MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH

MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH[1]

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

/1/

Menggugah

             Puisi acapkali diperlukan untuk membangkitkan keterlenaan, keterpurukan, ketersesatan kebingungan, kebebalan, dan ke-an ke-an yang lain. Di dalamnya ada hikmah yang terjalin pada makna kata-kata yang ditemukan, ditimbang, dan dipilih. Kehikmahan makna kemudian menjadi sangat penting dan mendasar pada fungsi yang satu ini. Karena itu, hikmah manjadi satu titik tujuan dari sebuah ketergugahan.

Tentu saja kebangkitan yang diajarkan dan diajakkan puisi bukan kebangkitan positivistik, melainkan kebangkitan spiritual. Karena itu, “sekeras” apa pun artikulasi puisi yang dibuat ia sebenarnya adalah sehalus-halus cara untuk bangkit. Puisi adalah tindak verbal yang ditujukan ke akal pikiran dan lalu ke hati. Puisi mungkin adalah bagian dari sebuah revolusi, tapi revolusi dari dalam. Karena itu, fungsi gugah sebuah puisi adalah perangkat lunak dari sebuah kebangunan. Sebuah perang bisa dibakar oleh semangat kata-kata perintah dan doktrin, tapi ketahanan mental para pejuang hanya bisa dirasuki oleh puisi.

Puisi bahkan sering diidentikkan dengan posisi damai sebuah keadaan. Namun, ia bukan sekadar berindah-indah kata. Ia adalah senjata makna, senjata hikmah. Akrobat kata-kata dan metafora acak justru menjauhkannya dari  hikmah. Mereka semacam gangguan suara yang memotong komunikasi. Mereka adalah sesuatu yang menghalangi “puisi” menjadi puisi.  Mereka menghalangi makna sampai pada hikmahnya.

 

/2/

Gundah

Salah satu yang mendasar dari proses lahirnya puisi adalah kegundahan. Ia semacam titik pusat yang menggetarkan berbagai fenomena dalam radius tertentu. Semakin kuat daya getar pada titik tersebut semakin luas radius pengaruhnya. Karena itu, puisi besar sering dilahirkan dari peristiwa besar (kegundahan) sejarah. Namun, karena hakikat puisi adalah artikulasi jiwa, hal-hal besar ini berlaku pada berbagai tataran hingga tataran individual. Kegundahan individual inilah kemudian yang menjadikan puisi seseorang menjadi milik kegundahan bersama pada setiap masa.

Kegundahan sosial-budaya sebuah masyarakat sampai kegundahan personal  hanya masalah dimensi saja. Keduanya bisa saling beririsan. Namun, yang justru menjadi hambatan tersampaikannya hikmah adalah saat kegundahan personal menghalangi kegundahan pada lapis selanjutnya. Acapkali, kegundahan personal menjadi cangkang yang terlalu kuat membungkus hikmah sosialnya. Jadinya puisi hanya dimengerti dan dinikmati oleh pembuatnya saja.  Bahkan, hal inilah yang menjadikan sebuah “puisi” terhalang menjadi puisi.

Dari itu semua, yang diperlukan kemudian adalah kepekaan dan keekspresifan. Kepekaan adalah semacam pendeteksi titik masalah dari gundah; keekspresifan adalah sarana komunikasi (estetis) dari gundah yang sudah terpilih. Dan alat pendeteksi tersebut adalah pertanyaan. Semakin sering seseorang mengajukan tanya, semakin kegundahan berhasil dideteksi dan diikat oleh kata.  Namun, langkah pertama tersebut akan jadi tinggal dan mengekal pada kegelisahan personal semata jika takdiiringi proses pengujaran. Proses inilah yang menjadi PR selanjutnya bagi seseorang yang berupaya menggugah gundah menjadi hikmah melalui puisi.

 

/3/

Mengunggah

            Proses pengujaran menjadi sangat penting bila seseorang telah mengikat tanya dari gundah yang dimilikinya. Kata-kata yang mewakili kegundahan yang telah terdeteksi itu sebenarnya sudah ada pada jiwa setiap manusia. Hanya saja, taksemua individu mengunggah kegelisahannya dalam ekspresi sastra yang kemudian dinamakan puisi. Lebih jauh lagi, sebenarnya puisi sudah ada pada jiwa dan benak setiap individu, tetapi ia tidak diunggah baik secara lisan, tulisan, dan citraan visual. Simpulan ekstremnya adalah:  semua orang adalah penyair, tapi tidak setiap orang mampu mengunggah puisinya kepada khalayak.

Proses mengunggah berarti menjadi hal krusial bagi proses kreatif berpuisi karena ia adalah tahap eksekusi kepenyairan seseorang. Dalam hal ini, bukti konkret jalinan kata dalam berbagai bentuknya menjadi semacam pembuktian bahwa renungannya memiliki estetika tersendiri. Saat seorang pendosa menjura dalam doa-doanya, kata-kata yang dipilih secara diam-diam dalam batin dan bisiknya adalah puisi. Begitu juga, saat seorang pemuja menghayati dan mengungkapkan keterpukauannya dalam sebuah bisik benak dan jiwa, ia akan, sedang, dan telah menjadi penyair. Hanya saja, permasalahan berikutnya muncul. Para penyair alami ini kehilangan estetika saat mengujarkannya pada dunia.

Proses keterputusan talenta kepenyairan terjadi karena dunia menutupi kemampuan spiritual mereka. Karena itu, untuk melahirkan atau membangkitkan kembali talenta alamiah tersebut perlu daya renung yang dalam untuk melahirkan daya pilih kata yang kuat sehingga muncul daya jelajah makna dalam mengujarkan dan memvisualkannya. Pada titik inilah diperlukannya wawasan dan latihan. Wawasan akan mengantarkannya pada bentuk-bentuk konvensi kepuisian dan latihan akan mengantarkannya pada kemampuan menangkap puisi yang telah laten hidup dalam dirinya.

 

/4/

Madah

            Kegundahan yang menjadi subjek pertama sebuah proses berpuisi pada praktiknya tidak selalu melahirkan artikulasi murung dan hitam. Kegundahan adalah semacam pemicu dari pertanyaan dan renungan. Setelah itu, ia bisa diwujudkan pada berbagai jenis unggahan. Salah satunya adalah yang secara diametral  berseberangan;  kegundahan bisa menghadirkan puji-pujian. Alih-alih menghilangkan inti kegundahan , puji-pujian justru melesapkan kegundahan pada titik nadir kelemahan individual penyair.

Saat berbagai gempuran permasalahan membenamkannya pada sebuah doa yang pisau, ia justru merasa pada titik nol kekuatan. Di situlah madah lahir dan mewakili secara metaforis kegundahan yang ada. Puji-pujian adalah artikulasi sakral ketakberdayaan manusia yang kerenanya ia berserah pada Sang Mahasegala. Begitupun saat seseorang hadir di tengah hiruk pikuk kota dan kegelisahan manusia di dalamnya, alam bisa dipuja sebagai opisisi paradigmatis realitas yang ada. Ketika pada sebuah ruang peristiwa manusia telah kehilangan prinsip dan menjadi robot syahwat mereka sendiri, madah tentang Rasulullah SAW menjadi semacam difleksi yang diperlukan.

Menggugah gundah mengunggah madah adalah salah satu cara untuk mengembalikan kita pada fitrah kepenyairan. Diksi-diksi dan jalinan struktur pengujaran akhirnya menjadi semacam sarana yang perlu digali dari setiap individu dalam rangka mengikat hikmah. Dan bukankah hikmah adalah tujuan dan cara kita dalam berdakwah? Melalui tebaran-tebaran hikmah inilah kebaikan akan menjadi parameter realitas yang semakin banal dan regas. Wallahu’alam bis shawab.

 

Bandung, 4 November 2017

[1] Dipresentasikan dalam Workshop Kepenulisan Puisi dalam rangka Munas IV Forum Lingkar Pena, 4 November 2017

Menulis sebagai Gaya Hidup, Mengapa Tidak?

Menulis sebagai Gaya Hidup, Mengapa Tidak?[1]

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

 

Sungguh, judul yang saya angkat pada tulisan ini terlalu melambung. Bagaimana tidak? saat serbuan budaya instan begitu bertubi, menulis adalah ibarat sebuah kata yang asing dan menakutkan dan penulis adalah sosok misterius yang dipertanyakan masa depannya. Sungguh, judul yang saya angkat ini terlalu melambung, tetapi mengapa tidak?

Begitulah, keseharian kita dipenuhi dengan kelisanan, kelisanan yang tak berbobot, kelisanan yang bukan pantun dan karya folklore lainnya, melainkan gosip. Ya, budaya kita pada ruang instan      adalah bergosip. Budaya berbual yang jauh dari kreativitas. Budaya bercengkrama yang menghasilkan sosok anak bangsa tanpa solusi di kepala. Sementara itu, sebagian dari mereka berteriak-teriak, berdemonstrasi menuntut keadilan, tanpa tahu konsep terbaik sebagai wujud tuntutan.  Mereka tak pernah menuliskannya. Semua hanya ada di kepala. Demo mereka adalah gosip jenis terbaru.

Saya teringat pada ungkapan Taufiq Ismail bahwa negeri ini masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Wow, sebuah idiom yang menohok. Untuk siapakah ungkapan beliau? Jangan-jangan untuk saya dan untuk siapapun di negeri ini termasuk para guru dan dosen. Mengapa tidak? Karenanya, mari kita beranjak dan membuat sebuah perubahan. Sejauh apa pun kesalahan langkah yang kita tempuh, mari kita berbalik arah sekarang juga (meminjam idiom Reinald Kasali).

 

***

Memang, banyak sudah data yang menunjukkan bahwa ketertinggalan dunia pendidikan kita adalah karena ketertinggalan akan budaya menulis para pendidiknya. Ya, bukankah salah satu indikator kemajuan pendidikan adalah banyaknya indeks sitasi dari para pendidik. Semakin banyak para pendidik menulis di jurnal terakreditasi semakin berpeluang lembaga pendidikan itu diindikasikan maju.

Menurut Chaidar Al Wasilah (2007: 18-19) ada beberapa pembenahan yang harus dilakukan untuk memperbaiki itu semua (ia menyebutnya sebagai komponen reproduksi pengetahuan) yaitu: Iklim yang kondusif bagi tulis menulis, adanya puspa ragam sumber informasi, kemampuan membaca kritis, pengembangan wacana akademik demokratis, dan kemampuan berbahasa Inggris.

Begitulah, saya sepakat dengan Chaidar (terutama saat ia menempatkan budaya tulis menlis di poin pertama) karena inilah sumber permasalahan sebenarnya. Saat para pendidik menjadikan budaya menulis sebagai PR bersama untuk sebuah perbaikan, saat itu pulalah budaya gosip akan tereduksi. Dan teladan demi teladan bertebaran. Dan menulis akan menjadi gaya hidup bagi setiap generasi, terutama generasi muda. Namun, tak semudah membalik telapak tangan menuju hal itu. Karenanya, tulisan saya ini akan mengajak kita mendikusikan hal tersebut.

 

***

Sungguh, ini bukan pekerjaan ringan, tetapi ini bukannya tidak mungkin terjadi. Menjadikan menulis sebagai gaya hidup adalah sebuah kerja besar yang akan memakan waktu tak sebentar. Karenanya, diperlukan konsep dan tenaga yang benar-benar. Ada beberapa hal yang saya jadikan patokan untuk menuju titik itu, yaitu: keteladanan, kebijaksanaan, keuletan, dan kebersamaan.

Keteladanan. Hal satu ini adalah sumber energi bagi budaya literasi. Ada satu kata yang akan muncul untuk hal ini, yaitu andaikata atau andaikan. Dan akan banyak kalimat pengandaian setelahnya. Andaikan para orang tua menulis, anak-anak mereka akan juga menulis. Andaikan guru-guru menulis, murid-murid mereka juga akan menulis. Andaikan dosen-dosen menulis, mahasiswa tentu menulis juga. (lebih jauh lagi) andaikan para pejabat menulis, rakyat akan menirunya.

Kalimat-kalimat perandaian itulah titik tolak perjuangan. Bila selama ini, dunia belajar identik dengan anak muda, sekarang logikanya harus dibalikkan. Belajar sepanjang hayat harus kembali digulirkan. Dan belajar menulis bagi para manusia senior, sepuh, bahkan professor harus digalakan seperti seorang tua yang baru belajar iqra. Karenanya, diperlukan poin kedua.

Kebijaksanaan. Hal inilah yang mahal harganya karena tak semua orang tua merasa kurang pengetahuan, kurang kemampuan, dan kurang wawasan. Kebanyakan dari sepuh kita telah merasa cukup dengan apa yang ada.Rasa legawa untuk terus belajar adalah kebijaksanaan mendasar para tokoh dunia (menurut saya). Para filusuf, sastrawan, teknokrat, ulama, dan pendidik di sebuah negeri yang kondusif memliki sifat ini.Konon, di Jepang dan AS ada paguyuban dosen dan mahasiswa, khususnya mahasiswa S2 dan S3, yang memiliki minat sama yang secara terjadwal berdiskusi dan belajar bersama. Termasuk dalam dunia literasi dan reproduksi ilmu.

Keuletan. Kata yang satu ini, tentu berlaku dalam segala hal, lebih-lebih dalam hal dunia kepenulisan. Hal ini disebabkan oleh benteng yang menghalangi budaya literasi telah begitu kokoh dan tinggi. Tentu saja, keuletan diperlukan untuk merobohkan benteng itu. Benteng budaya instant, benteng budaya gosip, benteng budaya nonton, dan benteng budaya industri harus dengan ulet dikikis. Tak jadi masalah dengan cara mengeroposkannya inci demi inci, asal terus menerus.

Kebersamaan. Poin terakhir ini adalah poin yang berhubungan dengan kebertahanan mental berjuang. Dengan bersama-sama sebuah kerja besar akan terselesaikan. Forum Lingkar Pena adalah sebuah wadah bagi kerja bersama ini begitu juga PGRI, menurut saya. FLP dengan wilayah, cabang, dan ranting yang terus bertambah terus berusaha menyebarkan budaya literasi. Mungkin sedikit perjuangan itu, tetapi sistematis, insya Allah.

Begitulah hal yang menjadi titik usulan saya. Kenyataan rendahnya budaya menulis para pendidik di negeri tercinta ini harus dicari solusinya sehingga kita tidak syok saat sistem menuntut adanya sertivikasi dan hal lainnya sehingga lembaga pendidikan tinggi kita bisa bersaing di tingkat regional maupun internasional sehingga bangsa ini punya amunisi untuk membangun moralitas penduduknya.

 

***

Sungguh, judul yang saya angkat pada tulisan ini terlalu melambung. Bagaimana tidak? saat serbuan budaya instant begitu bertubi, menulis adalah ibarat sebuah kata yang asing dan menakutkan dan penulis adalah sosok misterius yang dipertanyakan masa depannya. Sungguh, judul yang saya angkat ini terlalu melambung, tetapi mengapa tidak?

Begitulah, keseharian kita dipenuhi dengan kelisanan, kelisanan yang tak berbobot, kelisanan yang bukan pantun dan karya folklore lainnya, melainkan gosip. Ya, budaya kita pada ruang instan      adalah bergosip. Budaya berbual yang jauh dari kreativitas. Budaya bercengkrama yang menghasilkan sosok anak bangsa tanpa solusi di kepala. Sementara itu, sebagian dari mereka berteriak-teriak, berdemonstrasi menuntut keadilan, tanpa tahu konsep terbaik sebagai wujud tuntutan.  Mereka tak pernah menuliskannya. Semua hanya ada di kepala. Demo mereka adalah gosip jenis terbaru.

Saya teringat pada ungkapan Taufiq Ismail bahwa negeri ini masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Wow, sebuah idiom yang menohok. Untuk siapakah ungkapan beliau? Jangan-jangan untuk saya dan untuk siapapun di negeri ini termasuk para guru dan dosen. Mengapa tidak? Karenanya, mari kita beranjak dan membuat sebuah perubahan. Sejauh apa pun kesalahan langkah yang kita tempuh, mari kita berbalik arah sekarang juga (meminjam idiom Reinald Kasali). Wallahu A’lam.

 

Pekanbaru, 3 Maret 2008

 

 

 

 

 

 

[1] Makalah ini disampaikan pada acara Workshop Kepenulisan untuk Guru se-Riau, 3 Maret 2008

Dead Poets Society ; Rahasia sebuah Pembelajaran

Dead Poets Society ; Rahasia sebuah Pembelajaran

Oleh M. Irfan Hidayatullah

Sebuah karya utuh adalah sebuah karya yang memiliki makna  pada setiap unsurnya. Ada makna pusat dan ada makna yang mengitarinya yang keseluruhannya terjalin menjadi sebuah struktur lengkap yang ketika seseorang membaca, mendengar, atau melihatnya akan mendapatkan pesan utuh.

Teks pertama sekaligus teks pusat yang akan saya baca adalah film Dead Poets Society (DPS). Film ini mencoba mengungkap dengan sangat teliti akar sebuah permasalahan remaja. Pada film inilah saya menemukan inventaris permasalahan remaja lewat tokoh-tokoh remaja yang dihadirkannya. Di antara banyak tokoh yang ada saya menemukan cermin permasalahan pada Neal (tokoh utama) dan Todd. Kedua tokoh tersebut sama-sama memiliki permasalahan psikologis keremajaan mereka disebabkan sikap orang tua.

Keunggulan Neal sebagai anak pintar dan potensial bisa jadi sebenarnya dibangun oleh pola didik orang tuanya (sang bapak) yang disiplin. Akan tetapi, pada titik tertentu perjalanan hidup Neal, yaitu saat remaja, sang bapak tidak mau menyesuaikan pola didiknya dengan psikologi keremajaan Neal. Jadilah, sebuah ledakan dahsyat saat Neal bunuh diri dalam keputusasaannya (padahal Neal telah banyak belajar dari guru Bahasa Inggrisnya). Benturan yang dialami oleh Neal berbeda dengan tokoh yang lainnya karena Neal diposisikan sebagai remaja yang potensial yang memiliki banyak energi untuk berbuat lebih banyak. Pengekangan orang tua dalam hal ini menjadi semacam pemicu suburnya pemberontakan jiwa.

Ada dua kalimat yang dapat dijadikan bukti pergulatan batin Neal, yaitu My parent will kill me! Dan I hate the clarinet, the sexophone more loud! (ungkapan ketika Neal dan teman-temannya berada di gua Indian). Dua kalimat tersebut saya posisikan sebagai dua hal yang terus bergemuruh dalam jiwa Neal, antara takut pada ayahnya dengan keinginan untuk tidak seperti biasa (memberontak). Selain itu, ada dua lakuan yang menjadi tanda dunia ambivalen Neal, yaitu antara kepatuhan mutlak pada ayahnya saat Neal dilarang mengikuti pers kampus dan teater dengan andil Neal dalam menanamkan keberanian pada teman-temannya, terutama Todd. Saat itu Todd menunjukkan hadiah ulang tahun yang sama dengan tahun sebelumnya. Todd sebenarnya merasakan itu sebagai ikon dari keterkekangan, tapi ia tidak berani mengungkapkannya sebelum Neal tiba-tiba melemparkan hadiah tersebut dari ketinggian. Ambivalensi ini yang membuat jiwa Neal bergemuruh, sebelum akhirnya bunuh diri.

Sementara tokoh Todd berposisi sebaliknya dari Neal. Ia berada pada kerendahdirian. Ia merasa menjadi orang yang selalu dibandingkan dengan kakaknya yang berprestasi sehingga segala potensi yang ada seolah termatikan karenanya. Baru pada akhir cerita ia menemukan keberaniannya yang melebihi kadar yang ia duga sebelumnya, saat ia berani mengungkapkan penghormatannya pada sang guru yang dipecat. Simbol yang dimunculkan adalah dengan berdiri di atas bangku. Sebuah keberanian yang di luar dugaan walaupun memang sebelumnya telah dicontohkan oleh sang guru. Namun, saat itu berdiri di meja sang guru bukan di meja sendiri. Ini adalah simbol kemandirian yang luar biasa.

Film ini menjadi sangat membangun usaha memahami dunia remaja karena andilnya dalam memberikan gambaran real atas problematika remaja. Artinya, DPS tidak terjebak pada budaya massa yang cenderung mengeksplorasi sisi-sisi hiburan semata. Film ini bisa membuat remaja berkaca dan orang tua merenung. Keutuhan antara cerita dan simbol-simbol budaya sangat membantu penonton untuk berpikir mendalam. Inilah teks yang membangun solusi bukan menambah permasalahan. Saya simpulkan ini karena DPS menjadi bersifat elitis (eksklusif) saat dibandingkan dengan film-film remaja murahan, semisal Scream, Ten Thing I Hate about You, Urban Legend, Soul Survivor, dan berpuluh bahkan beribu film remaja impor lainnya.

 

Islamic Popular Literature (Ispolit); Sebuah Negosiasi Budaya

SASTRA POPULAR ISLAMI[1]

; Sebuah Negosiasi Budaya

Oleh M. Irfan Hidayatullah

I

Memang, pengategorian atau pengotakkan sastra selalu memancing perdebatan, tetapi hal itu susah sekali dihindari. Ada beberapa hal, menurut saya yang membuat pengotakkan itu beralasan. Pertama, sastra sebagai produk pengarangnya. Kedua, sastra sebagai model representasi. Ketiga, sastra sebagai produk industri. Terakhir, sastra sebagai sebuah alat negosiasi.

Begitulah, empat faktor tersebut berjalinan menyatu pada identitas kekaryaan. Karenanya, sebuah karya sastra akhirnya harus disadari bukan hanya sebuah wujud seni yang berbahan bahasa. Semua sisi pada kehadirannya adalah identitas, bahkan sampai pada tampilan cover dan kata-kata pendukung. Jadi, pengidentitasan sebuah karya sastra oleh pembaca atau kritikus adalah semacam upaya pemetaan dari sebuah langkah kreasi yang tak ada hubungannya dengan niat pengarang dalam menuliskannya.

Memang, ada sekelompok pengarang yang beranjak dari kesadaran identitas diri, kesadaran memilih jenis karya, dan verbalitas niat seperti adanya sekelompok pengarang yang menampik pelabelan dengan alasan mereka berkreativitas karena kreativitas itu sendiri. Namun, itu semua tidak ada hubungannya dengan upaya kirtikus memberi kotak atau label pada karya dua jenis kelompok pengarang tersebut. Dari berbagai anasir identitas, bisa saja di antara keduanya memiliki identitas sama, berarsiran, bahkan bertukaran. Menurut saya, dibandingkan dengan pengarang, kritikus akan relatif  lebih objektif mengidentitaskan sebuah karya baik secara sosiologis, psikologis, antropologis, maupun struktural.

Begitulah, label sastra Islam, sastra Islami, sastra sufi, sastra profetik, sastra Koran, sastra wangi, sastra buruh, dan sastra-sastra lainnya akan bermunculan karena sebuah proses pengidentitasan tersebut. Dan hal tersebut menurut saya bukan lantas mengacaukan kemurnian dunia kreatif kesusasteraan karena sekali lagi tak ada hubungan antara pelabelan dengan proses kreatif sastrawannya. Sekeras apa pun sastrawan berteriak melabeli dirinya, penilaian akhir ada pada pembaca atau kritikus. Proses pengaruh memengaruhi di antara keduanya adalah masalah lain.

Memang, pada akhirnya sebuah identitas akan sangat relatif karena betapa pengarang dan latar belakang sosialnya, juga hal-hal yang berada di luar pengarang seperti industri dan yang lainnya sangatlah beragam. Karenanya, sebuah karya tidak akan memiliki identitas tunggal. Bisa jadi seorang pengarang muslim membuat karya berbau sosialisme, kapitalisme, bahkan atheisme atau sebaliknya. Karenanya, kerja melabeli adalah kerja besar yang di dalamnya ada proses pembacaan yang intens sampai ke sum-sum karya atau sampai menemukan titik ideologisnya (meminjam istilah Barthes). Adapun karya itu bersifat popular atau elitis menurut saya bukan menjadi masalah. Hal itu adalah hanya semacam objek yang berbeda sifat yang nantinya berimbas pada mudah tidaknya menafsirkan.  Dari titik cerah hasil penemuan itulah seorang kritikus berhak melabeli sebuah karya bukan dari proses generalisasi. Sekali lagi bukan dari proses generalisasi.

Begitulah, akhirnya pada suatu saat saya mendeklarasikan sebuah istilah, yaitu Ispolit (Islamic Popular Literature).

II

Betul, mungkin karena sejak tahun 2000 saya bergelut di komunitas Forum Lingkar Penalah saya menyimpulkan bahwa ada karya sastra yang beridentitas popular islami. Alasan saya memunculkan istilah ini muncul setelah saya berpikir tentang empat aspek alasan pelabelan dan mengujikan berbagai karya di dalamnya. Aspek-aspek tersebut adalah, seperti yang terungkap pada paragraf pertama, sastra sebagai produk pengarangnya, sastra sebagai model representasi, sastra sebagai produk industri dan, sastra sebagai sebuah alat negosiasi.

  1. Sastra sebagai produk pengarang

Pada aspek sastra sebagai produk pengarangnya, saya menemukan satu sumber gerak para pengarang Ispolit, yaitu aktivisme Islam. Majalah Annida sebagai ruang kreasi para penulis ispolit dengan jelas-jelas mengusung dakwah Islam sehingga karya-karya yang bertolak belakang dengan visi tersebut terseleksi. Bahkan Annida secara berkala mengadakan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI). Selain itu, setelah para kontributor penulis cerpen Annida terkumpulkan dalam sebuah komunitas bernama Forum Lingkar Pena (sejak 1999[2]) semakin jelas adanya kesamaan visi antara media dengan para penulisnya.

Novel pertama yang terbit dan mengawali Ispolit adalah Pingkan karya Muthmainnah alias Maimon Herawati yang juga salah seorang pendiri FLP. Adapun, cerpen yang populer pada generasi pertama ini adalah Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rossa yang kemudian diikuti oleh penerbitan-penerbitan lainnya. Keduanya diterbitkan oleh penerbit Asy-Syaamil (penerbit pertama yang menyokong pergerakan Ispolit). Setelah itu, muncullah pengarang-pengarang lainnya yang senapas dengan kedua karya tersebut. Muncul Izzatul Jannah, Asma Nadia, Muthi Masfuah, Sakti Wibowo, Afifah Afra Amatullah, Nurul F. Huda, Novia Syahidah, Sinta Yudisia, Agustrianto, dan banyak lagi yang lainnya.

Semua karya ispolit tersebut lahir dari pengarang yang memiliki visi yang relatif sama yaitu dakwah lewat tulisan. Dan memang, latar belakang semua pengarang tersebut adalah di lembaga-lembaga dakwah baik sekolah, kampus, maupun perusahaan bervisi Islam. Hal ini kemudian dikukuhkan pada AD-ART FLP yang menjadikan Islam sebagai asas. Begitulah, ispolit, terus diproduksi sampai saat ini. Di antara semuanya yang kemudian booming adalah Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazi (mantan ketua FLP Mesir) yang sekarang menjadi pengurus di Badan Pengurus Pusat FLP.

Setelah booming karya FLP lewat penerbit-penerbit yang mengikuti jejak Asy-Syamil, muncullah karya-karya Ispolit yang bukan dari komunitas FLP. Mereka memanfaatkan pasar dengan mengikuti tipikal karya FLP sampai ke hal-hal yang kecil.

2. Sastra sebagai Model Representasi

Lewat aspek kedua inilah Ispolit lahir. Yang saya maksudkan dengan model representasi adalah aspek pragmatik. Lewat analisis penikmat sastra alias pembaca sebuah karya sastra bisa terlihat identitasnya.

Majalah remaja Annida pada akhir tahun 90-an adalah majalahnya para anak rohis dan mahasiswa aktivis muslim. Lewat pintu itulah Annida menyebar dan menemukan pembaca yang semakin meluas, tetapi akar utamanya adalah remaja aktivis Islam. Begitupun setelah ispolit disambut baik oleh penerbit pembaca utamanya semakin merasa terwakili. Cerpen-cerpen terbaik Annida kemudian diterbitkan oleh Pustaka Annida dan penerbit lainnya. Cerbung-cerbung dan serial majalah Annida dan Ummi juga kemudian diterbitkan.

Masyarakat yang merasa terwakili oleh karya-karya tersebut tentu saja menyumbang identitas bagi karya tersebut. Semakin-hari semakin meluas memang, apalagi setelah boomingnya Ayat-Ayat Cinta. Itu semua, menurut saya sebuah keberhasilan  rintisan dakwah lewat Ispolit sejak akhir 90an. Semakin banyaknya pembaca yang merasa terepresentasikan memang akan semakin plural dan menyumirkan identifikasi sehingga pada akhirnya ada beberapa kategori pembaca; pembaca yang representatif dan pembaca yang ternegosiasi.

 

3. Sastra sebagai produk Industri

Ispolit lahir saat berbagai aspek kehidupan mulai bebas dilakukan. Ispolit lahir setelah tumbangnya Orde Baru. Ispolit lahir saat reformasi bergulir, bahkan ikut menggulirkan reformasi. Ispolit lahir saat berbagai aspek kehidupan secara bebas diislamisasi. Perbankan syariah, pendidikan Islam terpadu, Parpol berazaskan Islam, penerbit-penerbit Islam, dan sebagainya. Jadi, Ispolit lahir saat budaya literasi juga berusaha diislamisasi. Karenanya istilah islami bukan berdiri sendiri pada karya sastra yang saya canangkan, tetapi memang kondisi industri penerbitan pun berada pada jargon dan jalur tersebut.

Berkibarnya Asy-Syamil yang kemudian berubah menjadi Syaamil dan sekarang Penerbit Sygma Arkan Leema adalah berada pada ruang tersebut yang kemudian diikuti oleh penerbit-penerbit lain yang memberi peluang pada para penulis Ispolit. Di sana ada Mizan, FBA Press, Era Intermedia, Pustaka Annida, Gema Insani Press, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, Republika, dan masih banyak lagi. Adapun kemudian penerbit yang bukan bervisi Islami kemudian mendirikan lini fiksi Islami adalah fenomena akhir-akhir ini. Tentu saja setelah melihat peluang kapital yang lumayan. Akhirnya Gramedia, Gagas Media, dan yang lainnya ikut membuka lini tersebut. Di sinilah negosiasi dimulai.

 

4. Sastra sebagai Alat Negosiasi

Saya pikir poin keempat adalah poin puncak dan terpenting karena pada titik inilah sebuah identitas mendasar terlihat. Sastra yang dilabeli sesuatu pada dasarnya menegosiasikan label tersebut. Sastra Wangi, semestinya menegosiasikan aspek ketubuhan, Sastra Islami, berarti di dalamnya terdapat negosiasi nilai-nilai Islam disadari atau tidak disadari oleh penulisnya.

Untuk Ispolit hal-hal yang dinegosiasikan tidaklah terlalu sulit dicari. Tentu saja karena sifatnya yang popular. Dan hal inilah yang kadang menjadi kritikan pedas bagi para penulisnya bahwa mereka terlalu verbal bernegosiasi bahwa mereka sedang menulis karya sastra bukan sedang berkhutbah dan sebagainya.

Kejelasan unsur-unsur negosiasi inilah yang menurut saya justru menjadi citra utama. Justru jika negosiasi itu semakin tersembunyi dan susah dilacak bukan lagi Ispolit. Adapun mengenai bagus tidaknya sebuah negosiasi dikemas itu adalah hal lain. Jadi, selama negosiasi ini masih ada, selama itu pula istilah ispolit masih bisa dipertahankan. Karenanya, para penulis ispolit yang masih konsisten mereka bukan menurunkan isi negosiasinya, tetapi meningkatkan atau mendewasakan cara bernegosiasi. Adapun mengenai apa saja hal yang dinegosiasikan, tidak akan saya bahas pada tulisan ini.

 

III

Sastra Popular Islami menurut saya adalah sebuah jenis karya sastra popular yang keberadaannya harus dipertahankan. Bukankah dengan berkarya sastra umat islam akan kreatif dalam berwacana. Umat Islam pun secara sadar memerlukan wawasan untuk terjun dalam dunia kreativitas tersebut. Di situlah letak pendidikannya. Dengan menulis perkembangan pemikiran akan terdokumentasikan walaupun dalam bentuk sastra. Bahkan, justru dengan bentuk sastralah negosiasi akan dengan leluasa dilakukan (bahasa lain dari ideologi Seno). Namun, ada sebuah ancaman bagi keberadaan Ispolit dan sifat-sifatnya. Itulah pasar. Dialah budaya masssa. Adalah banalitas.

Ya, kecenderungan ke arah tersebut sudah sangat jelas terjadi. Ketika penulis telah mengikuti tawaran bukan menawarkan, saat penerbit Islam mengikuti arus bukan memperbaharui kreativitas, saat kuantitas dan kapital menjadi dewa, saat euforia keberhasilan menjadi penyakit hati, saat itulah nilai-nilai yang dinegosiasikan akan menjadi ironi. Saat itu pulalah label Islami dipertanyakan.

Memang budaya pasar memungkinkan adanya epigonisme. Karenanya para penulis Ispolit harus segera membuat kreasi baru. Saat Ayat-Ayat Cinta meledak, hampir semua produk serupa dengannya, hampir semua penerbit memesan karya kepada penulis dengan syarat kesamaan dengan AAC. Dan bila ispolit terjebak pada simulakrum industri tersebut negosiasi yang dilakukan telah sangat banal dan tak menyentuh lagi. Wallahu’alam.

 

Bandung, 20 Maret 2008

 

 

 

 

[1] Makalah ini disampaikan pada acara Diskusi Cakrawala FLP Bandung, Sabtu 22 Maret 2008.

[2] FLP sendiri lahir pada 21 Februari 1997, salah satu pendirinya Helvi Tiana Rossa adalah redaktur majalah Annida.