Categories
Kritis

Risalah Wabah #6: Sirine

Karena telah terbiasa mendengar sirine, dia takingat lagi kematian. Bahwa memang itu indeks orang yang sakit atau orang meninggal, iya, tapi saking seringnya ia merasa semua telah biasa saja. “Oh, ada lagi korban..” begitu yang tergumam.

Dan, kini, di tengah malam saat bersiap tidur, ia mencoba membayangkan bahwa korban itu dirinya. Namun, sebagaimana pun upayanya tetap saja tawar. Yang sakit lalu mati toh bukan dirinya dan atau keluarganya. Takada kematian mendekatinya. Gejalanya sekalipun tidak nampak. Ia sehat walafiat dan siap tidur nyenyak. Hanya saja ia tiba-tiba ditinggalkan kantuk. Ia kini berpikir bahwa memikirkan tentang kematian hanya karena bunyi sirine itu sangat konyol dan kekanakkanakan. Memikirkan kematian yang belum tentu menjemputnya adalah hal yang tak pada tempatnya. “Kini, semua menjadi bagian dari normal baru.” bisiknya.

Akhirnya ia kini akrab dengan detak detik jam dinding itu. Ia bahkan menyaksikan perpindahan demi perpindahan jarum panjangnya lalu ia membayangkan bagaimana kalau tiba-tiba jarum-jarum itu berhenti. Habis batre mungkin. Macet mungkin. Dan kemungkinan-kemungkinan yang lain. Sementara itu sirine itu tak lewat lagi. “Oh, Takada lagi korban.” bisik hatinya.

Mati ya mati, itu hal yang biasa menurutnya. Seperti sirine yang menghilang aktivitasnya tengah malam ini, detak jam juga bisa menghilang. Bukan hal besar dan mendasar. Mungkin kematian dilalui dengan senyap tanpa tanda.

Hening tak menghentikan pertanyaan yang mengecambah tentang bunyi sirine dan detak detik. Sejuta lebih korban covid 19 berlarian di running text saat ia nyalakan televisi itu. Ia pun berusaha untuk takacuh pada hitungan yang belum tentu benar. Sekali lagi, ia tak mau memikirkan kematian. Sirine hanya bunyi biasa dan jumlah korban hanya angka, pikirnya.

Akhirnya ia mematikan TV dan mencoba berbaring dengan santai. Seperti biasa ia baca doa sebelum tidur. Namun, lisannya terhenti saat diujung doa ada kata kematian. Tidur adalah kematian kecil. Ia semacam sirine bagi kematian yang menjelang. Belum tentu ia bangun lagi besok. “Buat apa aku memikirkan kematian. Aku sehat-sehat saja dan sadar.” gumamnya.

Alarm bangun berbunyi kencang, sementara ia belum memejamkan mata. Ia masih merasa tidak sedang memikirkan kematian. Lapat-lapat sirine terdengar kembali.

“Aku tidak memikirkan kematian,” tegasnya.

Derwati, 31 /1/21