Secangkir Kopi, tentang Kota, dan Hujan Sore

Hampir delapan kota telah kita lewati dalam tiga hari ini. Tak ada catatan selain foto dan video yang menanti ditakariri. Ya, tidak ada kesempatan untuk duduk dan menulis seperti saat kita naik bus ke kampus.

Bandung-Sumedang-Majalengka-Cirebon-Kuningan pada Kamis telah membawaku pada simpulan betapa perjalanan adalah bukan tentang jarak, tapi tentang cara membaca. Apa yang bisa kau baca pada kota-kota tersebut akan membuatmu mengerti melampaui keluhan tentang cuaca. Saat kota dijadikan teks, di sana akan ditemukan narasi yang membuatmu takjub. Kota mana pun. Karenanya Cirebon, Kuningan, Majalengka, dan Sumedang, tak bisa digantikan oleh Bandung seistimewa apa pun Bandung. Begitu pun sebaliknya. Kota dan para penduduknya adalah teks dan para pembaca setianya.

Begitu pun saat kita menuju salah satu kota tempatku dibesarkan (Pangandaran). Bandung, Garut, Tasik, dan Ciamis adalah teks-teks terbuka. Walau sekali pun kau tidak menjejakkan kaki karena hanya lewat dan memburu waktu, aspal yang kau rasakan dari mobil itu memberi sebuah pemahaman. Apalagi saat kau lihat pohon-pohon, bangunan, dan manusia- manusia di tepi jalan. Terlebih saat kau berkesempatan turun berbincang dan mencicipi makanannya atau berwudu dengan air tanahnya. Semua adalah teks terbuka untuk dimaknai.

Dan sore ini, kita menikmati hujan bersama secangkir kopi pahit dan catatan ini. Namun, di telinga ini lewat beberapa lagu yang diciptakan Billie Joe Amstrong dkk dalam album Green Day terbaru yang berjudul Saviors. Pada album ini ada dua lagu yang pedas tentang Amerika dan kehidupan kota di sana, yaitu “The Americn Dreams Is Killing Me” dan “Coma City”. Keduanya adalah pembacaan Green Day tentang negara dan kota-kota di dalamnya yang problematik tingkat dewa. Namun, sampai saat ini mereka adalah warga kota di AS dan “mencintai” tempat tinggal mereka. “American Ideot” yang mereka ciptakan sebelum dua lagu pedas tersebut bisa jadi adalah autokritik dan tanda cinta atas negara dan kota yang terus dibacanya.

Membaca kota bisa jadi pahit seperti kopi tanpa gula, tapi karena kota adalah teks dan memberi pemahaman seperti juga kopi, efeknya adalah “keterjagaan”. Nada terhadap kota dalam sebuah lagu tidak akan melulu merdu apalagi saat seseorang jujur membacanya.

Derwati, 31/5/25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *