Categories
Esai

Risalah Wabah #2

Sama denganmu aku pun berada di tengah-tengah wabah. Tentang wabah yang telah mewabah ini adalah sebuah tatanan baru yang mengubah Identitas lalu juga mengubah perilaku. Seseorang yang selama ini di luar dan masuk pada kotak masing2 pada ruang aktivitas masing-masing kini menjadi di dalam dan membuat ruang baru.

Sama denganmu, aku pun berusaha membuat ruang baruku di dalam sini. Di dalam rumahku, di dalam kamar (kerjaku), di dalam jiwaku. Dan pada setiap perubahan ini, terdapat masa-masa adaptasi yang juga mengubah diri mereka. Adaptasi adalah sebentuk aktivisme yang juga subjek perubahan. Sampai akhirnya kemudian banyak orang menyebutnya dengan new normal. Ya, sama juga denganmu, sang Adaptasi menjadi makhluk sekaligus keadaan yang dibentuk oleh ruang pandemi.

Ruang wabah paling bawah adalah aktivitas sehari-hari setiap subjek yang diubah, mengubah, dan lalu berubah. Banyak di antara mereka, termasuk aku yang gegar pada titik tertentu padahal setelah ditemukan ruang dan identitas baru itu. Rupanya ada ruang bawah sadar yang protes atas perubahan normal itu. Ia semacam antivirus yang bereaksi pada infiltrasi budaya baru yang bisa jadi metafora dari Korona itu sendiri. Jadi, kejenuhan itu muncul semacam bersin-bersin kultural yang sebenarnya mekanisme pemertahanan alami diri. Penuhnya mal-mal dan jalanan itu adalah bersin kultural. Namun, seharusnya bersin ini bersifat sporadis, spontan. Setelah itu, kesadaran bahwa sebuah bahaya harus ditangani harusnya segera muncul. Dan itu terjadi juga, ruang wabah paling bawah ini gegar juga dan mencoba mencari the new normalnya masing-masing, terutama setelah terbukti adanya korban.

Sama denganmu, aku pun mengalami perubahan identitas juga, mengalami gegar wabah juga, mengalami bersin kultural juga. Selama bulan Ramadan, semua itu terjadi. Hanya saja, aku biarkan diri ini demam-demam di ruang baru. Aku merasakan inkubasi Identitas baru itu menggeliat di dalam rumah, ruang kerja, dan jiwa. Demam itu kutahan hingga kadang aku meracau marah-marah terhadap keadaan. Untungnya, ada obat manjur sepanjang Ramadan. Dialah bacaan Al Quran. Dialah lapar dan haus. Dialah tarawih dan ibadah rawatib berjamaah. Dialah doa-doa dan tebaran nasihat. Dialah keluarga, Yang senasib seperjuangan dalam menahan demam akibat terbentuknya Identitas baru di ruang yang itu-itu saja: jiwaku.

Senin, 2 Syawal 1441/ 25 Mei 2020

Categories
Esai

Risalah Wabah

Ada yang membawaku pada titik ini. Bukan. Bukan cekam kematian atau genting persoalan, tapi ketenangan. Entah kenapa, DIA seperti menginstalkan aplikasi baru pada ini kesadaran. Ya, aku seperti sedang ditingkatkan. Dariku yang serba takut serba kalut serba kabut, menjadi aku yang hening, bening, dan serba jelas mendengar denting persoalan.

Ada yang sudah reda memang di daerah asal wabah itu menyebar, tapi bagiku ini baru mulai. Coba saja kau pikirkan, saat ada seseorang yang baru mendapatkan cahaya dari sebuah perjalanan panjang pada sebuah lorong gelap sebuah gua. Jangankan lanskap pandang yang membukakan keluasan rasa syukur, setitik saja kerlip di sela bebatu membuat orang itu tersungkur sujud takhabishabis.

Ya, baginya ini ketenangan dan kejelasan, bahwa ada kekuatan di luar dirinya bergerak merangsak dan membuatnya merasa rentan sekaligus kuat. Rentan karena ia takmemilki kekuatan dan mudah retak, luruh, dan ambyar. Kuat karena ia sedang menyatu dengan cahaya yang nirbentuk, nirtubuh, nirgetar, nirambruk. Paradoks itulah yang membuatnya seperti baru mulai menjadi fana. Dan Pengetahuan itu yang menenangkannya. Kemana pun ia akan dibawa, ia siap dan tahu ujungnya: ketakterjangkauan yang menenangkan.

….

Categories
Esai Ulasan Cerpen

Danarto dan Ricoeur

Membaca Subjek dalam Cerpen “Jantung Hati” Karya Danarto

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

Membaca pemikiran Paul Ricoeur, mengingatkan saya pada sebuah cerpen karya Danarto yang berjudul Jantung Hati (2008). Pada keduanya saya menemukan semacam kesamaan konstruksi. Namun, saya meyakini bahwa hal ini bukanlah semacam kebetulan melainkan sebuah bukti bahwa pemikiran semacam Recour tentang Hermeneutika pada faktanya terdapat pada teks-teks lokal. Dan saya sangsi bila Danarto sengaja membaca Ricoeur untuk menulis cerpen ini.

Pemikiran Ricoeur yang saya bahas di sini adalah pemikiran mendasarnya tentang interpretasi atau penafsiran. Simpulan ini disempurnakan oleh penjelasan Bu Toety Herati dalam perkuliahan  Seminar Teori dan Metodologi Ilmu Pengetahuan Budaya bahwa Ricoeur memiliki gagasan yang di dalamnya ada sebuah upaya penyatuan antara paradigma eksplanasi atau penjelasan dan paradigma understanding atau pemahaman.  Tentang ini Riceour bermaksud mengambil jalan tengah di antara keduanya yang selama ini selalu disandingkan pada dua ranah keilmuan yang berbeda, yaitu ilmu alam yang bersifat nomotetis dan ilmu sosial atau budaya yang idiografis.

Ricoeur manggagas bahwa di antara keduanya bisa disatukan dalam sebuah tindak interpretasi . Tentu saja ia bergerak dalam ranah ilmu budaya yang pada paradigma Hermeneutik sebelumnya seolah menyetujui  dikotomi tersebut. Karenanya Ricoeur dalam memunculkan tesisnya ini mencoba belajar dari berbagai bidang yang memang dilandasi oleh paradigma. Ia mempelajari dan mengkritik teori-teori Hermeneutik sebelumnya, ia juga berdialog dengan strukturalisme yang berparadigma eksplanasi tersebut. Selain itu, ia juga membaca pemikiran psikoanalisis-nya Freud. Dari jejak-jejak pembelajaran tersebut akhirnya Ricoeur memunculkan gagasan bahwa interpretasi bisa berada di atas dua paradigma tersebut.

Ricoeur kemudian meletakkan teks sebagai pusat dari meaning yang sebelumnya telah dijauhkan (distansiasi) dari sumbernya baik itu berupa kejadian (event) atau maksud pengarang. Dalam hal ini teks adalah sebuah entitas otonom yang memiliki potensi untuk dimaknai tanpa pengaruh dari pengarang atau event yang melahirkannya. Ricoeur menganggap pengarang telah mati saat teks yang diproduksinya lahir. Kematian pengarang ini dibuktikan oleh sebuah aksi penjarakkan (distansiasi).  Setelah itu, teks tersebut menjadi memiliki keotonoman yang secara internal memiliki potensi untuk membuka makna. Proses dalam penggarapan teks secara otonom tersebut, menurut Riceour adalah sebagai tahap eksplanasi. Dalam hal ini, Recoeur mencontohkan penelitian mythem –nya Levy Strauss dan strukturalisme Naratologinya Proop dan  A.J. Greimas. Namun, tidak sampai di sini, Riceour kemudian membuat sebuah fase lain yang ia sebut sebagai aprporiasi atau peleburan terhadap pembaca (dalam terjemahan buku Thompson disebut pendakuan). Pada titik inilah ada sebuah subjek lain yang kemudian akan menafsirkan teks dengan jarak yang jauh dari pengarangnya. Teks pada titik ini telah di-kinikan dan di-di sini-kan oleh pembacanya. Hal inilah yang menurut Ricoeur dapat menjadikan teks kaya akan meaning atau makna dan penafsiran atau interpretasi yang dibuat menjadi betul-betul milik pembaca yang di dalam dirinya memiliki pengalaman sebagai alat tafsir. Riceour kemudian menyebutkan hubungan antara teks dengan pembaca sebagai wacana atau diskursus.

Tafsiran saya tentang pemikiran Ricoeur tersebut adalah tentang subjek yang mengada dalam masing-masing posisi. Jadi hubungan antara teks dengan pengarang dan hubungan teks dengan pembaca adalah semacam hubungan antarsubjek dengan subjek bukan subjek-objek atau objek-subjek. Ini menarik, menurut saya, karena dengan adanya upaya ini masing-masing entitas (pengarang, teks, dan pembaca) memiliki otoritas tersendiri. Pengarang dalam hubungannya dengan sumber tulisan, teks dengan makna di dalamnya, dan pembaca dengan interpretasinya adalah memiliki kebardayaan. Kesubjekan inilah yang kemudian saya temukan dalam konstruksi sebuah cerpen berjudul “Jantung Hati” karya Danarto.

Cerpen ini menceritakan tokoh saya yang pada hari itu ia mati. Jadi, tokoh ini telah dijarakkan dengan dunia. Dalam kematiannya ia melihat jenazahnya dikebumikan. Ia juga melihat anak-istrinya menangis di tepi gundukan kuburan. Ia juga melihat teman-temannya yang lain (hlm. 7).  Tokoh saya dalam cerpen ini meninggal karena serangan jantung saat mencoba mengejar pelaku pengeboman sebuah mal. Saat kematian inilah kemudian saya menemukan dirinya memiliki kesadaran akan dunianya. Ia bahkan dapat mengindera malaikat Izrail yang digambarkan dengan begitu indahnya sebagai bunga (sekuntum malaikat) (hlm. 8).  Tidak sampai di situ, pada posisinya saat itu, yang ia yakini bahwa ia berada pada fase kehidupan berikutnya, yaitu alam kubur, ia menyadari bahwa dunia telah tidak menarik lagi. Dunia baginya adalah masa lalu. Dan ia saat ini telah menjadi subjek pada alam berikutnya. Ia bahkan menyimpulkan bahwa manusia telah salah tafsir tentang kematian dan tertipu oleh tafsir mereka sendiri tentang dunia.

Ternyata kematian itu membahagiakan. Sungguh di luar dugaan. Kematian itu tak terbatas, luas bagai cakrawala. Mengapa harus ditangisi? Jelas ini salah tafsir (hlm. 8)….

Dunia tinggal kenangan di alam mimpi. Keluarga saya, ternyata keluarga yang berada dalam impian. Seluruh pahit getir hidup yang saya alami ternyata berada di sebuah dunia yang tidak ada. Adam dan keturunannya adalah maya, ciptaan yang tidak ada, tak ada tempat yang begitu buruk seperti dunia sehingga setelah menciptanya Tuhan pun melengos. Saya selalu mengulang-ulang hikmah dari kiai saya. (ibid.)

Di alam kubur itulah sang saya melihat dunia dengan objektif. Ia seolah sedang memperlakukan dunia sebagai teks yang ia gumuli kemungkinan maknanya. Dalam cerpen ini, sang saya betul-betul sedang menafsirkan secara bebas dunia yang selama hidupnya dulu justru menjadi kebanggaan. Ia bahkan menekankan bahwa manusia sangat terkuasai oleh tubuhnya yang ia ibaratkan sebagai pakaian yang sebenarnya, setelah ia sadari di alam kubur, ternyata hanya membebani.(hlm. 11-12). Ia pun menegaskan bahwa dalam ibadah manusia adalah telanjang di mata Tuhan sehingga pakaian takada gunanya (hlm. 12).

Demikianlah tokoh saya sedang menafsirkan dunia setelah mengalami proses distansiasi dari kehidupan dunia itu sendiri.

 

 

 

Categories
Esai Ulasan Buku

Cerpen, Politik, dan Siasat Naratif ; sebuah Pengantar Singkat

Cerpen, Politik, dan Siasat Naratif

; sebuah Pengantar Singkat

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

/1/

    Baiklah. Saya akan memulai tulisan ini dengan berterus terang. Saya sudah lama tidak menulis pengantar sebuah kumpulan cerpen. Terakhir saya lakukan untuk sebuah kumpulan cerpen karya Benny Arnas sekira empat tahun lalu. Karenanya, saat akan memulai kembali aktivitas yang satu ini, saya begitu terhambat, bahkan untuk sekadar menentukan sisi mana dari kumpulan cerpen ini yang akan saya angkat. Perlu diketahui, biasanya lintasan gagasan setelah membaca sebuah karya sastra yang saya akan kata-pengantari bisa berjumlah lebih dari dua. Dan kini, semua seperti dimulai dari awal lagi. Saya sedang belajar menulis lagi; dari sebuah kebingungan tematik.

    Bersyukurnya, kali ini saya ditantang memberi pengantar untuk kumpulan cerpen sahabat saya Afifah Afra. Ya, bersyukur, karena saya memiliki kedekatan sosiologis dengan sang penulis. Sama-sama aktif di Forum LIngkar Pena, terlebih saya tahu sekali jejak kreativitas sang penulis. Jadi secara identitas, saya sudah tahu arah tematik cerpen-cerpen Afra. Ini saya anggap sebagai hal yang membantu karena saya kemudian memiliki sebuah asumsi pola tertentu dalam setiap cerpennya. Secara puitika sosiologis karya yang dilahirkan mudah untuk diidentifikasi. Tentu saja, tanpa mengabaikan adanya kejutan-kejutan pada beberapa cerpen dalam kumpulan ini, saya tetap menemukan ke-Afraan dan ke-FLP-an di dalamnya. Ya, semacam identitas ideologis dan bahkan lebih spesifik lagi, sebuah identitas politis.

    Akhirnya, saya berani menyimpulkan bahwa kumpulan cerpen yang satu ini berbenang merah permasalahan politik dan Afra tampak sedang berupaya menyiasati narasinya. Bererti ada dua lapisan politis dalam kumcer ini, tema politik dan siasat bernarasi. Bukankah bisa dikatakan, menulis cerpen adalah tindak politis karena seorang cerpenis dituntut bersiasat untuk mengemas gagasannya agar identitas politiknya tersaji dengan apik? Menulis cerpen dalam hal ini ibarat sebuah tindak melobi yang di dalamnya tersirat sebuah persuasi, tetapi berkelindan dalam tuntutan kisahan. Bila teknik kisahannya kurang canggih karya tersebut akan jatuh pada propaganda. Namun, bila ternyata teknik kisahan atau naratifnya berlapis dan penuh perhitungan komunikasi ia akan menjadi karya yang ditangkap objektif oleh pembacanya.

    Baiklah. Saya akan memulai tulisan ini dengan berterus terang. Saya agak sedikit gugup untuk mulai mengungkapkan pandangan saya terhadap kumpulan cerpen ini karena ini juga tindakan yang sangat politis. Seperti biasa, dalam sebuah arena politik, harus ada idealisme yang dikemas agar tujuannya sampai dengan persepakatan ruang publik baik koalisi maupun oposisi. Mungkin agak ngelantur, tapi, memang benar adanya saat memberi pengantar sebuah karya di dalamnya ada tegangan antara tindak kritik dan tindak promosi. Banyak yang bisa dikritisi dari kumpulan cerpen ini, tapi saya dibatasi oleh sekadar halaman pengantar yang nota bene alih-alih dari sebuah testimony. Namun, eini, tepatnya bukan sebuah paradoks, tapi sebuah kesadaran bersiasat saja. Dan ternyata, memberi pengantar juga sebuah tindakan politis. Bagaimana saya kemudian tidak gugup.

 

/2/

    Tema politik dalam karya cerpen Indonesia banyak sekali, bahkan tentang ini Seno Gumira Adjidarma (SGA) menjadikannya adagium Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra harus Bicara (KJDSHB). Dan memang pada saat adagium itu didedahkan dalam sebuah buku, realitas yang diangkat SGA dalam cerpen-cerpennya adalah realitas politik represif negara ini. Ia mengangkat kasus Timor-Timur pada masa Orde Baru yang pada saat itu menggencarkan Represif State Apparatus (RSA) dalam menyelesaikan masalah kebangsaan. Dan kreativitas SGA merupakan kontrawacana dari itu. Hanya saja, yang ia mampu adalah melakukan kontra-Ideological State Aparatus (ISA). Mamang, akhirnya terjadi ketidakseimbangan pergulatan apparatus ideologis. Namun, pada ranah inilah yang bisa karya sastra lakukan. Dan, justru itu yang menakutkan penguasa.

    Berkenaan dengan tragedi Mei 1998, SGA juga “melawannya” dengan karya sastra. Di antaranya dalam kumpulan cerpen Iblis Tidak Pernah Mati. Tentu saja, cerpen SGA pada saat itu sangat politis. Ada siasat melawan wacana kekuasaan tidak jauh-jauh waktu dari kejadian sesungguhnya. Adapun pada zaman pascareformasi yang tersirat dalam cerpen-cerpen SGA adalah perlawanan terhadap wacana antipluralisme.Sekali lagi, semua begitu ideologis sekaligus politis. Dalam hal ini, bisa disimpulkan, SGA takpernah berhenti berpolitik melalui karya sastranya.

    Sebagai contoh lain, cerpen-cerpen Kuntowijoyo bisa diangkat di sini. Kumpulan cerpen terakhirnya (yang diterbitkan anumerta) Pelajaran bagi Calon Politisi adalah contoh representatif berkenaan dengan strategi naratif ideologis terhadap realitas politik Indonesia kontemporer. Melalui karya-karya yang ada di dalamnya, ia memotret kecenderungan politik keseharian rakyat Indonesia. Berbeda gaya dengan SGA, Kuntowijoyo melawan wacana politik dalam negeri dengan gaya realis. Bila SGA mengakumulasikan narasi perlawanannya dalam buku KJDSHB, Kuntowijoyo menuliskan dalam berbagai narasi politiknya dalam buku Paradigma Islam juga dalam Identitas Politik Umat Islam  (untuk hanya menyebut dua contoh saja). Tentu saja, saya tidak akan membahasnya di sini secara detil tekstual contoh-contoh yang saya sebutkan  dengan harapan siapa pun yang membaca pengantar singkat ini bergegas mencari buku-buku tersebut.

    Dua contoh pengarang dan karya mereka tersebut untuk menggarisbawahi bahwa menulis sebuah cerpen adalah juga sebuah tindak politis. Ia adalah sebuah pemberontakan terhadap sebuah peristiwa politik tertentu dalam ruang publik tertentu. Melalui siasat atau strategi naratif, setiap penulis berusaha menyasar target politiknya masing-masing. Begitupun dengan karya Afifah Afra. Bila dipetakan, setidaknya, ada tiga pola narasi yang dilakukannya.

 

/3/

    Setelah saya baca dengan sangat lambat, kumpulan cerpen ini menyisakan banyak kejutan. Keberanian sang penulis dalam meramu berbagai tema, sejak tema keluarga, tema alam, tema sosial-politik kemasyarakatan, dan tema sufistis membuat saya harus menyelam lebih dalam untuk mencari benang merah karya. Walaupun tentu saja takbisa dipaksakan adanya ikatan imajiner di antara keseluruhan karya, tetapi saya “curiga” ada “kegelisahan” substansial yang melandasi semuanya. Dari sinilah munculnya asumsi adanya strategi naratif dalam rangka gagasan politik sebuah karya.

    Cerpen-cerpen yang secara dominan mengangkat tema-tema keluarga, ternyata di dalamnya terdapat penanda politisnya masing-masing. Kita lihat pada cerpen “Pesta Kematian” terdapat upaya pengukuhan relasi kekuasaan antara seorang Bapak dengan anak-anaknya dan dunia yang digenggamnya. Sebuah narasi pemertahanan kekuasaan yang unik. Paradoks antara kesadaran transenden tentang kematian dengan keprofanan dunia dimainkan dalam cerpen ini.

Dia ingin saat kematiannya, orang-orang berduyun-duyun meramaikan upacara persemayamannya. Itulah akhir yang agung dari kebesaran yang pernah ia miliki selama menempuh kehidupan di dunia.

Dan dia begitu sibuk dibuatnya.

“Kau harus membuat makamku seindah istana, Nak!” ujarnya, pada seorang anaknya. “Hanya satu hal itu yang tidak bisa saya lakukan. Saya bisa mempersiapkan peralatannya, mulai dari semen, marmer, hingga emas untuk menyepuhnya. Namun kaulah yang kuharapkan menjalankan rencana itu dengan baik.” (hlm…)

 

    Demikianlah, sang tokoh utama kaya raya yang disebut Bapak dalam kisah ini mempersiapkan kejayaannya sampai dia meninggal. Ia menginginkan symbol kejayaannya dikukuhkan sampai ke pemakamannya. Namun, perayaan itu diceritakan terjadi lebih “dahsyat” karena kematiannya dalam sebuah kecelakaan pesawat. Penulis mengkhiri kisah ini dengan sebuah sarkasme yang berhasil. Sebuah siasat naratif untuk sebuah kisah penuh siasat.

Maka pesta kematian pun berlangsung meriah. Ribuan—bahkan jutaan makhluk datang bertandang. Bukan manusia. Namun satu kerajaan arthropoda yang mengerubuti seonggok jenazah hangus di antara puing badan pesawat udara.

Pesta kematian yang begitu istimewa. (…)

 

    Tema keluarga yang akan dibahas berikutnya adalah cerpen yang dijadikan judul kumpulan ini, yaitu “Seorang Lelaki dan Selingkuh”. Sebuah kisah tentang kesetiaan seorang suami yang berprofesi sebagai penarik becak. Kisah ini, menurut saya, adalah cerpen yang paling berhasil di antara cerpen lainnya. Bukan hanya karena twist di akhir cerita saja, tetapi juga karena kebersahajaan penceritaannya. Karena itu, cerpen ini sangat menonjol setelah dilatari pola penceritaan dan pola bahasa yang hiperbolis dan metafor yang akrobatis.

    Memang cerpen ini bukan berbicara tentang politik praktis, tetapi di dalamnya mengandung politik identitas yang sangat kuat. Relasi antara seorang tukang becak dengan tradisi merokok di dalamnya tersirat ketakberdayaan masyarakat kelas bawah terhadap industri rokok. Betapa pentingnya “tokoh” rokok dalam cerpen ini sehingga menurut saya menggeser sang suami pengemudi becak dari posisinya sebagai tokoh utama. Jalinan ideologis antara rokok, uang, dan kesetiaan disajikan dengan apik dalam cerpen ini. Karena itu, kekalahan sang tokoh utama di akhir cerita sangatlah politis. Relasi kuasanya atas rokok, istri, dan uang tergerus seketika. Yang dirasakan dalam hatinya bukan hanya kekalahan moral, tetapi “politik”.

 

“Maaf, aku merokok, Pen!”

“Oh, nggak papa….”

“Tetapi mas Wied kan tidak merokok.”

“Aku yang melarang. Masak tukang becak seperti dia merokok, bisa-bisa uangnya habis buat beli rokok, terus… mau makan apa? Kalau mas kan cukup kaya.”

“Jadi nggak papa aku merokok? Kupikir kamu nggak suka melihat laki-laki merokok.”

“Kalau kamu yang ngerokok, aku tetap suka, Mas!”

“Benar? Eh, kalau suamimu tiba-tiba pulang, bagaimana?”

“Tenang saja, suamiku baru akan pulang nanti jam satu malam. Masih ada waktu 2 jam. Kita lanjutkan saja bersenang-senang, Mas….”

“Kau mau merokok?”   

“Ngg… boleh… sini, aku coba!”

“Kau cantik sekali, Pen! Mestinya kamu nggak jadi istri tukang becak…, tetapi jadi istri orang semacam aku.”

“Mas….”

Percakapan itu begitu jelas memasuki gendang telinga Wied. Sebenarnya lirih, namun tertangkap di syarafnya seperti ledakan guntur. Lelaki itu pun merasakan tubuhnya bergetar kencang…. Ada yang merangsek dalam hatinya… luka!

Begitu dalam. Ia tak tahu apa yang mesti ia lakukan.

 

    Berikutnya, adalah cerpen yang bertema alam, yaitu “Attar” dan “Perempuan yang Mencintai Pohon-Pohon”. Kedua cerpen ini, sebenarnya bertema keluarga juga, tetapi menjadikan alam sebagai media atau katalisator ideologis. Dalam cerpen “Attar” narator adalah sebuah pohon trembesi yang kuat dan takhancur ditimpa bencana Merapi. Hal ini, bisa dibaca sebagai siasat naratif untuk menyampaikan pesan politis relasi manusia dengan manusia. Attar yang terasingkan dalam relasi keluarga dan masyarakat memerlukan pelampiasan diri melalui tindak kemanusiaan. Pada saat yang sama ada sebuah pohon dan seorang gadis merasa kehilangan sosok Attar saat ia akhirnya meninggal tertimpa reruntuhan. Kehilangan ini adalah sebuah indeks dari adanya realitas hierarkis antara alam dengan manusia. Alam menjadi pihak yang terepsesi oleh banalitas kehidupan manusia. Dalam konflik ini, perasaan kehilangan adalah siasat naratif dalam bingkai politik ekologis.

Mendadak aku tersadar. Kalaupun kau bertanya padaku, aku tak mungkin bisa menjawabnya. Ya, karena aku hanyalah sebatang pohon trembesi raksasa, yang telah hidup sejak puluhan tahun yang lalu. Berkali-kali aku menjadi saksi meletusnya Merapi. Dan di peristiwa kemarin, aku ikut tersembur awan panas. Daun-daunku pun mengering. Tetapi, aku masih bisa tumbuh lagi. Tak seperti Attar, yang terkubur di sana.

Kusaksikan awan yang pekat menutupi pandanganmu. Kau berjalan terhuyung, tanganmu bergetar saat membuka pintu mobilmu. Mendadak, aku teringat kata-kata Attar.

Siapa yang akan merasa kehilangan sekalipun ragaku lumat? Tak ada, Bang! Tak ada.”

Kau salah, Attar. Ada yang sangat kehilangan saat kau tiada. Gadis itu. Dan aku.

 

    Begitupun dengan cerpen “Perempuan yang Mencintai Pohon-Pohon”, relasi yang sama terjadi. Alam sebagai katalisator makna dari kondisi teralienasinya dua orang perempuan. Alam dijadikan pelarian melalui aksi simulasi kedua perempuan tersebut. Selain itu, nama-nama tokoh yang berbau alam, seperti Jejak Rimba dan Biota Nirwana memiliki peran tersendiri dalam peleraian sebuah konflik psikologis. Begitupun sebaliknya, saat terjadi personifikasi pohon-pohon  atas sosok anak-anak tersirat sebuah upaya katarsis dari tokoh Sang Puan. Dalam hal ini, secara politis alam dijadikan objek cerita, yaitu sebagai alat peleraian masalah antarmanusia. Kritik ekologis dalam cerpen ini terhijab oleh kuatnya konflik keluarga. Namun, untungnya, masih tersisa makna sindiran pada gaya hidup modern anak-anak sang Puan yang menjadikan mereka begitu “jahat” terhadap sang Ibu yang dalam dirinya terdapat kesadaran ekologis.

Oh Rimba… aku tak tahu, mengapa akhirnya menjadi seperti ini. Tak hanya Pak Ardi, keempat putra Nyonya, semua bersepakat dalam satu hal: aku dipecat dan harus segera angkat kaki dari istana ini. Mereka menuduh akulah yang membuat mama mereka gila. Padahal, aku baru 6 bulan di sini, dan Sang Puan telah mencintai pohon-pohon sejak bertahun-tahun yang lalu.

Tetapi, Sang Puan membelaku mati-matian. Aku tetap berada di rumah ini, Rimba…

“Temanilah aku, Nak… jangan pergi, kita sama-sama mencintai pohon-pohon, meski kecintaan kita sebenarnya sebuah pelarian dari perasaan kehilangan kita akan cinta manusia. Nak, kamu mau kan, menemani Mama dalam kesunyian yang mencekam ini?”

Kuraih tangan perempuan itu, kujabat erat lalu kucium. Dan mendadak aku merasakan sepasang lengan rapuh itu memelukku. Bersama tangis yang pilu.

 

    Strategi naratif yang sama sebenarnya terjadi pada cerpen “Alex dan Roxana”. Hanya saja, pada cerpen ini katalisatornya bukan alam, tetapi dunia sosial media. Ini sebuah contoh cerpen postmo menurut saya. Namun, pada kumpulan ini hanya ada satu cerpen bercorak ini. Makna yang berusaha diungkapkannya adalah sama dengan dua cerpen yang dibahas sebelumnya, yaitu tentang relasi kemanusiaan yang disimulasi melalui media lain.

    Korpus berikutnya adalah berhubungan dengan tema sosial-politik kemasyarakatan. Cerpen-cerpen bertema tersebut paling banyak dalam kumpulan ini: “Perang Doa”, “Sampah”, “Sandal Jepit sang Walikota”, “Fardhu Kifayah”, “Shima”,  “Bisnis Sang Caleg”, “TPQ-gate”, “Kakek Tua dan Tikus”, “Matinya Sang Peramal”, “Menanti Cinta Sejati”, “Malaikat Akan Datang Kepada Surti”.

    Kedua belas cerpen ini memiliki tema politik yang bertingkat sejak politik kemasyarakatan minor sampai tema politik mayor atau seputar politik praktis. Tema minor terdapat pada cerpen “Sampah”, “Fardhu Kifayah”, dan “Malaikat akan Datang Kepada Surti”. Ketiganya saya kategorikan minor karena tema politik yang diangkat tersirat dalam ruang lingkup konflik keseharian. Namun, walaupun demikian, sosial politik kemasyarakatan sangat terasa, seperti kisah seorang penarik sampah yang paradoksal dalam tatanan masyarakat urban dalam “Sampah”. Relasi kemasyarakatan dalam terma keagamaan berkelindan dengan permasalahan individual dan kolektif dalam “Fardhu Kifayah”. Dan sebuah potret buram sosial urban yang determinis dalam “Malaikat Akan Datang Kepada Surti”. Kesemuanya adalah kritik sosial politik yang cukup tajam. Di balik semua kejadian ada kebijakan politik yang bermasalah.

    Jawaban dari karut marut kemasyarakatan  pada ketiga cerpen tersebut terjawab secara gamblang dalam tema politik mayor pada kumpulan ini. Lihat saja pada “Sandal jepit Sang Wali Kota” misalnya, di sana terdapat pergeseran idealisme politik seiring kontestasi liberal perpolitikan. Kesederhanaan yang dijadikan komoditas politik bukankah terjadi saat ini? Namun, serunya, cerpen ini kemudian memotret evolusi kemanusiaan politisi tersebut yang ternyata tanpa disadari telah menjauh dari niat awalnya. Problem pertama akar permasalahan sosial masyarakat pada politik minor telah diangkat dengan jelas dalam cerpen ini. Belum lagi saat membaca “Bisnis Sang Caleg”, “kakek Tua dan Tikus”, “TPQ-gate”, dan  “Matinya Sang Peramal”, terdapat problem-problem lanjutan. Tentu saja bisa ditebak: Politik transaksional, Korupsi, Stigmatisasi Politik, dan Konspirasi Absurd Perpolitikan Bangsa. Lengkap sudah!

    Permasalahan tersebut kemudian diakumulasi dalam sebuah cerpen metaforis yang berjudul “Menanti Cinta Sejati”. Afra dalam hal ini kembali membuat simulasi. Kali ini tentang sketsa sejarah negeri ini.

Perkenalkan, namaku Puteri Khatulistiwa. Lengkapnya Raden Ajeng Puteri Khatulistiwa. Sebuah nama yang agung, seagung sang pemberi nama: ayahanda dan ibunda. Ayahanda Paduka Dirgantara, raja yang berkuasa di persada angkasa. Ibunda Pertiwi, pemilik bentangan semesta yang raharja dengan kekayaan tiada tara. Perkawinan Dirgantara dengan Pertiwi melahirkan Puteri Khatulistiwa, jabang bayi montok yang beranjak dewasa dan menjelma menjadi gadis gemilang nan akas cendekia.

 

    Sebuah siasat atau strategi naratif yang patut diapresiasi saat penulis memersonifikasi negeri ini menjadi seorang gadis yang gagal terus dalam percintaannya. Namun, terlalu banyak yang harus dijelaskan berhubungan dengan psikologi dan sosiologi naratif sementara tujuannya adalah politis: menggambarkan betapa Indonesia belum berada pada tangan yang tepat. Di sini ada ketegangan antara tubuh sosial dan tubuh manusia. Sebuah bias citra akan terjadi berhubungan dengan eksploitasi sosial dan seksual secara verbal. Karena itu, risiko siasat personifikasi ini sangat rentan, Dan itu terbukti dalam akhir kisah.

Akan tetapi, mari aku ceritakan sesuatu kepadamu. Jangan keras-keras, dan jangan ceritakan kepada orang lain. Aku… frigid. Aku mati rasa. Karena, sudah terlampau lama menderita.

Namun, aku harus bercerita pula kepadamu, dengan sedikit berbisik. Harapan itu masih ada. Harapan dipinang oleh seseorang yang benar-benar mencintaiku dengan setulus hati. Seseorang yang mencintai dengan cinta sejati. Bukan karena menginginkan kekayaan yang kumiliki, atau menikmati kecantikan yang melekat pada diriku.

Tolong, jika kau memiliki orang dengan kriteria seperti itu, kabarkan kepada dia bahwa aku menunggunya…

   

    Munculnya diksi frigid dan mati rasa, saat dikembalikan ke akar wacana mengandung bias logika. Sementara itu, simulasi naratif yang dilakukan mudah sekali ditafsirkan sebagai metafor atas negeri ini. Bukankah kestabilan politik sebuah bangsa usianya tidak bisa disamakan dengan usia dan kondisi biologis seorang gadis. Sejarah membuktikan, kejayaan peradaban diperjuangkan puluhan bahkan ratusan tahun? Relativitas yang tidak bisa disandingkan dengan siklus seorang manusia yang pada umumnya tak lebih dari 100 tahun usia, bahkan kurang?

    Demikianlah, berbagai upaya pengungkapan tema politik melalui beberapa strategi naratif  telah dilakukan oleh penulis kumcer ini. Namun, tidak sampai di situ. Sebagai ulasan pamungkas, saya akan membicarakan tema-tema sufistis dalam kumcer ini, yaitu pada cerpen-cerpen berikut: “Perjamuan Malaikat”, “Sebilah Pisau untuk Membelah Dadaku”, “Perempuan Berkapan Rambut”, “Membunuh Sang Kyai”,  dan “Perempuan yang Mengandung Bola Api”.

    Saya melihat ada keberanian tinggi dari penulis untuk melampaui realitas dengan mengambil sudut-sudut pandang, fokalisasi-fokalisasi, dan strategi-strategi naratif yang imajinatif bahkan fantasi. Hanya saja, setiap sumber kisahan acapkali menuntut strateginya masing-masing. Kisah realis “Seorang Lelaki dan Selingkuh” sangatlah berhasil karena tuntutan kisahan yang dipenuhi penulisnya. Begitu juga kisah-kisah politik negeri yang lebih meminta pemenuhan fakta, data, dan kedalaman interpretasi kesejarahan. Dalam hal ini saya jadi teringat kumpulan cerpen Iksaka Banu, Semua untuk Hindia.  

    Pada kumpulan tersebut Banu dengan sangat sederhana mengisahkan realitas-realitas Indonesia zaman kolonial. Saya melihat strategi naratifnya berhasil karena realitas yang diangkatnya meminta dia untuk berlaku seperti itu. Bagaimana relasi antara seorang tokoh blasteran Indonesia-Belanda di tengah politik identitas saat itu misalnya, dan sebagainya. Intinya, kepekaan pengarang menggarap jenis kisahan sangatlah penting. Namun, kumpulan cerpen ini menjadi berarti saat digenapi oleh tema-tema sufistis.

    Menurut keimanan seorang muslim hal-hal yang irasional memang bagian dari kehidupan. Ada Sang Maha di balik segala yang mungkin dan serba kalkulatif. Lihat saja makna yang tertanam dalam “Perjamuan Malaikat”. Ia melampaui politik minor dan mayor yang saya sebutkan sebelumnya. Ia adalah poliltik transenden, ilahiah, yang hanya memerlukan iman. Belum lagi pada “Sebilah Pisau Membelah Dadaku”, sebuah hiperbola yang berani (dengan berbagai catatan logika dan teknis tentu saja). Namun, demikianlah sebuah kisah sufistis menuntut strategi kisahan. Belum lagi saat membaca “Perempuan yang Berkafan Rambut” yang akan menyeret pembacanya pada sebuah ruang nirlogika seperti juga pada cerita “Perempuan yang Mengandung Bola Api”. Kedua kisah tentang perempuan yang menghadapi realitas modern yang menuntut strategi naratif tersendiri.

    Ulasan pamungkas dari kategori pamungkas ada pada cerpen “Membunuh Sang Kyai”. Cerpen ini menurut saya adalah cerpen jembatan antara semua cerpen yang ada. Saat Afra bercerita tentang tema alam, tema politik kemasyarakatan, dan tema sufistis, ia sedang berusaha melakukan “dakwah” kultural tentang problematika umat. Ia melihat dalam berbagai dimensinya umat sedang dalam permasalahan. Namun, solusi permasalahan yang ada terlalu bersifat politis-kalkulatif sehingga ia berusaha membuat cerita yang metaforis. Semua mencoba disisipkan pada strategi naratif yang tidak biasa karena permasalahannya juga tidak biasa. Dan titik ideal dakwah kultural yang coba diangkatnya adalah ada pada dua kisah “Shima” dan “Membunuh Sang Kyai”. Pada Shima adalah ada transformasi kisah keadailan Rasulullah yang diwujudkan pada kebijakan seorang Ratu saat harus menghukum anaknya sendiri demi keadilan. Namun, kisah ini terlalu umum dan berada pada ruang istana. Walaupun tidak ada yang salah dengan itu, saya lebih tertarik untuk membahas cerpen “Membunuh Sang Kyai”.

    Pada cerpen tersebut ada upaya pembenturan antara yang terlihat dengan yang takterlihat, antara persepsi permukaan dengan realitas sesungguhnya, antara fakta dan realitas, antara politik-artifisial dengan politik transendental. Bahwa perubahan tidak bisa dilakukan dengan instan dan serba cepat ditekankan dalam cerpen ini. Bukankah itu hakikat dari gerak kultural sebuah dakwah. Saat sang Kyai yang dibunuh, ternyata eksistensinya ada di setiap lorong permasalahan umat dan dirindukan di sana itulah sejatinya tugas khaira ummah dalam bingkai rahmatan lil alamin. Hanya saja, tidak semua bisa mengindra hal itu, termasuk tokoh utama dalam cerpen ini. Bersyukurnya, ia kemudian dibawa dalam perjalanan spiritual  untuk meresepsi perjuangan sang kyai. Ia berubah dari tubuh positifis ke tubuh eksistensial. Ia berhijrah dari yang syariat ke yang hakikat menuju yang makrifat. Wallahua’lam.

 

/4/

    Baiklah. Saya akan menutup tulisan ini dengan berterus terang. Saya agak gugup mengakhiri tulisan ini karena banyak yang belum selesai diungkap berkaitan dengan pendapat saya tentang strategi naratif cerpen ini. Namun, menganalisis kumpulan cerpen ini haruslah dalam bentuk seluas-luas karya tulis, mungkin skripsi , tesis, atau bahkan disertasi. Karya ini layak mendapatkan analisis mendalam. Ala kulli hal, tahniah untuk sahabatku Afifah Afra. Barakallah.

Bandung, 27-28 November 2018

Categories
Esai

MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH

MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH[1]

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

/1/

Menggugah

             Puisi acapkali diperlukan untuk membangkitkan keterlenaan, keterpurukan, ketersesatan kebingungan, kebebalan, dan ke-an ke-an yang lain. Di dalamnya ada hikmah yang terjalin pada makna kata-kata yang ditemukan, ditimbang, dan dipilih. Kehikmahan makna kemudian menjadi sangat penting dan mendasar pada fungsi yang satu ini. Karena itu, hikmah manjadi satu titik tujuan dari sebuah ketergugahan.

Tentu saja kebangkitan yang diajarkan dan diajakkan puisi bukan kebangkitan positivistik, melainkan kebangkitan spiritual. Karena itu, “sekeras” apa pun artikulasi puisi yang dibuat ia sebenarnya adalah sehalus-halus cara untuk bangkit. Puisi adalah tindak verbal yang ditujukan ke akal pikiran dan lalu ke hati. Puisi mungkin adalah bagian dari sebuah revolusi, tapi revolusi dari dalam. Karena itu, fungsi gugah sebuah puisi adalah perangkat lunak dari sebuah kebangunan. Sebuah perang bisa dibakar oleh semangat kata-kata perintah dan doktrin, tapi ketahanan mental para pejuang hanya bisa dirasuki oleh puisi.

Puisi bahkan sering diidentikkan dengan posisi damai sebuah keadaan. Namun, ia bukan sekadar berindah-indah kata. Ia adalah senjata makna, senjata hikmah. Akrobat kata-kata dan metafora acak justru menjauhkannya dari  hikmah. Mereka semacam gangguan suara yang memotong komunikasi. Mereka adalah sesuatu yang menghalangi “puisi” menjadi puisi.  Mereka menghalangi makna sampai pada hikmahnya.

 

/2/

Gundah

Salah satu yang mendasar dari proses lahirnya puisi adalah kegundahan. Ia semacam titik pusat yang menggetarkan berbagai fenomena dalam radius tertentu. Semakin kuat daya getar pada titik tersebut semakin luas radius pengaruhnya. Karena itu, puisi besar sering dilahirkan dari peristiwa besar (kegundahan) sejarah. Namun, karena hakikat puisi adalah artikulasi jiwa, hal-hal besar ini berlaku pada berbagai tataran hingga tataran individual. Kegundahan individual inilah kemudian yang menjadikan puisi seseorang menjadi milik kegundahan bersama pada setiap masa.

Kegundahan sosial-budaya sebuah masyarakat sampai kegundahan personal  hanya masalah dimensi saja. Keduanya bisa saling beririsan. Namun, yang justru menjadi hambatan tersampaikannya hikmah adalah saat kegundahan personal menghalangi kegundahan pada lapis selanjutnya. Acapkali, kegundahan personal menjadi cangkang yang terlalu kuat membungkus hikmah sosialnya. Jadinya puisi hanya dimengerti dan dinikmati oleh pembuatnya saja.  Bahkan, hal inilah yang menjadikan sebuah “puisi” terhalang menjadi puisi.

Dari itu semua, yang diperlukan kemudian adalah kepekaan dan keekspresifan. Kepekaan adalah semacam pendeteksi titik masalah dari gundah; keekspresifan adalah sarana komunikasi (estetis) dari gundah yang sudah terpilih. Dan alat pendeteksi tersebut adalah pertanyaan. Semakin sering seseorang mengajukan tanya, semakin kegundahan berhasil dideteksi dan diikat oleh kata.  Namun, langkah pertama tersebut akan jadi tinggal dan mengekal pada kegelisahan personal semata jika takdiiringi proses pengujaran. Proses inilah yang menjadi PR selanjutnya bagi seseorang yang berupaya menggugah gundah menjadi hikmah melalui puisi.

 

/3/

Mengunggah

            Proses pengujaran menjadi sangat penting bila seseorang telah mengikat tanya dari gundah yang dimilikinya. Kata-kata yang mewakili kegundahan yang telah terdeteksi itu sebenarnya sudah ada pada jiwa setiap manusia. Hanya saja, taksemua individu mengunggah kegelisahannya dalam ekspresi sastra yang kemudian dinamakan puisi. Lebih jauh lagi, sebenarnya puisi sudah ada pada jiwa dan benak setiap individu, tetapi ia tidak diunggah baik secara lisan, tulisan, dan citraan visual. Simpulan ekstremnya adalah:  semua orang adalah penyair, tapi tidak setiap orang mampu mengunggah puisinya kepada khalayak.

Proses mengunggah berarti menjadi hal krusial bagi proses kreatif berpuisi karena ia adalah tahap eksekusi kepenyairan seseorang. Dalam hal ini, bukti konkret jalinan kata dalam berbagai bentuknya menjadi semacam pembuktian bahwa renungannya memiliki estetika tersendiri. Saat seorang pendosa menjura dalam doa-doanya, kata-kata yang dipilih secara diam-diam dalam batin dan bisiknya adalah puisi. Begitu juga, saat seorang pemuja menghayati dan mengungkapkan keterpukauannya dalam sebuah bisik benak dan jiwa, ia akan, sedang, dan telah menjadi penyair. Hanya saja, permasalahan berikutnya muncul. Para penyair alami ini kehilangan estetika saat mengujarkannya pada dunia.

Proses keterputusan talenta kepenyairan terjadi karena dunia menutupi kemampuan spiritual mereka. Karena itu, untuk melahirkan atau membangkitkan kembali talenta alamiah tersebut perlu daya renung yang dalam untuk melahirkan daya pilih kata yang kuat sehingga muncul daya jelajah makna dalam mengujarkan dan memvisualkannya. Pada titik inilah diperlukannya wawasan dan latihan. Wawasan akan mengantarkannya pada bentuk-bentuk konvensi kepuisian dan latihan akan mengantarkannya pada kemampuan menangkap puisi yang telah laten hidup dalam dirinya.

 

/4/

Madah

            Kegundahan yang menjadi subjek pertama sebuah proses berpuisi pada praktiknya tidak selalu melahirkan artikulasi murung dan hitam. Kegundahan adalah semacam pemicu dari pertanyaan dan renungan. Setelah itu, ia bisa diwujudkan pada berbagai jenis unggahan. Salah satunya adalah yang secara diametral  berseberangan;  kegundahan bisa menghadirkan puji-pujian. Alih-alih menghilangkan inti kegundahan , puji-pujian justru melesapkan kegundahan pada titik nadir kelemahan individual penyair.

Saat berbagai gempuran permasalahan membenamkannya pada sebuah doa yang pisau, ia justru merasa pada titik nol kekuatan. Di situlah madah lahir dan mewakili secara metaforis kegundahan yang ada. Puji-pujian adalah artikulasi sakral ketakberdayaan manusia yang kerenanya ia berserah pada Sang Mahasegala. Begitupun saat seseorang hadir di tengah hiruk pikuk kota dan kegelisahan manusia di dalamnya, alam bisa dipuja sebagai opisisi paradigmatis realitas yang ada. Ketika pada sebuah ruang peristiwa manusia telah kehilangan prinsip dan menjadi robot syahwat mereka sendiri, madah tentang Rasulullah SAW menjadi semacam difleksi yang diperlukan.

Menggugah gundah mengunggah madah adalah salah satu cara untuk mengembalikan kita pada fitrah kepenyairan. Diksi-diksi dan jalinan struktur pengujaran akhirnya menjadi semacam sarana yang perlu digali dari setiap individu dalam rangka mengikat hikmah. Dan bukankah hikmah adalah tujuan dan cara kita dalam berdakwah? Melalui tebaran-tebaran hikmah inilah kebaikan akan menjadi parameter realitas yang semakin banal dan regas. Wallahu’alam bis shawab.

 

Bandung, 4 November 2017

[1] Dipresentasikan dalam Workshop Kepenulisan Puisi dalam rangka Munas IV Forum Lingkar Pena, 4 November 2017

Categories
Esai

Menulis sebagai Gaya Hidup, Mengapa Tidak?

Menulis sebagai Gaya Hidup, Mengapa Tidak?[1]

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

 

Sungguh, judul yang saya angkat pada tulisan ini terlalu melambung. Bagaimana tidak? saat serbuan budaya instan begitu bertubi, menulis adalah ibarat sebuah kata yang asing dan menakutkan dan penulis adalah sosok misterius yang dipertanyakan masa depannya. Sungguh, judul yang saya angkat ini terlalu melambung, tetapi mengapa tidak?

Begitulah, keseharian kita dipenuhi dengan kelisanan, kelisanan yang tak berbobot, kelisanan yang bukan pantun dan karya folklore lainnya, melainkan gosip. Ya, budaya kita pada ruang instan      adalah bergosip. Budaya berbual yang jauh dari kreativitas. Budaya bercengkrama yang menghasilkan sosok anak bangsa tanpa solusi di kepala. Sementara itu, sebagian dari mereka berteriak-teriak, berdemonstrasi menuntut keadilan, tanpa tahu konsep terbaik sebagai wujud tuntutan.  Mereka tak pernah menuliskannya. Semua hanya ada di kepala. Demo mereka adalah gosip jenis terbaru.

Saya teringat pada ungkapan Taufiq Ismail bahwa negeri ini masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Wow, sebuah idiom yang menohok. Untuk siapakah ungkapan beliau? Jangan-jangan untuk saya dan untuk siapapun di negeri ini termasuk para guru dan dosen. Mengapa tidak? Karenanya, mari kita beranjak dan membuat sebuah perubahan. Sejauh apa pun kesalahan langkah yang kita tempuh, mari kita berbalik arah sekarang juga (meminjam idiom Reinald Kasali).

 

***

Memang, banyak sudah data yang menunjukkan bahwa ketertinggalan dunia pendidikan kita adalah karena ketertinggalan akan budaya menulis para pendidiknya. Ya, bukankah salah satu indikator kemajuan pendidikan adalah banyaknya indeks sitasi dari para pendidik. Semakin banyak para pendidik menulis di jurnal terakreditasi semakin berpeluang lembaga pendidikan itu diindikasikan maju.

Menurut Chaidar Al Wasilah (2007: 18-19) ada beberapa pembenahan yang harus dilakukan untuk memperbaiki itu semua (ia menyebutnya sebagai komponen reproduksi pengetahuan) yaitu: Iklim yang kondusif bagi tulis menulis, adanya puspa ragam sumber informasi, kemampuan membaca kritis, pengembangan wacana akademik demokratis, dan kemampuan berbahasa Inggris.

Begitulah, saya sepakat dengan Chaidar (terutama saat ia menempatkan budaya tulis menlis di poin pertama) karena inilah sumber permasalahan sebenarnya. Saat para pendidik menjadikan budaya menulis sebagai PR bersama untuk sebuah perbaikan, saat itu pulalah budaya gosip akan tereduksi. Dan teladan demi teladan bertebaran. Dan menulis akan menjadi gaya hidup bagi setiap generasi, terutama generasi muda. Namun, tak semudah membalik telapak tangan menuju hal itu. Karenanya, tulisan saya ini akan mengajak kita mendikusikan hal tersebut.

 

***

Sungguh, ini bukan pekerjaan ringan, tetapi ini bukannya tidak mungkin terjadi. Menjadikan menulis sebagai gaya hidup adalah sebuah kerja besar yang akan memakan waktu tak sebentar. Karenanya, diperlukan konsep dan tenaga yang benar-benar. Ada beberapa hal yang saya jadikan patokan untuk menuju titik itu, yaitu: keteladanan, kebijaksanaan, keuletan, dan kebersamaan.

Keteladanan. Hal satu ini adalah sumber energi bagi budaya literasi. Ada satu kata yang akan muncul untuk hal ini, yaitu andaikata atau andaikan. Dan akan banyak kalimat pengandaian setelahnya. Andaikan para orang tua menulis, anak-anak mereka akan juga menulis. Andaikan guru-guru menulis, murid-murid mereka juga akan menulis. Andaikan dosen-dosen menulis, mahasiswa tentu menulis juga. (lebih jauh lagi) andaikan para pejabat menulis, rakyat akan menirunya.

Kalimat-kalimat perandaian itulah titik tolak perjuangan. Bila selama ini, dunia belajar identik dengan anak muda, sekarang logikanya harus dibalikkan. Belajar sepanjang hayat harus kembali digulirkan. Dan belajar menulis bagi para manusia senior, sepuh, bahkan professor harus digalakan seperti seorang tua yang baru belajar iqra. Karenanya, diperlukan poin kedua.

Kebijaksanaan. Hal inilah yang mahal harganya karena tak semua orang tua merasa kurang pengetahuan, kurang kemampuan, dan kurang wawasan. Kebanyakan dari sepuh kita telah merasa cukup dengan apa yang ada.Rasa legawa untuk terus belajar adalah kebijaksanaan mendasar para tokoh dunia (menurut saya). Para filusuf, sastrawan, teknokrat, ulama, dan pendidik di sebuah negeri yang kondusif memliki sifat ini.Konon, di Jepang dan AS ada paguyuban dosen dan mahasiswa, khususnya mahasiswa S2 dan S3, yang memiliki minat sama yang secara terjadwal berdiskusi dan belajar bersama. Termasuk dalam dunia literasi dan reproduksi ilmu.

Keuletan. Kata yang satu ini, tentu berlaku dalam segala hal, lebih-lebih dalam hal dunia kepenulisan. Hal ini disebabkan oleh benteng yang menghalangi budaya literasi telah begitu kokoh dan tinggi. Tentu saja, keuletan diperlukan untuk merobohkan benteng itu. Benteng budaya instant, benteng budaya gosip, benteng budaya nonton, dan benteng budaya industri harus dengan ulet dikikis. Tak jadi masalah dengan cara mengeroposkannya inci demi inci, asal terus menerus.

Kebersamaan. Poin terakhir ini adalah poin yang berhubungan dengan kebertahanan mental berjuang. Dengan bersama-sama sebuah kerja besar akan terselesaikan. Forum Lingkar Pena adalah sebuah wadah bagi kerja bersama ini begitu juga PGRI, menurut saya. FLP dengan wilayah, cabang, dan ranting yang terus bertambah terus berusaha menyebarkan budaya literasi. Mungkin sedikit perjuangan itu, tetapi sistematis, insya Allah.

Begitulah hal yang menjadi titik usulan saya. Kenyataan rendahnya budaya menulis para pendidik di negeri tercinta ini harus dicari solusinya sehingga kita tidak syok saat sistem menuntut adanya sertivikasi dan hal lainnya sehingga lembaga pendidikan tinggi kita bisa bersaing di tingkat regional maupun internasional sehingga bangsa ini punya amunisi untuk membangun moralitas penduduknya.

 

***

Sungguh, judul yang saya angkat pada tulisan ini terlalu melambung. Bagaimana tidak? saat serbuan budaya instant begitu bertubi, menulis adalah ibarat sebuah kata yang asing dan menakutkan dan penulis adalah sosok misterius yang dipertanyakan masa depannya. Sungguh, judul yang saya angkat ini terlalu melambung, tetapi mengapa tidak?

Begitulah, keseharian kita dipenuhi dengan kelisanan, kelisanan yang tak berbobot, kelisanan yang bukan pantun dan karya folklore lainnya, melainkan gosip. Ya, budaya kita pada ruang instan      adalah bergosip. Budaya berbual yang jauh dari kreativitas. Budaya bercengkrama yang menghasilkan sosok anak bangsa tanpa solusi di kepala. Sementara itu, sebagian dari mereka berteriak-teriak, berdemonstrasi menuntut keadilan, tanpa tahu konsep terbaik sebagai wujud tuntutan.  Mereka tak pernah menuliskannya. Semua hanya ada di kepala. Demo mereka adalah gosip jenis terbaru.

Saya teringat pada ungkapan Taufiq Ismail bahwa negeri ini masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Wow, sebuah idiom yang menohok. Untuk siapakah ungkapan beliau? Jangan-jangan untuk saya dan untuk siapapun di negeri ini termasuk para guru dan dosen. Mengapa tidak? Karenanya, mari kita beranjak dan membuat sebuah perubahan. Sejauh apa pun kesalahan langkah yang kita tempuh, mari kita berbalik arah sekarang juga (meminjam idiom Reinald Kasali). Wallahu A’lam.

 

Pekanbaru, 3 Maret 2008

 

 

 

 

 

 

[1] Makalah ini disampaikan pada acara Workshop Kepenulisan untuk Guru se-Riau, 3 Maret 2008

Categories
Ulasan Film

Dead Poets Society ; Rahasia sebuah Pembelajaran

Dead Poets Society ; Rahasia sebuah Pembelajaran

Oleh M. Irfan Hidayatullah

Sebuah karya utuh adalah sebuah karya yang memiliki makna  pada setiap unsurnya. Ada makna pusat dan ada makna yang mengitarinya yang keseluruhannya terjalin menjadi sebuah struktur lengkap yang ketika seseorang membaca, mendengar, atau melihatnya akan mendapatkan pesan utuh.

Teks pertama sekaligus teks pusat yang akan saya baca adalah film Dead Poets Society (DPS). Film ini mencoba mengungkap dengan sangat teliti akar sebuah permasalahan remaja. Pada film inilah saya menemukan inventaris permasalahan remaja lewat tokoh-tokoh remaja yang dihadirkannya. Di antara banyak tokoh yang ada saya menemukan cermin permasalahan pada Neal (tokoh utama) dan Todd. Kedua tokoh tersebut sama-sama memiliki permasalahan psikologis keremajaan mereka disebabkan sikap orang tua.

Keunggulan Neal sebagai anak pintar dan potensial bisa jadi sebenarnya dibangun oleh pola didik orang tuanya (sang bapak) yang disiplin. Akan tetapi, pada titik tertentu perjalanan hidup Neal, yaitu saat remaja, sang bapak tidak mau menyesuaikan pola didiknya dengan psikologi keremajaan Neal. Jadilah, sebuah ledakan dahsyat saat Neal bunuh diri dalam keputusasaannya (padahal Neal telah banyak belajar dari guru Bahasa Inggrisnya). Benturan yang dialami oleh Neal berbeda dengan tokoh yang lainnya karena Neal diposisikan sebagai remaja yang potensial yang memiliki banyak energi untuk berbuat lebih banyak. Pengekangan orang tua dalam hal ini menjadi semacam pemicu suburnya pemberontakan jiwa.

Ada dua kalimat yang dapat dijadikan bukti pergulatan batin Neal, yaitu My parent will kill me! Dan I hate the clarinet, the sexophone more loud! (ungkapan ketika Neal dan teman-temannya berada di gua Indian). Dua kalimat tersebut saya posisikan sebagai dua hal yang terus bergemuruh dalam jiwa Neal, antara takut pada ayahnya dengan keinginan untuk tidak seperti biasa (memberontak). Selain itu, ada dua lakuan yang menjadi tanda dunia ambivalen Neal, yaitu antara kepatuhan mutlak pada ayahnya saat Neal dilarang mengikuti pers kampus dan teater dengan andil Neal dalam menanamkan keberanian pada teman-temannya, terutama Todd. Saat itu Todd menunjukkan hadiah ulang tahun yang sama dengan tahun sebelumnya. Todd sebenarnya merasakan itu sebagai ikon dari keterkekangan, tapi ia tidak berani mengungkapkannya sebelum Neal tiba-tiba melemparkan hadiah tersebut dari ketinggian. Ambivalensi ini yang membuat jiwa Neal bergemuruh, sebelum akhirnya bunuh diri.

Sementara tokoh Todd berposisi sebaliknya dari Neal. Ia berada pada kerendahdirian. Ia merasa menjadi orang yang selalu dibandingkan dengan kakaknya yang berprestasi sehingga segala potensi yang ada seolah termatikan karenanya. Baru pada akhir cerita ia menemukan keberaniannya yang melebihi kadar yang ia duga sebelumnya, saat ia berani mengungkapkan penghormatannya pada sang guru yang dipecat. Simbol yang dimunculkan adalah dengan berdiri di atas bangku. Sebuah keberanian yang di luar dugaan walaupun memang sebelumnya telah dicontohkan oleh sang guru. Namun, saat itu berdiri di meja sang guru bukan di meja sendiri. Ini adalah simbol kemandirian yang luar biasa.

Film ini menjadi sangat membangun usaha memahami dunia remaja karena andilnya dalam memberikan gambaran real atas problematika remaja. Artinya, DPS tidak terjebak pada budaya massa yang cenderung mengeksplorasi sisi-sisi hiburan semata. Film ini bisa membuat remaja berkaca dan orang tua merenung. Keutuhan antara cerita dan simbol-simbol budaya sangat membantu penonton untuk berpikir mendalam. Inilah teks yang membangun solusi bukan menambah permasalahan. Saya simpulkan ini karena DPS menjadi bersifat elitis (eksklusif) saat dibandingkan dengan film-film remaja murahan, semisal Scream, Ten Thing I Hate about You, Urban Legend, Soul Survivor, dan berpuluh bahkan beribu film remaja impor lainnya.

 

Categories
Esai

Islamic Popular Literature (Ispolit); Sebuah Negosiasi Budaya

SASTRA POPULAR ISLAMI[1]

; Sebuah Negosiasi Budaya

Oleh M. Irfan Hidayatullah

I

Memang, pengategorian atau pengotakkan sastra selalu memancing perdebatan, tetapi hal itu susah sekali dihindari. Ada beberapa hal, menurut saya yang membuat pengotakkan itu beralasan. Pertama, sastra sebagai produk pengarangnya. Kedua, sastra sebagai model representasi. Ketiga, sastra sebagai produk industri. Terakhir, sastra sebagai sebuah alat negosiasi.

Begitulah, empat faktor tersebut berjalinan menyatu pada identitas kekaryaan. Karenanya, sebuah karya sastra akhirnya harus disadari bukan hanya sebuah wujud seni yang berbahan bahasa. Semua sisi pada kehadirannya adalah identitas, bahkan sampai pada tampilan cover dan kata-kata pendukung. Jadi, pengidentitasan sebuah karya sastra oleh pembaca atau kritikus adalah semacam upaya pemetaan dari sebuah langkah kreasi yang tak ada hubungannya dengan niat pengarang dalam menuliskannya.

Memang, ada sekelompok pengarang yang beranjak dari kesadaran identitas diri, kesadaran memilih jenis karya, dan verbalitas niat seperti adanya sekelompok pengarang yang menampik pelabelan dengan alasan mereka berkreativitas karena kreativitas itu sendiri. Namun, itu semua tidak ada hubungannya dengan upaya kirtikus memberi kotak atau label pada karya dua jenis kelompok pengarang tersebut. Dari berbagai anasir identitas, bisa saja di antara keduanya memiliki identitas sama, berarsiran, bahkan bertukaran. Menurut saya, dibandingkan dengan pengarang, kritikus akan relatif  lebih objektif mengidentitaskan sebuah karya baik secara sosiologis, psikologis, antropologis, maupun struktural.

Begitulah, label sastra Islam, sastra Islami, sastra sufi, sastra profetik, sastra Koran, sastra wangi, sastra buruh, dan sastra-sastra lainnya akan bermunculan karena sebuah proses pengidentitasan tersebut. Dan hal tersebut menurut saya bukan lantas mengacaukan kemurnian dunia kreatif kesusasteraan karena sekali lagi tak ada hubungan antara pelabelan dengan proses kreatif sastrawannya. Sekeras apa pun sastrawan berteriak melabeli dirinya, penilaian akhir ada pada pembaca atau kritikus. Proses pengaruh memengaruhi di antara keduanya adalah masalah lain.

Memang, pada akhirnya sebuah identitas akan sangat relatif karena betapa pengarang dan latar belakang sosialnya, juga hal-hal yang berada di luar pengarang seperti industri dan yang lainnya sangatlah beragam. Karenanya, sebuah karya tidak akan memiliki identitas tunggal. Bisa jadi seorang pengarang muslim membuat karya berbau sosialisme, kapitalisme, bahkan atheisme atau sebaliknya. Karenanya, kerja melabeli adalah kerja besar yang di dalamnya ada proses pembacaan yang intens sampai ke sum-sum karya atau sampai menemukan titik ideologisnya (meminjam istilah Barthes). Adapun karya itu bersifat popular atau elitis menurut saya bukan menjadi masalah. Hal itu adalah hanya semacam objek yang berbeda sifat yang nantinya berimbas pada mudah tidaknya menafsirkan.  Dari titik cerah hasil penemuan itulah seorang kritikus berhak melabeli sebuah karya bukan dari proses generalisasi. Sekali lagi bukan dari proses generalisasi.

Begitulah, akhirnya pada suatu saat saya mendeklarasikan sebuah istilah, yaitu Ispolit (Islamic Popular Literature).

II

Betul, mungkin karena sejak tahun 2000 saya bergelut di komunitas Forum Lingkar Penalah saya menyimpulkan bahwa ada karya sastra yang beridentitas popular islami. Alasan saya memunculkan istilah ini muncul setelah saya berpikir tentang empat aspek alasan pelabelan dan mengujikan berbagai karya di dalamnya. Aspek-aspek tersebut adalah, seperti yang terungkap pada paragraf pertama, sastra sebagai produk pengarangnya, sastra sebagai model representasi, sastra sebagai produk industri dan, sastra sebagai sebuah alat negosiasi.

  1. Sastra sebagai produk pengarang

Pada aspek sastra sebagai produk pengarangnya, saya menemukan satu sumber gerak para pengarang Ispolit, yaitu aktivisme Islam. Majalah Annida sebagai ruang kreasi para penulis ispolit dengan jelas-jelas mengusung dakwah Islam sehingga karya-karya yang bertolak belakang dengan visi tersebut terseleksi. Bahkan Annida secara berkala mengadakan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI). Selain itu, setelah para kontributor penulis cerpen Annida terkumpulkan dalam sebuah komunitas bernama Forum Lingkar Pena (sejak 1999[2]) semakin jelas adanya kesamaan visi antara media dengan para penulisnya.

Novel pertama yang terbit dan mengawali Ispolit adalah Pingkan karya Muthmainnah alias Maimon Herawati yang juga salah seorang pendiri FLP. Adapun, cerpen yang populer pada generasi pertama ini adalah Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rossa yang kemudian diikuti oleh penerbitan-penerbitan lainnya. Keduanya diterbitkan oleh penerbit Asy-Syaamil (penerbit pertama yang menyokong pergerakan Ispolit). Setelah itu, muncullah pengarang-pengarang lainnya yang senapas dengan kedua karya tersebut. Muncul Izzatul Jannah, Asma Nadia, Muthi Masfuah, Sakti Wibowo, Afifah Afra Amatullah, Nurul F. Huda, Novia Syahidah, Sinta Yudisia, Agustrianto, dan banyak lagi yang lainnya.

Semua karya ispolit tersebut lahir dari pengarang yang memiliki visi yang relatif sama yaitu dakwah lewat tulisan. Dan memang, latar belakang semua pengarang tersebut adalah di lembaga-lembaga dakwah baik sekolah, kampus, maupun perusahaan bervisi Islam. Hal ini kemudian dikukuhkan pada AD-ART FLP yang menjadikan Islam sebagai asas. Begitulah, ispolit, terus diproduksi sampai saat ini. Di antara semuanya yang kemudian booming adalah Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazi (mantan ketua FLP Mesir) yang sekarang menjadi pengurus di Badan Pengurus Pusat FLP.

Setelah booming karya FLP lewat penerbit-penerbit yang mengikuti jejak Asy-Syamil, muncullah karya-karya Ispolit yang bukan dari komunitas FLP. Mereka memanfaatkan pasar dengan mengikuti tipikal karya FLP sampai ke hal-hal yang kecil.

2. Sastra sebagai Model Representasi

Lewat aspek kedua inilah Ispolit lahir. Yang saya maksudkan dengan model representasi adalah aspek pragmatik. Lewat analisis penikmat sastra alias pembaca sebuah karya sastra bisa terlihat identitasnya.

Majalah remaja Annida pada akhir tahun 90-an adalah majalahnya para anak rohis dan mahasiswa aktivis muslim. Lewat pintu itulah Annida menyebar dan menemukan pembaca yang semakin meluas, tetapi akar utamanya adalah remaja aktivis Islam. Begitupun setelah ispolit disambut baik oleh penerbit pembaca utamanya semakin merasa terwakili. Cerpen-cerpen terbaik Annida kemudian diterbitkan oleh Pustaka Annida dan penerbit lainnya. Cerbung-cerbung dan serial majalah Annida dan Ummi juga kemudian diterbitkan.

Masyarakat yang merasa terwakili oleh karya-karya tersebut tentu saja menyumbang identitas bagi karya tersebut. Semakin-hari semakin meluas memang, apalagi setelah boomingnya Ayat-Ayat Cinta. Itu semua, menurut saya sebuah keberhasilan  rintisan dakwah lewat Ispolit sejak akhir 90an. Semakin banyaknya pembaca yang merasa terepresentasikan memang akan semakin plural dan menyumirkan identifikasi sehingga pada akhirnya ada beberapa kategori pembaca; pembaca yang representatif dan pembaca yang ternegosiasi.

 

3. Sastra sebagai produk Industri

Ispolit lahir saat berbagai aspek kehidupan mulai bebas dilakukan. Ispolit lahir setelah tumbangnya Orde Baru. Ispolit lahir saat reformasi bergulir, bahkan ikut menggulirkan reformasi. Ispolit lahir saat berbagai aspek kehidupan secara bebas diislamisasi. Perbankan syariah, pendidikan Islam terpadu, Parpol berazaskan Islam, penerbit-penerbit Islam, dan sebagainya. Jadi, Ispolit lahir saat budaya literasi juga berusaha diislamisasi. Karenanya istilah islami bukan berdiri sendiri pada karya sastra yang saya canangkan, tetapi memang kondisi industri penerbitan pun berada pada jargon dan jalur tersebut.

Berkibarnya Asy-Syamil yang kemudian berubah menjadi Syaamil dan sekarang Penerbit Sygma Arkan Leema adalah berada pada ruang tersebut yang kemudian diikuti oleh penerbit-penerbit lain yang memberi peluang pada para penulis Ispolit. Di sana ada Mizan, FBA Press, Era Intermedia, Pustaka Annida, Gema Insani Press, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, Republika, dan masih banyak lagi. Adapun kemudian penerbit yang bukan bervisi Islami kemudian mendirikan lini fiksi Islami adalah fenomena akhir-akhir ini. Tentu saja setelah melihat peluang kapital yang lumayan. Akhirnya Gramedia, Gagas Media, dan yang lainnya ikut membuka lini tersebut. Di sinilah negosiasi dimulai.

 

4. Sastra sebagai Alat Negosiasi

Saya pikir poin keempat adalah poin puncak dan terpenting karena pada titik inilah sebuah identitas mendasar terlihat. Sastra yang dilabeli sesuatu pada dasarnya menegosiasikan label tersebut. Sastra Wangi, semestinya menegosiasikan aspek ketubuhan, Sastra Islami, berarti di dalamnya terdapat negosiasi nilai-nilai Islam disadari atau tidak disadari oleh penulisnya.

Untuk Ispolit hal-hal yang dinegosiasikan tidaklah terlalu sulit dicari. Tentu saja karena sifatnya yang popular. Dan hal inilah yang kadang menjadi kritikan pedas bagi para penulisnya bahwa mereka terlalu verbal bernegosiasi bahwa mereka sedang menulis karya sastra bukan sedang berkhutbah dan sebagainya.

Kejelasan unsur-unsur negosiasi inilah yang menurut saya justru menjadi citra utama. Justru jika negosiasi itu semakin tersembunyi dan susah dilacak bukan lagi Ispolit. Adapun mengenai bagus tidaknya sebuah negosiasi dikemas itu adalah hal lain. Jadi, selama negosiasi ini masih ada, selama itu pula istilah ispolit masih bisa dipertahankan. Karenanya, para penulis ispolit yang masih konsisten mereka bukan menurunkan isi negosiasinya, tetapi meningkatkan atau mendewasakan cara bernegosiasi. Adapun mengenai apa saja hal yang dinegosiasikan, tidak akan saya bahas pada tulisan ini.

 

III

Sastra Popular Islami menurut saya adalah sebuah jenis karya sastra popular yang keberadaannya harus dipertahankan. Bukankah dengan berkarya sastra umat islam akan kreatif dalam berwacana. Umat Islam pun secara sadar memerlukan wawasan untuk terjun dalam dunia kreativitas tersebut. Di situlah letak pendidikannya. Dengan menulis perkembangan pemikiran akan terdokumentasikan walaupun dalam bentuk sastra. Bahkan, justru dengan bentuk sastralah negosiasi akan dengan leluasa dilakukan (bahasa lain dari ideologi Seno). Namun, ada sebuah ancaman bagi keberadaan Ispolit dan sifat-sifatnya. Itulah pasar. Dialah budaya masssa. Adalah banalitas.

Ya, kecenderungan ke arah tersebut sudah sangat jelas terjadi. Ketika penulis telah mengikuti tawaran bukan menawarkan, saat penerbit Islam mengikuti arus bukan memperbaharui kreativitas, saat kuantitas dan kapital menjadi dewa, saat euforia keberhasilan menjadi penyakit hati, saat itulah nilai-nilai yang dinegosiasikan akan menjadi ironi. Saat itu pulalah label Islami dipertanyakan.

Memang budaya pasar memungkinkan adanya epigonisme. Karenanya para penulis Ispolit harus segera membuat kreasi baru. Saat Ayat-Ayat Cinta meledak, hampir semua produk serupa dengannya, hampir semua penerbit memesan karya kepada penulis dengan syarat kesamaan dengan AAC. Dan bila ispolit terjebak pada simulakrum industri tersebut negosiasi yang dilakukan telah sangat banal dan tak menyentuh lagi. Wallahu’alam.

 

Bandung, 20 Maret 2008

 

 

 

 

[1] Makalah ini disampaikan pada acara Diskusi Cakrawala FLP Bandung, Sabtu 22 Maret 2008.

[2] FLP sendiri lahir pada 21 Februari 1997, salah satu pendirinya Helvi Tiana Rossa adalah redaktur majalah Annida.