Menempuh (5)

Menempuh (5)

Ia kini bagian dari balapan motor-motor Pengejar matahari. Tentu saja dibanding motor-motor baru dan matic, motornya agak terseok, tapi ia yakin akan sampai pertama jika itu menuju ibu.

“Kau sedang diuji. Kita sedang diuji. Tempuhlah semuanya. Ibu menunggumu di sini.”

Terngiang kuat mantra itu, kadang ia gumamkan juga di tengah tempuhan. Kalau saja ada orang yang melihat betapa cengengnya ia saat menelpon ibunya tadi malam, ia bukan ia lagi.

Derai yang dihindari para lelaki itu betul hanya mitos ternyata. Buktinya ia, melampaui keberderaian. Di diseret ke arah palung terdalam penyesalan yang kemudian oleh energi dari dasar bumi, dihempaskan ke permukaan kembali. Lalu jiwanya diseret arus deras menuju curug berbatu tajam. Melayang menuju runcing kepedihan. Membuatnya tercekat dan memekik.

Jalan di depan kehilangan matahari. Belokan pertama sejak lampu merah itu membuatnya menempuh tenggara lalu selatan. Namun, motor lain masih mengegas dengan semangat. Ada di antara mereka yang melampauinya memandang tajam walau sekilas. Diiringi senyum meremehkan sedetik sebelum lesat.

…. (Bersambung)

Bandung, 11 Oktober 2018

 

3 thoughts on “Menempuh (5)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *