Categories
Kritis

Luluh sang Lelah

Dia tahu semua belum selesai, tapi dia juga paham semua harus dihentikan. Bukan waktu, tapi kelemahan tubuhnya, kefanaan energi. Ya, ia harus berhenti. Begitulah setiap hari.

Tentu saja semua berhikmah. Takada yang sia sia pada semesta. Tentang tubuh dan lelah yang membujuknya juga sarat akan ajaran. Bahwa segala hal takmesti tercapai saat ini, di sini. Bahwa hidup nyata juga seperti kisah yang selalu ditunda untuk membuat penasaran penikmatnya. Untuk sebuah suspen. Ya, keberhentian karena lelah dan aus adalah akhir sebuah episode yang setiap hari bersambung sepanjang usia. Episode terpanjang bukan hanya ada pada sinetron Indonesia saja, tetapi pada kehidupan nyata.

Demikianlah dia sedang menuliskan catatan ini saat sang lelah luluh oleh bujukannya agar tidak mengajaknya berhenti dan terpejam. Ia meminta waktu kepada sang lelah untuk sekadar menuliskan resah. Dan sang lelah mengalah.

Dia tahu semua belum selesai, besok kemungkinan akan dilanjutkannya episode hidup. Namun, sang lelahlah yang terus membujuk dan meracuni persepsi, bahwa tlah tak ada yang bisa dilakukan lagi selain berhenti. Namun, ia tak mau berhenti begitu saja dan tidak boleh berhenti begitu saja. Ada banyak hikmah yang harus dituliskan. Mungkin dalam kantuk dan penat, tapi harus ada yang dicatat.

Dia dan lelah harus bekerja sama di setiap ujung hari untuk sebuah dedah. Dia dan lelah harus menjelma sahabat yang menghabiskan sisa detik sebelum istirah.

Derwati, 29 Januari 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *