Novel ini menularkan semacam rasa yang mengejutkan, mungkin rasa pedas pada lidah atau rasa pedih pada mata. Berarti novel ini sebuah benda yang menawarkan sebuah nilai kontras. Ya, memang demikian. Selain secara estetis, novel ini juga bernilai baru secara filosofis. Karenanya, saat saya membacanya saya cukup berjuang keras untuk menemukan kenikmatan badaniah (meminjam istilah Barthes) yang selama ini telah mendarah daging pada sebuah proses pembacaan karya sastra Indonesia.
Novel ini menantang untuk selalu ditafsirkan karena kebaruannya tersebut. Bagaimana tidak, saat strukturnya mendompleng pada struktur sebuah kamus, saya diajak untuk berpetualang pada dua konvensi; kamus sebagai tanda dan novel sebagai tanda. Konsekuensi dari itu semua adalah keterbataan pembacaan. Memang, dengan memakai struktur kamus (yang cenderung menuntun dan informative) saya seharusnya bisa lebih mudah membaca, tetapi ternyata tidak. Peter Zilahy justru mengembalikan makna kamus pada akar filsafat kebahasaan yang tak bisa menghindar dari metafora atau bahasa adalah sebuah metafora. Karenanya, makna menjadi liar dan tak berbatas. Bila pengarang tidak menyadari pentingnya sebuah narasi, ia takakan bisa menyelesaikan novel ini karena ketakberbatasan itu.

Ya, pengarang novel ini betul-betul memanfaatkan potensi bahasa sebagai estetika kekaryaan sehingga ia seperti bermain-main dari ketakberbatasan tersebut. Ada beberapa teks yang merujuk pada hal tersebut, misalkan saat ia berbicara tentang dunia yang bulat sehingga siapa pun yang mencari ujung akan kembali ke awal, juga tentang takada bedanya antara fiksi dan realitas, atau sejarah dengan karya sastra, aku dengan selain aku, seni dan kehidupan, dan lain-lain. Novel ini bermain pada titik itu. Dan karena titik itu pulalah saya merasa betah untuk melanjutkan baca. Saat yang ia bicarakan adalah Hungaria dan keruntuhan kediktatoran di Eropa Timur, saya merasakan sedang membaca pada ruang ke-Indonesiaan. Begitu pun saat ia melanglang buana ke teknologi, olah raga, dan seksualitas, saat itu pula ia seolah tidak sedang membicarakan itu semua secara personal tetapi kehidupan secara umum. Saya menjadi ia, begitupun ia menjadi saya.
Inilah mungkin yang mengarahkan saya pada sebuah paradigma dekonstruksinya Derrida, saat Derrida berupaya menggeser makna parole dari bunyi ke aksara, dari tuturan ke tulisan. Dari sana, ia beranjak menunda setiap makna yang sebelumnya telah dianggap selesai. Ia menghancurkan pusat, ia menghancurkan fonosentrisme dan logosentrisme sehingga makna terus-menerus diproduksi karena penundaan-penundaan itu. Hal ini, berarti bahwa novel ini berbau dekonstruksi. Ya, memang demikian saat secara eksplisit ia menyerang teori dikotominya strukturalisme dengan mempermainkan kata-kata yang dikotomis itu dalam sebuah narasi yang liar. Pada satu pragmennya ia berbicara tentang hitam-putih, baik-buruk, aku-mereka, demonstran-polisi penjaga huru-hara, dan berbagai relasi dikotomis dengan mengarahkannya pada kerelatifan. Begitupun ia mendekonstruksi makna kata bebas sebagai makna yang relatif bergantung siapa yang menggunakannya. Kebebasan adalah sebuah mitos baru yang ia dekonstruksi.
Sebenarnya, novel ini menjadi utuh maknanya bila perangkat kebahasaannya tidak bergeser karena proses penerjemahan. Namun, sayang itu tidak bisa terjadi karena novel ini (seolah) harus berkelana menjauhkan diri dari tempat lahirnya. Sebuah konsekuensi dari keglobalan yang tidak bisa diantisipasi. Salah-satu kasus yang paling mendasar adalah tentang makna kamus itu sendiri dari ablaq- zhiraffe, ke windows-giraffe, ke jendela-jerapah. Tentu saja makna metonimi Aablaq-Zsiraf (A-Z) menjadi hilang karena W-G, atau J-J, bukan lagi makna utuh kamus seperti kamus Hungaria yang mencoba diwakilinya. Konsekuensi logisnya adalah ada sebuah upaya pemaksaan makna yang sama sekali sangat represif . Pada titik ini, makna poetik novel ini gagal. Begitu juga pada beberapa upaya untuk memasukkan lema bahasa Indonesia pada rumpang bahasa berkonvensi Hungaria ini. Apalagi, saat novel terjemahan Indonesia ini diterjemahkan dari novel bahasa Inggrisnya yang sebelumnya telah mereduksi makna awal tersebut.
Dari semua itu, saya ternyata tak bisa menolak novel ini karena ada satu hal yang menghubungkan aspek tematik sebagai transmisi amanat yang ingin disampaikan oleh Zilahy. Ya itu tadi, saya menemukan keterhubungan kasus antarbangsa. Dalam Imajinasi saya, tokoh aku yang hadir adalah seorang saksi sejarah reformasi Indonesia atas rezim Orde Baru. Novel ini, pada akhirnya hanya semacam nostalgia dengan cara yang mengejutkan; bisa pedas atau juga pedih.