Grafiti

GRAFITI

Oleh Moch. Irfan Hidayatullah

 

Mobil berseliweran. Orang-orang lalu lalang. Debu hampir mengabut. Mungkin hari ini hampir batuk karena terus menerus menghisapnya. Pedagang kaki lima sumringah karena dagangannya laku. Para pengamen hampir berteriak berusaha merdu melagu. Pengemis mengernyitkan dahi karena kepanasan. Mall yang megah berdiri kokoh, hampir angkuh. Sementara itu.

“Nyokap gua…hmm lumayan. Daia suka banyak ngasih tambahan uang jajan.”

“Kalo gua…mmh punya dua nyokap. Nyokap tiri gua justru yang mengasyikkan. Dia cantik en  baik hati. Pantes babe gua kepincut…he…he.”

“Ih…lu sadis banget.”

“Ha..ha..ha, kan turunan dari bokap!”

“Nah, kalo gua sih sebel banget sama nyokap. Abisnya suibuk nggak ketulungan. Nggak biasa masak lagi. Mmmh, nyokap gua, ya…si Bibi itu. Udah tua sih, tapi gua suka ngadu ke dia kalo ada masalah…Nah, setua pengemis itu si bibi “nyokap” gua.”

“Oke, kalo gua disuruh ngebuka rahasia keluarga sih. Hmm, nyokap gua orang yang tidak ada duanya di dunia. Orang yang paling sabar sejagat.Orang yang paling berkorban buat keluarga. Gua dan adik-adik gua. Tapi bokap gua, musuh paling besar bagi gua karena dia sering nyakitin  nyokap. Katanya, sih gua juga punya nyokap tiri. Gue pingin ngabisin tuh cewek gatel.

Sebuah perempatan sedang merah. Angkot berderum-derum. Pemuda-pemuda calo berteriak menjajakan kesempatan, lalu meminta uang jasa pada sopir sambil menekuk muka. Debu masih mengabut. Bahkan makin. Seorang pengemis cilik terbatuk-batuk sampai terlihat urat-urat di lehernya. Mukanya memerah menahan letupan-letupan dari dalam dadanya. Seorang pengemis lain melampai-lambaikan tangannya di seberang jalan. Mungkin ibunya.

Tiba-tiba lampu hijau; pengemis kecil masih berada di tengah jalan. Dia keget. Batuknya pun semakin menjadi. Mobil-mobil membunyikan klaksonnya. Motor banyak yang hampir menyerempet tubuhnya. Kemacetan terjadi. Makian melayang-layang.

“Hai, minggir…dasar pengemis!”

“Ayo, cepat nyebrang jangan bengong begitu, macet, nih!”

Pengemis kecil itu berusaha beranjak dangan hati-hati, tapi sekali lagi motor berkecepatan tinggi hampir menyerempetnya. Dia mundur beberapa langkah. Makian pun melayang-layang lagi. Bunyi knalpot berderum-derum. Ibu si anak refleks berdiri. Refleks berlari. Refleks meloncat. Menerjang kemacetan. Tubuh kurusnya hampir terserempet motor. Dia berkelit. Dia meneruskan larinya. Tiba-tiba lampu merah. Hatinya terhibur. Pengemis cilik manggapaikan tangannya. Tangan mereka bersentuhan. Sang ibu menggendongnya. Kemacetan terbentuk lagi. Pengemudi yang urung melewati kemacetan karena kejadian tadi menggerundel. Memang lampu merah lebih lama daripada lampu hijau. Sementara itu.

“Gile tuh anak… kecil-kecil gitu udah dimanfaatin sama nyokapnya. Zaman memang sudah edan.”

“Ahh, itu sih biasa. Coba lu hitung anak kecil model gitu di setiap perempatan, ribuan, Bro, ribuan.”

Heueuh bener. Situasi sudah kacau di negara kita. Tapi apa peduli kita. Iya nggak?”

“Iya sih….Nah, mendingan kita lanjutin obrolan kita. Sampai mana tadi?”

“Ngobrolin nyokap.”

“Nah, gimana kalau kita beralih topik?”

“Oke…. Gimana kalau tentang cewek?”

“Oke, siapa takut?”

“Si Susan?”

“Boleh.”

“Kalau si Susan sih gue bisa pastiin. Tu cewek saat ini sedang kesengsem ama gua.

“Aaah, lu geer aja kali. Mana buktinya?”

“mau bukti?…Dia mau gua ajak kencan, Bung. Malam tadi gua nonton bareng dia.”

Tiba-tiba semua tertawa. Tawa yang menggema di tengah keramaian mal.

“Lho, ngapai kalian ketawa. Itu bukti, Bung.”

“Lu, ketinggalan, Bung….Kita semua emang pernah ngajak dia kencan. Dan si Susan mau banget.”

“Haah, jadi…?”

“Ya,….si Susan milik bersama.”

“Susan cantik itu?”

“Iyyaaaaa.”

“Suasan kaya itu?”

“Iyyaaaa.”

“Gua nggak percaya.”

“Terserah lu, yang jelas kita sudah sama-sama “mencicipinya”. Semua tertawa renyah serenyah pop corn yang mereka makan bareng-bareng.

Tiba-tiba tawa mereka berhenti. Dua orang pengemis, ibu dan anak, menghampiri mereka sambil menyodorkan kaleng-kaleng kecil. Mereka saling berpandangan. Itu ibu dan anak yang hampir celaka tadi. Pikir mereka. Itu ibu dan anak yang dimaki-maki tadi. Pikir mereka. Itu ibu dan anak yang jadi bahan obrolan mereka tadi. Pikir mereka.

“Den, kasihan, Den kami belum makan seharian, Den.” Sang ibu mengemis.

Si anak pun tak ketinggalan sambil diselingi batuk.

“Den, kacian, Den caya belum makan cehalian, Deen.”

Semua saling pandang. Salah satu di antara mereka mengangkat bahu dan berisyarat sebuah pertanyaan. Mau diapakan mereka? Dikasih atau tidak? Semua yang menerima isyarat itu menggeleng hampir berbarengan.

“Maaf, Bu. Lain kali saja.”

Namun si ibu tetap berdiri. Berdiri mematung. Begitu juga si anak. Mereka tak mau beranjak.

“Den, kasihan, Den kami belum makan seharian, Den.”

“Den, kacian, Den caya belum makan cehalian, Deen.”

“Ibu, maaf. Kami tidak bisa memeberi. Maaf ya, Bu. Lebih baik ibu mencari “korban” yang lain aja.”

“Iya, Bu.”

Namun ternyata ada di antara mereka yang merogoh saku celananya. Lalu memilih uang yang berhasil dikeluarkannya. Tak ada ratusan. Tak ada ribuan. Yang ada lima puluh ribuan empat lembar.

“Maaf, Bu. Tidak ada receh.”

Si ibu tetap diam. Tak mau beranjak. Begitupun si anak. Sepertinya mereka menunggu dan akan terus menunggu. Pandangan mereka tajam ke arah para pemuda itu. Namun, sekarang ibu dan anak itu diam. Tak bicara sedikit pun. Mereka seperti mematung. Batuk-batuk si anak pun tidak terdengar lagi. Mereka mematung memandang keempat remaja itu. Betul-betul mematung.

“Hai, Bung….si Ibu kok diam saja. Gimana nih?”

“Iya, ya…nggak tahu gue. Duuuh, gimana, nih?”

“Kita cabut aja, yu.”

“Ayo, kita tinggalkan mereka.”

“Ayo, cepat-cepat…”

Mereka pun siap-suap berangkat. Sekali lagi ,mereka memandangi fenomena di hadapan mereka. Ibu dan anak yang telah menjadi patung dengan pandangan yang sangat tajam. Mereka menunduk jika melihat pandangan itu. Pandang yang menyilet. Mereka pun siap-siap berangkat. Tiba-tiba, salah satu HP mereka berbunyi. Mereka pun urung berangkat.

“Oo…Mama,….Iya…ini aku baru mau keluar sekolah, tapi aku mau belajar bareng dulu, nih, paling nanti sore baru pulang. Oh…iya, jelas nggak akan lupa, Ma. Rencananya mau makan siang di rumah temen sambil belajar itu, Ma. Ya…udah ya, ma. Jangan khawatir.”

Kini mereka pun siap berangkat meninggalkan dua pengemis yang telah menjadi manjadi patung itu.

Siang bolong itu tiba-tiba seperti meredup bagi mereka. Ada sesuatu yang menjalar pada tubuh mereka. Semuanya beranjak mengeras. Mulai dari hati merambat ke seluruh organ tubuh mereka. Obrolan pun berakhir. Hening hadir di antara mereka.

Sauara azan Zuhur bergema. Kemacetan masih tetap sama. Debu-debu pun tetap mengabut. Bahkan makin. Orang-orang berlalu lalang. Pedagang kaki lima sumringah karena dagangannya laku. Para pengamen hampir berteriak berusaha merdu melagu. Pengemis mengrnyitkan dahi karena kepanasan. Mal yang megah berdiri kokoh, hampir angkuh.

***

 

Setiap yang lalu lalang di depan mal sejak saat itu dapat menikmati sebuah diorama. Dua orang pengemis dengan pandangan tajam dan sekelompok anak sekolah yang gelisah.

 

Mawar Warna-Warni

Mawar Warna-Warni

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

Halaman rumah itu penuh mawar. Warna-warni. Terlihat sangat segar walau terik sinar matahari, bila siang.Setiap larik sinarnya seperti dihimpun oleh mawar-mawar itu kemudian dipantulkan pada setiap yang melihat menjadi semacam keindahan tak terkirakan. Semacam pelangi hadir di sana. Belum lagi jika angin iseng menyentuhnya. Tangkai-tangkainya menari. Satu dua helai daun gugur. Halaman rumah itu pun semakin bercahaya karena berbaur dengan warna lantai kramik putih bertekstur.

Sebenarnya tidak hanya mawar yang ada di halaman rumah itu, tapi karena mawar yang paling banyak, bunga-bunga lain seperti tersisihkan. Bugenvil juga ada, krissan, Anggrek, beringin putih, dan ki hujan. Keberadaan mereka tersaput, tapi tetap memberi warna. Keindahan halaman rumah itu memang utuh apalagi dipadukan dengan warna dinding luar yang merah bata dan kusen-kusennya putih tulang. Pokoknya setiap orang yang lewat akan memperlambat jalannya jika lewat rumah itu.

Rumah itu menghadap timur. Karena itu, bila pagi menjelma cahaya matahari seperti tumpah di sana. Dan pada saat seperti itulah sang pemilik rumah menyiram mawar-mawar itu. Lalu mawar itu seperti berterima kasih dengan mengangkat tangkainya menantang hari dengan memancarkan indah warnanya. Sekali lagi orang yang lewat akan memperlambat jalannya pada momen seperti itu. Namun, tidak untuk Gani. Ia bahkan akan menyeret istrinya bila kebetulan berlambat-lambat di depan rumah itu. Di depan mawar warna-warni itu.

Keindahan yang dipancarkan mawar-mawar itu bagi Gani adalah semacam momok yang sangat menakutkan semacam teror bagi diri dan keluarganya semacam detak-detak bom yang akan meluluhlantakkan.

“Kau bukan melihat mawar-mawar itu, kan?” tanya gani pada istrinya.

“Saya melihat mawar-mawar itu, sungguh.”

“Aaah, bohong besar. Kau harus jujur padaku?”

“Akang. Kenapa Akang tiba-tiba jadi marah?”

“Karena kau bukan melihat mawar-mawar itu.”

“Saya melihat mawar-mawar itu seperti Ceu Eni melihatnya seperti si Ida juga melihatnya, bahkan seperti Akang melihatnya.”

“Aku tidak melihat mawar-mawar itu. Aku melihat hantu di sana.”

“Tuh, kan. Berarti Akang yang tidak melihat mawar-mawar itu, bukan saya.”

“Ya, tapi Akang yakin kamu juga melihat apa yang Akang lihat. Kamu tahu Ceu Eni dan si Ida tidak hanya melihat mawar itu.”

“Akang tahu dari mana?”

“Mereka bilang ke suami mereka. Suami mereka bilang ke Akang. Mereka tidak hanya melihat mawar-mawar itu. Mereka bahkan tidak mau melihat mawar-mawar itu.”

“Lalu apa yang mereka lihat? Dan apa yang Akang lihat?”

“Hantu, teroris, bom.”

***

 

Lalu menyebarlah gosip bahwa mawar warna-warni itu adalah sebenarnya hantu, teroris, dan bom. Gosip itu begitu cepat menyebar seperti wabah penyakit. Dan semua terjangkit. Semua sakit. Semua mengerang. Semua meradang. Lalu gang itu pun macet oleh tubuh dan jiwa penasaran. Mereka berkumpul di depan rumah Gani. Mereka semua adalah para suami. Suami dengan wajah penuh kerut dan tanya. Sementara, para istri sembunyi di kamar-kamar mereka sambil mendekap anak-anak mereka. Mereka takut dengan  sesuatu yang bakal terjadi. Mereka bahkan berpikir harus pergi karena yang menyebabkan suami-suami mereka seperti itu adalah mereka, tapi mereka tak kuasa melawan ketentuan. Mereka adalah istri, mereka harus ikut suami, mereka harus menjaga anak, mereka harus meredam diri. Akhirnya hantu itu betul-betul menampak di mata mereka. Teror itu sangat nyata. Bom itu tengah menghitung waktu.

“Bagaimana kalau kita cabuti mawar-mawar itu?”

“Setujuuu… kita cabutin aja.”

“Bagaimana kalau kita bakar mawar-mawar itu?”

“Yaaa… kita harus bakar mawar-mawar itu.”

“Bagaimana kalau mobil yang dekat mawar-mawar itu kita bakar juga?”

“Sepakat … kita bakar juga mobil sedan itu.”

“Bagaimana kalau sekalian saja dengan rumahnya.”

“Wah…betul betul kita harus habiskan semuanya.”

“Ayo kita berangkat. Bawa senjata yang kalian miliki. Parang, pacul, linggis, minyak tanah, korek api, batu, dan apa saja.”

“Ayoo… kita usir hantu itu, kita ganyang teroris itu, kita matikan bom itu.”

Bagai air bah mereka bergerak menyusuri gang sempit yang di kanan kirinya bergelantungan cucian basah yang lalat-lalat merubungi tong-tong sampah di depan setiap rumah yang cat-cat temboknya terkelupas seperti sebuah luka.

***

 

Sambil menyirami mawar-mawar berseri sang istri bertanya pada suaminya.

“Pi, kapan kita akan mengundang tetangga untuk syukuran rumah baru kita ini?”

Sang suami yang sedang mengelap kaca sedannya menjawab.

“Ah, kayaknya Papi sukar meluangkan waktu. Harusnya Mami yang merencanakan acara itu, tapi apa penting, Mi?”

“Ia, sih Mami pikir juga kita ngak usah repot-repot mengeluarkan biaya ini itu. Mending buat beli lukisan ya, Pi. Ruang makan kita kan belum di kasih lukisan.”

“Papi sepakat, Mi.”

Mentari bersinar lembut ke arah rumah itu. Mawar warna-warni tak jemu mereka pandangi. Keindahan yang sempurna. Namun, mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi.

 

Depok, 5 Ramadan 1425 H.