Kita sering paham bahwa jam dinding di kamar dan di ruang tamu itu dipercepat 10 menit. Ya, bukankah itu dibuat untuk melayani bawah sadar kita tentang waktu yang memburu. Hanya saja, kadang pada kenyataannya, untuk yang satu ini, kesadaran konsisten hadir.
Dan beginilah akhirnya. Kita tergesa menuju halte itu. Pada menit-menit sebelum 06.30 dengan terengah kita sampai juga. Dan kubuatlah tulisan ini, sementara bus datang agak terlambat.
Saya sih tidak bingung dengan permainan ruang kesadaran ini. Toh, pada waktu tertentu acapkali saya lupa bahwa jam dinding itu disetting lebih cepat. Namun, yang jadi masalah adalah saya tidak mau menyalahkan kesadaran. Bahwa kesadaran adalah kondisi tertinggi sebuah kebaikan, padahal..
“Siasat waktu itu harusnya tidak kamuflatif” katamu setelah kita duduk pada bangku belakang bus. “Besok kau harus kembalikan jarum jam itu pada waktu yang semestinya.”
Kau mengakhiri kalimatmu dengan lirih dan liris; tajam serupa belati.
Dalam lubuk hati dan lubuk nalar terdalam aku sepakat dengan usulmu. Yang jadi masalah lupa adalah sifat dasarku. Sekarang mungkin sedang waras. Besok?
(Dari senyum sinis itu aku tahu pikiranmu tentangku).
Cinunuk, 20/5/25