Menempuh (6)

Menempuh (6)

 

Dan betul saja ia tertinggal. Kini melenggang sendirian. Tampaknya ketrergesaannya kalah sarana. Atau  jangan-jangan pengendara yang lain sesungguhnya tidak sedang tergesa?Hanya kendaraan mereka yang mutakhir yang membuat mereka melesat tanpa mengejar apa-apa? Kecepatan bukan Ketergesaan. Beda dengan dirinya, ketergesaan adalah ruang jiwanya, tetapi motornya takmengizinkan untuk itu. Juga jiwanya. Sampai mengepul asap hitam dan mengerang mesin pun kelesatan takjua dicapainya.

Pada zamannya, motor 4 tak-nya ini mungkin juara. Namun, zaman juga sudah lesat. Ia tertinggal oleh realitas dan acapkali pikiran semacam itulah yang sesungguhnya menindas. Ia generasi tua dengan gaya yang tua.

Hanya saja, ia masih yakin menang jika perlombaan balap ini tujuannya adalah kota P tempat ibunya menunggu. Kebertahanan dan jalan-jalan pintas ia ketahui dengan pasti sampai ke likuk-likuknya. Sementara kalau ditempuh melalui jalur utama akan memakan waktu dua kali lipatnya.

Seperti sekarang, ia sedang ada di sebuah jalan kampung yang melipat jarak dari kota B ke kota G. Walaupun, jalannya menanjak, tapi ia tahu jalur ini lebih cepat. Ia lesatkan saja semampu yang ia dan motornya bisa. Apalagi, menuju tanjakan yang lumayan panjang, ia perlu ancang-ancang.

Dan begitulah perjuangan, pada ujung tanjakan tenaga motor dan harapannya hampir usai, tapi matahari yang mulai meninggi seolah menjulurkan tali yang diikatkan ke stang. Sambil mencoba memosisikan diri agar tubuhnya ikut menggenjot sang motor, akhirnya dia sampai di ujung tanjakan pertama. Dan ia tahu ada empat lagi tanjakan puncak serupa dan satu tanjakan sebelum jalan menurun. Melembah.

(Bersambung)

 

Bandung, 15 Oktober 2018

 

 

 

 

One thought on “Menempuh (6)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *