Risalah Wabah #4: Tentang Jarak

Jarak pada masa pandemi menjadi kata yang populer. Ia menjadi sebuah makna yang sangat dekat dengan siapa pun. Sekarang seseorang seperti takberjarak lagi dengan istilah yang di dalamnya terkandung makna ruang dan persona. Sementara itu, pada kenyataannya sekat baru sedang dikukuhkan. Tentu saja dengan terpaksa masyarakat membuat sekat-sekat tersebut. Keguyuban yang ditandai dengan kedekatan secara fisik, kini berbalik, ditandai oleh keberjarakan. Semakin menjaga jarak semakin guyub. Bukankah Keguyuban di dalamnya ada kesalingmenjagaan, ada kehangatan dan kasih sayang. Dengan berjarak seseorang sedang peduli dengan sesama.

Kini, orang yang peduli adalah orang yang menghindari kebersamaan fisikal. Perubahan pola pikir yang mendasar sedang dipersembahkan oleh semesta. Sesuatu yang telah baku dan beku dalam definisi kini dibongkar. Bagi orang-orang yang tidak siap atau belum siap, akan tersiksa dan berprasangka. Tersiksa muncul karena rasa, prasangka muncul karena kebingungan.

Contoh ketersiksaan adalah ketidaktaatan akan aturan untuk tetap di rumah saja. Pembangkangan atau kenekadan untuk melebur kembali pada ruang-ruang publik terjadi karena itulah yang enak dan biasa dilakukan. Logika tidak masuk pada hitungan. Pandemi adalah sebuah istilah gaib yang seolah akan mengerti dan terharu dengan definisi lama kebersamaan. Sebelum jatuh korban, mereka takkan berhenti atau lebih tegasnya sebelum jatuh korban pada lingkungan terdekat takkan berhenti. Melihat korban di layar kaca atau di kampung sebelah seperti mengukuhkan bahwa diri mereka kebal oleh virus Korona, seperti sebuah berkah atas bukti definisi lama tentang jarak. Itulah produksi dari sebuah rasa.

Adapun prasangka muncul dari kebingungan. Keberjarakan yang diharuskan akan membingungkan seseorang yang tidak puas dengan jawaban-jawaban faktual peristiwa. Korban yang terus bertambah, seolah mengukuhkan bahwa ada pihak yang tidak terjangkau yang sedang bekerja. Ada skenario ekonomi, politik, dan budaya untuk mengacaukan dunia. Ada sebuah konspirasi global untuk kepentingan hegemonik. Bagi pihak yang berada pada kondisi ini, biar pun menjadi korban, kesadaran tidak akan kunjung muncul. Ia bahkan, pada titik tertentu, akan mengukuhkan diri dalam hening sebagai pahlawan dari perang konspiratif tersebut. Namun, wacana ini biasanya dibuat oleh seseorang yang relatif logis dan berpendidikan. Prasangka yang dia tebarkan hanya untuk membuat chaos saja. Prasangka yang dipolitisasi di dalamnya mengandung mitos.

Baiklah, kita kembali pada perihal jarak. Definisi baru tentangnya adalah adalah sebuah restarting semesta setelah instal ulang perangkat lunak baru. Ya, tatanan baru muncul sebagai akselerasi kehidupan sehari-hari dengan teknologi yang sebelumnya dimunculkan perlahan sesuai dengan kepentingan industri kapitalistik. Segala yang sudah tersedia dan ditemukan hanya dinikmati oleh sebagian elit saja. Teknologi pertemuan jarak jauh hanya dipakai oleh kalangan tertentu demi kepentingan eksklusif. Masyarakat umum akan diberikan fasilitas itu suatu saat nanti saat ditemukan yang lebih canggih lagi. Bilapun butuh saat ini, biayanya tak terjangkau atau mungkin mereka tidak tahu sama sekali akan adanya hal itu.

Kini, definisi jarak menjadi lain lagi. Boleh jadi seseorang berpisah ribuan kilo, tapi sangat dekat karena teknologi dan tuntutan komunikasi gaya baru. Memang, sisa definisi lama masih ada, tapi perangkat lunak yang sudah diinstalkan ini sedang meminta semesta untuk restart. Setelah kembali normal, nanti akan terpasang fasilitas-fasilitas program baru dari software paling mutakhir yang bisa dinikmati oleh mayoritas masyarakat. Semesta telah bekerja melakukan penyelarasan, atas izin Tuhan tentu saja.

Derwati, 3 Juli 2020

3 Comments

  • Menjadi bagian dari ruang transisi ini kelak akan memunculkan cerita. Namun, paduan antara rencana, logika, dan kegelisahan, hanya akan menabuh sengketa di masing-masing pikiran. Akhirnya, kebanyakan akan memilih: lewati kemarin, jalani saja hari ini, dan lihat esok bagaimana. No plan, no hope, no dream, no pray, no step, no destination.

Your email address will not be published.