Pada halte aku denganmu menunggu bus itu. Sepertinya kita bisa mencatat sesuatu atas perjalanan tergesa pagi ini. Saat aku melewatkan alarm pukul 3 itu.
“Niat itu telah tercatat” aku yakin kau akan berkata itu. Karenanya sebelum itu terucap kualihkan saja pembicaraan ini dengan hal-hal optimistis.
Aku berhasil olahraga 15 menit, tapi pushupku baru 8 kali. Aku masih 71,2 lkemarin sore. Lumayan kan, untuk pemula lagi, lagi, dan lagi? Kau pasti akan tersenyum mendengar pembelaanku sambil diam-diam bersyukur atas kekembalianku.
“Masalahnya adalah bagaimana setelah pagi ini, setelah hari ini, setelah kesadaran yang ini.” Kau bergumam lirih. Dan aku mendengar dengan jelas. Kelirihan dan kelirisan bagiku ibarat belati; tipis menghujam.
Aku mencari kalimat yang pas untuk menjawab pertanyaanmu yang ini-ini lagi setiap aku memulai kembali. Hmm… apa ya? Mungkin ini saja.
“Kali ini, kita harus menjalaninya bersama. Kau harus bukan hanya komentator dan atau evaluator, tapi juga tutor.” Kubisikkan lirih juga.
Nah lo… kini kau juga terdiam. Meragukan diri sendiri adalah seni keseharian hidup bukan?
Bus sudah mengambil kita dari halte. Kini kita menuju tempat kerja.
Cibiru, 19/5/25
2 Responses
Suara merdu Pak Irfan Kepala Program Bipa Universitas Padjadjaran. Anda adalah inspirasi bagi kita semua. Anda mendalam bidang bahwa akademisi dapat dikombinasikan dengan profesi lain seperti musisi.
Terima kasih, Henry. Semoga tidak lama lagi kita bisa berkolaborasi… Saya suka timbre suara Henry.Saya akan buat lagu regae buat Henry.. atau kalau Henry sudah punya lagu, beri tahu saya ya…☺️