Transformasi Sastra, Sastra Transformasi : Mengintip Negosiasi Sastra atas Industri Kreatif

Oleh M. Irfan Hidayatullah

I

            Sastra bisa bertransformasi ke bentuk seni lain. Sastra dalam hal ini adalah bahan dasar kreativitas seni berikutnya. Sastra bisa berubah menjadi bentuk lainnya sesuai keinginan peng(g)ubahnya. Sastra adalah sebuah inspirasi bagi para transformator seni. Sastra adalah titik pijak, titik berangkat; sastra adalah ideologi dalam hal ini.

            Saat sastra ditransformasikan, ia menjadi realitas yang diacu oleh para peng(g)ubah itu seperti kehidupan diacu oleh sastrawan. Ini terjadi, karena sastra lebih dekat dengan kehidupan. Ia realitas sekunder dari realitas primer kehidupan.  Ia adalah representasi dari ranah sehari-hari yang kemudian (kelak) akan menjadi sejarah. Saat sastra jadi acuan primer seni lainnya, ia menjadi ideologi bagi seni tersebut.

            Transformasi sastra bermakna representasi sastra dalam bentuk seni lain yang karenanya seni tersebut sangat terikat dengan narasi yang dimiliki sastra. Karena sastra kemudian menjadi ideologi seni berikutnya, ia menjadi parameter penafsiran berikutnya. Tak jarang sebuah seni hasil transformasi dari sastra mengecewakan penikmatnya karena tak bisa mewakili artikulasi sastra yang (seolah) tanpa batas.  Hal ini serupa dengan kekecewaan para pembaca sastra saat sastra gagal mengartikulasikan realitas kehidupan lewat bahasa.

            Banyak seni lain yang bertransformasi dari sastra, sejak lukisan sampai film. Ilustrasi cerpen pada sebuah koran, misalnya, adalah sebuah bentuk penafsiran illustrator dari cerpen yang terpilih pada sebuah Minggu. Dalam hal ini Kompas kerap membuat pameran  lukisan ilustrasi tersebut dan mendiskusikannya. Tentu saja diskusi tersebut tidak lepas dari karya sastra yang ditafsirkannya; tentang beragam tafsiran yang mungkin bahkan tentang nilai kritik dari lukisan tersebut pada karya sastranya.

Selain ilustrasi atau seni lukis bentuk transformasi sastra yang paling popular adalah film.  Fenomena ini termasuk paling industrial sifatnya karena tak jarang berhubungan dengan faktor metasastra yang menjadi pemicunya (baca: pasar).  Semakin laku sebuah novel semakin besar kemungkinan novel tersebut ditransformasikan. Namun, sekali lagi, karena sastra adalah ruh dari film tersebut, masyarakat tetap menjadikan acuan estetikanya pada sastra. Wujud ekranisasi (penamaan bagi transformasi dari sastra ke film) sering kali tidak bisa mewadahi citraan yang dibuat lewat bahasa sastra yang (seolah) tanpa batas itu. Dalam hal ini ada negosiasi antara imajinasi kesastraan dengan teknologi perfilman. Wujud dari negosiasi ini adalah karya sastra juga, yaitu skenario yang layak dan rasional untuk difilmkan. Jadi, pergeseran estetika sudah terjadi sejak awal dan inilah yang acap kali mengecewakan harapan para apresiator. Lebih seru novelnya dari pada filmnya, ujar mereka. Namun, ada juga yang sebaliknya, saat sebuah produksi film dibuat dengan kesadaran penuh sebagai tindak tafsir atas sastra, film tersebut mendapatkan apresiasi positif dari masyarakat. Atau saat sebuah produksi jor-joran ingin menampilkan film sesuai dengan gambaran realitas dalam sastra dengan dukungan budget dan teknologi yang memadai, tak jarang masyarakat menyambutnya dengan positif.

Musik juga ada yang bertransformasi dari karya sastra, yaitu ketika lirik sebuah lagu diambil dari sebuah puisi atau ketika garapan musik adalah penafsiran dari sebuah puisi dan menjadikan puisi tersebut sebagai liriknya.  Fenomena ini oleh kalangan praktisinya sering disebut musikalisasi puisi. Genre seni yang sangat jauh dari industri ini sampai hari ini tetap bertahan dan dinantikan oleh apresiator tersendiri bahkan ada kelompok yang menjalaninya secara professional seperti kelompok Deavis Sanggar Matahari dari Jakarta. Selain musikalisasi puisi ada juga fenomena kerja sama antara penyair dengan musisi dan penyanyi sebagai salah satu bentuk dari transformasi karya sastra. Namun, pada yang satu ini keberadaan puisi bisa hadir bersamaan dengan lagunya. Penyair adalah pembuat lirik sehingga kepuisian masuk pada ruang popular lagu dan musik. Kerja sama antara Taufiq Ismail dengan Bimbo adalah salah satu contohnya.

Pada hemat saya, ketiga contoh tersebut adalah bentuk transformasi karya sastra menjadi karya seni lain yang secara industrial sebenarnya bisa lebih digarap. Diperlukan sebuah gerakan yang bisa berbentuk lembaga industrial yang bekerja sebagai transformator yang kemudian bisa menjadikan sastra sebagai bahan seni lain yang lebih bersifat popular. Hal ini perlu disadari karena  wilayah kreatif sastrawan seharusnya disterilkan dari bias-bias industri terlebih dahulu untuk memberikan kebebasan ruang kreasi.

II

            Saat ini karya sastra juga telah menjadi teks transformasi dari jenis karya seni lain. Novel-novel banyak dibuat setelah filmnya meledak di pasaran, bahkan ada juga karya sastra yang dibuat hanya dari sebuah lagu yang telah popular seperti juga sinetron yang dibuat dari lagu. Karya sastra tersebut saat ini lebih dikenal dengan nama songlit (song literature).

            Fenomena tersebut menandakan bahwa industri kreatif tidak bisa meningggalkan sastra. Karya sastra adalah bagian dari regulasinya sehingga karya sastra dianggap penting untuk menjadi teks penafsir. Memang kecenderungan umum dari fenomena ini adalah hanya memperpanjang napas pasar. Ketika sebuah film atau sebuah lagu laris di pasaran, produser terus menyambungkan napas dalam bentuk lainnya. Karena itu, terkadang sastra transformasi sejenis ini hanya semacam gimmick  saja. Bisa jadi fungsinya sama dengan gimmick-gimmick lain seperti mug, tas, atau kaos. Pada titik ini fungsi sastra sebagai teks penafsir dari karya seni lain terancam. Namun, ternyata di sela-sela rasa pasar sastra transformasi (begitu saya menyebutnya) ada juga yang mencoba tak terpengaruh.  Salah satunya adalah Seno Gumira Adjidarma.

            Saat Seno menovelkan film Biola Tak Berdawai, ia sepertinya sangat menyadari bahwa sastra dengan hakikat kesastraannya bisa membuat narasi film berubah bentuk. Hal ini Seno lakukan dengan mengoptimalkan sudut pandang  (yang sulit diverbalkan dalam film) dan membiarkan kata menjelajah secara imajiner sehingga cerita bisa begitu transenden yang pada titik kemampuan tertentu akan sangat sulit difilmkan.

            Keberanian Seno melawan verbalitas transformasi film ke sastra, menurut saya, mematahkan citra gimmick tadi. Novel Biola Tak Berdawai-nya Seno berpotensi memiliki independensi estetika yang akan memperkaya penonton film Biola Tak Berdawai-nya Sekar Ayu Asmara. Pada titik inilah karya sastra transformasi bernegosiasi dengan industri. Karenanya, perlulah kiranya para penulis novel pesanan dari sebuah penerbit yang bekerjasama dengan produser film mencontoh apa yang dilakukan Seno.

III

            Dua istilah yang dijadikan judul tulisan ini mungkin terasa diada-adakan, tetapi menurut hemat penulis eksistensi keduanya sulit dihindari (diluar penamaan) di tengah maraknya industri kreatif. Karya sastra adalah salah satu bagian dari regulasinya. Bagian dari struktur baru regulasi industri kebudayaan. Hanya saja ada sebuah pertanyaan; sebagai apakah karya sastra hadir. Bisa jadi ia menjadi subjek yang memiliki otoritas ideologis sebagai parameter estetika transformasi karena ialah sebagi teks hipogram atau ia menjadi objek karena berposisi sebaliknya. Namun, pada posisi teks sastra sebagai teks transformasi pun sebenarnya kesubjekan karya sastra masih bisa dibangun seperti yang coba dilakukan oleh Seno Gumira Adjidarma dalam novel Biola Tak Berdawai. Wallahu a’lam.

                                                                                                Bumi Sentosa, 27 Mei 2009

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *