Flash News
  • Aksara Aksara Takada waktu tunggu Makna siap melibasmu Takperlu waktu lama Persepsi akan menebasmu Taksampai waktu berandai Prilaku tlah menginjakmu Kau serupa sesap serupa lesap Sebatas…
  • INGATAN Ingatan   Daun yang melayang di atas kepalamu bisa diingat oleh burung di dahan itu Kau yang sedang menggenggam buku sejarah dan (merasa) paham tentang…
  • Berharap Berharap Setiap hari kita berharap. Pada siapa pun pada apa pun. Setiap detik kita ditumpuk harapan tentang siapa pun tentang apa pun. Setiap harap ada…
  • Dingin Dingin Aku didekap cuaca yang membisikkan hoaxhoax politik tanpa ampun Aku disekap wacana yang menggidigkan nalar tanpa ampun Aku diserap angkara yang meracaukan dugaan dan…
  • Lari Lari Menuju titik mana lesat itu? Yang kaucari taksembunyi sesungguhnya.  Pada yang tergesa ada lupa dan gelap mata; kau yang meninggalkan inti terus meretas tanya Menuju…
Esai

Menulis sebagai Gaya Hidup, Mengapa Tidak?

Menulis sebagai Gaya Hidup, Mengapa Tidak?[1]

Oleh M. Irfan Hidayatullah

 

 

Sungguh, judul yang saya angkat pada tulisan ini terlalu melambung. Bagaimana tidak? saat serbuan budaya instan begitu bertubi, menulis adalah ibarat sebuah kata yang asing dan menakutkan dan penulis adalah sosok misterius yang dipertanyakan masa depannya. Sungguh, judul yang saya angkat ini terlalu melambung, tetapi mengapa tidak?

Begitulah, keseharian kita dipenuhi dengan kelisanan, kelisanan yang tak berbobot, kelisanan yang bukan pantun dan karya folklore lainnya, melainkan gosip. Ya, budaya kita pada ruang instan      adalah bergosip. Budaya berbual yang jauh dari kreativitas. Budaya bercengkrama yang menghasilkan sosok anak bangsa tanpa solusi di kepala. Sementara itu, sebagian dari mereka berteriak-teriak, berdemonstrasi menuntut keadilan, tanpa tahu konsep terbaik sebagai wujud tuntutan.  Mereka tak pernah menuliskannya. Semua hanya ada di kepala. Demo mereka adalah gosip jenis terbaru.

Saya teringat pada ungkapan Taufiq Ismail bahwa negeri ini masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Wow, sebuah idiom yang menohok. Untuk siapakah ungkapan beliau? Jangan-jangan untuk saya dan untuk siapapun di negeri ini termasuk para guru dan dosen. Mengapa tidak? Karenanya, mari kita beranjak dan membuat sebuah perubahan. Sejauh apa pun kesalahan langkah yang kita tempuh, mari kita berbalik arah sekarang juga (meminjam idiom Reinald Kasali).

 

***

Memang, banyak sudah data yang menunjukkan bahwa ketertinggalan dunia pendidikan kita adalah karena ketertinggalan akan budaya menulis para pendidiknya. Ya, bukankah salah satu indikator kemajuan pendidikan adalah banyaknya indeks sitasi dari para pendidik. Semakin banyak para pendidik menulis di jurnal terakreditasi semakin berpeluang lembaga pendidikan itu diindikasikan maju.

Menurut Chaidar Al Wasilah (2007: 18-19) ada beberapa pembenahan yang harus dilakukan untuk memperbaiki itu semua (ia menyebutnya sebagai komponen reproduksi pengetahuan) yaitu: Iklim yang kondusif bagi tulis menulis, adanya puspa ragam sumber informasi, kemampuan membaca kritis, pengembangan wacana akademik demokratis, dan kemampuan berbahasa Inggris.

Begitulah, saya sepakat dengan Chaidar (terutama saat ia menempatkan budaya tulis menlis di poin pertama) karena inilah sumber permasalahan sebenarnya. Saat para pendidik menjadikan budaya menulis sebagai PR bersama untuk sebuah perbaikan, saat itu pulalah budaya gosip akan tereduksi. Dan teladan demi teladan bertebaran. Dan menulis akan menjadi gaya hidup bagi setiap generasi, terutama generasi muda. Namun, tak semudah membalik telapak tangan menuju hal itu. Karenanya, tulisan saya ini akan mengajak kita mendikusikan hal tersebut.

 

***

Sungguh, ini bukan pekerjaan ringan, tetapi ini bukannya tidak mungkin terjadi. Menjadikan menulis sebagai gaya hidup adalah sebuah kerja besar yang akan memakan waktu tak sebentar. Karenanya, diperlukan konsep dan tenaga yang benar-benar. Ada beberapa hal yang saya jadikan patokan untuk menuju titik itu, yaitu: keteladanan, kebijaksanaan, keuletan, dan kebersamaan.

Keteladanan. Hal satu ini adalah sumber energi bagi budaya literasi. Ada satu kata yang akan muncul untuk hal ini, yaitu andaikata atau andaikan. Dan akan banyak kalimat pengandaian setelahnya. Andaikan para orang tua menulis, anak-anak mereka akan juga menulis. Andaikan guru-guru menulis, murid-murid mereka juga akan menulis. Andaikan dosen-dosen menulis, mahasiswa tentu menulis juga. (lebih jauh lagi) andaikan para pejabat menulis, rakyat akan menirunya.

Kalimat-kalimat perandaian itulah titik tolak perjuangan. Bila selama ini, dunia belajar identik dengan anak muda, sekarang logikanya harus dibalikkan. Belajar sepanjang hayat harus kembali digulirkan. Dan belajar menulis bagi para manusia senior, sepuh, bahkan professor harus digalakan seperti seorang tua yang baru belajar iqra. Karenanya, diperlukan poin kedua.

Kebijaksanaan. Hal inilah yang mahal harganya karena tak semua orang tua merasa kurang pengetahuan, kurang kemampuan, dan kurang wawasan. Kebanyakan dari sepuh kita telah merasa cukup dengan apa yang ada.Rasa legawa untuk terus belajar adalah kebijaksanaan mendasar para tokoh dunia (menurut saya). Para filusuf, sastrawan, teknokrat, ulama, dan pendidik di sebuah negeri yang kondusif memliki sifat ini.Konon, di Jepang dan AS ada paguyuban dosen dan mahasiswa, khususnya mahasiswa S2 dan S3, yang memiliki minat sama yang secara terjadwal berdiskusi dan belajar bersama. Termasuk dalam dunia literasi dan reproduksi ilmu.

Keuletan. Kata yang satu ini, tentu berlaku dalam segala hal, lebih-lebih dalam hal dunia kepenulisan. Hal ini disebabkan oleh benteng yang menghalangi budaya literasi telah begitu kokoh dan tinggi. Tentu saja, keuletan diperlukan untuk merobohkan benteng itu. Benteng budaya instant, benteng budaya gosip, benteng budaya nonton, dan benteng budaya industri harus dengan ulet dikikis. Tak jadi masalah dengan cara mengeroposkannya inci demi inci, asal terus menerus.

Kebersamaan. Poin terakhir ini adalah poin yang berhubungan dengan kebertahanan mental berjuang. Dengan bersama-sama sebuah kerja besar akan terselesaikan. Forum Lingkar Pena adalah sebuah wadah bagi kerja bersama ini begitu juga PGRI, menurut saya. FLP dengan wilayah, cabang, dan ranting yang terus bertambah terus berusaha menyebarkan budaya literasi. Mungkin sedikit perjuangan itu, tetapi sistematis, insya Allah.

Begitulah hal yang menjadi titik usulan saya. Kenyataan rendahnya budaya menulis para pendidik di negeri tercinta ini harus dicari solusinya sehingga kita tidak syok saat sistem menuntut adanya sertivikasi dan hal lainnya sehingga lembaga pendidikan tinggi kita bisa bersaing di tingkat regional maupun internasional sehingga bangsa ini punya amunisi untuk membangun moralitas penduduknya.

 

***

Sungguh, judul yang saya angkat pada tulisan ini terlalu melambung. Bagaimana tidak? saat serbuan budaya instant begitu bertubi, menulis adalah ibarat sebuah kata yang asing dan menakutkan dan penulis adalah sosok misterius yang dipertanyakan masa depannya. Sungguh, judul yang saya angkat ini terlalu melambung, tetapi mengapa tidak?

Begitulah, keseharian kita dipenuhi dengan kelisanan, kelisanan yang tak berbobot, kelisanan yang bukan pantun dan karya folklore lainnya, melainkan gosip. Ya, budaya kita pada ruang instan      adalah bergosip. Budaya berbual yang jauh dari kreativitas. Budaya bercengkrama yang menghasilkan sosok anak bangsa tanpa solusi di kepala. Sementara itu, sebagian dari mereka berteriak-teriak, berdemonstrasi menuntut keadilan, tanpa tahu konsep terbaik sebagai wujud tuntutan.  Mereka tak pernah menuliskannya. Semua hanya ada di kepala. Demo mereka adalah gosip jenis terbaru.

Saya teringat pada ungkapan Taufiq Ismail bahwa negeri ini masih rabun membaca dan lumpuh menulis. Wow, sebuah idiom yang menohok. Untuk siapakah ungkapan beliau? Jangan-jangan untuk saya dan untuk siapapun di negeri ini termasuk para guru dan dosen. Mengapa tidak? Karenanya, mari kita beranjak dan membuat sebuah perubahan. Sejauh apa pun kesalahan langkah yang kita tempuh, mari kita berbalik arah sekarang juga (meminjam idiom Reinald Kasali). Wallahu A’lam.

 

Pekanbaru, 3 Maret 2008

 

 

 

 

 

 

[1] Makalah ini disampaikan pada acara Workshop Kepenulisan untuk Guru se-Riau, 3 Maret 2008

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *