Putaran roda sepeda RB membawa kita menaklukkan pagi. Di sana-sini terlihat orang memakai jersey Persib atau berkaos warna biru, bahkan sekelompok ibu-ibu senam di lapangan parkir sebuah mini market berseragam biru dan tampak ekstra ceria. Ya, semalam Persib telah dikukuhkan sebagai juara Liga I untuk kedua kali dengan jargon Back2back. Dan hari ini akan ada pawai perayaan di kota Kembang ini. Sementara itu, kita hanya menikmati kebanggaan itu dengan berolahraga agar lebih sehat dan kemudian mampu menaklukkan berbagai kontestasi.
“Kontestasi apaan? Jangankan menang, kamu bahkan tertinggal terlalu jauh dalam segala hal!” sindirmu tiba-tiba. Tentu saja aku kaget. Semacam pengkhianatan hadir, pikirku.
“Bukannya mendukung. Malah menjatuhkan mental he he.” jawabku hambar.
“Habisnya.. banyak pekerjaan yang tak kamu tuntaskan. Belum selesai yang satu sudah menerima yang lain. Sistem manajemenmu bermasalah.”
“Iya deh, iya! Aku mengajakmu bugar untuk prima dalam menyelesaikan segala hutang pekerjaan tahu!”
“Baiklah… tapi kamu jangan terlalu semangat dan percaya diri. Biasanya setelah itu pasti ada aja alasan untuk menunda…”
Kau memang paham aku. Pindaianmu dari segala yang aku lakukan takada yang salah. Mungkin karena sepekan ini aku telah tidak mencapai target satu pun dari kegiatan di kalender itu. Dan kau tahu sekali tenggat itu terlbengkalai. Kau tahu juga sebenarnya kegelisahan dan rasa berdosaku atas semua itu.
“Kau harus ngambil jeda.” bisikmu lirih.
“Jeda dari apa?” balasku, sambil terus menggenjot pedal sepeda itu.
“Dari segala hal yang kamu pikirkan dan dari segala kekhawatiran walaupun beralasan dan dari rasa bersalah atas janji yang takjua tertunaikan dan dari segala tuntutan yang takjelas eksekusinya dan…”
“Eiit… nanti dulu… kok banyak dan. Kenapa tidak pakai koma saja? Koma kan jeda dari berbagai rincian itu!” Potongku.
“Itu, maksudku. Sebuah kalimat yang terlalu banyak anak kalimat bisa disatukan dengan hanya membubuhkan koma sebagai jeda. Bukankah tiap-tiap rincian itu adalah anak-anak kalimat yang bisa berdiri sendiri dari subjek dan predikat yang sama?” jelasmu seperti seorang dosen yang sedang meyakinkan mahasiswa bimbingannya.
Saat itulah, pada sebuah belokan, sepeda kita keluar jalur dan ban kecil RB kita menghantam pinggir tajam jalan dan mendadak gembos. Terjejerlah kita, hampir jatuh karena laju cepat yang tetiba dihentikan. Syukurnya segalanya masih bisa dikendalikan.
(Dan di sinilah kita sekarang, setelah menuyun sepeda hampir satu kilo meter untuk mencari tambal ban. Kau benar, aku perlu jeda sebelum dijedakan-Nya. Ada yang harus direnungkan, dirancang dengan benar jalan ke depan itu. Perayaan kemenangan Persib juga mungkin sebuah jeda bagi segala hiruk pikuk kota bernama Bandung dengan segala kesemrawutannya. Bersenang-senanglah dalam jeda ini, sebelum besok kembali berkontestasi)
Gede Bage, 25/5/25