-ruang publik terjadi karena itulah yang enak dan biasa dilakukan. Logika tidak masuk pada hitungan. Pandemi adalah sebuah istilah gaib yang seolah akan mengerti dan terharu dengan definisi lama kebersamaan. Sebelum jatuh korban, mereka takkan berhenti atau lebih tegasnya sebelum jatuh korban pada lingkungan terdekat takkan berhenti. Melihat korban di layar kaca atau di kampung sebelah seperti mengukuhkan bahwa diri mereka kebal oleh virus Korona, seperti sebuah berkah atas bukti definisi lama tentang jarak. Itulah produksi dari sebuah rasa.

Adapun prasangka muncul dari kebingungan. Keberjarakan yang diharuskan akan membingungkan seseorang yang tidak puas dengan jawaban-jawaban faktual peristiwa. Korban yang terus bertambah, seolah mengukuhkan bahwa ada pihak yang tidak terjangkau yang sedang bekerja. Ada skenario ekonomi, politik, dan budaya untuk mengacaukan dunia. Ada sebuah konspirasi global untuk kepentingan hegemonik. Bagi pihak yang berada pada kondisi ini, biar pun menjadi korban, kesadaran tidak akan kunjung muncul. Ia bahkan, pada titik tertentu, akan mengukuhkan diri dalam hening sebagai pahlawan dari perang konspiratif tersebut. Namun, wacana ini biasanya dibuat oleh seseorang yang relatif logis dan berpendidikan. Prasangka yang dia tebarkan hanya untuk membuat chaos saja. Prasangka yang dipolitisasi di dalamnya mengandung mitos.

Baiklah, kita kembali pada perihal jarak. Definisi baru tentangnya adalah adalah sebuah restarting semesta setelah instal ulang perangkat lunak baru. Ya, tatanan baru muncul sebagai akselerasi kehidupan sehari-hari dengan teknologi yang sebelumnya dimunculkan perlahan sesuai dengan kepentingan industri kapitalistik. Segala yang sudah tersedia dan ditemukan hanya dinikmati oleh sebagian elit saja. Teknologi pertemuan jarak jauh hanya dipakai oleh kalangan tertentu demi kepentingan eksklusif. Masyarakat umum akan diberikan fasilitas itu suatu saat nanti saat ditemukan yang lebih canggih lagi. Bilapun butuh saat ini, biayanya tak terjangkau atau mungkin mereka tidak tahu sama sekali akan adanya hal itu.

Kini, definisi jarak menjadi lain lagi. Boleh jadi seseorang berpisah ribuan kilo, tapi sangat dekat karena teknologi dan tuntutan komunikasi gaya baru. Memang, sisa definisi lama masih ada, tapi perangkat lunak yang sudah diinstalkan ini sedang meminta semesta untuk restart. Setelah kembali normal, nanti akan terpasang fasilitas-fasilitas program baru dari software paling mutakhir yang bisa dinikmati oleh mayoritas masyarakat. Semesta telah bekerja melakukan penyelarasan, atas izin Tuhan tentu saja.

Derwati, 3 Juli 2020

Categories
Kritis

Risalah Wabah #3: Kelahiran Nama-Nama

Setiap peristiwa melahirkan nama-nama. Mereka keluar dari rahim pergulatan sebuah zaman. Seperti juga namaku dan namamu mungkin. Kita dinamai atas dasar sesuatu yang mengganggu benak orang tua kita. Apa pun motifnya, termasuk nama yang keluar dari pergulatan doa-doa, nama ideal yang pada saatnya nanti bisa jadi kontradiktif dengan perilaku penyandangnya.

Ya, nama-nama itu lahir juga dari tubuh era pandemi ini. Bukan, bukan nama-nama anekdotal bagi anak yang lahir pada masa ini, seperti Siti Korona, dan lainnya, tapi nama sungguhan yang dipakai untuk mengidentifikasi diri saat pandemi.

Disebabkan oleh wujud yang lahir di hadapan, manusia kemudian berebut memberinya nama. Sebutan virus Korona pun menjadi bagian dari fenomena ini. Ternyata ada nama lain yang tidak populer yang menjadi identitas lain dirinya, yaitu SARS (Severe Acute Respiratory Sindrom) CoV-2. Jenis lain dari virus SARS yang pernah hadir sebelumnya, yaitu pada 2003. Ada pun Corona Virus adalah golongan Jenis virus tersebut, sedangkan Covid – 19 adalah nama penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut dan angka 19 adalah titimangsa ditemukannya penyakit tersebut.

Lihatlah, betapa semua saling berhubungan dan kemudian disalahpahami. Covid-19 bukanlah nama lain dari virus Korona, tetapi penyakit yang disebabkan oleh virus tersebut. Namun, siapa yang mau peduli dengan keakuratan saat peristiwa pegeblug ini sedang terjadi. Penamaan menjadi sesuatu yang dilakukan dengan tergesa dan kemudian disepakati begitu saja. Tentang ini, saya berpikir bahwa sepertinya nama yang terakhir dan secara fungsional dipakai selalu lahir dari kesalahan demi kesalahan, seperti namaku yang terus berubah sejak lahir sampai tercetak pada sebuah akta, dan KTP.

Ya, kelahiran nama-nama adalah peristiwa penting dalam sejarah karena ini bukan permasalahan bahasa semata. Ini adalah masalah ideologis yang lahir dari perkawinan antara teks dengan konteks, antara diksi dengan kepentingan, antara (sakadar) ujaran dengan identitas resmi.

Begitulah kemudian lahirlah nama-nama, seperti Covidiot, Koronorak, Lockdown, Karantina (wilayah), Sosial Distancing, Physical Distancing, Jaga jarak, Stay at home, di Rumah Aja, APD, Hazmat, Handsanitizer, New Normal, Kenormalan Baru, Tatanan Baru, Adaptasi Kebiasaan Baru, dan lain-lain.

Walaupun nama-nama tersebut sebagian besar sudah ada sebelumnya, tetapi sebuah peristiwa telah melahirkannya kembali. Mereka adalah individu-individu baru dari sebuah rahim baru. Ibu zaman telah mengandung mereka sekian lama, dan lahir pada ranah wabah. Dan nama-nama yang telah dilahirkan tersebut, kini menjadi bagian dari wacana negeri ini. Mereka tumbuh dan besar di sana. Bersamanya telah terlahir juga manusia-manusia khas. Manusia yang bersanding dengan istilah Covidiot, misalnya, tentu saja berbeda dengan manusia yang bersanding dengan istilah APD, dan berbeda juga dengan manusia yang bersanding dengan istilah OTG. Di sanalah bersembunyi hubungan ideologis yang tidak sederhana.

Bandung, Ahad, 7 Mei 2020

Categories
Puisi

Pagi Menjamu Hujan

Pagi menjamu hujan
Anggrek dan mawarmawar itu berpesta
Takada guguran daun mangga apalagi putikputik bebunganya
Ini bulan Juni, katamu

Hujan mencangkung di beranda
Tanpa masker ia lirih berbicara
Normal baru takberlaku bagi tuan rumah sepertiku
Siapa yang sesungguhnya sedang bertamu?

Pagi menjamu hujan
Mereka berbincang tentang kekacauan manusia dan kemanusiaan
—yang selalu merasa digdaya dengan pengetahuannya—
tentang Korona, tentang demokrasi, dan kerusuhan di Amerika
Mereka berbincang santai sekali disaksikan cuaca yang berdiri bersedekap merapatkan jaketnya

Hujan mencangkung di beranda
rumahku
Aku melengkung di ruang tamu
Penungguan menjadi tanda tanya
Menjadi sepenuh lemah atas kegaiban yang mewabah

Derwati, 3 Juni 2020

Categories
Esai

Risalah Wabah #2

Sama denganmu aku pun berada di tengah-tengah wabah. Tentang wabah yang telah mewabah ini adalah sebuah tatanan baru yang mengubah Identitas lalu juga mengubah perilaku. Seseorang yang selama ini di luar dan masuk pada kotak masing2 pada ruang aktivitas masing-masing kini menjadi di dalam dan membuat ruang baru.

Sama denganmu, aku pun berusaha membuat ruang baruku di dalam sini. Di dalam rumahku, di dalam kamar (kerjaku), di dalam jiwaku. Dan pada setiap perubahan ini, terdapat masa-masa adaptasi yang juga mengubah diri mereka. Adaptasi adalah sebentuk aktivisme yang juga subjek perubahan. Sampai akhirnya kemudian banyak orang menyebutnya dengan new normal. Ya, sama juga denganmu, sang Adaptasi menjadi makhluk sekaligus keadaan yang dibentuk oleh ruang pandemi.

Ruang wabah paling bawah adalah aktivitas sehari-hari setiap subjek yang diubah, mengubah, dan lalu berubah. Banyak di antara mereka, termasuk aku yang gegar pada titik tertentu padahal setelah ditemukan ruang dan identitas baru itu. Rupanya ada ruang bawah sadar yang protes atas perubahan normal itu. Ia semacam antivirus yang bereaksi pada infiltrasi budaya baru yang bisa jadi metafora dari Korona itu sendiri. Jadi, kejenuhan itu muncul semacam bersin-bersin kultural yang sebenarnya mekanisme pemertahanan alami diri. Penuhnya mal-mal dan jalanan itu adalah bersin kultural. Namun, seharusnya bersin ini bersifat sporadis, spontan. Setelah itu, kesadaran bahwa sebuah bahaya harus ditangani harusnya segera muncul. Dan itu terjadi juga, ruang wabah paling bawah ini gegar juga dan mencoba mencari the new normalnya masing-masing, terutama setelah terbukti adanya korban.

Sama denganmu, aku pun mengalami perubahan identitas juga, mengalami gegar wabah juga, mengalami bersin kultural juga. Selama bulan Ramadan, semua itu terjadi. Hanya saja, aku biarkan diri ini demam-demam di ruang baru. Aku merasakan inkubasi Identitas baru itu menggeliat di dalam rumah, ruang kerja, dan jiwa. Demam itu kutahan hingga kadang aku meracau marah-marah terhadap keadaan. Untungnya, ada obat manjur sepanjang Ramadan. Dialah bacaan Al Quran. Dialah lapar dan haus. Dialah tarawih dan ibadah rawatib berjamaah. Dialah doa-doa dan tebaran nasihat. Dialah keluarga, Yang senasib seperjuangan dalam menahan demam akibat terbentuknya Identitas baru di ruang yang itu-itu saja: jiwaku.

Senin, 2 Syawal 1441/ 25 Mei 2020