M. Irfan Hidayatullah

Rencana dan Bencana

Ia telah menjadi bagian dari orang yang takhenti bertanya-tanya, tapi ia takjua jadi filosof. Ia hanya seseorang yang berada pada pusaran peristiwa yang melibatkannya sebagai subjek sekaligus objek. Ia pelaku sekaligus korban. Ia yang punya karsa, tapi ia juga yang terkena. Ya, ia telah merasa betul-betul menjadi manusia akhirnya karena ia telah menyatu realitas. Ia bukan pembaca lagi. Ia yang dibaca. Ia membaca dirinya sehingga takhenti-henti bertanya.

Suatu ketika saat bencana di negeri ini ngeri melibas sebagian Sumatera, ia begitu saja menuding dirinya sendiri. “Tuh, kan… kamu sih. Kubilang kamu tidak boleh melebihi batas, tapi takmau nurut. Semua yang terdampak di sana adalah karenamu yang jangankan menjaga hati, pikiran, dan tindakan, kamu malah seperti orang mabuk sempoyongan. Memisahkan sampah di rumah saja nggak becus. Menyingkirkan sampah pada dirimu saja tidak mampu. Kau malah menumpuk residu-residu dari segala (jenis) dosa. Ketidakpedulian pada dirimu sendiri adalah ketidakpedulian pada semesta karena kau adalah titik dari yang telah tertulis di lauhul mahfuz sana.”

Dan ia saat ini berada pada pusaran terdalam pertanyaan. Ia tersedot sampai palung paling dasar. Ia bahkan tak menemukan cahaya lagi di dasar ketenggelamannya. Semua lapat-lapat geremang pertanyaan muncul seperti bisikan, tetapi sekarang itu adalah gaung yang mengerikan, bahkan sebagian besar telah berubah menjadi sosok-sosok gentayangan yang mengelilingi dari berteriak serupa para wartawan menuntuk kejelasan, kemudian, serupa para pendemo yang menuntut penyelesaian. Di dasar sana ia seperti seorang penguasa yang didongkel dari singgasananya oleh rakyat dirinya sendiri. Secara politis ia telah digugat oleh banyak suara, banyak subjek, banyak realitas.

Ia tetiba teringat segala rencana yang terserak jadi bencana. Negeri yang memiliki rencana pembangunan dengan segala janji-janji para pemimpinnya adalah dirinya yang juga kehilangan peta jalan. Rencana terjeda bencana, rencana terlibas bencana, rencana berubah bencana adalah kalimat tuntas. Kalimat yang di dalamnya terdapat relasi subjek-objek, padahal semula dua kata tersebut berelasi sejajar dengan kata hubung dan; rencana dan bencana. Sebuah relasi yang berjarak sekaligus setara yang bisa disebut sebagai klausa subjektif. Namun, saat ini, di akhir tahun ini kata hubung dan  telah berubah penjadi predikat. Dan ia berada pada pusaran peristiwa itu.

#

Kini ia sedang berada di depan layar perangkatnya. Kata-kata dirasakannya menuntut saluran. Jiwanya telah pengap karena takpernah ada celah saluran kekata juga jari-jarinya yang begitu kaku saat mengetik, kini seperti menari dan mewakili segala pertanyaan. Namun, ia mulai takut karena semua selalu tiba-tiba buyar oleh sesuatu yang tidak direncanakan. Bencana. Ya, bencana adalah kata yang dipisahkan oleh satu fonem b atas rencana. Dan ia tak mampu membubuhkan b atau r untuk kata tersebut. Ada sesuatu yang di luar kemampuannya. Sesuatu yang tidak bisa dijawab oleh seorang filosof.

(Diam-diam ia bersyukur atas ketidaktahuan dan ketidakmampuan dirinya. Bersyukur karena ia bukan filosof karena Ia takpunya jawaban sama sekali untuk sedetik kehidupan berikutnya. Ia larut pada waktu serupa udara yang menyatu pada ruang terbuka. Alhamdulillah ala kulli hal, ucapnya sambil menitikkan air mata).

Bandung, 25/12/25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *