CANGKANG

Cangkang

Oleh M. Irfan Hidayatullah

            Cangkang takjauh dari kita, bahkan ada dalam diri kita, dan itu susah membacanya. Ya, cangkang ada pada setiap eksistensi kehidupan. Aku yang berkulit juga sama denganmu dan sama dengan kucing tetangga yang berbulu lebat itu. Atau, mie rebus yang kukonsumsi dan mobil yang kukendarai semua tercangkangi. Namun, ada cangkang yang cepat terbuka dan isinya terhabisi dan ada cangkang yang sulit terlepas dan selalu diupayakan jangan sampai terkelupas.

Semua adalah tampakan dari sebuah keberadaan sesuatu. Mereka membungkus rapi sebuah eksistensi dalaman. Ada yang berusaha untuk ditutupi oleh keberadaan cangkang. Karenanya, ada fungsi yang sangat strategis dari sebuah cangkang; menutupi. Takpeduli yang ditutupi itu merupakan sesuatu yang berharga atau sebaliknya. Singkatnya, cangkang adalah sebuah tabir dari misteri dalaman. Karenanya, ia bisa jadi memiliki fungsi memanipulasi. Seseorang, aku atau kamu, kadang terjebak pada perdebatan atas sebuah masalah padahal kita baru melihat cangkangnya saja. Kadang kita pura-pura mengetahui dalamannya, padahal kita hanya menafsirkan saja. Sesuatu yang nisbi dan multiperspektif. Di sinilah titik lemah kita; ketidaktahuan.

Memang cangkang yang mudah terkelupas akan dengan cepat diketahui dalamnya, tetapi jangan salah, setelah itu ada cangkang berikutnya. Begitu seterusnya. Mereka adalah cangkang-cangkang imajiner yang lebih manipulatif. Seorang laki-laki yang tertarik pada perempuan dari tampilannya, dari pakaiannya, dari fesyen yang diikuti dan digandrunginya, setelah semua itu terlucuti maka ada cangkang berikutnya berupa kulit dan atau tubuh serta mitos perangai yang menempel di sana. Sama halnya dengan seorang anak yang terpesona dengan sebuah makanan kemasan, misalnya mie keremes, setelah anak tersebut melucuti cangkangnya, ia kemudian terpesona dengan mitos rasa yang akan dicecapnya. Padahal rasa adalah cangkang berikutnya agar setiap kandungan yang terdapat pada makanan tersebut terkonsumsi dengan tuntas dan produk itu laku akhirnya. Enak? Tentu saja! Tapi acap kali sang anak takmau tahu bahwa rasa enak itu memanipulasinya dari sebuah eksistensi destruktif bagi kesehatan tubuh dan atau jiwanya.

Cangkang-cangkang imajiner adalah mitos[1]. Dan di sanalah berbagai kepentingan dikomodifikasi. Yang cantik luarnya belum tentu menjanjikan cantik dalamnya, begitu pun sebaliknya. Namun, sebuah perjuangan serius tampaknya akan terus diupayakan untuk mempercantik berbagai lapis luaran agar dalaman yang jelek, keropos, bobrok itu bisa ditutupi. Lalu kapan seseorang akan tahu bahwa ia (akan) termanipulasi cangkang berlapis itu? Saat ia taktergesa menyimpulkan tentu saja. Dan ini takmudah. Apalagi ketika segala sesuatu yang bersifat cangkang itu kemudian diiklankan sehingga melelerkan hasrat kita untuk segera, segera, dan segera mengonsumsi dan menghabiskannya.

Ya, menurutku, ketaktergesaan adalah sifat yang kontramitos. Sebuah upaya demitologisasi muncul saat seseroang telaten dalam memahami sesuatu sebelum ia bersentuhan, memiliki, dan mengonsumsinya. Pada titik inilah pentingnya sebuah pengetahuan, sebuah ilmu. Karenanya, godaan untuk telaten memahami begitu besarnya. Berbagai hal menjadi sangat menarik untuk dijajaki sehingga seseorang terbelokkan dari jalan paham yang sedang ditempuhnya. Wallahu a’lam.

 

Derwati, 13 Agustus 2016

[1] Tentang Mitos, saya meneruskan apa yang digagas oleh Roland Barthes dalam tulisannya Myth Today (1956)

Sajak untuk Palestina

Nakbah 1948

 

Darah dan tubuh yang tertimbun itu

tumbuh jadi akar zaitun

walau kau pangkas, ia kan terus

jalar menemuimu yang pias ketakutan

 

Sembunyimu pada batu itu

tercekat oleh suara lantang

“Lihatlah ada Yahudi di belakangku!”

Gemawan serupa mata malaikat

dan burung nazar

Mengejarmu ke mana saja

Kecuali saat kau sembunyi

dalam hati nurani

Kecuali saat kau lari

dari dogma tirani

 

Sudahlah jangan menangis

Kau yang ingin berkuasa;

Kau yang tidak merdeka

Tuhanmu Tuhanku juga

tapi kita takkan bertemu

karna kutaktahu kemana

arah neraka!

                                Februari 2009

 

 

Sabra dan Sathila

; Waltz with Bashir

Baguslah kau trauma

Saat kepala anak berambut ikal

Itu dikerubuti lalat

Ia seperti anakmu juga bukan?

Dan balok-balok beton

Yang menimpanya kini ada di

Dadamu

Syukurlah kau trauma

Saat tubuh memar, menganga

Perempuan-ibu itu matanya

Berbicara; tajam mencecarmu

berjuta peluru Tanya.

Ia seperti istrimu yang khawatir itu bukan?

 

Sekarang carilah teman

Sesama tentara

Sesama boneka

Sesama trauma

Kaukan temukan berjuta

Jumlahnya

 

Tuhan memberkatimu karena

Kau telah manusia.

                                                Februari 2009

 

 

Intifadah

 

Lihatlah, aku sedang

Melempar jumrah

Serupa Ibrahim dan Ismail

Yang pasrah pada titah-Nya.

                                Februari 2009

 

Pesta di Gaza

I

Seperti tahun baruan di dekat Liberty

Kembang-kembang api itu bersahutan

Para penduduk histeris dan mengucap syukur

“Terima kasih Tuhan Kau telah menyapa kami,

Tangan-Mu yang merentang itu membuat kami bahagia.”

“Kami datang, kami datang, kami segera datang!”

 

II

Pagi hari sisa pesta berserakan

Dinding-dinding runtuh, baju-baju lusuh, dan

Wajah-wajah pada kepala tanpa tubuh

Mengabarkan senyum ketenangan.

 

                                                                Jatinangor, Maret 2009

 

Menuju Menulis Menjadi Penulis

MENUJU MENULIS, MENJADI PENULIS

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

I

            Menulis adalah sebuah tindak kreatif. Menulis adalah sebuah refleksi pemikiran. Menulis adalah sebuah pengungkapan rasa. Menulis adalah sebuah amal nyata. Menulis adalah menulis. Sebuah kata yang terdiri dari dua morfem, me dan tulis. Dua morfem dengan kategori yang berbeda. Me adalah morfem terikat dan tulis adalah morfem bebas. Me sebagai morfem terikat adalah bermakna (implisit) aktif; tulis adalah morfem bebas yang (eksplisit) imperatif. Me tidak memiliki makna tanpa berpadu dengan kata dasar. Karena itu, me adalah sebuah eksistensi implisit, takkasat, gaib, atau ruhi. Sedangkan tulis adalah sebuah kata dasar yang sejak dikonvensikan telah memiliki arti mandiri, bahkan arti tersebut memiliki makna imperatif atau perintah. Makna yang nyata, bergerak, progresif, dan kreatif. Karena itu, kata tulis adalah merujuk pada sebuah bukti nyata.

Berdasar pada pemikiran tersebut, maka tidak akan ada sebuah tulisan tanpa adanya eksistensi dua hal: Semangat, ruh, visi, misi, atau niat yang kuat dan gerak, kreativitas, atau amal nyata. Seseorang akan dengan mudah dan antusias menulis bila kedua hal tersebut hadir dengan seimbang. Bila tidak, seseorang akan menganggap menulis sebagai pekerjaan yang amat berat. Jadi, tanamkan niat yang kuat lewat visi, misi, dan (atau) kecemburuan budaya untuk kemudian beranjak menggoyangkan pena atau menghentak tuts komputer.

 

II

            Menulis adalah sebuah amal nyata. Menulis bukan sebuah amal tanpa produk. Karena itu, menulis adalah sebuah produktivitas. Dan Islam menganjurkan manusia untuk produktif  bahkan keimanan pun tidak sempurna tanpa produk berupa amal shaleh. Kesempurnaan makna iman adalah mencakup tiga hal, yaitu tekad hati, ikrar verbal, dan pelaksanaan lewat pergerakan atau aktivitas. Sebab itu, menulis adalah sebuah tindak nyata dari sebuah gerak hati.

Budaya lisan memang masih kuat berakar pada kebudayaan kita sehingga gosip menjadi (seolah-olah) sebuah karya nyata. Karenanyalah, kecenderungan masyarakat pada budaya literat sangatlah jauh. Belum lagi ditambah serangan budaya pandang-dengar lewat televisi dan film-film. Semakin sempurnalah mitos yang berkembang, bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan sulit, bahwa menulis adalah aktivitas yang dikhususkan untuk kalangan tertentu saja, bahwa menulis adalah sebuah entitas rumit yang sulit sekali ditelusuri dan dijangkau. Dan bahwa berbicara adalah sebuah tindak penuh prestise. Padahal kita tahu al-Qur’an dan Al-Hadits menganjurkan untuk menindaklanjuti tindak bicara dengan amal nyata. Dan menulis adalah sebuah amal nyata.

Lalu apa yang harus kita lakukan?  Tentu saja pertama-tama kita harus menyadari tentang urgensi menulis pada pembangunan peradaban ummat. Tentu saja kita harus melihat sejarah tentang betapa kejayaan Islam dibangun (juga) oleh budaya menulis para ulama dan masyarakatnya. Dan tentu saja kita harus meraba diri, bahwa kita harus bangkit dan menjadi istimewa sebagai subjek bukan objek. Dan menulis adalah sebuah kata kerja yang membuat seseorang yang melakukannya menjadi subjek.

Seseorang menjadi subjek dengan menulis karena dia belajar berpendapat dan mempertanggungjawabkannya. Selain itu, karena dia berusaha mengungkapkan perasaannya untuk sebuah perubahan. Dia tidak diam saja dengan ketidaksepakatan dan ketertekanan. Dia berteriak dengan menulis. Dia eksis dengan menulis. Dia ada karena dia menulis. Perlu ditekankan di sini, bahwa kita bisa membaca dan belajar pemikiran dan gagasan seseorang dari tulisan mereka. Karena menulis adalah sebuah penanda keberadaan. Jadi, menurut saya, dengan sebuah kesadaran menjadi subjek seseorang akan mudah berkeinginan untuk menulis dan dengan kesadaran beramal seseorang akan mudah untuk menggoyangkan pena dan (atau) menghentak tuts keyboaard komputer.

 

III

 

Menulis (juga) adalah sebuah hasil, sebuah out put atau keluaran. Menulis adalah tindakan yang ada karena tindakan sebelumnya. Menulis adalah representasi dari tindak membaca. Baik membaca secara tekstual maupun membaca secara kontekstual. Namun, tindak membaca tertentulah yang akan membuat seseorang mampu menulis, yaitu tindak membaca dengan penuh kesadaran. Kesadaran yang mewujud dalam bentuk pertanyaan demi pertanyaan. Semakin seseorang banyak membaca, semakin akan banyak bertanya dia. Dari pertanyaan itulah ia akan banyak menelusuri kemungkinan jawaban yang kemudian ia simpulkan dalam bentuk gagasan. Dan bila gagasan itu mendesaknya untuk dituangkan dengan segera, tulisanlah salah satu medianya.

Jadi, menulis adalah hal yang (relatif) mudah dilakukan oleh seseorang yang akrab dengan tindak membaca. Karena itu, menulis bisa dilakukan oleh siapa saja. Bukankah tak ada seorang pun yang tidak pernah membaca? Dan dari sekian bacaannya, tentu saja ada bacaan yang membuatnya bertanya dan menyimpulkan. Karena itu, seorang penulis akan lebih mudah menulis dari objek yang sehari-hari ia lihat dan baca. Seorang Ahmad Tohari, selalu menulis tentang alam pedesaan, religiusitas, dan pergulatan ideologi (terutama yang berhubungan dengan tragedi PKI) karena ia intens membaca ruang yang melingkupi kehidupannya. Seorang Kuntowijoyo, pada setiap karyanya selalu berhubungan dengan religiusitas, kejawaan, sejarah, dan demitologisasi karena yang intens ia baca adalah hal tersebut. Seorang Oka Rusmini, pada karya-karyanya selalu berhubungan dengan, Bali, budaya kasta, dan perempuan karena ia intens membaca hal tersebut. Begitu pun dengan penulis FLP, mayoritas pada setiap karyanya berhubungan dengan religiusitas, dakwah, benturan budaya, dan upaya pencerahan karena sesuatu yang para penulis FLP intens baca adalah  hal tersebut.

Berdasar hal tersebut, seseorang akan mudah menulis bila: membaca dengan intens, menyadari ruang kehidupannya sebagai aset bacaan, menuliskan apa yang dekat dan akrab dengan kehidupannya. Percayalah, setelah tiga langkah tersebut dijalankan seseorang akan mudah menggoyangkan pena dan (atau) menghentak tuts komputer.

IV

            Ada beberapa hal praktis yang saya lakukan agar mudah menulis. Pertama, menemukan filosofi menulis. Menulis bagi setiap orang adalah hal yang berbeda kedudukannya. Bagi saya menulis adalah sebuah alur kehidupan yang tak bisa dihindari seperti seorang anak normal tidak bisa menghindari perkembangan kehidupannya. Ia tidak bisa menghindari untuk belajar berdiri, melangkah, berlari, berbicara, dan berinteraksi. Begitu pun dengan menulis. Seseorang yang normal, bisa membaca dan mencatat, akan mampu menulis karena memang sudah waktunya, sudah fasenya. Kedua, menemukan kata-kata, frase, kalimat, atau paragraf kunci untuk mengikat ide. Untuk itu, diperlukan kekuatan memori. Pada titik ini diperlukanlah buku harian atau notes khusus. Ketiga, menemukan waktu biologis kita. Temukan, kapan kita mampu dengan optimal menulis. Tentu saja setiap orang berbeda. Pola seorang penulis tidak bisa dipaksakan bagi penulis lainnya. Karena itu, belajar menulis dari proses kreatif orang lain hanyalah semacam stimulan bagi pencarian pola kita sendiri bukan untuk ditiru mentah-mentah. Keempat, segeralah menulis, jangan banyak bicara dan berteori lagi. Menulis, menulis, dan menulis, tanpa ragu. Temukan kenikmatan dibalik kata kerja tersebut. Wallahu’alam bishawab.

 

 

 

 

 

 

 

 

Islamic Popular Literature (Ispolit); Sebuah Negosiasi Budaya

SASTRA POPULAR ISLAMI[1]

; Sebuah Negosiasi Budaya

Oleh M. Irfan Hidayatullah

I

Memang, pengategorian atau pengotakkan sastra selalu memancing perdebatan, tetapi hal itu susah sekali dihindari. Ada beberapa hal, menurut saya yang membuat pengotakkan itu beralasan. Pertama, sastra sebagai produk pengarangnya. Kedua, sastra sebagai model representasi. Ketiga, sastra sebagai produk industri. Terakhir, sastra sebagai sebuah alat negosiasi.

Begitulah, empat faktor tersebut berjalinan menyatu pada identitas kekaryaan. Karenanya, sebuah karya sastra akhirnya harus disadari bukan hanya sebuah wujud seni yang berbahan bahasa. Semua sisi pada kehadirannya adalah identitas, bahkan sampai pada tampilan cover dan kata-kata pendukung. Jadi, pengidentitasan sebuah karya sastra oleh pembaca atau kritikus adalah semacam upaya pemetaan dari sebuah langkah kreasi yang tak ada hubungannya dengan niat pengarang dalam menuliskannya.

Memang, ada sekelompok pengarang yang beranjak dari kesadaran identitas diri, kesadaran memilih jenis karya, dan verbalitas niat seperti adanya sekelompok pengarang yang menampik pelabelan dengan alasan mereka berkreativitas karena kreativitas itu sendiri. Namun, itu semua tidak ada hubungannya dengan upaya kirtikus memberi kotak atau label pada karya dua jenis kelompok pengarang tersebut. Dari berbagai anasir identitas, bisa saja di antara keduanya memiliki identitas sama, berarsiran, bahkan bertukaran. Menurut saya, dibandingkan dengan pengarang, kritikus akan relatif  lebih objektif mengidentitaskan sebuah karya baik secara sosiologis, psikologis, antropologis, maupun struktural.

Begitulah, label sastra Islam, sastra Islami, sastra sufi, sastra profetik, sastra Koran, sastra wangi, sastra buruh, dan sastra-sastra lainnya akan bermunculan karena sebuah proses pengidentitasan tersebut. Dan hal tersebut menurut saya bukan lantas mengacaukan kemurnian dunia kreatif kesusasteraan karena sekali lagi tak ada hubungan antara pelabelan dengan proses kreatif sastrawannya. Sekeras apa pun sastrawan berteriak melabeli dirinya, penilaian akhir ada pada pembaca atau kritikus. Proses pengaruh memengaruhi di antara keduanya adalah masalah lain.

Memang, pada akhirnya sebuah identitas akan sangat relatif karena betapa pengarang dan latar belakang sosialnya, juga hal-hal yang berada di luar pengarang seperti industri dan yang lainnya sangatlah beragam. Karenanya, sebuah karya tidak akan memiliki identitas tunggal. Bisa jadi seorang pengarang muslim membuat karya berbau sosialisme, kapitalisme, bahkan atheisme atau sebaliknya. Karenanya, kerja melabeli adalah kerja besar yang di dalamnya ada proses pembacaan yang intens sampai ke sum-sum karya atau sampai menemukan titik ideologisnya (meminjam istilah Barthes). Adapun karya itu bersifat popular atau elitis menurut saya bukan menjadi masalah. Hal itu adalah hanya semacam objek yang berbeda sifat yang nantinya berimbas pada mudah tidaknya menafsirkan.  Dari titik cerah hasil penemuan itulah seorang kritikus berhak melabeli sebuah karya bukan dari proses generalisasi. Sekali lagi bukan dari proses generalisasi.

Begitulah, akhirnya pada suatu saat saya mendeklarasikan sebuah istilah, yaitu Ispolit (Islamic Popular Literature).

II

Betul, mungkin karena sejak tahun 2000 saya bergelut di komunitas Forum Lingkar Penalah saya menyimpulkan bahwa ada karya sastra yang beridentitas popular islami. Alasan saya memunculkan istilah ini muncul setelah saya berpikir tentang empat aspek alasan pelabelan dan mengujikan berbagai karya di dalamnya. Aspek-aspek tersebut adalah, seperti yang terungkap pada paragraf pertama, sastra sebagai produk pengarangnya, sastra sebagai model representasi, sastra sebagai produk industri dan, sastra sebagai sebuah alat negosiasi.

  1. Sastra sebagai produk pengarang

Pada aspek sastra sebagai produk pengarangnya, saya menemukan satu sumber gerak para pengarang Ispolit, yaitu aktivisme Islam. Majalah Annida sebagai ruang kreasi para penulis ispolit dengan jelas-jelas mengusung dakwah Islam sehingga karya-karya yang bertolak belakang dengan visi tersebut terseleksi. Bahkan Annida secara berkala mengadakan Lomba Menulis Cerita Pendek Islami (LMCPI). Selain itu, setelah para kontributor penulis cerpen Annida terkumpulkan dalam sebuah komunitas bernama Forum Lingkar Pena (sejak 1999[2]) semakin jelas adanya kesamaan visi antara media dengan para penulisnya.

Novel pertama yang terbit dan mengawali Ispolit adalah Pingkan karya Muthmainnah alias Maimon Herawati yang juga salah seorang pendiri FLP. Adapun, cerpen yang populer pada generasi pertama ini adalah Ketika Mas Gagah Pergi karya Helvy Tiana Rossa yang kemudian diikuti oleh penerbitan-penerbitan lainnya. Keduanya diterbitkan oleh penerbit Asy-Syaamil (penerbit pertama yang menyokong pergerakan Ispolit). Setelah itu, muncullah pengarang-pengarang lainnya yang senapas dengan kedua karya tersebut. Muncul Izzatul Jannah, Asma Nadia, Muthi Masfuah, Sakti Wibowo, Afifah Afra Amatullah, Nurul F. Huda, Novia Syahidah, Sinta Yudisia, Agustrianto, dan banyak lagi yang lainnya.

Semua karya ispolit tersebut lahir dari pengarang yang memiliki visi yang relatif sama yaitu dakwah lewat tulisan. Dan memang, latar belakang semua pengarang tersebut adalah di lembaga-lembaga dakwah baik sekolah, kampus, maupun perusahaan bervisi Islam. Hal ini kemudian dikukuhkan pada AD-ART FLP yang menjadikan Islam sebagai asas. Begitulah, ispolit, terus diproduksi sampai saat ini. Di antara semuanya yang kemudian booming adalah Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El-Shirazi (mantan ketua FLP Mesir) yang sekarang menjadi pengurus di Badan Pengurus Pusat FLP.

Setelah booming karya FLP lewat penerbit-penerbit yang mengikuti jejak Asy-Syamil, muncullah karya-karya Ispolit yang bukan dari komunitas FLP. Mereka memanfaatkan pasar dengan mengikuti tipikal karya FLP sampai ke hal-hal yang kecil.

2. Sastra sebagai Model Representasi

Lewat aspek kedua inilah Ispolit lahir. Yang saya maksudkan dengan model representasi adalah aspek pragmatik. Lewat analisis penikmat sastra alias pembaca sebuah karya sastra bisa terlihat identitasnya.

Majalah remaja Annida pada akhir tahun 90-an adalah majalahnya para anak rohis dan mahasiswa aktivis muslim. Lewat pintu itulah Annida menyebar dan menemukan pembaca yang semakin meluas, tetapi akar utamanya adalah remaja aktivis Islam. Begitupun setelah ispolit disambut baik oleh penerbit pembaca utamanya semakin merasa terwakili. Cerpen-cerpen terbaik Annida kemudian diterbitkan oleh Pustaka Annida dan penerbit lainnya. Cerbung-cerbung dan serial majalah Annida dan Ummi juga kemudian diterbitkan.

Masyarakat yang merasa terwakili oleh karya-karya tersebut tentu saja menyumbang identitas bagi karya tersebut. Semakin-hari semakin meluas memang, apalagi setelah boomingnya Ayat-Ayat Cinta. Itu semua, menurut saya sebuah keberhasilan  rintisan dakwah lewat Ispolit sejak akhir 90an. Semakin banyaknya pembaca yang merasa terepresentasikan memang akan semakin plural dan menyumirkan identifikasi sehingga pada akhirnya ada beberapa kategori pembaca; pembaca yang representatif dan pembaca yang ternegosiasi.

 

3. Sastra sebagai produk Industri

Ispolit lahir saat berbagai aspek kehidupan mulai bebas dilakukan. Ispolit lahir setelah tumbangnya Orde Baru. Ispolit lahir saat reformasi bergulir, bahkan ikut menggulirkan reformasi. Ispolit lahir saat berbagai aspek kehidupan secara bebas diislamisasi. Perbankan syariah, pendidikan Islam terpadu, Parpol berazaskan Islam, penerbit-penerbit Islam, dan sebagainya. Jadi, Ispolit lahir saat budaya literasi juga berusaha diislamisasi. Karenanya istilah islami bukan berdiri sendiri pada karya sastra yang saya canangkan, tetapi memang kondisi industri penerbitan pun berada pada jargon dan jalur tersebut.

Berkibarnya Asy-Syamil yang kemudian berubah menjadi Syaamil dan sekarang Penerbit Sygma Arkan Leema adalah berada pada ruang tersebut yang kemudian diikuti oleh penerbit-penerbit lain yang memberi peluang pada para penulis Ispolit. Di sana ada Mizan, FBA Press, Era Intermedia, Pustaka Annida, Gema Insani Press, Zikrul Hakim, Senayan Abadi, Republika, dan masih banyak lagi. Adapun kemudian penerbit yang bukan bervisi Islami kemudian mendirikan lini fiksi Islami adalah fenomena akhir-akhir ini. Tentu saja setelah melihat peluang kapital yang lumayan. Akhirnya Gramedia, Gagas Media, dan yang lainnya ikut membuka lini tersebut. Di sinilah negosiasi dimulai.

 

4. Sastra sebagai Alat Negosiasi

Saya pikir poin keempat adalah poin puncak dan terpenting karena pada titik inilah sebuah identitas mendasar terlihat. Sastra yang dilabeli sesuatu pada dasarnya menegosiasikan label tersebut. Sastra Wangi, semestinya menegosiasikan aspek ketubuhan, Sastra Islami, berarti di dalamnya terdapat negosiasi nilai-nilai Islam disadari atau tidak disadari oleh penulisnya.

Untuk Ispolit hal-hal yang dinegosiasikan tidaklah terlalu sulit dicari. Tentu saja karena sifatnya yang popular. Dan hal inilah yang kadang menjadi kritikan pedas bagi para penulisnya bahwa mereka terlalu verbal bernegosiasi bahwa mereka sedang menulis karya sastra bukan sedang berkhutbah dan sebagainya.

Kejelasan unsur-unsur negosiasi inilah yang menurut saya justru menjadi citra utama. Justru jika negosiasi itu semakin tersembunyi dan susah dilacak bukan lagi Ispolit. Adapun mengenai bagus tidaknya sebuah negosiasi dikemas itu adalah hal lain. Jadi, selama negosiasi ini masih ada, selama itu pula istilah ispolit masih bisa dipertahankan. Karenanya, para penulis ispolit yang masih konsisten mereka bukan menurunkan isi negosiasinya, tetapi meningkatkan atau mendewasakan cara bernegosiasi. Adapun mengenai apa saja hal yang dinegosiasikan, tidak akan saya bahas pada tulisan ini.

 

III

Sastra Popular Islami menurut saya adalah sebuah jenis karya sastra popular yang keberadaannya harus dipertahankan. Bukankah dengan berkarya sastra umat islam akan kreatif dalam berwacana. Umat Islam pun secara sadar memerlukan wawasan untuk terjun dalam dunia kreativitas tersebut. Di situlah letak pendidikannya. Dengan menulis perkembangan pemikiran akan terdokumentasikan walaupun dalam bentuk sastra. Bahkan, justru dengan bentuk sastralah negosiasi akan dengan leluasa dilakukan (bahasa lain dari ideologi Seno). Namun, ada sebuah ancaman bagi keberadaan Ispolit dan sifat-sifatnya. Itulah pasar. Dialah budaya masssa. Adalah banalitas.

Ya, kecenderungan ke arah tersebut sudah sangat jelas terjadi. Ketika penulis telah mengikuti tawaran bukan menawarkan, saat penerbit Islam mengikuti arus bukan memperbaharui kreativitas, saat kuantitas dan kapital menjadi dewa, saat euforia keberhasilan menjadi penyakit hati, saat itulah nilai-nilai yang dinegosiasikan akan menjadi ironi. Saat itu pulalah label Islami dipertanyakan.

Memang budaya pasar memungkinkan adanya epigonisme. Karenanya para penulis Ispolit harus segera membuat kreasi baru. Saat Ayat-Ayat Cinta meledak, hampir semua produk serupa dengannya, hampir semua penerbit memesan karya kepada penulis dengan syarat kesamaan dengan AAC. Dan bila ispolit terjebak pada simulakrum industri tersebut negosiasi yang dilakukan telah sangat banal dan tak menyentuh lagi. Wallahu’alam.

 

Bandung, 20 Maret 2008

 

 

 

 

[1] Makalah ini disampaikan pada acara Diskusi Cakrawala FLP Bandung, Sabtu 22 Maret 2008.

[2] FLP sendiri lahir pada 21 Februari 1997, salah satu pendirinya Helvi Tiana Rossa adalah redaktur majalah Annida.

Mawar Warna-Warni

Mawar Warna-Warni

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

Halaman rumah itu penuh mawar. Warna-warni. Terlihat sangat segar walau terik sinar matahari, bila siang.Setiap larik sinarnya seperti dihimpun oleh mawar-mawar itu kemudian dipantulkan pada setiap yang melihat menjadi semacam keindahan tak terkirakan. Semacam pelangi hadir di sana. Belum lagi jika angin iseng menyentuhnya. Tangkai-tangkainya menari. Satu dua helai daun gugur. Halaman rumah itu pun semakin bercahaya karena berbaur dengan warna lantai kramik putih bertekstur.

Sebenarnya tidak hanya mawar yang ada di halaman rumah itu, tapi karena mawar yang paling banyak, bunga-bunga lain seperti tersisihkan. Bugenvil juga ada, krissan, Anggrek, beringin putih, dan ki hujan. Keberadaan mereka tersaput, tapi tetap memberi warna. Keindahan halaman rumah itu memang utuh apalagi dipadukan dengan warna dinding luar yang merah bata dan kusen-kusennya putih tulang. Pokoknya setiap orang yang lewat akan memperlambat jalannya jika lewat rumah itu.

Rumah itu menghadap timur. Karena itu, bila pagi menjelma cahaya matahari seperti tumpah di sana. Dan pada saat seperti itulah sang pemilik rumah menyiram mawar-mawar itu. Lalu mawar itu seperti berterima kasih dengan mengangkat tangkainya menantang hari dengan memancarkan indah warnanya. Sekali lagi orang yang lewat akan memperlambat jalannya pada momen seperti itu. Namun, tidak untuk Gani. Ia bahkan akan menyeret istrinya bila kebetulan berlambat-lambat di depan rumah itu. Di depan mawar warna-warni itu.

Keindahan yang dipancarkan mawar-mawar itu bagi Gani adalah semacam momok yang sangat menakutkan semacam teror bagi diri dan keluarganya semacam detak-detak bom yang akan meluluhlantakkan.

“Kau bukan melihat mawar-mawar itu, kan?” tanya gani pada istrinya.

“Saya melihat mawar-mawar itu, sungguh.”

“Aaah, bohong besar. Kau harus jujur padaku?”

“Akang. Kenapa Akang tiba-tiba jadi marah?”

“Karena kau bukan melihat mawar-mawar itu.”

“Saya melihat mawar-mawar itu seperti Ceu Eni melihatnya seperti si Ida juga melihatnya, bahkan seperti Akang melihatnya.”

“Aku tidak melihat mawar-mawar itu. Aku melihat hantu di sana.”

“Tuh, kan. Berarti Akang yang tidak melihat mawar-mawar itu, bukan saya.”

“Ya, tapi Akang yakin kamu juga melihat apa yang Akang lihat. Kamu tahu Ceu Eni dan si Ida tidak hanya melihat mawar itu.”

“Akang tahu dari mana?”

“Mereka bilang ke suami mereka. Suami mereka bilang ke Akang. Mereka tidak hanya melihat mawar-mawar itu. Mereka bahkan tidak mau melihat mawar-mawar itu.”

“Lalu apa yang mereka lihat? Dan apa yang Akang lihat?”

“Hantu, teroris, bom.”

***

 

Lalu menyebarlah gosip bahwa mawar warna-warni itu adalah sebenarnya hantu, teroris, dan bom. Gosip itu begitu cepat menyebar seperti wabah penyakit. Dan semua terjangkit. Semua sakit. Semua mengerang. Semua meradang. Lalu gang itu pun macet oleh tubuh dan jiwa penasaran. Mereka berkumpul di depan rumah Gani. Mereka semua adalah para suami. Suami dengan wajah penuh kerut dan tanya. Sementara, para istri sembunyi di kamar-kamar mereka sambil mendekap anak-anak mereka. Mereka takut dengan  sesuatu yang bakal terjadi. Mereka bahkan berpikir harus pergi karena yang menyebabkan suami-suami mereka seperti itu adalah mereka, tapi mereka tak kuasa melawan ketentuan. Mereka adalah istri, mereka harus ikut suami, mereka harus menjaga anak, mereka harus meredam diri. Akhirnya hantu itu betul-betul menampak di mata mereka. Teror itu sangat nyata. Bom itu tengah menghitung waktu.

“Bagaimana kalau kita cabuti mawar-mawar itu?”

“Setujuuu… kita cabutin aja.”

“Bagaimana kalau kita bakar mawar-mawar itu?”

“Yaaa… kita harus bakar mawar-mawar itu.”

“Bagaimana kalau mobil yang dekat mawar-mawar itu kita bakar juga?”

“Sepakat … kita bakar juga mobil sedan itu.”

“Bagaimana kalau sekalian saja dengan rumahnya.”

“Wah…betul betul kita harus habiskan semuanya.”

“Ayo kita berangkat. Bawa senjata yang kalian miliki. Parang, pacul, linggis, minyak tanah, korek api, batu, dan apa saja.”

“Ayoo… kita usir hantu itu, kita ganyang teroris itu, kita matikan bom itu.”

Bagai air bah mereka bergerak menyusuri gang sempit yang di kanan kirinya bergelantungan cucian basah yang lalat-lalat merubungi tong-tong sampah di depan setiap rumah yang cat-cat temboknya terkelupas seperti sebuah luka.

***

 

Sambil menyirami mawar-mawar berseri sang istri bertanya pada suaminya.

“Pi, kapan kita akan mengundang tetangga untuk syukuran rumah baru kita ini?”

Sang suami yang sedang mengelap kaca sedannya menjawab.

“Ah, kayaknya Papi sukar meluangkan waktu. Harusnya Mami yang merencanakan acara itu, tapi apa penting, Mi?”

“Ia, sih Mami pikir juga kita ngak usah repot-repot mengeluarkan biaya ini itu. Mending buat beli lukisan ya, Pi. Ruang makan kita kan belum di kasih lukisan.”

“Papi sepakat, Mi.”

Mentari bersinar lembut ke arah rumah itu. Mawar warna-warni tak jemu mereka pandangi. Keindahan yang sempurna. Namun, mereka tidak tahu apa yang bakal terjadi.

 

Depok, 5 Ramadan 1425 H.