Belajar kepada Para Pembelajar

Perjalanan subuh dari Bandung setelah pertandingan Argentina vs Kroasia membuatku begitu optimistis. Selain, tentu saja karena tim Argentina menang 3:0 atas lawannya, juga karena sekira pukul sembilan aku akan dipertemukan dengan puluhan remaja kreatif di Kota Bogor.

Ya, perjalanan selama hampir tiga jam itu kutempuh dengan riang dan lesat. Kantuk yang seharusnya muncul dan mengganggu aktivitas menyetirku seolah terlupakan. Ada pandangan ke depan dan jejak kebahagiaan yang menemaniku. Walaupun ditempuh tanpa musik karena hp rusak, perjalanan itu seperti membuatku menjadi penuh nada dan ketukan. Aku bahkan serasa menjadi analog, manual, sekaligus natural.

Aku yang terbiasa dimanjakan streaming Apple music, Spotify, dan YouTube Music, kini tanpa teman. Sekali lagi, seharusnya aku ngantuk karena melek sejak pukul 02, tapi saat itu bahkan terasa cerah dan penuh energi. Aku pun bersenandung sepanjang perjalanan sambil menghapal lagu-laguku sendiri.

Dikerumuni energi, seusai pelatihan menulis cerpen di
SMPN 1 Bogor.

Tahukah kamu, proses bernyanyi tanpa alunan musik itu membuatku mawas akan beberapa hal. Pertama, aku dihadapkan pada keharusan mengingat lirik lagu yang sering kulupa. Kedua, aku juga dituntut untuk mendengarkan suara sendiri dengan jelas sehingga perlu produksi nada yang tepat dan merdu. Ya, akhirnya aku berlatih bernyanyi, berimprofisasi, dan sekaligus menjadi pendengar segala yang kulantunkan sendiri.

Semua proses ini berjalan tanpa kendala. Mobil serta lalu lintas tol Cipularang dan tol Jagorawi seolah menjadi panggungku. Begitulah lagu demi lagu yang telah kubuat dengan proses panjang kreativitas itu kudendangkan sendiri. Kadang, di sela-sela upaya menangani keterbatasan vokal karena jarang berlatih, aku teringat semua proses kreatif itu. Sejak menulis lirik, membuat lagu, mendiskusikan komposisi yang pas dengan para arranger, dan menjalani segala tetek bengek proses perekaman. Aku adalah segala proses itu pada perjalanan menuju kota hujan.

Dan takterasa sampailah aku di pintu tol Bogor. Memang beberapa kali sempat berhenti untuk mengisi e-tol di ATM, mengisi bensin, dan membeli roti juga kopi. Namun, sekali lagi, perjalanan itu begitu tak terasa dan tak terduga karena estimasi waktu yang ditempuh begitu cepat. Pukul 07.30-an aku telah sampai tujuan.

Begitulah, sambutan dari pihak SMPN 1 Bogor semakin membuatku hangat, apalagi saat sudah berada di tengah-tengah siswa pilihan. Mereka dengan antusias hadir dan berproses bersama. Ada Radit, Dika, Gadis, Cicil, Nezhar, dan banyak lagi yang berdiskusi, bertanya, dan juga kemudian membacakan cerpen mereka.

Sungguh, aku belajar kepada para pembelajar itu tentang betapa proses berat bisa dilalui dengan mudah dan menyenangkan. Cerpen-cerpen yang secara spontan mereka tulis adalah monumen antusiasme itu. Teori dan motivasi yang kujelaskan terlampaui karena mereka seolah menyatu dengan irama dan ketukan proses kreatif serupa dengan proses perjalanan Bandung-Bogor yang kulewati begitu saja.

Ya, proses yang dilalui dengan hati akan selalu membahagiakan dan menghasilkan. Cerpen-cerpen siswa yang suatu saat mewujud buku adalah semacam nyanyian perjalanan menuju satu titik masa depan.

Bandung, 15 Desember 2022


Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *