Flash News
  • Berharap Berharap Setiap hari kita berharap. Pada siapa pun pada apa pun. Setiap detik kita ditumpuk harapan tentang siapa pun tentang apa pun. Setiap harap ada…
  • Dingin Dingin Aku didekap cuaca yang membisikkan hoaxhoax politik tanpa ampun Aku disekap wacana yang menggidigkan nalar tanpa ampun Aku diserap angkara yang meracaukan dugaan dan…
  • Lari Lari Menuju titik mana lesat itu? Yang kaucari taksembunyi sesungguhnya.  Pada yang tergesa ada lupa dan gelap mata; kau yang meninggalkan inti terus meretas tanya Menuju…
  • MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH[1] Oleh M. Irfan Hidayatullah   /1/ Menggugah              Puisi acapkali diperlukan untuk membangkitkan keterlenaan, keterpurukan, ketersesatan kebingungan, kebebalan, dan ke-an ke-an…
  • SENI MENULIS   SENI MENULIS Oleh M. Irfan Hidayatullah             Menulis adalah sebuah kata yang tak asing.  Menulis adalah proses bagi sebuah bentuk kreasi, yaitu tulisan. Menulis…
Esai

Islamic Popular Literature (Ispolit); Sebuah Negosiasi Budaya

SASTRA POPULAR ISLAMI[1]

; Sebuah Negosiasi Budaya

Oleh M. Irfan Hidayatullah

I

Memang, pengategorian atau pengotakkan sastra selalu memancing perdebatan, tetapi hal itu susah sekali dihindari. Ada beberapa hal, menurut saya yang membuat pengotakkan itu beralasan. Pertama, sastra sebagai produk pengarangnya. Kedua, sastra sebagai model representasi. Ketiga, sastra sebagai produk industri. Terakhir, sastra sebagai sebuah alat negosiasi.

Begitulah, empat faktor tersebut berjalinan menyatu pada identitas kekaryaan. Karenanya, sebuah karya sastra akhirnya harus disadari bukan hanya sebuah wujud seni yang berbahan bahasa. Semua sisi pada kehadirannya adalah identitas, bahkan sampai pada tampilan cover dan kata-kata pendukung. Jadi, pengidentitasan sebuah karya sastra oleh pembaca atau kritikus adalah semacam upaya pemetaan dari sebuah langkah kreasi yang tak ada hubungannya dengan niat pengarang dalam menuliskannya.

Memang, ada sekelompok pengarang yang beranjak dari kesadaran identitas diri, kesadaran memilih jenis karya, dan verbalitas niat seperti adanya sekelompok pengarang yang menampik pelabelan dengan alasan mereka berkreativitas karena kreativitas itu sendiri. Namun, itu semua tidak ada hubungannya dengan upaya kirtikus memberi kotak atau label pada karya dua jenis kelompok pengarang tersebut. Dari berbagai anasir identitas, bisa saja di antara keduanya memiliki identitas sama, berarsiran, bahkan bertukaran. Menurut saya, dibandingkan dengan pengarang, kritikus akan relatif  lebih objektif mengidentitaskan sebuah karya baik secara sosiologis, psikologis, antropologis, maupun struktural.

Begitulah, label sastra Islam, sastra Islami, sastra sufi, sastra profetik, sastra Koran, sastra wangi, sastra buruh, dan sastra-sastra lainnya akan bermunculan karena sebuah proses pengidentitasan tersebut. Dan hal tersebut menurut saya bukan lantas mengacaukan kemurnian dunia kreatif kesusasteraan karena sekali lagi tak ada hubungan antara pelabelan dengan proses kreatif sastrawannya. Sekeras apa pun sastrawan berteriak melabeli dirinya, penilaian akhir ada pada pembaca atau kritikus. Proses pengaruh memengaruhi di antara keduanya adalah masalah lain.

Memang, pada akhirnya sebuah identitas akan sangat relatif karena betapa pengarang dan latar belakang sosialnya, juga hal-hal yang berada di luar pengarang seperti industri dan yang lainnya sangatlah beragam. Karenanya, sebuah karya tidak akan memiliki identitas tunggal. Bisa jadi seorang pengarang muslim membuat karya berbau sosialisme, kapitalisme, bahkan atheisme atau sebaliknya. Karenanya, kerja melabeli adalah kerja besar yang di dalamnya ada proses pembacaan yang intens sampai ke sum-sum karya atau sampai menemukan titik ideologisnya (meminjam istilah Barthes). Adapun karya itu bersifat popular atau elitis menurut saya bukan menjadi masalah. Hal itu adalah hanya semacam objek yang berbeda sifat yang nantinya berimbas pada mudah tidaknya menafsirkan.  Dari titik cerah hasil penemuan itulah seorang kritikus berhak melabeli sebuah karya bukan dari proses generalisasi. Sekali lagi bukan dari proses generalisasi.

Begitulah, akhirnya pada suatu saat saya mendeklarasikan sebuah istilah, yaitu Ispolit (Islamic Popular Literature).

II

Betul, mungkin karena sejak tahun 2000 saya bergelut di komunitas Forum Lingkar Penalah saya menyimpulkan bahwa ada karya sastra yang beridentitas popular islami. Alasan saya memunculkan istilah ini muncul setelah saya berpikir tentang empat aspek alasan pelabelan dan mengujikan berbagai karya di dalamnya. Aspek-aspek tersebut adalah, seperti yang terungkap pada paragraf pertama, sastra sebagai produk pengarangnya, sastra sebagai model representasi, sastra sebagai produk industri dan, sastra sebagai sebuah alat negosiasi.

  1. Sastra sebagai produk pengarang

Pada aspek sastra sebagai produk pengarangnya, saya menemukan satu sumber gerak para pengarang Ispolit, yaitu aktivisme Islam. Majalah Annida sebagai ruang kreasi para penulis ispolit dengan jelas-jelas mengusung dakwah Islam sehingga karya-karya yang bertolak belakang dengan visi tersebut terseleksi. Bahkan Annida secara berkala mengadakan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI). Selain itu, setelah para kontributor penulis cerpen Annida terkumpulkan dalam sebuah komunitas bernama Forum Lingkar Pena (sejak 1999[2]) semakin jelas adanya kesamaan visi antara media dengan para penulisnya.

Novel pertama yang terbit dan mengawali Ispolit adalah Pingkan karya Muthmainnah alias Maimon Herawati yang juga salah seorang pendiri FLP. Adapun, cerpen yang populer pada generasi pertama ini adalah Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rossa yang kemudian diikuti oleh penerbitan-penerbitan lainnya. Keduanya diterbitkan oleh penerbit Asy-Syaamil (penerbit pertama yang menyokong pergerakan Ispolit). Setelah itu, muncullah pengarang-pengarang lainnya yang senapas dengan kedua karya tersebut. Muncul Izzatul Jannah, Asma Nadia, Muthi Masfuah, Sakti Wibowo, Afifah Afra Amatullah, Nurul F. Huda, Novia Syahidah, Sinta Yudisia, Agustrianto, dan banyak lagi yang lainnya.

Semua karya ispolit tersebut lahir dari pengarang yang memiliki visi yang relatif sama yaitu dakwah lewat tulisan. Dan memang, latar belakang semua pengarang tersebut adalah di lembaga-lembaga dakwah baik sekolah, kampus, maupun perusahaan bervisi Islam. Hal ini kemudian dikukuhkan pada AD-ART FLP yang menjadikan Islam sebagai asas. Begitulah, ispolit, terus diproduksi sampai saat ini. Di antara semuanya yang kemudian booming adalah Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazi (mantan ketua FLP Mesir) yang sekarang menjadi pengurus di Badan Pengurus Pusat FLP.

Setelah booming karya FLP lewat penerbit-penerbit yang mengikuti jejak Asy-Syamil, muncullah karya-karya Ispolit yang bukan dari komunitas FLP. Mereka memanfaatkan pasar dengan mengikuti tipikal karya FLP sampai ke hal-hal yang kecil.

2. Sastra sebagai Model Representasi

Lewat aspek kedua inilah Ispolit lahir. Yang saya maksudkan dengan model representasi adalah aspek pragmatik. Lewat analisis penikmat sastra alias pembaca sebuah karya sastra bisa terlihat identitasnya.

Majalah remaja Annida pada akhir tahun 90-an adalah majalahnya para anak rohis dan mahasiswa aktivis muslim. Lewat pintu itulah Annida menyebar dan menemukan pembaca yang semakin meluas, tetapi akar utamanya adalah remaja aktivis Islam. Begitupun setelah ispolit disambut baik oleh penerbit pembaca utamanya semakin merasa terwakili. Cerpen-cerpen terbaik Annida kemudian diterbitkan oleh Pustaka Annida dan penerbit lainnya. Cerbung-cerbung dan serial majalah Annida dan Ummi juga kemudian diterbitkan.

Masyarakat yang merasa terwakili oleh karya-karya tersebut tentu saja menyumbang identitas bagi karya tersebut. Semakin-hari semakin meluas memang, apalagi setelah boomingnya Ayat-Ayat Cinta. Itu semua, menurut saya sebuah keberhasilan  rintisan dakwah lewat Ispolit sejak akhir 90an. Semakin banyaknya pembaca yang merasa terepresentasikan memang akan semakin plural dan menyumirkan identifikasi sehingga pada akhirnya ada beberapa kategori pembaca; pembaca yang representatif dan pembaca yang ternegosiasi.

 

3. Sastra sebagai produk Industri

Ispolit lahir saat berbagai aspek kehidupan mulai bebas dilakukan. Ispolit lahir setelah tumbangnya Orde Baru. Ispolit lahir saat reformasi bergulir, bahkan ikut menggulirkan reformasi. Ispolit lahir saat berbagai aspek kehidupan secara bebas diislamisasi. Perbankan syariah, pendidikan Islam terpadu, Parpol berazaskan Islam, penerbit-penerbit Islam, dan sebagainya. Jadi, Ispolit lahir saat budaya literasi juga berusaha diislamisasi. Karenanya istilah islami bukan berdiri sendiri pada karya sastra yang saya canangkan, tetapi memang kondisi industri penerbitan pun berada pada jargon dan jalur tersebut.

Berkibarnya Asy-Syamil yang kemudian berubah menjadi Syaamil dan sekarang Penerbit Sygma Arkan Leema adalah berada pada ruang tersebut yang kemudian diikuti oleh penerbit-penerbit lain yang memberi peluang pada para penulis Ispolit. Di sana ada Mizan, FBA Press, Era Intermedia, Pustaka Annida, Gema Insani Press, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, Republika, dan masih banyak lagi. Adapun kemudian penerbit yang bukan bervisi Islami kemudian mendirikan lini fiksi Islami adalah fenomena akhir-akhir ini. Tentu saja setelah melihat peluang kapital yang lumayan. Akhirnya Gramedia, Gagas Media, dan yang lainnya ikut membuka lini tersebut. Di sinilah negosiasi dimulai.

 

4. Sastra sebagai Alat Negosiasi

Saya pikir poin keempat adalah poin puncak dan terpenting karena pada titik inilah sebuah identitas mendasar terlihat. Sastra yang dilabeli sesuatu pada dasarnya menegosiasikan label tersebut. Sastra Wangi, semestinya menegosiasikan aspek ketubuhan, Sastra Islami, berarti di dalamnya terdapat negosiasi nilai-nilai Islam disadari atau tidak disadari oleh penulisnya.

Untuk Ispolit hal-hal yang dinegosiasikan tidaklah terlalu sulit dicari. Tentu saja karena sifatnya yang popular. Dan hal inilah yang kadang menjadi kritikan pedas bagi para penulisnya bahwa mereka terlalu verbal bernegosiasi bahwa mereka sedang menulis karya sastra bukan sedang berkhutbah dan sebagainya.

Kejelasan unsur-unsur negosiasi inilah yang menurut saya justru menjadi citra utama. Justru jika negosiasi itu semakin tersembunyi dan susah dilacak bukan lagi Ispolit. Adapun mengenai bagus tidaknya sebuah negosiasi dikemas itu adalah hal lain. Jadi, selama negosiasi ini masih ada, selama itu pula istilah ispolit masih bisa dipertahankan. Karenanya, para penulis ispolit yang masih konsisten mereka bukan menurunkan isi negosiasinya, tetapi meningkatkan atau mendewasakan cara bernegosiasi. Adapun mengenai apa saja hal yang dinegosiasikan, tidak akan saya bahas pada tulisan ini.

 

III

Sastra Popular Islami menurut saya adalah sebuah jenis karya sastra popular yang keberadaannya harus dipertahankan. Bukankah dengan berkarya sastra umat islam akan kreatif dalam berwacana. Umat Islam pun secara sadar memerlukan wawasan untuk terjun dalam dunia kreativitas tersebut. Di situlah letak pendidikannya. Dengan menulis perkembangan pemikiran akan terdokumentasikan walaupun dalam bentuk sastra. Bahkan, justru dengan bentuk sastralah negosiasi akan dengan leluasa dilakukan (bahasa lain dari ideologi Seno). Namun, ada sebuah ancaman bagi keberadaan Ispolit dan sifat-sifatnya. Itulah pasar. Dialah budaya masssa. Adalah banalitas.

Ya, kecenderungan ke arah tersebut sudah sangat jelas terjadi. Ketika penulis telah mengikuti tawaran bukan menawarkan, saat penerbit Islam mengikuti arus bukan memperbaharui kreativitas, saat kuantitas dan kapital menjadi dewa, saat euforia keberhasilan menjadi penyakit hati, saat itulah nilai-nilai yang dinegosiasikan akan menjadi ironi. Saat itu pulalah label Islami dipertanyakan.

Memang budaya pasar memungkinkan adanya epigonisme. Karenanya para penulis Ispolit harus segera membuat kreasi baru. Saat Ayat-Ayat Cinta meledak, hampir semua produk serupa dengannya, hampir semua penerbit memesan karya kepada penulis dengan syarat kesamaan dengan AAC. Dan bila ispolit terjebak pada simulakrum industri tersebut negosiasi yang dilakukan telah sangat banal dan tak menyentuh lagi. Wallahu’alam.

 

Bandung, 20 Maret 2008

 

 

 

 

[1] Makalah ini disampaikan pada acara Diskusi Cakrawala FLP Bandung, Sabtu 22 Maret 2008.

[2] FLP sendiri lahir pada 21 Februari 1997, salah satu pendirinya Helvi Tiana Rossa adalah redaktur majalah Annida.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *