Menempuh (4)

Menempuh (4)

Matahari terbit. Ya, matahari terbit. Sesosok makhluk yang kerap dicemburuinya. Keikhlasan jenis apa yang dimiliki makhluk itu untuk konsisten menempuh? Tanyanya. Sementara itu, dirinya selalu terhalang oleh gelisah yang kadang tibatiba datang dan menginterupsi langkah. Kegelisahan yang jorok. Takkenal tempat takkenal waktu. Serupa residu dari perut dunia yang malahap apa saja.

Dan dia sekarang seolah sedang mengejar makhluk itu. Ke arah timur motor tua yang sering terbatuk itu ia lajukan. Tapi kadang ia menganggap matahari serupa ibu… ibunya. Ya, siapa lagi. Bukankah, itulah satu-satunya alasan ia bertahan?

Di perempatan itu, ia terhenti bersama puluhan motor lainnya. Berderet hampir berhimpitan. Tepat di bawah lampu merah stopan mereka berhenti dan siap balap setelah lampu merah berganti hijau. Tapi, lampu merah itu kini tergantikan oleh silau matahari itu. Benda putih kekuningan terang, seterang-terangnya berhasil mengalihkan ruang di kepalanya.

“Tet teeet tooot…taaat teet toot…” bunyi yang serentak menembus gendang telinganya membuatnya terbangun…

“Rek sare mah di imah we, Bel!!”*

(Bersambung)

 

9 Oktober 2018

 

*Kalau mau tidur di rumah saja!!

One thought on “Menempuh (4)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *