Menempuh (7)

Menempuh (7)

Usai tanjakan pertama, jalan kembali landai. Namun, dia memutuskan untuk istirahat. Ia tepikan motornya di bawah pohon nangka. Hampir di halaman sebuah rumah semi permanen yang tidak terlalu besar. Halaman rumahnya sebentuk tanah coklat kehitaman tanpa rumput. Tanah itu mengilat seperti lembap. Tampak licin. Tapi ia tak memperhatikannya terlalu lama. Ia hanya mencari tanah yang berumput dekat pagar bambu. Ia harus istirahat. Terlebih motornya. Bau gosong menyengat dari knalpot itu. Bila daun nangka kering jatuh tepat di sana, mungkin langsung terbakar.

Setelah motornya distandarkan. Ia turunkan ransel penuhnya dari punggungnya. Ia simpan tas itu tepat di batang pohon nangka. Ia pun kemudian duduk dan menyandarkan punggungnya di ransel itu. ‘Kenapa tidak kita giliran menopang tubuh. Maaf, sekarang kubebani kamu wahai beban!’ Gumamnya.

Di ambang ketaksadaran, ia dikagetkan oleh satu sosok yang tiba-tiba saja berdiri di depannya.

“Abah mempersilakanmu masuk… Sudah masuk waktu Duha… kata Abah biasanya Akang mampir salat Duha di sini.” Dengan bahasa Sunda halus gadis cantik itu mempersilakannya masuk.

Sambil tersihir oleh kecantikan kembang desa, ia ikut saja masuk ke rumah setengah permanen itu. Kecantikan yang menyilaukan seperti matahari, seperti ibu. Ia hampir takpunya visi pandangan lagi, terbutakan.

‘Ah, takpernah aku temukan kemurnian seperti ini di kota B. Ruang tempat berdesak-desakan antartubuh di sebuah mall, trotoar, kampus, dan berbagai pesta. Perempuan-perempuan dan tubuh mereka ibarat manekin zonder jiwa dan cahaya. Perempuan ini ibarat seperangkat estetika alam pagi di sebuah perkampungan tanpa polusi…’ ceracau hatinya.

Ia membuntuti gadis itu menuju pintu rumah. Saat pintu itu dibuka ada derit halus terdengar dari engselnya… (Bersambung)

Bandung, 16 Oktober 2018

 

 

 

Menempuh (6)

Menempuh (6)

 

Dan betul saja ia tertinggal. Kini melenggang sendirian. Tampaknya ketrergesaannya kalah sarana. Atau  jangan-jangan pengendara yang lain sesungguhnya tidak sedang tergesa?Hanya kendaraan mereka yang mutakhir yang membuat mereka melesat tanpa mengejar apa-apa? Kecepatan bukan Ketergesaan. Beda dengan dirinya, ketergesaan adalah ruang jiwanya, tetapi motornya takmengizinkan untuk itu. Juga jiwanya. Sampai mengepul asap hitam dan mengerang mesin pun kelesatan takjua dicapainya.

Pada zamannya, motor 4 tak-nya ini mungkin juara. Namun, zaman juga sudah lesat. Ia tertinggal oleh realitas dan acapkali pikiran semacam itulah yang sesungguhnya menindas. Ia generasi tua dengan gaya yang tua.

Hanya saja, ia masih yakin menang jika perlombaan balap ini tujuannya adalah kota P tempat ibunya menunggu. Kebertahanan dan jalan-jalan pintas ia ketahui dengan pasti sampai ke likuk-likuknya. Sementara kalau ditempuh melalui jalur utama akan memakan waktu dua kali lipatnya.

Seperti sekarang, ia sedang ada di sebuah jalan kampung yang melipat jarak dari kota B ke kota G. Walaupun, jalannya menanjak, tapi ia tahu jalur ini lebih cepat. Ia lesatkan saja semampu yang ia dan motornya bisa. Apalagi, menuju tanjakan yang lumayan panjang, ia perlu ancang-ancang.

Dan begitulah perjuangan, pada ujung tanjakan tenaga motor dan harapannya hampir usai, tapi matahari yang mulai meninggi seolah menjulurkan tali yang diikatkan ke stang. Sambil mencoba memosisikan diri agar tubuhnya ikut menggenjot sang motor, akhirnya dia sampai di ujung tanjakan pertama. Dan ia tahu ada empat lagi tanjakan puncak serupa dan satu tanjakan sebelum jalan menurun. Melembah.

(Bersambung)

 

Bandung, 15 Oktober 2018

 

 

 

 

Menempuh (5)

Menempuh (5)

Ia kini bagian dari balapan motor-motor Pengejar matahari. Tentu saja dibanding motor-motor baru dan matic, motornya agak terseok, tapi ia yakin akan sampai pertama jika itu menuju ibu.

“Kau sedang diuji. Kita sedang diuji. Tempuhlah semuanya. Ibu menunggumu di sini.”

Terngiang kuat mantra itu, kadang ia gumamkan juga di tengah tempuhan. Kalau saja ada orang yang melihat betapa cengengnya ia saat menelpon ibunya tadi malam, ia bukan ia lagi.

Derai yang dihindari para lelaki itu betul hanya mitos ternyata. Buktinya ia, melampaui keberderaian. Di diseret ke arah palung terdalam penyesalan yang kemudian oleh energi dari dasar bumi, dihempaskan ke permukaan kembali. Lalu jiwanya diseret arus deras menuju curug berbatu tajam. Melayang menuju runcing kepedihan. Membuatnya tercekat dan memekik.

Jalan di depan kehilangan matahari. Belokan pertama sejak lampu merah itu membuatnya menempuh tenggara lalu selatan. Namun, motor lain masih mengegas dengan semangat. Ada di antara mereka yang melampauinya memandang tajam walau sekilas. Diiringi senyum meremehkan sedetik sebelum lesat.

…. (Bersambung)

Bandung, 11 Oktober 2018

 

Menempuh (4)

Menempuh (4)

Matahari terbit. Ya, matahari terbit. Sesosok makhluk yang kerap dicemburuinya. Keikhlasan jenis apa yang dimiliki makhluk itu untuk konsisten menempuh? Tanyanya. Sementara itu, dirinya selalu terhalang oleh gelisah yang kadang tibatiba datang dan menginterupsi langkah. Kegelisahan yang jorok. Takkenal tempat takkenal waktu. Serupa residu dari perut dunia yang malahap apa saja.

Dan dia sekarang seolah sedang mengejar makhluk itu. Ke arah timur motor tua yang sering terbatuk itu ia lajukan. Tapi kadang ia menganggap matahari serupa ibu… ibunya. Ya, siapa lagi. Bukankah, itulah satu-satunya alasan ia bertahan?

Di perempatan itu, ia terhenti bersama puluhan motor lainnya. Berderet hampir berhimpitan. Tepat di bawah lampu merah stopan mereka berhenti dan siap balap setelah lampu merah berganti hijau. Tapi, lampu merah itu kini tergantikan oleh silau matahari itu. Benda putih kekuningan terang, seterang-terangnya berhasil mengalihkan ruang di kepalanya.

“Tet teeet tooot…taaat teet toot…” bunyi yang serentak menembus gendang telinganya membuatnya terbangun…

“Rek sare mah di imah we, Bel!!”*

(Bersambung)

 

9 Oktober 2018

 

*Kalau mau tidur di rumah saja!!

Menempuh (3)

Menempuh (3)

 

Akhirnya ia tersungkur juga. Di sajadah musola sepi sebuah pom bensin kepala berat itu diletakkan di atas gambar kakbah yang sudah pudar. Perjalanan di batok dunia itu berdesingan kadang tabrakan satu sama lain. Lafaz yang sudah dihapalnya sejak sekolah agama dulu susah dimantrakannya. Ia betul-betul tersungkur. Dan ia takhendak tersingkir.

Beberapa menit lagi syuruk. Perjalanan di atas sajadah ia sudahi. Takada doa selain berbagai gerutuan hati. Tentang rentang juang yang masih panjang dan tentang waktu yang takpernah pasti. “Harusnya aku mati saat sujud tadi, seperti orang di video-video itu?” Selalu gerutuan itu yang mengakhiri berbagai lebah kilasan di hati.

Ia pun kini sedang mengisi penuh tangki motornya… Perjalanan masih jauh, bahkan baru dimulai, pikirnya. (Bersambung)

Bandung, 5 September 2018

 

 

 

Menempuh (2)

Semua sudah dikemasnya, termasuk kantuk itu. Tas ransel dah penuh, menggelembung, seperti akan meledak. Perjalanan membisikinya untuk tetap sabar. Tas, itu sesungguhnya tidak berat. Isinya berbagai elemen fatamorgana.

Motor bututnya pun membelah kerumunan detikdetik menjelang azan subuh. Mereka bercericit bubar serupa tikus mencari lubang air pinggir jalan. Namun, ada satu dua yang tergilas ban.motornya tanpa ampun. Penungguan memang memerlukan korban waktu..

Suara azan dibisikan angin pada celah helm tuanya. Perjalanan pun meminta dia menepi, tapi selalu ada alasan untuk menapikan istirah yang satu itu. Ia tancap gas tak mau kehilangan gelap.

(Bersambung)

Depok, 2 September 2018

 

Menempuh (1)

Menempuh

Dia dan perjalanan itu sudah sangat dekat. Akrab, bahkan. Ya, perjalanan adalah sahabatnaya.

Mungkin kali ini kau melihat dia semdirian, tapi sebenarnya dia sedang diperjalankan. Dipeluk perjalanan. Sahabatnya itu sedang meruanginya. Lebih dari itu, ia sudah tersusupi perjalanan.

Di benaknya ada jarak tempuh, proses, dan tujuan. Begitu pun di hatinya. Diamnya adalah putaran roda dan lesatan jiwa. Di meja kerjanya terbuka peta peta harta karun kebijaksanaan. Ia sedang menuju ke salah satu kota itu. Walaupun jauh akan ia tempuh.

Alarm di hpnya berbunyi. Tentu saja tidak berfungsi karena ia tidak sedetik pun tidur malam ini…. (bersambung)

 

Bandung, 1 Oktober 2018

INGATAN

Ingatan

 

Daun yang melayang di atas kepalamu bisa diingat oleh burung di dahan itu

Kau yang sedang menggenggam buku sejarah dan (merasa) paham tentang siapa dirimu sebentar lagi akan dihinggapi sesuatu tanpa bisa dihindari

Daun yang melayang di atas kepalamu bisa diingat oleh ulat bulu yang menempel erat pada seratserat yang digerogotinya. Ia baru saja lepas dari paruh burung yang bertengger di dahan itu.

Kau yang sedang berpikir dan merasa bangga dengan pengetahuan sedang terancam oleh trauma sebentar lagi.

Daun yang melayang menuju atas kepalamu hanya bisa diingat oleh angin yang mengombangambingnya sebelum mendaratkan ulat bulu di atas kepalamu.

Kau yang sedang menikmati senja dengan secangkir kopi itu dibuai segala indra dan imajinasi kedigdayaan diri. Betapa aman menghidupi ujung hari ini, pikirmu.

Daun yang melayang di atas kepalamu akan menjadi sejarahmu sebentar lagi.

 

Bandung, 11 Agustus 2018

Berharap

Berharap

Setiap hari kita berharap. Pada siapa pun pada apa pun. Setiap detik kita ditumpuk harapan tentang siapa pun tentang apa pun. Setiap harap ada ratap baik tersirat maupun tersurat. Setiap berharap acapkali kita silap bahwa itu semua tentang diri sendiri tentang kepentingan diri. Karena itu, semua harapan ditanggung sendiri sebagai beban. Semesta dibiarkan menonton seseorang yang melulu tertekan.

Bandung, 5 Juli 2018