Flash News
  • INGATAN Ingatan   Daun yang melayang di atas kepalamu bisa diingat oleh burung di dahan itu Kau yang sedang menggenggam buku sejarah dan (merasa) paham tentang…
  • Berharap Berharap Setiap hari kita berharap. Pada siapa pun pada apa pun. Setiap detik kita ditumpuk harapan tentang siapa pun tentang apa pun. Setiap harap ada…
  • Dingin Dingin Aku didekap cuaca yang membisikkan hoaxhoax politik tanpa ampun Aku disekap wacana yang menggidigkan nalar tanpa ampun Aku diserap angkara yang meracaukan dugaan dan…
  • Lari Lari Menuju titik mana lesat itu? Yang kaucari taksembunyi sesungguhnya.  Pada yang tergesa ada lupa dan gelap mata; kau yang meninggalkan inti terus meretas tanya Menuju…
  • MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH MENGGUGAH GUNDAH, MENGUNGGAH MADAH[1] Oleh M. Irfan Hidayatullah   /1/ Menggugah              Puisi acapkali diperlukan untuk membangkitkan keterlenaan, keterpurukan, ketersesatan kebingungan, kebebalan, dan ke-an ke-an…
Materi Kuliah / Puisi

PANGGIL AKU, PUISI

PANGGIL AKU, PUISI

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

Aku hidup dari darah bahasa. Ibuku kehidupan, Ayahku kebijaksanaan. Aku sangat menyukai ruang sunyi perenungan. Pada ruang itu aku hidup bagai cendawan. Aku menyukai orang yang di jiwanya banyak pertanyaan. Aku akan betah tinggal di dalam diri mereka dan bahkan jadi bagian dari hidup mereka. Aku dilahirkan dari proses persatuan antara kehidupan dan kebijaksanaan. Dan perwujudanku adalah kata. Kepalaku kata, tubuhku kata, inderaku kata, dan bahkan jantungku adalah kata. Bila kata takada, aku takada.

Kau bisa menemukanku dengan sangat mudah seperti para ulama menemukanku sebagai teman mereka atau seperti orang yang kemudian menyebut dirinya penyair. Ehm, aku nggak suka sebenarnya dipenjara oleh orang yang disebut penyair itu karena aku merasa milik siapa saja. Sungguh, aku milik siapa saja atau aku bisa bersahabat dengan siapa saja. Dengan dirimu? Tentu saja bisa. Percayalah, aku bisa menjadi bagian dari dirimu, pada setiap peristiwa dirimu. Aku bisa hadir pada rasa dirimu.

Betul! Aku tak hanya hadir pada saat sedih, putus asa, atau jatuh cinta. Aku bisa hadir saat kau biasa-biasa saja, saat kau terlena, atau saat kau merasa geram akan sesuatu. Ya, ruang kehadiranku banyak sekali sehingga wujudku pun banyak. Aku bisa berwujud sebuah kritikan, sanjungan, permainan, atau bahkan cacian. Wujudku pun bisa terang, remang-remang, atau gelap. Maksudnya, aku suatu saat bisa sangat mudah dimengerti, bisa sedikit memerlukan penafsiran, dan bisa juga akan membawamu pada lorong  pencarian makna yang dalam. Aku pun bisa bericara tentang kebangsaan, kepedulian sosial, cinta profan yang  melenakan, cinta suci yang menggetarkan, atau apa pun yang kau maksudkan agar aku menyampaikan pesan.

Suatu saat orang yang bernama Kuntowijoyo melahirkanku seperti ini:

Ya, Allah. Taburkanlah wangian

di kubur Tercinta yang mullia

dengan semerbak salawat

dan salam sejahtera

 

Aku ingin

jadi pencuri

yang lupa menutup jendela

ketika menyelinap

ke rumah Tuhan

dan tertangkap

Begitulah aku kemudian menjadi bagian dari rasa rindu Kuntowijoyo pada Tuhan. Rasa rindu yang muncul dari keimanan dan upayanya untuk mendekat kepada Sang Pencipta. Tentu saja, aku berbeda dalam mengungkapkan pesan dengan jenis perwujudan kata yang lainnya. Bila dalam kata sehari-hari bisa berkata langsung, “Tuhan, aku ingin dekat dengan-Mu.”, aku mengungkapkan sesuatu dengan perumpamaan-perumpamaan atau metafor atau gaya bahasa lainnya. Karenanya, rasa rindu itu semakin menjelma saat aku dipilih oleh Kuntowijoyo dengan permisalan seorang pencuri yang tertangkap oleh pemilik rumah karena lupa menutup jendela. Sebuah momen ketertangkapan ruhani oleh Tuhan. Bahkan kata mencuri yang bermakna negatif pada titik ini semakin menguatkan upaya nekad manusia untuk bertemu Tuhannya yang berarti kerinduan yang sangat. Dan kata mencuri di rumah Tuhan lebih bermakna religious karena bisa bermakna mencuri rahasia-rahasia kebenaran. Belum lagi saat aku diajak Kuntowijoyo untuk memulai bait puisi ini dengan bersalawat pada Rasulullah Saw. Semakin lengkaplah kedalaman religiusitas dalam diriku.

Oh, iya selain hal tersebut. Aku sepanjang sejarah sebenarnya tidak berubah. Hanya saja, manusia menyebutku sesuai dengan semangat dan kreativitas zaman mereka. Dulu ruhku hadir pada apa yang disebut mantra, syair, pantun, paparikan, geguritan, bahkan tidak hanya dulu sekarang pun aku masih sering dipanggil dengan salah satu nama tersebut. Namun, aku memiliki nama popular, yaitu PUISI, ya, panggil aku, Puisi.

Bandung, 16 Maret 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *